
“Eh! Tunggu dulu...!”
“Apa dia akan mengejar ku?” batin Leathina yang kini sebisa mungkin lari menjauh dari pria yang tadi menolongnya.
Setelah merasa telah berlari cukup jauh Leathina pun menoleh untuk memeriksa dan kemudian merasa lega karena ternyata pria tadi tidak mengikutinya.
“Ah, Syukurlah. Dia tidak mengejar ku!” gumam Leathina kemudian menghirup nafas dalam menstabilkan pernafasannya yang kacau karena berlari.
“Apa aku pernah melihatnya sebelumnya ya? rasanya aku pernah melihat laki-laki tadi tapi aku lupa dimana. Duh! Sebentar lagi matahari akan terbit aku harus segera kembali, pantas saja aku tidak menemukan pedagang makanan dimana pun ternyata ini memang sudah sangat larut.”
Leathina berjalan menuju jalan utama mencari kereta yang akan pergi searah dengannya dan tidak beberapa lama kemudian Leathina menemukan sebuah kereta yang digunakan sebagai pengangkut barang yang kebetulan tujuannya searah dengannya.
Diam-diam Leathina memanjat naik di bagian belakang kereta karena tidak ingin si pemilik kereta kuda melihatnya dan mencurigainya sebagai pencuri kemudian berakhir diusir turun tidak memberikannya menumpang di keretanya.
Leathina melompat naik sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara agar tidak ketahuan oleh si pemilik kereta dan tidak lama kemudian Leathina akhirnya telah sampai pada salah satu cabang jalan yang mengarah ke rumahnya dan dengan hati-hati Leathina langsung melompat turun.
"Trak."
“Siapa?” Teriak si pemilik kereta kuda karena mendengar suara dari bagian belakang kereta miliknya.
“Ack! Astaga!”
Leathina yang melompat turun tidak sengaja menginjak ranting dan berbunyi cukup keras hingga si pemilik kereta bisa mendengarkan suara patahan ranting yang ia injak.
Leathina langsung menunduk bersembunyi di bawa kereta, kemudian berlari sambil mengendap-endap menuju semak belukar yang tumbuh di pinggir jalan.
Si pemilik kereta kuda yang curiga barangnya telah dicuri juga turun dari keretanya dan memeriksa seluruh barang-barangnya.
“Tidak ada masalah, barang bawaan ku tidak ada yang hilang. Mungkin tadi cuman suara angin.” Gumam Si pemilik kereta kuda kemudian langsung naik kembali ke keretanya dan berjalan pergi melanjutkan perjalannya.
“Hampir saja aku ketahuan.” Gumam Leathina kemudian mengambil jalan kecil dan sedikit berlari agar tidak terlambat pulang ke rumahnya.
Leathina kembali memanjati dinding pembatas kemudian mengintip untuk memeriksa keadaan dan setelah dirasa situasi nya aman Liathina langsung melopat turun dan mengendap-endap menuju luar ruangannya.
“Haiss! Karena ini bukan waktu pergantian penjaga aku jadi tidak punya kesempatan untuk menyelinap melewati penjaga yang berjaga di sekitar luar kamarku.” Gumam Leathina saat melihat masih banyak penjaga yang berjaga dan tidak ada dari mereka yang mengantuk ataupun bermalas-malasan hingga sulit bagi Leathina melewati mereka tanpa ketahuan.
“Brakkk!!”
Leathina mengambil sebuah batu kemudian melemparkannya sejauh mungkin ke sisi ruangan yang berada jauh dari ruangan Leathina hingga memecahkan jendela ruangan tersebut.
“Periksa!” seru para penjaga yang kemudian berlarian mencari sumber suara.
Tanpa menunggu Lama Leathina langsung menyelinap ketika perhatian para penjaga teralihkan kemudian memanjat naik ke ruangannya yang berada di lantai ke dua dan dengan sigap melompat masuk ke dalam ruangannya.
“Ha!” Leathina akhirnya dapat bernafas dengan lega setelah berhasil masuk ke dalam ruangannya tanpa ketahuan dan di saat bersamaan para penjaga juga kembali ke pos jaganya masing-masing.
“Kembali berjaga di posisi kalian! Yang lainnya periksa di sekitar sana! Seseorang dengan sengaja melemparkan batu untuk memancing keributan, usahakan cari ke seluruh area dan jangan sampai lengah!” Teriak salah seorang prajurit yang memberi interaksi pada rekan-rekannya yang lain.
“Oh, tidak-tidak. Aku tidak boleh santai sekarang!”
Dari luar ruangan Leathina mendengar beberapa derap langkah yang berlari sepanjang koridor, Leathina kemudian menjadi panik berlari ke arah pintu untuk membuka kuncinya kembali.
“Jendela! Jendelanya belum aku kunci.” Gumam Leathina panik, kemudian secepat mungkin berlari ke arah jendela dan menguncinya.
Setelah mengunci jendela kamarnya dari dalam Leathina segera melepaskan sepatunya dan melemparkannya secara sembarangan ke bawah tempat tidurnya kemudian langsung naik ke atas kasurnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Trak!”
Nicholas membuka pintu kemudian segera berjalan menuju tempat tidur Leathina untuk memeriksa.
“Mmm... Nicholas?” Leathina berpura-pura terbangun karena mendengar suara keributan.
“Ah, maafkan aku Leathina. Aku pasti telah membangunkanmu.” Ucap Nicholas mengira bahwa dirinya lah yang telah membangunkan Leathina karena masuk ke ruangannya secara mendadak.
“Ada apa? Kenapa di luar terdengar rusuh, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Leathina.
“Sepertinya ada penyusup yang masuk ke mansion, dia memecahkan jendela. Ayah sekarang memeriksanya dan aku diperintahkan untuk memeriksa keadaanmu.”
“Aku baik-baik saja Nicholas.”
Nicholas melirik ke arah jendela dan melihat tirai Leathina sedikit tersingkap, ia pun langsung berjalan ke arah jendela memeriksanya dan karena tidak ada masalah Nicholas menarik tirai hingga menutup jendela sepenuhnya.
“Syukurlah, kembalilah beristirahat aku akan turun ke bawah untuk memeriksa apa yang terjadi. Untuk sementara jangan meninggalkan tuangan mu dulu, diluar mungkin berubah.”
“Iya.”
Setelah memerikas kedaan Leathina Nicholas pun langsung keluar dan menutup pintu ruangan Leathina kembali.
“Hah! Hampir saja.” Ucap Leathina yang merasa lega bisa bersembunyi tepat pada waktunya.
“Aku banyak berkeringat, semoga saja Nicholas tidak menyadainya.” Gumam Leathina kemudian membuka jubahnya dan memasukkan kembali ke dalam lemarinya.
Leathina yang penasara dengan situasi di luar setelah menimbulkan kekacauan kini berjalan kembali ke arah jendela. Dengan sengaja Leathina menyingkap tirai jendelanya dan memperlihatkan dirinya pada orang-orang untuk memperkuat alibinya bahwa saat kejadian dia masih berada di kamarnya.
“Ah, maafkan aku. Aku membuat keributan dan menganggu kalian semua.” Gumam Leathina saat melihat ayahnya dan semua orang kini sibuk memeriksa seluruh area untuk mencari si pembuat masalah.
Duke yang melihat sedikit cahaya dari arah ruangan Leathina di lantai dua langsung mendongak untuk memeriksa dan dilihatnya Leathina kini berdiri di depan jendela.
Leathina yang melihat ke bawah secara otomatis juga dapat melihat Duke Leonard hingga pandang mereka berdua salin bertemu, melihat itu Leathina langsung melambaikan tangannya pada ayahnya dan ayahnya hanya mengangguk menaggapinya kemudian kambali fokus mencari penyusup yang memecahkan kacanya.
“Sebaiknya aku harus beristirahat, aku sangat kelelahan di tambah aku sangat lapar.”
Leathina dengan langkah lunglai berjalan kembali ke tempat tidurnya kemudian menjatuhkan dirinya begitu saja dan langsung terlelap karena kelelahan berkeliaran sepanjang malam di pusat kota mengelilingi semua rumah judi dan rumah malam untuk mencari informasi.
...
“Apa kalian menemukan sesuatu?” tanya duke pada para bahwahannya.
“Kami tidak menemukan pelakunya tuan!” jawab salah satu parjurit yang telah memeriksa seluruh area mansion.
“Aneh sekali!” gumam duke sambil memperhatikan dengan serius kaca jendela yang kini telah berlubang akibat lemparan batu.
“Kalian bilang bahwa sesaat setelah mendengar suara pecahan kalian langsung berlari untuk memeriksa dan menemukan kaca jendela ruangan di sana telah hancur, seharunya kalian pasti bisa melihat pelakunya yang melarikan diri.”
“Maafkan kami Tuan duke, tapi kami benar-benar tidak melihat siapa-siapa disana dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan selain kaca jendela yang sudah pecah karena di lempari batu."
“Baiklah, tetap lanjutkan pencarian dan laporkan padaku besok pagi!”
“Baik tuan duke Leonard.” Jawab para prajurt patuh, kemudian langsung menyebar kembali untuk melakukan pencarian.
“Bagaimana dengan Leathina?” taya Duke pada Nicholas setelah melihat Nicholas datang menghampirinya.
“Sejauh ini dia baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Mungkin kali ini targetnya bukan Leathina ayah. Apa mugkin ini menyangkut tuduhan pemberontakan dari para aliansi bangsawan yang ingin menjatuhkan keluarga kita?”
“Ini sepertinya tidak ada sangkut-pautnya dengan hal itu, jika mereka memang ingin melakukannya untuk apa dia datang hanya untuk memecahkan jendela lalu kabur. Seharunya jika mereka punya kesempatan yang mereka tuju haruslah ruangan kerjaku untuk mencari bukti yang bisa ia gunakan memperkuat tuduhan mereka.”
“Yang ayah katakan memang benar, tapi bukankah seharunya kita harus lebih berhati-hati sekarang. Pertama Leathina sedang diincar oleh Yasmine kedua ayah pun juga sedang diincar sekarang.” Ucap Nicholas mengingatkan ayahnya.
“Aku tahu! Untuk sekarang perketat penjagaan.”
“Baik ayah!”
“Bagaimana dengan ibu dan adikmu, apa kau juga sudah memeriksa keadaan mereka?” tanya duke pada Nichoas.
“Sudah ayah, Nora dan ibu baik-baik saja di ruangannya. Aku melarang mereka untuk keluar saya takut jika memang ada penyusup dan melukai mereka.”
“Baik ayah.”
...
Anne dengan semangat berjalan ke arah dapur meminta kepala koki untuk mempersipkan makanan untuk Leathina, seperti yang dikatakan pada malam harinya pada kepala koki.
“Apa sudah siap?” tanya Anne pada kepala koki yang kini telah sibuk berkutat dengan peralatan dapur.
“Sebentar lagi!” teriaknya kemudian tangannya yang lincah langsung mempersiapkan makanan yang di minta oleh Anne.
“Sudah selesai, ambillah.” Ucap kepala koki memberikan Anne mekanan yang telah ia susun di atas nampan.
“Terimakasih, aku akan langsung membawanya ke ruangan nona Leathina. Biasanya dia sudah pasti bangun jam segini.”
Anne dengan hati-hati membawa nampan berisi makanan untuk Leathina, tapi saat masuk ke dalam ruangan Leathina dilihanya nonanya masih pulas tertidur.
“Nona masih tertidur? Seharunya dia sudah bangun sekarang, terlebih kemarin dia tidur sangat cepat sampai melewatkan makan malamnya.” Gumam Leathina kemudian langsung meletakkan nampan makanan yang dibawanya di atas meja.
“Apa Nona Leathina sakit?” gumam Anne dan dengan hati-hati menyentuh dahi dan pipi Leathina untuk memeriksa suhu tubuh Leathina.
“Suhu tubuh Nona Leathina normal, tidak ada masalah dengan kondisi tubuhnya. Apa kepalanya sakit ya?”
Anne terus memeriksa Leathina, takut melewatkan sesuatu dan akan berakibat buruk nantinya jika ia tidak menyadarinya tapi pada akhirnya Anne tetap tidak adapat menemukan masalah pada Leathina dan kemudian memilih untuk membangunkan nonanya.
“Nona?” panggil Anne untuk membangunkan Leathina tapi Leathina masih pulas tertidur.
“Nona Leathina?!” panggil Anne lagi dan sedikit menaikkan suaranya agar Leathina bisa mendengarnya.
“Ah, Nona Leathina benar-benar tertidur dengan sangat pulas. Biasanya jika aku membuka pintu dia akan sedikit bereaksi karena mendengar deritan pintu yang aku buka. Apa dia baik-baik saja?” batin Anne yang mulai panik karena Leathian tidak bergerak sama-sekali.
Berulang kali Anne bahkan memeriksanya pernafasan dan Nadi Leathina.
“Nona! Nona Leathina! Nona bangun!” Panggi Anne dengan panik sambil mengguncang bahu Leathina.
“Nona aku mohon bangun Nona, apa anda baik-baik saja?!” tanyanya panik karena Leathina tak kunjung meresponnya.
“Umm... Anne?” gumam Leathina pada akhirnya karena merasa sangat terganggu dengan Anne ynag terus mengguncangnya dan memanggil namanya.
“Nona syukurlah anda baik-baik saja.”
“Ada apa Anne, kau mengangguku?” Leathina berbicara dalam keadaan setengah tertidur, ia belum mengumpulkan kesadarannya dengan baik.
“Ah, maafkan saya Nona Leathina. Saya pikir anda kembali tertidur dan tidak akan bangun lagi.”
“Maksudmu aku seperti orang mati tadi?!”
“Ti- tidak Nona, saya hanya benar-benar khawatir tadi.”
“Iya aku tahu, jadi untuk apa kau mengangguku Anne?”
“Saya datang membawakan Nona Leathina makanan, saya takut Nona Leathina akan kelaparan di pagi hari karena melewatkan makan malam anda Nona, tapi karena anda masih ingin tidur sebaiknya saya akan membawanya lagi ke dapur.”
“Ah, Tunggu!” seru Leathina yang langsung terduduk menghentikan Anne yang kini membawa nampan berisi makanan di tangannya.
“Aku akan makan, tolong siapkan untukku.” Ucap Leathina yang dengan malas turun dari atas tempat tidurnya dan berpindah ke meja agar dapat makan dengan nyaman.
“Baik Nona Leathina.” Anne pun langsung menyusun makanan yang dibawanya di atas meja.
“Terimakasi Anne.”
Leathina yang memang kelaparan semenjak semalam langsung memakan semua makanan yang dibawakan Anne untuknya.
“Nona Leathina?” panggil Anne pada Leathina yang masih sibuk menghabiskan makanannya.
“Iya kenapa Anne?”
“Anda bau keringat, apa mungkin semalam anda terbangun dan melakukan aktivitas atau semacamnya hingga banyak berkeringat?”
“Uhuk! Uhuk!”
Karena pertanyaan Anne Leathina malah tersedak hingga terbatuk-batuk, Anne segera memberikan segelas air putih dan menepuk pelan punggung Leathina.
“Apa anda baik-baik saja Nona Leathina?” tanya Anne khawatir.
“Ah, aku baik-baik saja. Tapi apa kamu anjing pelacak? Kenapa indera penciuman mu tajam sekali Anne?” gumam Leathina kemudian meletakkan sendok ya dan beranjak dari tempatnya.
“Apa anda sudah selesai makan Nona?”
“Iya aku sudah kenyang, semalam udaranya sangat panas disini jadi aku banyak berkeringat karena itu.”
“Ah, jadi seperti itu. Itulah kenapa Nona Leathina tidur lama karena semalam tidur anda tidak nyenyak karena kepanasa.” Ucap Anne mengangguk paham sambil membereskan bekas makan Leathina.
“Ah, iya anggap saja seperti itu.”
“Kalau begitu anda harus segera mandi untuk membersihkan diri anda Nona Leathina, saya akan mempersiapkannya air mandi untuk anda.”
“Terserah kamu.”
Anne membawa nampan kembali ke dapur, setelah itu langsung mempersiapkan air mandi dan segala sesuatu yang Leathina butuhkan.
“Nona Leathina?” panggil Anne lagi setelah Leathina membersihkan dirinya dan kini duduk membaca di ruangannya.
“Ada apa lagi Anne, apa ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Kalau ada katakan sekarang, kau membuatku tidak fokus membaca.” Ucap Leathina kemudian menutup buku yang sedang dibacanya karena mood membacanya telah hilang karena Anne terus menganggunya.
“Nona sebenarnya saya ingin meminta izin mengambil cuti hari ini, tapi jika tidak diizinkan juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin bertanya saja, apa boleh saya mengambil izin cuti hari ini Nona?” Ucap Anne mengutarakan keinginannya yang sebenarnya, setelah beberapa kali memanggil Leathina tapi saat Leathina merespon ia langsung mengatakan bahwa tidak ada apa-apa.
“Kau ingin mengambil hari libur, hari ini?” tanya Leathina memastikan, kemudian Anne mengangguk dengan cepat menjawab Leathina.
“Kau ingin pergi kemana? bukankah kau bilang kau tidak memiliki keluarga.”
“Ah, itu, teman-temanku yang juga bekerja disini mengajakku jalan-jalan ke kota hari ini.”
“Kau hanya ingin jalan-jalan kan? Tidak pergi ke kota untuk mengunjungi tempat-tempat aneh?”
“Iya Nona, kami hanya jalan-jalan saja.”
“Baiklah. Aku mengizinkanmu, ambil ini dan gunakan bersama teman-temanmu. Nikmati liburanmu sebaik mungkin.”
Leathina memberikan sekantung uang pada Anne sebagai tanda terimakasih karena telah melayaninya dengan baik.
“Tapi Nona, bukankah ini terlalu banyak?”
“Kalau kau tidak mau ya sudah, kembalikan sini.”
“Baiklah Nona, Aku akan menggunakannya sebaik mungkin. Aku juga akan membawakan Nona Leathina oleh-oleh saat saya pulang nanti.” Ucap Anne bersemangat karena Leathina membiarkannya pergi.
“Terserah kamu.” Jawab Leathina singkat kemudian kembali membaca bukunya.
“Terimakasih Nona, kalau begitu saya pamit.”
Anne membungkuk memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Leathina, kemudian dengan semangat berlari ke ruangannya untuk berisap pergi ke kota bersama teman-temannya.
...***...