
Adam diam-diam mengikuti Ban yang terlihat sangat tergesa-gesa pergi setelah disuruh untuk pergi oleh Adam.
Dilihatnya Ban melihat sekelilingnya dan terus menoleh ke belakang takut jika seseorang mengikutinya kemudian langsung ke bagian belakang penginapan dan menemui si pemilik penginapan yang sedang sibuk memanaskan air mandi yang diminta oleh Troy untuk dia siapkan sebelumnya.
“T- uan.” Panggil Ban dengan suaranya yang sengaja dia kecilkan membuat Adam harus benar-benar menajamkan pendengarannya untuk mendengar percakapan meraka yang cukup jauh.
"Apa?!" Tanya si pemilik penginapan emosi karena kepanasan sedari tadi berada di dekat api.
"Aku berharap melihat ke dalam ruangan mereka." Bisik Ban dengan hati-hati.
"Benarkah?!" Tanyakan lagi tidak yakin namun Ban langsung mengangguk untuk memastikan.
Si pemilik penginapan langsung berdiri melempar kipas api yang sedari tadi ia gunakan untuk menyalakan api agar tidak padam kemudian menarik Ban masuk ke dalam ruangan penyimpangan bahan kayu bakar kemudian menguncinya.
“Duh, ternyata mereka berdua rekan kerja ya menyesal aku membantu anak berandalan itu kemarin.” Gumam Adam kemudian mengendap-endap untuk menguping untungnya penginapan tua itu cukup rapuh hingga mudah di rusak.
Adam mengeluarkan belati kecil dan menggunakannya untuk membuat lubang agar bisa mendengar percakapan yang sedang berlangsung di dalam ruangan penyimpanan kayu bakar.
“Bagaimana?!” terdengar suara cempreng si pemilik penginapan begitu bersemangat saat menanyai Ban.
“Cepat katakan, apakah kau melihat istri laki-laki yang mukanya di tutup kain hitam itu?” tanyanya lagi.
Adam mengerutkan alisnya kemudian kembali fokus untuk mendengarkan. “Mereka benar-benar sesuatu, liciknya bukan main.” Batin Adam.
Ban mengangguk membenarkan pertanyaan si pemilik penginapan, “I- iya, rambutnya merah, sepertinya terluka karena terus tidur sudah tiga hari lamanya aku mendengar orang yang mukanya di tutup tadi meminta untuk dicarikan dokter untuk mengobati istrinya yang terluka dan .....” Ucap Ban kemudian terhenti takut melanjutkan perkataannya.
“Dan apa?! Tanya si pemilik penginapan penasaran. “Cepat katakan ada apa?!” tanyanya lagi memaksa.
“Tu- tuan, bukankah ini bukan perbuatan baik?” tanya Ban ragu-ragu.
“Duh dasar bodoh!” gerutunya kesal karena Ban tiba-tiba ketakutan.
“Pekerjaanmu cukup awasi saja mereka selebihnya biar aku yang urus jadi jangan khawatir.”
“Tapi Tuan mereka semua sepertinya bukan orang-orang biasa, bagaimana jika mereka tahu bahwa kita sedang mengawasi mereka dan langung membunuh kita!” Ucap Ban ketakutan kemudian memohon agar si pemilik penginapan berhenti. “Kita sudahi saja sampai disini tuan, lagi pula tuan kan sudah dapat informasi bahwa perempuan itu punya rambut merah seperti ciri-ciri orang yang mereka cari.” Ucapnya mencoba menghentikan si pemilik penginapan.
“Kau diam saja dan lakukan pekerjaanmu, awasi mereka!” ucap si pemilik penginapan memerintah tidak mendengarkan perkataan Ban.
“Kau tahu tidak berapa banyak uang yang dapat kita peroleh jika mendapatkan lebih banyak infomasi tentang perempuan itu, kau tenang saja hasilnya pasti akan aku bagi dua denganmu dan jika kita sudah dapat bayarannya kau juga pasti tidak mau bekerja lagi disini untuk menggosok lantai dan memanaskan air, bukan?”
“Ta- tapi tuan, aku benar-benar mendengar mereka mengatakan bahwa mereka telah melakukan pembersihan di sekitar penginapan.”
“Pembersihan apa?” tanyanya, “Maksud mu mereka membunuh orang!” Ucapnya lagi.
“Iya tuan mereka membunuh banyak orang.” Jawab Ban ketakutan.
“Kau pasti salah dengar Ban, jika memang mereka membunuh orang yang ada di sekitar penginapan kita pasti sudah tahu atau setidaknya mendengar keributan saat mereka melakukan aksinya, memangnya kau mendengar atau melihat sesuatu yang aneh beberapa hari ini saat mereka tinggal di sini?” tanya si pemilik penginapan.
Ban menggeleng, “Tidak ada Tuan, mereka benar-benar terus berada di ruangannya untuk menjaga perempuan berambut merah itu.”
“Nah kau sendiri yang selalu peka jika terjadi sesuatu tidak mendengar apa-apa, jadi tidak mungkin mereka bisa membunuh disaat orang-orang sering berlalu lalang di sekitar penginapan.” Ucap si pemilik penginapan meremehkan.
“Tapi Tuan beberapa hari ini ada beberapa orang asing yang sering berkeliaran di sekitar penginapan aku sering melihatnya saat membersihkan pekarangan dan mereka selalu duduk di tempat yang sama dan semenjak kemarin mereka tidak lagi datang.”
“Itu karena mereka bukan orang asli desa ini mereka hanya pengunjung yang kebetulan menyewa penginapan di tempat lain tentu saja mereka tidak akan datang lagi jika sudah kembali melanjutkan perjalanan mereka.”
“Tuan! Tuan! Apa tuan yakin akan melanjutkannya?!” Cegat Ban saat si pemilik penginapan akan pergi.
“Tentu saja kau ini kenapa sih, mau aku pukul kau baru menurut!” ancam si pemilik penginapan pada Ban yang tiba-tiba memblok jalannya.
“Tapi aku melihatnya membunuh temannya sendiri? Tuan ingat laki-laki bertubuh besar yang datang bersama mereka aku melihatnya memukulnya hingga tidak sadarkan diri dan menyeret tubuhnya agar tidak terlihat.
Adam mengerutkan alisnya saat mendengar percakapan antara si pemilik penginapan dan pekerjanya. “Jika anak itu lihat berarti ruangan itu memiliki cela yang cukup lebar hingga bisa ia gunakan untuk mengintip ke dalam.” Gumamnya, “Tapi ada untungnya juga anak itu melihat semua kejadian itu dan mendengar percakapan kami dia jadi bisa berpikir lagi dan si gendut itu pasti akan berhenti disini, jika dia berhenti maka aku tidak perlu membunuhnya untuk menutup mulut.” Adam berpikir keras sambil terus mendengarkan percakapan antara dua orang yang selama ini mengintai mereka dari jarak dekat.
Si pemilik penginapan terdiam sejenak setelah mendengarkan perkataan Ban terlihat sedang berfikir dengan sangat keras hingga harus mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.
“Baguslah kalau begitu!” ucapnya santai.
“Eh!” Ban terkejut melihat reaksi si pemiliki penginapan begitu santai, begitu juga dengan Adam yang melihat semuanya dari cela yang di buatnya.
“Apa dia sudah gila, tidak takut sama sekali?! Padahal saat di depan Troy dia gemetaran sampai ingin kencing di celananya.” Gumam Adam tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari si pemilik penginapan.
“Tuan mereka membunuh! Mereka membunuh temannya sendiri! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.” Ban mengulangi perkataannya menjadi lebih jelas agar Tuannya itu dapat mendengarnya dan mengerti betapa berbahaya nya berurusan dengan para pembunuh.
“Bagus Kan setidaknya berkurang satu orang yang menakutkan, jadi sisa dua orang si tinggi kerempeng itu dan orang yang muka nya selalu di tutup kalau dua perempuan itu tidak perlu di khawatirkan, jika kita meminta para pembunuh bayaran untuk menangani mereka sudah beres.” Ucap si pemilik penginapan.
“Hah!” Adam lebih terkejut saat mendengar si pemilik penginapan mengatainya si tinggi kerempeng, dikepalkannya tangannya untuk menahan emosinya agar tidak meledak. “Baru kali ini ada orang yang matanya benar-benar buta.” Gumamnya kemudian tersenyum dengan kesal.
“Sudah aku sibuk, kau urus tungku itu agar terus menyala dan selesaikan semua pekerjaanmu secepatnya. Jangan sampai mereka memberiku pekerjaan tambahan agi gara-gara kamu belum menyelesaikan pekerjaanmu.” Setelah meminta Ban untuk segera menyelesaikan pekerjaannya si pemilik penginapan pun keluar tidak dia pedulikan lagi Ban yang masih sangat khawatir jika perbuatan mereka diketahui dan benar-benar dibersihkan seperti apa yang ia dengar saat menguping pembicaraan.
Adam dengan gesit melompat kemudian bersembunyi di balik tumpukan papan untuk bersembunyi agar tidak terlihat oleh si pemilik penginapan yang kini berlalu dengan bersiul di depannya.
“Akan aku pastikan semua lemak mu itu aku jadikan makanan untuk gagak iblis peliharaan Bos Ed.” Batin Adam bertambah emosi saat melihat si pemilik penginapan berlalu di depannya dengan bersiul dan setiap melangkah lemak yang bertumpuk di perutnya itu terguncang ke atas dan ke bawah.
Ban mengigit ujung jari-jarinya masih memikirkan apa yang ia dengar saat menguping tadi khawatir jika benar-benar dibunuh atau dibersihkan seperti orang-orang yang beberapa hari ini sering berkeliaran di depan penginapan.
“Bagaiman jika aku benar-benar di bersihkan.” Gumamnya khawatir.
“Ahk! Tuan bilang biar dia yang urus.” Gumamnya menenangkan diri setelah itu langsung mengambil beberapa kayu bakar dan menumpukkan nya di tangannya untuk ia tambahkan ke dalam tungku yang sudah hampir padam karena tidak dijaga dalam beberapa waktu.
“Hei Nak!”
“AAAaaakkk!” Jerit Ban saat tiba-tiba melihat Adam berada di depannya.
Kayu-kayu yang diangkutnya ikut terjatuh bersamaan dengan dirinya yang kini telah jatuh tersungkur karena melihat Adam.
“Tuan!” pekiknya ketakutan.
“Iya?!” jawab Adam ramah kemudian tersenyum dan langsung masuk ke dalam ruangan penyimpanan kayu bakar menguncinya dari dalam sambil terus memutar-mutar belatinya.
“Nah, sekarang bagian tubuh yang mana yang harus aku ambil sekarang dari tubuh seorang penipu.” Ucap Adam sambil perlahan mendekati Ban yang kini ketakutan.
Ban yang ketakutan beringsut mundur bersamaan saat Adam berjalan mendekatinya, namun menyadari bahwa ia tidak akan selamat karena terkunci di ruangan sempit Ban langsung berlutut dan meminta maaf kemudian memohon untuk tidak di bunuh.
“Tuan mohon maafkan saya.” Ucapnya dengan suara bergetar, “Saya hanya disuruh, sa- saya akan mengatakan semuanya tidak akan ada yang saya tutup-tutupi saya janji tapi tolong jangan bunuh saya, saya mohon!”
“Benar tuan, saya akan mengatakan semuanya.” Jawab Ban spontan.
“Baiklah, katakan sekarang.” Ucap Adam kemudian mengambil kursi kayu dan duduk di depan Ban kemudian mulai mengintrogasi Ban.
“Sa- saya diperintahkan untuk mengawasi anda dan orang-orang yang datang bersama anda ke penginapan ini Tuan.” Ucap Ban mulai memberitahukan Adam.
“Untuk apa?”
“Beberapa waktu yang lalu ada beberapa orang yang datang memberikan informasi bahwa akan ada hadiah bagi siapapun yang memberikan informasi tentang perempuan yang memiliki rambut merah, tuan saya tertarik kemudian mulai terobsesi untuk mendapatkan hadiah ketika kebetulan melihat kalian yang datang dengan wanita yang degan sengaja ditutup-tutupi.”
“Jadi?”
“Jadi saya mulai di perintahkan untuk mengawasi anda tuan, kemudian hari ini saya tidak senagaja melihatnya saat ingin memberitahukan bahwa air mandi sudah siap.”
“Si gendut itu pergi kemana?” Tanya Adam lagi.
“Sepertinya dia akan pergi untuk menjual informasi yang ia dapatkan sekarang tuan.”
“Dimana dan kapan mereka akan bertemu? Siapa orang-orang yang akan si gendut itu berikan informasi yang ia punya?”
“Saya juga tidak tahu, beliau hanya meminta saya untuk mengawasi ada dan teman-teman anda tuan, selebihnya saya tidak tahu tapi untuk bertemu dengan mereka sepertinya ada tempat-tempat tertentu yang bisa didatangi jika ingin menjual informasi tapi saya tidak tahu di mana tempatnya.”
“Brak!”
“Akh!” pekik Ban ketakutan saat Adam tiba-tiba berdiri dan melempar kursi yang tadi ia duduki hingga hancur dan melubangi dinding yang terbuat dari kayu.
“Lakukan pekerjaanmu seperti biasa, berpura-pura lah tidak terjadi apa-apa kalau tidak ingin lidahmu itu ku potong.” Ucap Adam kemudian segera pergi meniggalkan Ban yang masih meringkuk ketakutan saat ia melempar kuris ke arahnya.
“Menyesal aku menaruh sedikit perhatian pada anak itu.” Gerutu Adam sambil menyimpan kembali belatinya di balik pakaiannya.
...
“Hum, si gendut?” gumam Nina saat melihat si pemilik penginapan dengan riangnya berjalan menuju suatu tempat.
Diam-diam Nina mengikutinya sampai pada sebuah pondok kecil yang berada jauh dari desa, pondok yang dilihatnya itu hampir seperti rumah tidak berpenghuni samapi ketika si pemilik penginapan yang diikutinya itu mengetuk pintu pondok dengan nada tiga kali ketukan cepat, keluarlah dua orang terlihat mereka mengobrol sebentar setelah itu dua orang tadi baru mempersilahkan si pemilik penginapan masuk.
Nina mengendap-endap mendekati pondok kayu yang di datangi si pemilik penginapan berusaha mengintip untuk mencari informasi lebih tapi sayangnya tidak ada sama sekali yang bisa Nina lihat di dalam karena mereka tidak menyalakan penerangan sama sekali.
“Sial!” Umpat Nina kesal.
Nina mendengar beberapa derap langkah kaki termaksud derap langkah kaki s pemilik penginapan, Nina kembali mengintip ke dalam mempertajam pengelihatannya berharap dapat melihat sesuatu tapi sia-sia. Namun beberapa saat kemudian salah satu dari orang yang menyambut kedatangan si pemilik penginapan menyalakan pematik api menempelkannya ke lantai mencari sesuatu.
“Tok! Tok! Tok!”
“Trak!”
“Tak!”
Mereka mengetuk lantai kemudian terdengar seperti rongga kosong setelah itu mereka mencungkil lantainya dan terbukalah sebuah pitu rahasia menuju ruang bawah tanah kemudian mereka semua masuk ke dalam dan setelah itu tidak ada lagi suara sama sekali.
“Ruangan rahasia ya?!” gumam Nina sambil menunduk kembali kemudian segera pergi dari pondok dan kembali ke penginapan.
“Akh, sial!” gerutu Nina kesal. “sayang sekali aku tidak bisa mauk ke sana dan melihat isinya, sebaiknya aku harus segera melaporkan kembali ke tuan Ed sebelum bertindak.” Gumamnya kemudian segera kembali ke penginapan.
Saat orang-orang yang ada di dalam pondok tadi menyalakan pematik apinya sekilas Nina melihat beberapa orang yang berjaga di beberapa tempat di dalam ruangan, dua di balik pintu dan beberapa lagi tersebar di beberapa titik, mereka sulit di lihat karena berpakaian gelap ditengah-tengah kegelapan jika ceroboh dan memaksa masuk ke dalam Nina yang tidak bisa melihat dalam kegelapan tentu akan langsung dihabisi oleh mereka itulah kenapa Nina tidak berani menyusup ke dalam karena ada alasan kenapa mereka tidak menyalakan penerangan sama sekali.
...
“Kau sudah kembali?” tanya Adam saat berpapasan di depan pintu kamar.
“Kau juga.” Balas Nina singkat.
“Kenapa mukamu jelek seperti itu?” tanya Adam lagi.
“Kau juga.” Balas Nina lagi kemudian mengetuk pintu beberapa kali setelah itu langsung masuk meninggalkan Adam yang masih berada di depan pintu
“Ugh!” gerutu Adam kesal karena saat ingin masuk Nina tiba-tiba menutup pintu kembali hingga wajahnya terbentur pintu. “Dasar perempuan, apa tamu bulanannya itu sudah datang ya? tadi perasaan dia baik-baik saja.” Gumamnya kesal kemudian langsung membuka pintu dan menyusul Nina yang telah lebih dahulu masuk ke dalam.
“Tuan Ed!” Panggil Nina saat melihat Edward terdiam sambil memandangi Leathina yang masih tidak sadarkan diri akibat tindakan Troy.
“Kalian sudah kembali? Katakan apa yang kalian temukan.” Ucap Troy kemudian mengalihkan pandangannya dan kini melihat Troy dan Nina fokus ingin mendengarkan laporan keduanya.
“Anak yang bos Ed minta untuk diawasi ternyata benar-benar mata-mata.” Ucap Adam, “Dia diperintah oleh si pemilik penginapan untuk mengawasi kita semua kemudian melaporkan padanya, dan anak itu telah melihat Nona Leathina dan telah melaporkannya pada si gendut.”
“Kemana dia sekarang?” tanya Edward.
“Sepertinya pergi untuk menjual informasi yang berhasil ia dapatkan selama mengamati kita dalam beberapa hari ini.”
“Kay tahu di mana tempatnya?”
“Maafkan saay bos, saya tidak sempat mengikutinya kaena harus mengintrogasi anak itu terlebih dahulu sebelum kabur atau diburu oleh orang lain. Tapi sepertinya mereka punya beberapa tempat tertentu jika ingin pergi menjual informasi yang mereka dapatkan, saya akan segera mencari tahu secepatnya.”
“Aku kebetulan melihat si melihat si pemilik penginapan saat mencari informasi di luar kemudian mengikutinya karena gerak geriknya mencurigakan.” Ucap Nina melanjutkan laporan.
“Jadi apa yang kamu temukan?” tanya Edward.
“Dia pergi ke ujung desa menuju sebuah pondok kayu terbengkalai yang ada di sana, sepertinya untuk menjual informasi. Saya tidak bisa mengikuti si pemilik penginapan masuk ke dalam pondok itu karena pondok itu di jaga dengan ketat Tuan. Tapi, di dalam pondok itu ada ruangan rahasia tepatnya ruangan bawah tanah mereka membawa si pemilik penginapan masuk ke sana. Saya segera kembali untuk melaporkannya.” Ucap Nina memberitahukan semua yang ia lihat dan ia ketahui pada Edward.
“Sepertinya mereka benar-benar bukan dari kerajaan atau kediaman Duke Leonard. Mereka punya tujuan mereka sendiri untuk mencari Leathina. Kalian berhati-hatilah berpura-pura lah tidak mengetahui apa-apa.” Ucap Edward memperingati Nina dan Adam.
“Jadi apa yang harus kami lakukan selanjutnya Tuan Ed?” Tanya Nina.
“Kita akan menjebak mereka dalam perangkap mereka sendiri. Mereka pasti akan datang sendiri ke penginapan ini untuk memeriksa kebenaran dari informasi yang dijual oleh si pemilik penginapan itu pada mereka, disaat itu kita akan membersihkan mereka.” Ucap Edward.
“Baik Tuan.” Jawab Nina patuh sementara Adam hanya mengangguk paham.
“Pastikan kalian memberitahukan Troy saat sadar nanti, dan sekap anak yang menjadi mata-mata mereka itu. Samapi saat mereka datang untuk melihat sendiri Leathina dengan matak kepalanya untuk membuktikan kebenaran informasi yang di berikan si pemilik penginapan kalian jangan lengah dan selalu waspada.”
“Akan kami lakukan!” Ucap Nina dan Troy yang hampir bersamaan.
...***...