I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 203



“Trak!”


Pelan Edward membuka pintu kamar penginapan yang ditempati Leathina saat akhirnya kembali setelah selesai melakukan pekerjaannya, ia takut jika suara pintu yang berderit membangunkan Leathina yang sudah lebih dahulu tertidur.


Dilihatnya Adam, Troy, dan Nina sudah kembali lebih dahulu dan bersiap-siap untuk kembali berpura-pura tidur di tempat masing-masing agar Leathina tidak curiga.


“Loh! Bos, kenapa sendirian?” tanya Adam ketika melihat Edward datang sendirian, kemudian langsung duduk dan mengintip ke belakang Edward kembali mencari seseorang.


“Siapa yang kau cari?” tanya Edward tidak paham dan ikut menoleh.


“Tuan, bukakan anda pergi bersama Nona Leathina?” tanya Troy yang kini ikut mencari.


“Hah?! Bukannya Leathina tidur?” Ucap Edward langsung melihat ke belakang melihat tumpukan bantal yang disusun menyerupai orang yang sedang tertidur. walaupun di tutupi selimut Edward bisa langsung tahu jika yang ada di sana hanyalah tumpukan bantal bukan tubuh manusia, matanya yang jeli dapat dengan mudah langsung membedakan.


“Tuan, kami pikir anda dan Nona sengaja membuat orang-orangan yang ada di atas kasur itu agar tidak ketahuan keluar oleh pemilik penginapan.” Ucap Nina yang juga memang sudah tahu sejak datang bahwa bukan orang yang berbaring di atas kasur melainkan hanya bantal yang disusun menyerupai bentuk orang.


“Apa maksud kalian?! Aku baru saja kembali, belum bertemu dengan Leathina semenjak meninggalkan penginapan ini bersama kalian.”


“Akh!” pekik Nina terkejut menyadari situasi menjadi aneh.


“Apa seseorang menculiknya?” ucap Troy khawatir.


“Sialan!” umpat Edward tidak kalah khawatir nya, “Aku tahu ini akan terjadi, cepat cari Lea, jika memang seseorang menculiknya maka mereka belum keluar dari desa.” Ucap Edward bergegas mencari Leathina begitu juga yang lainnya.


Mereka berempat segera berpencar mencari keberadaan Leathina menelusuri setiap sudut jalan dan setiap penginapan yang jumlahnya memang tidak banyak di desa yang mereka singgahi itu, hingga memudahkan mereka untuk melakukan pencarian.


“Bagaimana sudah ketemu?” tanya Adam pada Troy dan Nina namun di balas dengan gelengan kepala.


“Kami tidak menemukan apa-apa?” jawab keduanya yang semakin khawatir.


“Ini benar-benar kacau!” ungkap Adam kesal, “Cepat cari lagi!” mereka bertiga kembali berpencar untuk mencari Leathina yang tiba-tiba menghilang.


Edward pun telah mencari ke semua sudut desa dan semua penginapan yang ada di desa tapi tetap tidak bisa menemukan petunjuk siapa yang membawa Leathina.


karena merasa ada yang aneh Edward kembali ke penginapan kemudian memeriksa semua isi kamar termaksud lemari penyimpanan.


Edward tidak menemukan satu pun barang milik Leathina, lambat Edward sadari bahwa Leathina tidak diculik melainkan melarikan diri.


"Bodoh! Leathina pasti tidak tidur saat kami semua pergi, kenapa aku bisa lupa jika Leathina bukan perempuan biasa dia sangat pintar. Leathina pasti sudah curiga dari awal, bahaya jika Leathina malah salah paham."


Cepat-cepat Edward kembali mencari Leathina, ia bertanya pada pemilik penginapan apakah melihat seseorang perempuan pergi dari penginapan tapi ternyata tidak ada orang yang melihat Leathina pergi.


"Pintu belakang, pasti lewat pintu belakang dan memasuki area hutan!"


Benar saja pintu belakang penginapan yang harus nya terkunci malah terbuka, terlihat jejak-jejak kaki yang berjalan memasuki hutan Edward kemudian langsung mengikuti takut jika terjadi sesuatu pada Leathina di hutan.


...


“Aku penasaran kenapa mereka tiba-tiba memintaku tidur terlebih dahulu, jadi ada alasan dibalik semua perlakuan meraka.” Batin Leathina.


Leathina mengintip memeriksa ruangannya untuk berjaga-jaga takut jika ternyata Edward dan yang lainnya masih berada di dalam sana memperhatikannya yang sedang berpura-pura tidur.


“Aku tidak habis pikir.” Gumam Leathina kemudian langsung duduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya berusaha menenangkan diri nya.


“Apa mereka akan membawaku kembali? Apa yang mereka inginkan? Tentu saja mereka tidak mungkin jauh-jauh kesini hanya sekedar mencari ku tanpa tujuan lain, seharusnya aku sudah sadar. Aku terlalu melibatkan perasaanku.” Gumam Leathina masih kaget karena ternyata Edward bahkan Adam, Troy, dan Nina punya maksud tersembunyi dan memiliki rencana lain yang tidak diberitahukan padannya, hal itu membuat Leathina dipenuhi oleh prasangka buruk.


“Apa aku kembali saja ke mansion Almo menetap disana dalam beberapa waktu?” batinnya kembali mengingat perkataan Almo padanya beberapa waktu yang lalu bahwa sebelum melewati takdir yang di tentukan untuknya maka tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi padannya dan dari dulu orang-orang di kerajaan memang tidak menyukai keberadaannya.


“Tidak bisa seperti ini aku harus pergi sebelum mereka kembali!” Ucap Leathina panik kemudian dengan terburu-buru mengatur tempat tidurnya sebaik mungkin menyerupai dirinya yang sedang tertidur.


Dengan tergesa-gesa Leathina mengemas semua barang-barang miliknya kembali dan segera meninggalkan penginapan melalu pintu belakang bahkan pemilik penginapan sendiri tidak tahu jika Leathina telah pergi.


“Untung saja sebelum mereka datang aku sudah mencari tahu seluruh struktur bangunan penginapan dan jalan-jalan di desa, aku sudah berjaga-jaga jika nanti tiba-tiba mendapati situasi seperti ini. Firasat bawaan dari tubuh Leathina memang tidak bisa di sepelekan.” Gumamnya merasa lega.


Leathina berlari sekencang mungkin memasuki hutan disaat matahari akan terbit membuatnya tidak perlu mengkhawatirkan pencahayaan karena sebentar lagi matahari akan terbit.


Leathina menghela nafas berat kemudian berjalan perlahan menuju tebing di tatapnya desa yang tadi ditempatinya dari kejauhan kemudian duduk di bawah pohon untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.


“Oh! Melihat matahari terbit dari sini sungguh sangat menakjubkan, matahari paginya cantik sekali.” Gumam Leathina pelan kemudian kembali menghela nafas berat untuk yang kesekian kalinya karena merasa berat harus berpisah dengan Edward dan rombongannya.


Leathina tahu bahwa maksud mereka bukanlah ingin berbuat jahat, tapi Leathina tidak suka dibohongi itulah mengapa Leathina memili pergi meninggalkan mereka dibandingkan harus di bohongi oleh orang-orang yang sudah ia percaya.


“Aku sungguh sangat senang melihat mereka kembali setelah lama tidak bertemu sayangnya kita harus berpisah sekarang.” Gumam Leathina kemudian kembali.


Leathina mengirup nafas dalam kemudian melepaskannya perlahan untuk mengumpulkan kekuatannya kembali setelah merasa lemah karena terpaksa harus kabur dari teman-temannya sendiri.


“Ah! Semoga saja Edward tidak berubah pikiran dan membunuhku seperti pada alur yang sebenarnya.”


“Sebenarnya aku merasa bersalah pergi tanpa berpamitan dengan kalian, maafkan aku yang pergi tiba-tiba sampai jumpa dan samapi bertemu kembali.” Ucap Leathina kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.


“Akh!” Pekik Leathina saat tiba-tiba ditarik hampir terjatuh.


“Kalau merasa bersalah kenapa harus pergi!” Edward dengan emosi menarik Leathina menggenggam tangan Leathina sampai membuat Leathina kesulitan untuk bergerak karena kesakitan.


“Edward?!” seru Leathina terkejut bercampur dengan kebingungan karena Edward berhasil menemukannya.


“Akh! Edward.” Leathina menggeliat berusaha melepaskan Edward yang terlalu kuat menggenggam tangannya.


“APA!” Edward yang kehilangan kesabaran malah terbakar emosi kemudian bukannya melepaskan Leathina ia malah semakin mempererat genggamannya.


“Edward! Ini sakit...” Leathina yang sudah merasakan perih di pergelangan tangannya berusaha melepaskan diri.


“Edward Lepaskan! Sakit, ini sakit!” pinta Leathina sambil memukul-pukul tangan Edward berharap Edward mau melepaskan genggamannya.


Edward tidak mempedulikan permintaan Leathina ia malah semakin menggila menyeret Leathina secara paksa kembali ke desa.


“Edward Lepaskan!” pekik Leathina suaranya semakin besar memberontak sementara Edward masih tidak bergeming diseretnya Leathina dan terus berjalan ke desa.


“Edward sakit, aku mohon lepaskan!” pinta Leathina lagi berharap kali ini Edward mendengarkannya.


Edward akhirnya berhenti menyeret Leathina tapi genggamannya masih belum ia lepaskan,  Edward semakin mengeratkannya.


“Lepaskan!” Pinta Leathina Emosi.


“Jika aku lepaskana kau mau kabur lagi!” Bentak Edward membuat Leathina terkejut, ini pertama kalinya Edward membentaknya dan untuk pertama kalinya Edward emosi kareannya.


“Sebelumnya aku pernah melihatnya marah, tapi marahnya bukan untukku. Kenapa tiba-tiba menjadi seemosi ini?!” batin Leathina yang kemudian kebingungan tidak tahu kenapa Edward bisa semarah sekarang.


“Mau kabur kemana lagi? Kau benar-benar ingin pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun padaku yang sudah mengorbakan segalanya hanya untuk mencarimu sampai sejauh ini?! Ayo katakan!” Bentak Edward dengan emosi yang berapi-apai.


"Memangnya kapan aku meminta mu untuk mencari ku!"


“Awww!” jerit Leathina kesakitan, dilihanya pergelangan tanganya yang di genggam oleh Edward telah memerah bahkan terluka.


“Tulangku rasannya akan remuk jika dia masih menggenggam tanganku.” Batin Leathina menahan sakit.


“AKU BILANG LEPASKAN!” Teriak Leathina emosi.


Leathina yang tidak bisa lagi menahan rasa sakit ditangannya kemudian memelintir tangan Edward kemudian menginjak kaki Edward sekeras mungkin berusaha melepaskan diri.


“Awww!” Jerit Leathina kesakitan.


Sayangnya usaha Leathina sia-sia, Edward sama sekali tidak dapat ia taklukkan malah tangannya sakit karena Edward semakin kaut mengenggamnya kemudian kakinya terasa berdenyut setelah menginjak kaki Edward yang ternyata menggunakan sepatu yang berbahan keras.


“Lepaskan berensek, aku bilang sakit ya sakit!” Teriak Leathina pasrah kemudian berjongkok  dan menutup wajahnya dengan satu tangannya yang masih bebas.


“Akh! Leathina ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud ...”


Edward yang baru sadar atas perbuatannya tergagap ketika melihat Leathina sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan satu tangannya.


“Sakit!” ucap Leathina pelan dan masih menunduk.


“Hei, hei, Leathina?!” panggil Edward yang kini juga ikut berjongkok berusaha menenangkan Leathina yang makin lama semakin keras sesenggukan menahan tangis.


“Aku bilang sakit ya sakit.” Teriak Leathina lagi kemudian saat Edward Lengah karena panik melihat dirinya menangis cepat-cepat ia tarik tangannya dan akhirnya berhasil lepas dari kekangan Edward.


Leathina yang takut kembali di tangkap oleh Edward refleks lari menjauh dari Edward.


“Leathina?!” Ucap Edward terkejut melihat tubuh Leathina gemetaran, Edward yang juga panik kemudian kembali mencoba menenangkan Leathina dan berjalan mendekatinnya.


“Ini pertama kalinya aku melihat Leathina menangis, apa aku keterlaluan?” Batin Edward yang kini merasa bersalah sekaligus takut saat melihat tubuh Leathina gemetaran saat ia mendekatinnya.


“Jangan berani kau mendekat! Kau mau membunuhku?!” Teriak Leathina marah.


Leathina yang masih merasakan nyeri di pergelangan tangannya akibat genggaman Edward kemudian menunjukkannya pada Edward.


“Leathina maafkan aku.” Ucap Edward memelas menyesali perbuatannya.


“Ah, aku benar-benar keterlaluan bagaimana bisa aku melukainnya sampai membuat Leathina kesakitan.” Batin Edward, pikirannya semakin tidak karuan melihat Leathina semakin lama semakin takut padannya.


“Leathina jangan mundur lagi berbahaya, cepat kemari.” Pinta Edward lembut takut Leathina jatuh ke tebing.


“Aku bilang jangan mendekat kalau tidak aku akan lompat dari tebing ini,”


“Leathina kenapa?”


“Kau menakutkan Edward, aku takut, aku takut kau juga membunuhku seperti yang korban-korbamu yang lain.”


“Akh, Sialan. Karena terkejut melihat tingkah laku Edward yang berubah menjadi seperti ini membuatku berfikir bahwa Edward akan benar-benar membunuhku, tubuhku jadi gemetaran karena ketakutan.” batin Leathina berusaha berdiri degan dua kakinya yang sedari tadi sudah tidak kuat menopang dirinya sendiri karena ketakutan.


Edward terperanjat mendengar ucapan Leathina, tangannya pun bergetar karena takut kemudian jatuh terduduk tidak disangkanya bahwa ia telah membuat Leathina takut sampai ingin mengakhiri hidupnya sendiri dihadapannya. ditengah renungan nya Edward kembali ke pikiran rasionalnya ketika melihat Leathina semakin mundur dan kemudian mencoba menghentikan Leathina kembali.


“Leathina maafkan aku, aku salah, aku yang salah jadi Leathina kemari lah di sana berbahaya kau bisa terluka jika jatuh dari tebing.” Ucap Edward pelan berusaha membuat Leathina mendengarkannya.


“Aku bilang jangan mendekat kesini,” Leathina semakin nekat setiap Edward mendekatinya ia juga semakin mundur ke belakang hingga hanya ada beberapa langkah darinya hingga sampai ke mulut tebing.


“Leathina bahaya! Dengarkan aku dulu, aku tahu kenapa kamu marah tapi aku punya alasan aku tidak bermaksud berbohong padamu, ini semua demi kebaikanmu.”


“Aku bilang jangan mendekat!” teriak Leathina lagi, takut Edward semakin dekat dengannya.


“Leathina kau minta maaf, aku hilang kendali, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku tidak bisa mengontrol diriku tadi sampai melukaimu seperti itu tapi untuk sekarang aku mohon cepat datanglah kemari jangan mundur lagi kau bisa jatuh.”


“Demi kebaikanku? Bilang saja jika orang-orang dari kerajaan memintamu untuk membawaku pulang. Edward aku bilang jangan mendekat lagi aku takut padamu, aku sungguh takut padamu.”


“Baiklah, baiklah, Leathina aku tahu, kau pantas takut padaku, kalau kau takut aku bisa mundur dan kau bisa pergi aku janji aku akan membiarkanmu pergi tapi untuk sekarang menjauhkan dari tebing itu.”


“Aku tidak percaya, aku pasti akan menemukanku lagi dan lagi kemudian memaksaku pulang ke kerajaan.”


“Leathina cukup! Cepat kemari jangan mundur lagi.” Edward kembali geram, takut jika Leathina benar-benar jatuh dari tebing dan terluka.


“Leathina cepat kemari, aku lebih baik memaksamu dari pada melihatmu terjatuh dari tebing.” Edward sudah tidak peduli lagi jika Leathina takut padannya, yang menjadi prioritasnya sekarang adalah keselamatan Leathina, Edward benar-benar takut jika Leathina terjatuh.


“Aku sudah pernah jatuh dari tebing sebelumnya, aku tidak akan mati jika terjatuh lagi kan.” Batin Leathina saat mengintip ke bawah mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa menahan tubuhnya nanti jika benar-benar terjatuh.


“Bos!”


“Tuan Ed!”


Seru Adam dan Troy hampir bersamaan saat melihat Edward, kemudian ikut terkejut saat melihat Leathina kini berdiri di pinggir tebing.


“Leathina apa yang kau lakukan di sana!” jerit Nina terkejut melihat Leathina berada di pinggir tebing.


“Jangan mendekat!” seru Leathina saat melihat mereka bertiga datang secara bersamaan dan mengalihkan perhatiannya dari Edward.


“Akh!” Pekik Leathina.


...***...