I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 93



Aku tidak tahu kenapa aku merasa sangat kesal karena sampai sekarang aku masih belum menemukan Leathina, bahkan jejak-jejaknya atau tempat yang pernah mereka singgahi pun tidak aku temukan yang aku dapatkan hanya informasi-informasi yang dilaporkan secara sembarangan.


“Srek.”


Suara tebasan dari pedang yang diayunkan Winter terdengar jelas saat menebas orang-orang kayu yang biasanya digunakan untuk latihan para prajurit


Sudah beberapa bulan berlalu sejak ia keliru mengenali suara Leathina dan ia masih belum menemukan informasi apapun, pikiran Winter kalut dibuatnya dan melampiaskannya pada orang-orang kayu yang sengaja di sediakan untuk berlatih.


Sebelumnya aku pernah bertemu dengan Leathina saat aku masih berumur sepuluh tahun, itu saat pertama kali ayahku membawaku berlatih dibawa bimbingan paman Leonard.


Waktu itu aku tersesat dan tidak sengaja bertemu dengan Leathina di taman, dimana saat itu tatapannya sangat dingin bahkan untuk anak usia sepuluh tahun sepertinya.


“Apa yang dilakukan orang asing datang ke sini.” Ucap Leathina dingin sambil menatap anak laki-laki yang terlihat kebingungan didepannya itu.


“Umm, hallo perkenalkan saya Winter dari keluarga La Pe..”


“Aku tidak menanyakan namamu, yang aku tanyakan apa yang dilakukan orang asing sepertimu memasuki kediaman Yarnell seenaknya.”


Winter ragu-ragu menyapa Leathina dan memperkenalkan dirinya sopan tapi belum sempat ia menyelesaikan perkenalannya Leathina yang acuh tak acuh malah memotongnya karena bukan itu jawaban yang ingin ia dengar.


“Ah, maafkan aku. Aku sedang tersesat saat ingin ke tempat latihan berpedang.” Ucap Winter menjawab Leathina.


“Jadi, kau anak baru yang di ajari Duke.”


“Iya nama ayahku Adr..”


“Arahmu salah.” Leathina kembali memotong perkataan Winter.


“Eh, maaf?” ucap winter kebingungan karena baru pertama kali ia menemukan anak sedingin Leathina.


“Arah tempat Latihan ada di depan sana bukan ke arah sini, berbalik lah dan jalan saja lurus nanti kau akan melihat beberapa prajurit yang sedang berlatih, disanalah tempat latihannya.”


“Ah, iya terimakasih telah memberitahuku. Tapi apa aku boleh tahu siapa nam..”


“Jangan berkeliaran dan berlatihlah dengan baik, sepertinya aku lebih unggul darimu.” Ucap Leathina kemudian pergi meninggalkan Winter begitu saja.


“Dingin sekali, memangnya siapa dia.” Winter bergumam kecil kemudian segera pergi ke tempat latihan.


"Winter dari mana saja, dari tadi ayah mencari mu jangan berkeliaran." Ucap Adrian ayah Winter saat melihat anaknya itu.


"Maafkan aku ayah, aku tersesat. Ayah, tadi aku bertemu anak dengan warna rambut unik rambutnya berwarna merah, ayah tau siapa anak perempuan itu?"


"Itu Nona Leathina, Putri tertua Duke Leonard. Cepat ambil pedang mu dan segera berlatih kau sudah terlambat."


"Oh, jadi dia." Gumam Winter pelan dan segera mengikuti perkataan ayahnya.


Kemudian setelah itu aku tidak perah lagi bertemu dengannya bahkan ditempat latihan sekalipun, itu karena Leathina lebih banyak menghabiskan waktu berlatih sendiri dan di akedemi tapi aku masih sering mendengar rumor tentangnya itu karena semua orang selalu menceritakan keburukannya hingga diberi julukan wanita atau penyihir jahat dari kediaman duke Yarnell.


Sebelumnya aku tidak terlalu mempedulikannya karena setelah pertemuanku dengannya aku berfikir bahwa dia memang pantas mendapat julukan aneh itu karena  ia tumbuh dalam keluarga yang berstatus tinggi dan dengan uang yang banyak  jadi wajar baginya bersikap seenaknya, dingin dan arogan.


Tapi suatu ketika pernah sekali aku pulang dari perbatasan dan ingin memberikan laporan pada paman Leonard dan aku tidak sengaja melihatnya menangis tanpa suara sambil melihat paman Leonard yang duduk bersama Nicholas sambil melihat Nora bermain di taman dan disaat itu aku baru menyadari bahwa Leathina sengaja bersikap dingin dan arogan untuk melindungi dirinya yang berdiri sendiri karena tidak memiliki orang yang dapat ia percayai dan melindunginya.


Saat itu aku kagum sekaligus prihatin padanya tapi tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya makanya aku sengaja tidak mengganggunya dan diam saja, tapi pada pertemuan berikutnya saat aku baru pulang dari perbatasan aku benar-benar sangat terkejut karena sikapnya yang benar-benar berubah dan setelah itu aku mulai diam-diam mengamatinya dan sampai pada kejadian yang terjadi malam itu aku masih tetap saja menjadi pengecut tidak bisa membantunya dan akhirnya ia menghilang begitu saja.


“Maaf menganggu komandan!” seorang prajurit dengan langkah tergesa-gesa mendekati Winter yang masih sibuk dengan pedangnya.


“Terjadi percobaan pembunuhan pada salah satu keluarga bangsawan, pelakunya berhasil ditangkap Tuan Duke meminta anda untuk melakukan investigasi karena dia salah satu anggota dari tentara bayangan yang selama ini selalu kita cari.”


“Baiklah aku paham.” Winter segera berjalan meninggalkan arena latihan.


...


“Ayo! Ayo siapa lagi yang ingin menantangku duel, siapa orang terkuat diantara kalian tapi jangan nangis jika nanti aku kalahkan hahaha.” Leathina berbicara sambil menginjak beberapa tumpukan orang-orang yang telah ia kalahkan kemudian tertawa puas karena belum ada yang berhasil mengalahkannya.


“Ayolah Adam, kau yang mengajariku tapi malah aku kalahkan.” Ucap Leathina lagi saat melihat Adam yang kini telentang begitu saja di atas tanah sambil berusaha mengatur nafasnya setelah bertarung melawan Leathina.


“Aku tidak pernah mengajarimu Lea, dan dari awal kau memang sudah ahli dalam menggunakan pedang. Bukankah julukan mu adalah “Master Pedang” saat di akademi.” Ucap adam kesal.


“Ayolah, aku tidak sehebat itu hahah.” Ucap Leathina merendah tapi dengan nada arogan membuat Adam semakin kesal dibuatnya.


...


Beberapa bulan yang lalu setelah ia hampir tertangkap diperkotaan.


Aku seharusnya sudah bisa menggunakan pedang karena disaat-saat kritis badan Leathina yang terlatih masih mengingat cara menggunakan pedang untuk melindungi dirinya. Aku tidak boleh hanya diam saja aku harus sedikit berkembang.


“Lea, apa yang kau pikirkan dengan wajah serius seperti itu.” Ucap Adam saat melihat wajah Leathina yang begitu serius memikirkan sesuatu.


“Oh, Adam! Kebetuan sekali kau disini, kau memang benar-benar penyelamatku.”


Leathina memamerkan senyumanya tapi dengan tatapan aneh membuat Adam merasa ngeri melihatnya.


“Apa lagi yang sedang kau pikirkan Lea? Jangan berfikir yang aneh-aneh, wajahmu terlihat menyeramkan sekarang.” Adam bergidik ngeri kemudian agak menjauhi Leathina.


“Eh, benarkah ini terlihat aneh? Padahal aku tadi sedang bersikap manis denganmu agar kau terpeson denganku.” Leathina berhenti tersenyum kemudian meraba-raba wajahnya sendiri dengan tangannya karena Adam mengatakan bahwa wajahnya terlihat aneh.


“Tidak, aku tidak akan pernah terpesona jika kau terlihat aneh seperti tadi, bersikaplah seperti biasa itu jauh lebih baik.” Setelah Leathina bersikap seperti biasa barulah Adam duduk kembali didekat Leathina.


“Baiklah.”


“Jadi, apa yang kamu inginkan dariku Lea?”


“Wah, kau pandai membaca pikiran yah Adam?”


“Sudah cepat katakan sebelum aku berubah pikiran dan tidak ingin membantumu lagi.”


“Ajari aku menggunakan pedang!” ucap Leathina spontan.


“Bukankah kamu sudah sangat ahli menggunakan pedang, Lea?”


“Ah, soal itu aku memang ahli tapi ada beberapa kendala yang tidak bisa dijelaskan sehingga aku menjadi tidak terbiasa menggunakan pedang hehehe.” Leathina menjelaskan dengan gugup.


“Baiklah, aku akan membantumu berlatih. Ambil pedangmu dan datang ke taman belakang.”


“Siap, tuan.”


Leathina dengan semangat berlari naik ke lantai dua dan masuk kekamarnya untuk mengambil pedangnya dan segera datang ke taman belakang menemui Adam dan sejak itu Leathina terus berlatih menggunakan pedang bersama dengan Adam, ia juga bahkan berlatih sendiri dimalam hari untuk meningkatkan kemampuan berpedangnya dan meningkatkan kekuatan fisiknya yang sudah lama tidak ia latih.


...***...