I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 104



“Maaf menganggu komandan!” seorang prajurit dengan langkah tergesa-gesa mendekati Winter yang masih sibuk dengan pedangnya.


“Ada apa.” Jawab Winter sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya.


“Terjadi percobaan pembunuhan pada salah satu keluarga bangsawan, pelakunya berhasil ditangkap Tuan Duke meminta anda untuk melakukan investigasi karena dia salah satu anggota dari tentara bayangan yang selama ini selalu kita cari.”


“Baiklah aku paham.” Winter segera berjalan meninggalkan arena latihan.


Winter menuruni anak tangga yang bersusun dan berkelok-kelok, semakin Winter turun udara di tempat itu semakin lembab dan pengap, setelah sampai pada lantai dasar Winter berjalan melewati ruangan – ruangan kecil yang di pasangi jeruji sebagai pembatasnya dan berakhir pada ruangan isolasi yang sengaja digunakan sebagai tempat interogasi para kriminal.


“Salam Tuan Winter, ucap salah satu prajurit ketika Winter memasuki rungan isolasi yang di dalamnya terdapat seorang kriminal dan terdapat dua orang prajurit yang menjaganya dengan ketat.


“Apa dia sudah memberitahu siapa yang membayarnya untuk membunuh Tuan Gordon?”


“Belum Tuan Winter, dia bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya.”


“Baiklah, aku yang akan mengambil alih dari sini. Bawakan aku kursi.”


Salah satu prajurit segera meletakkan sebuah kursi tepat di depan kriminal yang akan ia interogasi.


“Siapa namamu?” Tanya Winter, tapi yang di tanya malah menutup mulutnya rapat-rapat dan memalingkan wajahnya ke samping.


“Siapa nama kriminal ini?” Tanya Winter kemudian pada bawahannya.


“Kami telah menyelidiki beberapa hal dan menemukan beberapa informasi tentang orang ini.”


“Katakan, apa yang kalian temukan.”


“Kriminal ini bernama Roland,  salah satu anggota pembunuh bayaran dari organisasi tentara bayangan sampai sejauh ini belum diketahui secara pasti siapa pimpinannya, tapi melihat cara mereka bergerak dan orang-orang yang pernah meminta bantuan dari organisasi ini dapat dikatakan bahwa pimpinannya bukan orang biasa.”


“Baiklah, terimakasih.” Ucap Winter setelah mendengar penjelasan dari bawahannya dan segera fokus kembali pada Roland yang duduk di depannya dengan posisi kedua tangannya di ikat.


“Roland siapa yang memintamu membunuh Tuan Gordon? Dan apa tujuanmu?” Tanya Winter sekali lagi pada Roland tapi Roland masih memilih diam.


“Baiklah jika itu mau mu.” Winter berbicara sambil beranjak dari tempat duduknya.


“Aku telah memberimu kesempatan dengan bertanya tanpa menggunakan kekerasan dan kamu masih keras kepala tidak mau menjawab maka jangan salahkan aku jika aku terpaksa menggunakan kekerasan.”


“Jangan beri kriminal ini makanan ataupun air untuk diminum selama tiga hari, setelah itu aku akan datang kembali untuk menyiksanya.”


“Baik, Tuan Winter.”


Winter kemudian segera keluar dari ruangan tersebut kemudian menaiki anak tangga satu persatu dan keluar dari tempat para kriminal di tahan.


“Aku harus melaporkan hasil pencarian ku terlebih dahulu pada paman Leonard.” Gumam Winter sambil penunggu seorang pelayan membawakan kuda miliknya.


Winter memacu kudanya menuju kediaman keluarga Yarnell, setelah sampai ia segera menitipkan kudanya pada pelayan dan memasuki mansion berjalan menyusuri koridor menuju ruangan kerja Duke Leonard Yarnell.


“Sampaikan pada Tuan Duke bahwa aku datang melapor.” Ucap Winter pada penjaga pintu yang sedang berjaga di depan ruangan kerja Duke Leonard.


“Baik Tuan.”


Ucap si penjaga kemudian segera masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian keluar kembali.


“Silahkan masuk, Tuan Duke menunggu anda.” Kata si penjaga dan mempersilahkan Winter memasuki ruangan.


Setelah dipersilahkan masuk Winter kemudian berjalan memasuki ruangan kerja milik Duke Leonard, dilihatnya seorang pria paruh baya yang sedang sibuk dengan tumpukan dokumen-dokumen di depannya.


“Paman Leonard.” Sapa Winter pada Duke Leonard yang masih belum menyadari keberadaanya.


“Winter, bagaimana hasil pencarian mu? Apa kau menemukannya?” Tanya Duke Leonard saat melihat Winter kini tengah berdiri di depan mejanya.


“Maafkan aku paman, tapi aku belum menemukan Nona Leathina.”


“Aneh sekali.” Ucap Duke Leonard sambil memijat keningnya.


“Ada apa Paman Leonard? Apa paman mendapat informasi baru?”


"Beberapa orang mengatakan bahwa mereka melihat seorang gadis dengan ciri-ciri yang sama dengan Leathina pada sebuah kota yang berada di perbatasan kerajaan itulah kenapa aku langsung mengirim mu untuk mencarinya tapi kamu tidak menemukan apa-apa di sana. Dan beberapa hari setelahnya ada warga yang melaporkan bahwa ia melihat Leathina di sebuah kedai makan di pusat kota bersama dua pria yang menggiringnya tapi pada saat prajurit mencarinya mereka tidak bisa menemukan mereka.”


“Maksud paman, mereka melihat Leathina berada di wilayah kerajaan?” Tanya Winter dengan sedikit terkejut mendengar penjelasan Duke Leonard.


“Iya betul, mereka bahkan bersumpah jika telah melihatnya dan dua orang pria membawanya pergi.”


“Tapi paman, aku juga mendengar laporan bahwa mereka melihat seorang gadis berambut merah di kota perbatasan.”


“Winter, tidakkah menurutmu ini aneh. Kau tahu Leathina bukanlah wanita lemah tapi kenapa dia bisa di bawa pergi oleh dua orang pria yang bisa saja ia kalahkan dengan mudah.”


“Ada banyak kemungkinan paman, bisa saja Leathina diancam hingga tidak bisa melawan dan harus mengikuti perintah orang yang membawanya.”


“Perkataanmu masuk akal Winter. Menurutmu mana Leathina yang asli, Wanita rambut merah yang berada di perbatasan kerajaan atau wanita yang mereka lihat di perkotaan?”


“Aku tidak tahu paman dan ada kemungkinan bahwa wanita berambut merah yang mereka maksud bukanlah Leathina tapi orang lain yang memiliki warna rambut yang sama, tapi paman tentang wanita yang diperbatasan itu...” Winter ragu-ragu meneruskan ucapannya.


“Katakan Winter.”


“Aku mendengar suara Leathina pada saat itu, tapi aku tidak bisa menemukan dari mana suara itu berasal.”


“Benarkah, jadi kemungkinan besar Leathina berada di kota perbatasan kerajaan.”


“Mungkin saja paman, tapi aku benar-benar tidak bisa menemukannya aku bahkan telah menyusuri desa dan perkotaan di sekitar sana, semakin aku mencarinya semakin banyak pula orang yang melaporkan informasi palsu dan itu membingungkan.”


“Itu mencurigakan Winter mereka seakan-akan menyembunyikan Leathina, baiklah setelah kamu selesai mengurus masalah Tuan Gordon kamu diam-diam kembalilah ke kota perbatasan dan mulai pencarian di sana, aku juga diam-diam akan mengirim Nicholas ke sana untuk mencari informasi lebih dulu.”


“Baiklah paman aku paham.”


Setelah menyampaikan laporannya Winter segera pamit dan segera keluar dari ruangan kerja Duke Leonard.


Tiga hari telah berlalu, para penjaga tahanan benar-benar tidak memberikan makanan bahkan seteguk air untuk diminum oleh Roland yang di tahan di ruang isolasi. Membuat kondisinya sangat memprihatinkan bahkan menganggkat kepalanya saja ia sudah tidak bisa lagi bibirnya kering dan wajahnya pucat tangan-tangannya terus mengepal menahan lapar dan dinginnya ruang bawah tanah.


Winter memamsuki ruang bawah tanah tempat Roland di kurung dan seorang penjaga segera membawakan kursi dengan sebuah meja ber isi makan dan minuman yang masih hangat hingga aromanya memenuhi ruangan tertutup tempat Roland di kurung.


“Berikan padaku! Berikan aku juga! Aku lapar, Akhh..”


Mencium bau makanan yang memenuhi ruangan tahanannya membuat Roland menggila dan memberontak berlari ke meja yang berisi dengan makanan, tapi belum sempat ia sampai tiba-tiba rantai yang mengikatnya mengekang nya dan tertarik kebelakang membuatnya terpekik kesakitan dan berakhir menjatuhkan dirinya begitu saja.


“Roland, aku akan memberimu makanan jika kau mau bekerja sama.” Ucap Winter setelah melihat kejadian barusan.


“Jawab pertanyaanku dan kau bisa menikmati makanan ini sepuasmu, aku tahu kau sangat kelaparan. Jadi siapa yang memintamu membunuh Tuan Gordon?”


Roland kembali pada pikiran sehatnya ia hanya diam tidak menjawab pertanyaan Wintye, mendengar perkataan Winter membuatnya menyadari bahwa sekarang ia sedang di interogasi kembali dan ingin mengorek informasi darinya.


“Hekk” pekik Roland menahan dingin saat disiram oleh penjaga.


Seorang penjaga kemudian datang lagi membawa sebuah ember yang berukuran cukup besar berisi air, setelah itu dua orang penjaga lagi menyeret tubuh Roland dan meneggelamkan kepalanya ke dalam air hingga Roland kesulitan bernafas.


“Happ.. Aku mohpp.. Lepas.....” Ucapan Roland terpotong-potong dan tidak jelas karena kepalanya masih dibenamkan ke dalam air.


“Baiklah, baiklah, aku mohon hentikan, aku akan menjawab pertanyan kalian.”


Hampir sekitar semenit kepalanya di benamkan ke dalam air membuatnya kesulitan bernafas saat penjaga menarik kepalanya ke atas untuk menghirup sedikit udara dan setelah itu akan dibenamkan kembali Roland memberontak tidak tahan dan dengan terpaksa menyerah pada Winter.


“keputusan yang tepat Tuan Kriminal.” Winter tersenyum puas dan segera memerintahkan penjaga untuk mendudukkan Roland di depannya.


“Baiklah Roland, siapa yang membayamu untuk membunuh Tuan Gordon?”


“Aku tidak tahu.”


“Seret dia!” Winter memberi perintah ketika mendengar jawaban yang tidak ingin ia dengar dari Roland, ia meminta bawahannya untuk meneggelamkan kepalanya kembali.


“Tuan, tuan, aku benar-benar tidak tahu.” Teriak Roland membela dirinya.


“Jadi maksudmu kamu tidak tahu siapa yang menyuruhmu membunuh?” tanya winter kemudian pada Roland yang kini berlutut setelah para penjaga berhenti menyeretnya.


“Be..betul, kami tidak mengetahui siapa yang membayar untuk pembunuhan yang kami lakukan. Mereka yang bertemu dengan klien kemudian memberikan misi tanpa menjelaskan dari siapa perintah itu berasal yang harus kami lakukan hanyalah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan setelah itu menerima bayaran kami.”


“Jadi maksudmu kamu tidak bertemu klien mu secara langsung?”


“Iya Tuan, kami tidak pernah bertemu klien kami secara langsung yang mengurus semuanya adalah orang-orang di atas kami.”


“Jadi siapa pemimpin kalian?”


“So..soal itu aku.. aku tidak tahu.”


“Lakukan eksekusi padanya orang ini sudah tidak berguna tidak ada informasi penting yang ia ketahui.” Perintah Winter pada bawahannya kemudian beranjak hendak meninggalkan ruangan tahanan.


“Tuan, aku benar-benar tidak tahu, kami bahkan belum pernah melihat wajah pimpinan kami, tolong ampuni aku.” Roland menjerit dan terus memohon pada Winter.


Aku akan berakhir disini, aku akan mati disini! jika aku tidak memberikan informasi yang mereka cari. Aku tidak bisa membeberkan informasi mengenai tentara bayangan lebih banyak lagi, bisa-bisa tuan Ed’ yang langsung membunuhku, tapi jika aku memberitahukan keberadaan perempuan itu mungkin saja aku diampuni setelah aku berhasil keluar dari sini aku akan melarikan diri karena Tuan Ed’ pasti memburuku. Lagi pula wanita itu tidak berguna dan hanya menganggu, orang-orang di markas menjadi lembut dan lembek karena keberadaanya.


“Tuan aku mohon ampuni aku, perempuan yang kalian cari itu... aku akan memberi tahumu.”


Roland semakin panik saat salah satu penjaga telah mengankat pedangnya dan ingin memotong tenggorokannya, dan karena itu ia akhirnya menyebutkan informasi yang tidak diharapkan akan di dengar oleh Winter.


Winter mnghentikan langkahnya dan segera berbalik berjalan mendekati Roland kemudian merebut pedang yang di pegang oleh bawahannya dan menodongkannya pada Roland.


“Akhh” pekik Roland saat ujung pedang menggores lehernya hingga mengeluarkan sedikit darah.


“Katakan apa yang kau ketahui dan jika kau berbohong atau mengucapkan omong kosong aku akan langsung membelamu di sini.” Winter menjadi marah saat mendengar Roland menyebut Leathian dengan sebutan perempun itu, ia menjadi sensitif jika menyangkut Leathina karena telah banyak mendapat informasi palsu.


“Pe.. perempuan berambut merah dengan wajah cantik. Kalian masih mencarinya kan, Maksudku perempuan yang bernama Leathina itu.”


“Katakan dari mana kau mengetahuinya?” Tanya winter yang masih memegang pedangnya.


“Akggh. sa.. saah satu anggota kami mebawnya ke markas dan menyembunyikannya di sana tapi.. tapi, gadis itu akan segera pergi dia akan segerah pindah.”


Roland mengerang saat pedang yang menempel di lehernya semakin menindih urat lehernya.


“Dimana letak markas kalian?”


“Aku.. aku tidak bisa memberitahu dimana letak markas kami tapi aku bisa memberitahu dimana perempuan itu akan tinggal.”


“Katakan!”


“Dia.. dia berencana mencari tempat tinggal di daerah kota perbs...!!


“Brak!”


“Penghinat harus mati!”


“Akhhh!!”


Tiba-tiba saja seorang pria mengenakan pakaian prajurit membuka pintu ruangan isolasi secara paksa dan melemparkan sebuah belati yang mengenai tepat pada jantung Roland, membuat Roland terpekik dan mengerang kesakitan kemudian perlahan-lahan tidak sadarkan diri.


“Tangkap orang itu!” Teriak Winter memberi perintah, sementara ia segera menghampiri Roland yang kini tengah meregang nyawa.


“Roland! Roland! Katakan di mana Leathina berada? Cepat katakan.” Winter segera mencoba menghentikan pendarahan yang dialami Roland dengan menutup sumber lukanya tapi usahanya sia-sia perlahan-lahan Roland kehilangan kesadaranya.


“Argh! Sialan!” Winter kehilangan kesempatannya menemukan Leathina, dengan kesal Winter memukul tembok hingga buku-buku jarinya berdarah.


“Orang itu harus tertangkap!”


Winter mengingat orang yang telah membunuh Roland dan segera berlari keluar menyusul para penjaga yang lain untuk mengejarnya tapi saat ia keluar dari ruangan tahan para bawahannya telah kembali ingin melapor padanya.


“Kalian berhasil menagkap orang tadi?” tanya Winter  pada bawahannya.


“Kami berhasil Tuan Winter tapi..” bawahanya ragu-ragu meneruskan ucapannya.


“Katakan!”


“Dia telah meninggal tuan Winter.”


“Ah! Sialan. Apa dia bunuh diri atau meminum racun?”


“Kami tidak melihatnya menelan sesuatu taun, dia juga tidak menusuk dirinya sendiri.”


“Tunjukkan dimana mayatnya berada.”


Winter berjalan mengikuti bawahanya dan menunjukkan seorang pria yang kini telah meninggal ia memeriksa tubuhnya dengan teliti dan melihat sebuah bekas tusukan di lehernya yang masih mengeluarkan darah.


“Orang ini di racuni, seseorang telah menusukan racun padanya dan memperkirakan waktu kematiannya dengan penyebaran racun ditubuhnya untuk merenggut nyawanya. Kalian uruslah mayat orang-orang ini aku harus melapor pada duke terlebih dahulu.”


“Baik tuan.”


“Sialan, aku kehilangan dua petunjuk dalam sehari.”


Aku harus secepatnya sampai di kota perbatasan, petunjuk terakhir yang aku miliki.


Dengan terburu-buru Winter meninggalkan area tahanan, menuju kediaman Duke Leonard untuk memberitahukan informasi yang ia dapatkan.


...***...