
Duke Leonard melambaikan tangannya saat melihat dari kejauhan seorang pria berjubah keluar melewati gerbang, orang yang ia lambaikan tangan menengok ke arahnya balas melambaikan tangannya dan memacu kudanya ke arah tempat Duke Leonard dan yang lainnya berada.
“Salam Tuan Leonard, salam Pangeran Edward dan Aelfric.” Sapa nya dengan senyuman ramah di wajahnya.
“Zeyden?”panggil Edward melihat Zeyden yang kini bergabung bersama mereka kemudian melihat ke arah Duke Leonard.
“Aku memintanya untuk ikut ekspedisi bersama dengan kita, agar memudahkan kita untuk cepat kembali nanti dengan sihir teleportasinya.” Duke Leonard memberitahu kenapa Zeyden bisa ikut bersama mereka.
“Apa kau tidak pernah ke hutan timur?” tanya Aelfric pada Zeyden.
“Ah, belum pernah ke sana karena dibatasi barrier penghalang.”
“Kita akan segera berangkat,” Edward memberitahu semuanya untuk segera mempersiapkan diri sebelum melakukan perjalanan mereka ke hutan timur, “jangan sampai tertinggal.” Edward berbicara dan menekankan ucapannya pada Aelfric. Aelfric hanya mendengus menjawab Edward yang selalu saja menekannya.
Mereka berempat kemudian memulai perjalanan menuju hutan timur tempat para bangsa elf berada, dengan tujuan meminta bantuan untuk mengobati Leathina.
Sudah hampir sehari penuh mereka melakukan perjalanan, mereka berempat singgah di sebuah sungai yang kebetulan berada tidak jauh dari tepi jalanan yang mereka lalui.
Hari sudah semakin gelap membuat mereka menunda perjalanan dan Mereka mengambil waktu isirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk esok hari.
“Kita akan beristirahat disini untuk sementara.” Ucap Duke Leonard kemudian melompat turun dari atas kudanya dan mengikatnya di dahan pohon.
“Duke bukankah kita masih bisa melakukan perjalanan dalam beberapa jam ke depan, kenapa harus beristirahat sekarang?” tanya Edward pada Duke Leonard.
“Cuaca sedang tidak bagus, sebaiknya singgah disini sebelum memasuki hutan. Kita akan melanjutkan perjalan besok.” Ucap Duke Leonard tegas.
Setelah mendengar penjelasan dari Duke Leonard akhirnya Edward menurut, begitu pula dengan Zeyden dan Aelfric mereka betiga menuruti perkataan Duke Leonard dan segera ikut turun dari kuda mereka masing-masing.
Duke Leonard dan Zeyden mengatur tempat mereka untuk beristirahat sementara Edward dan Aelfric berkeliling untuk memeriksa keadaan sekitar sekaligus mencari kayu bakar untuk digunakan sebagai penghangat.
Setelah hampir setengah jam berkeliling akhirnya Edward dan Aelfric kembali dengan membawa kayu bakar bersama mereka.
“Oh, kalian sudah datang!” seru Zeyden saat melihat Aelfric dan Edward telah kembali.
“Aku dan Duke sudah menangkap beberapa ikan untuk makan malam kita, kemari lah dan susun kayunya dan aku akan menyalakan api untuk memasak ikannya.” Ucap Zeyden sambil membersihkan ikan yang telah ia tangkap bersama duke Leonard di sungai dan akan segera ia masak untuk makan malam mereka.
Edward dan Aelfric, menuruti perkataan Zeyden. Mereka berdua segera meletakkan kayu yang mereka bawa di tanah dan mulai menyusunya. Setelah itu Zeyden menggunakan kemampuannya untuk menyalakan api.
Mereka berempat kini duduk melingkar di depan api yang mereka buat, menunggu ikan-ikan yang Zeyden bakar sampai matang.
“Alefric, tunjukkan peta menuju hutan timur yang telah kau gambar.” Ucap Edward kemudian memecah kesunyian di antara mereka bertiga.
Aelfric menurut, tanpa banyak bicara ia mengambil tasnya dan mulai mencari peta buatannya setelah itu langsung memberikan gulungan kertas yang telah ia gambari peta menuju kampung halamannya.
“Ini.” Ucap Aelfric memberikan Edward gulungan kertas miliknya.
Edward segera menerima gulungan kertas yang diberikan Aelric untuknya dan segera membukanya untuk mempelajari jalan mereka menuju hutan timur, setelah mengamati beberapa saat alis Edward berkerut dan tangannya mulai menggulung-gulung peta itu kembali.
“Ini yang kau sebut peta?!” seru Edward sambil memukulkan pelan kertas yang tadi ia gulung ke pundak Aelfric yang duduk tidak jauh darinya.
“Kenapa? gambarku bagus kok.” Aelfric membela diri kemudian merebut gulungan peta yang di pukulkan Edward padanya, “Lihat!” ucapnya sambil menunjukkan gambarnya ke pada Duke Leonard dan Zeyden.
Zeyden melongo setelah melihat peta yang digambar oleh Aelfric sementara Duke Leonard dengan serius berusaha memahami peta yang ditunjukkan Aelfric padanya.
“Kalian juga tidak mengerti?!” Tanya Aelfric pada Duke Leonard dan Zeyden yang tidak memberi respon apa-apa padanya.
“Lihat ini,” Aelfric menunjuk gambarnya dan mulai menjelaskan maksud dari petanya, “Pintu besar ini adalah gerbang kerajaan yang tadi pagi kita lewati kemudian garis panjang ini adalah jalanan yang sekarang kita lewati, kemudian ini gambar gunung kita nanti akan melewati beberapa gunung, dan gambar cekung ini adalah lembah nanti juga kita akan melewati lembah.” Aelfric menjelaskan petanya degan semangat.
“Gambar anak kecil jauh lebih baik dari coretanmu itu.” Celetuk Edward mengomentari gambar Aelfric dan berhasil membuat Aelfric marah dan melempar gabarnya sendiri ke dalam api.
“Lagi pula dari mana kau belajar menggambar seperti itu dan apa kau benar-benar tahu jalan pulang menuju rumahmu sendiri.” Celetuk Edward lagi sambil membantu Zeyden membalikkan ikan-ikan yang sudah mulai gosong.
Aelfric mendengus kesal kemudian melipat tangannya di depan dadanya dan hanya fokus memandangi api yang menyala di hadapnnya.
“Jangan bilang kau benar-benar tidak mengingat jalan pulang ke rumahmu?” taya Zeyden ikut menggoda Aelfric.
Wajah Aelfric semakin tertekuk murung tidak menanggapi Zeyden yang juga ikut menggodanya.
“Kau benar-benar tidak tahu jalan pulang kerumahmu?” Tanya Edward serius ketika melihat Aelfric yang biasanya akan membalas semua ucapan orang yang menganggunya kini hanya diam tidak memberi respon.
“Iya aku tidak tahu jalan pulang ke hutan timur. Apa kalian beruda puas sekarang!” bentak Aelfric geram.
“Bagaimana aku bisa tau jalan ke sana sementara aku dibawa kemari dengan cara diculik dan di masukkan di dalam kotak kayu oleh para penjahat.” Ucapnya sambil menahan tangis hingga matanya terlihat berkaca-kaca.
“Kau seharusnya dari awal bilang tidak tahu jika memang benar-benar tidak tahu, kenapa saat aku suruh mengambarnya kau malah mengiyakan.” Ucap Edward yang kini dengan dingin menatap Aelfric. “Kau bisa membunuh orang dengan sok tahu seperti itu, sebaiknya katakan yang sejujurnya kenapa kau harus berbohong.” Ucapnya lagi menasehati Aelfric.
“I-itu, itu karena aku tidak suka diremehkan olehmu.” Teriak Aelfric sambil melap matanya yang sedikit berair.
“sebenarnya berapa sih umurmu?” Tanya Zeyden yang gemas melihat tingkah Aelfric yang lebih mirip anak-anak.
“Kalian hentikanlah, biarkan Aelfric sendiri kalian berdua terlalu sering menganggunya.” Duke Leonard kemudian melerai mereka mencoba menenagkan kembali susananya.
"Jadi dari mana kau mendapatkan inspirasi menggambarkan peta tadi jika tidak tahu jalannya? Aku pernah ke sana sekali dan peta yang kau gambar kan tidak sepenuhnya salah." Tanya Duke Leonard pada Aelfric.
"Itu aku mendengarnya dari orang-orang yang membawaku kemari, saat di dalam kotak kayu beberapa kali mereka mengatakan akan melewati teluk atau gunung."
"Jadi begitu, Oh, ikannya sudah bisa dimakan." Zeyden mencoba mengalihkan pembicaraan saat melihat ikan yang mereka bakar telah matang di perapian.
Disaat bersamaan ikan yang mereka bakar akhirnya telah matang, mereka segera mengangkatnya dan mulai memakannya. Hingga susana kembali tenang mereka hanya fokus pada makanan mereka masing-masing.
Duke Leonard samar-samar mendengar suara lagkah kaki yang mendekati mereka dilihatnya Edward dan Zeyden kemudian mereka berdua mengangguk paham dan segera waspada di posisi masing-masing.
“Tak”
Duke Leonard melemparkan kayu yang diujungnya masih terlihat bara api ke arah Edward dan dengan gesit Edward menghindar kemudian kayu yang dilemparkan Duke melesat kebelakangnya.
“Argkh!” Jerit seseorang yang sepertinya terkena lemparan Duke Leonard.
Edward dan Duke Leonard segera menarik keluar pedangnya dari sarungnya kemudian segera pergi ke asal suara yang ia dengar tadi untuk memeriksa.
“Aw, aw,” jeritnya ketika Edward menangkapnya dan menyeretnya menuju perapian.
“Hei! Kenapa kau sembarangan menangkap orang.”
“Itu karena aku ingin memeriksa siapa yang malam-malam begini yang menyalakan api di pinggir hutan seperi ini.” Ucapnya membela diri.
“Aw, Aw, Aw, Lepaskan, ini sakit!” Jeritnya saat Edward memperkuat cengkramannya.
“Kau siapa?” Tanya Duke Leonard.
“Jawab!” ucap Edward mengancam.
“A-ku, aku tinggal disekitar sini. Aku datang untuk mengambil air di sungai tapi tidak sengaja melihat api yang kalian buat makanya aku datang untuk melihat siapa tahu ada orang jahil yang sengaja menyalakan api lalu meninggalkannya begitu saja.”
“Dimana rumahmu?” tanya Zeyden penasara.
“Disana?” Ia menunjuk masuk ke arah hutan.
“Kau ...” ucapannya berhenti saat melihat Duke Leonard yang kini dapat ia lihat dengan jelas karena kobaran api.
“Kau mirip perempuan yang pernah menyelamatkan kami, dia juga punya mata biru seperti itu.”
“Siapa?” tanya Duke Leonard penasaran
“Kau tahu, perempuan cantik yang rambutnya berwarna merah dan ahli dalam menggunakan pedang. Namanya Lea kalau tidak salah dia pernah menginap di.. Aw, Aw kau mencengkramku terlalu kuat tanganku bisah patah.” Teriaknya dan memberontak pada Edward.
“Dari mana kau mengenalnya?” tanya Zeyden menyelidik.
“Itu pertemuan yang tidak disengaja, saat itu kami ingin merampoknya, tapi malah kami yang babak belur,’ jawabnya malu-malu karena mengingat kekalahan telaknya saat pertama kali bertemu dengan Leathina.
“Tapi saa itu dia berbaik hati menye ... Aw!” kenapa kau mencengkaramku lagi” tanyanya pada Edward dengan emosi.
Dilihatnya Edward memelototinya membuat nyalinya menciut, paham dengan reaksi Edward karena seingatnya Leathina tidak ingin kemampuan penyembuhnya diketahui oleh banyak orang.
“Maksudku dia menyelamatkan kami,” ucapnya lagi mengulangi ucapannya, dan saat itu sudah malam jadi kami menawairnya tinggal di tempat kami.”
“Siapa kau?”
“Namaku Damian, dulu kami adalah bandit yang menjarah para petualang yang lewat di jalur hutan. Tapi sekarang sudah tidak lagi, percayalah sekarang pekerjaan kami bukan bandit lagi.” Damian berusaha menyakinkan keempat orang yang sekarang sedang menatapnya dengan curiga.
“Lea, eh maksudku Nona Leathina mengajari kami bagaimana mencari uang tanpa harus merampok lagi.”
‘Bagimana?” tanya Aelfirc penasaran karena belum pernah memegang uang selama keluar dari hutan timur, selama ini dia hanya bergantung dengan bantuan dari Leathina atau Edward yang memberinya tempat tinggal dan makanan yang cukup untuknya.
“Itu kami menebang kayu dan mengubahnya untuk bisa dijual di kota.”
Edward akhirnya melepaskan cengkramannya, ia tidak menemukan adanya kebohongan dari apa yang diucapkan oleh Damian.
“Ah, akhirnya,” gumama Damian lega saat Edward melepaskannya ia kemudian merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku karena Edward.
“Kalau begitu saya permisi dulu tuan, saya akan kembali ke tempat saya.” Ucap damian sopan dan segera pamit pergi karena tidak ingin berlama-lama berurusan dengan orang-orang yang menurutnya aneh sekaligus terlihat berbahaya itu.
Damian berjalan pergi kembali ke arah datangnya tadi, ia berjalan menuju sungai dan menyeberanginya dengan batu-batu besar yang bersusun berjejeran sampai ke seberang.
Setelah berjalan dalam setengah perjalanannya Damian kembali berbalik alisnya berkerut menahan rasa jengkelnya ketika keempat orang yang tidak segaja ia temuai terus mengikutinya bahkan sampai menyeberangi sungai.
“Tuan-tuan apakah masih ada kesalahpahaman yang masih perlu kita selesaikan?” tanyanya kebingungan karena mereka terus mengikutinya. Sementara yang ditanya hanya diam.
Damian kemuidan mengabaikannya dan kembali berjalan tapi untuk yang kesekian kalinya mereka masih mengikuti kemana perginya membuatnya semakin emosi.
“Kenapa kalian masih terus mengikutiku?” tanyanya dengan intonasi yang sedikit dinaikkan tapi masih dalam batas sopan karena Damian tahu bahwa keempat orang yang ada di hadapannya itu bukanlah orang biasa.
“Kami ingin menginap di tempat yang Leathina dulu tempati!” Ucap Ailfric yang akhirnya berbicara terlebih dahulu.
“Tidak, tida bisa. Desa kami tertutup. Tempat yang ditempati Nona Leathina dulu bukan disini karena kami baru pindah dan baru membuat pemukiman baru jadi berbahaya bagi kami membawa orang luar untuk masuk ke wilayah kami,” Damian tidak mengizinkan mereka untuk ikut bersamanya. “Lagipula Nona Leathina itu adalah penyelamat kami, jadi jangan membawa-bawa namanya sembarang,” Ucap Damian lagi memperingati keempatnya.
“Kenapa?” tanya Aelfric tidak terima penolakan dari Damina, “Asal kau tahu ya, orang ini tinggal serumah dengan Leathina,” Aelfric menunjuk Duke Leonard sementara yang ditunjuk mengangguk mengiyakan “Dan dua orang ini adalah teman-teman dekat Leathina,” Ucapnya lagi sambil menunjuk Edward dan Zeyden dan mereka juga bereaksi sama seperti Duke Leonard, “Dan aku ...,” Ucapnya lagi sabil menunjuk dirinya sendiri tapi tidak menyelesaikan ucapanya karena ia berfikir terlebih dahulu, “Dan aku ..., aku adalah orang yang mungkin akan menjadi istimewa bagi Leathina,” Ucapnya sombong memberitahu Damian dan mengunggulkan dirinya dibanding yang lainnya.
“Huffttt!” Damian menghela nafas panjang dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Baiklah, jika kalian memang benar orang-orang terdekat Nona Lea berarti tidak ada pilihan bagiku kecuali menerima kalian ke pemukiman kami.” Damian akhirnya pasrah karena mereka semua telalu keras kepala untuk dibiarkan begitu saja. “Tapi, ingat aku membawa kalian karena kalian teman-teman Nona Lea jadi jangan mempermalukan namanya dimana-mana.” Ucap Damian mengancam keempat orang yang sekarang bersikeras ikut dengannya.
Mereka berempat mengangguk pelan secara bersamaan kemudian kembali mengikuti Damian yang kembali berjalan di depan mereka.
Mereka sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan seperti apa pemukiman tempat Damian tinggal, yang membuat mereka ingin melihat tempat tinggal Damian adalah karena mereka penasaran di tempat seperti apa Leathina tinggal dan bagaiman orang-orang disana memperlakukan Leathina. Mereka penasaran orang seperti apa Leathina sebenarnya, mereka berempat ingin lebih mengenal Leathina dengan cara masing-masing.
Setelah beberapa saat berjalan mereka semua akhirnya bisa melihat beberapa pencahayaan di satu titik di depan mereka.
“Disana aku tinggal.” Damian menunjuk pemukiman yang kini hanya berjarak beberapa meter di depan mereka, terlihat pemukiman tersebut masih dalam tahap pembangunan dan hanya ada beberap gubuk kecil yang sepertinya masih terlihat sangat baru didirikan.
“Damian siapa orang-orang yang kamu bawa itu.” Seseorang tiba-tiba meneriaki Damian saat Damian semakin berjalan mendekati pemukiman.
“Bukankah sudah ditekankan bahwa sampai masa pembangunan belum selesai tidak ada yang diperbolehkan membawa orang baru kemari.” Teriak orang-orang yang lainnya kemudian berkumpul di satu titik dan menghalangi jalan Damian.
“Aku tidak mungkin membawa sembarang orang ke sini.” Damian berusaha menenangkan orang-orang yang kini mendesaknya.
“Tetap saja tidak boleh, ya tidak boleh. Berbahaya bagi kita!”
“Mereka teman-teman dekat Nona Lea,” Damian segera memperkenalkan orang-orang yang ia bawa sebelum mendapat amukan.
“Oh, teman-teman Nona Lea berarti tamu kehormatan juga kan.” Mendengar nama Leathina disebutkan orang-orang yang tadinya telah naik pitam tiba-tiba berubah dan kembali tenang.
Damian menghela nafas dan mengelus pelan dadanya merasa lega karena orang-orang tidak mendesaknya lagi.
“Hoi Keluar! teman-teman Nona Leathina datang!”
“Kalian juga harus segera menyambutnya.” Seru orang-orang memanggil yang lainnya.
Dan tanpa menunggu lama semua orang langsung keluar dan menyambut kehadiran mereka dengan ramah.
“Leathina, sebenarnya apa yang telah kamu lakukan dalam waktu singkat diluar sampai membuat perkumpulan mantan bandit ini begitu menghormatimu?”
Duke Leonard, Edward dan bahkan Zeyden terkejut melihat orang-orang yang baru mereka temui itu terlihat sangat mengormati Leathina, membuat ketiganya kembali mempertanyakan orang seperti apa Leathina sebenarnya.
...***...