
“Jadi seperti itu.” Ucap Ed’ setelah mendengar penjelasan dari Adam dan Troy dan dengan cepat Ed’ memahami situasinya.
“Troy kau kembalilah bersama Nona Lea dan anak-anak ini, aku dan Adam yang akan mengurus masalah ini.” Ucap Ed’ singkat tapi padat dan jelas seakan perintahnya mutlak.
“Tidak, tidak, aku akan ikut denganmu Ed’ untuk menghukum si brengsek yang melakukan ini pada anak-anak ini!” Leathina berteriak tidak setuju dengan keputusan Ed’.
“Tapi Nona kau tidak boleh...” Ucap adam ingin menjelaskan tapi terhenti saat Ed’ memberinya kode untuk segera diam.
“Baiklah Nona Lea, kau boleh ikut asalkan harus berhati-hati dan terus berada di dekatku agar bisa menjagamu.” Ed’ membolehkan Leathina ikut tapi dengan syarat.
“Kenapa aku harus di jaga, aku ahli dalam menggunakan pedang kok.” Bantah Leathina tidak setuju dengan Ed’ yang menganggapnya lemah.
“Nona Lea, aku tahu anda kuat tapi hanya saja kita harus tetap berhati-hati karena jika terjadi masalah imbasnya bukan hanya kau atau aku yang terkena tapi seluruh anggota, kau ingin mereka semua terjerat masalah.”
“Ba.. baiklah aku akan berhati-hati dan terus berada di dekatmu Ed’.” Ucap Leathina dengan terbata-bata yang akhirnya setuju dengan perkataan Ed’. Ia tidak bisa membantahnya karena yang diucapkan Ed’ memanglah benar.
“Baiklah sebelum datang ke sini aku tadi telah meminta Fiona mengirimkan kereta kuda dan beberapa orang yang akan mengurus anak-anak ini, Kau dan Adam akan ikut denganku sementara Troy akan menunggu bala bantuan datang, tapi sebelum itu bangunkan kusir tua yang tidak sadarkan diri itu sekarang.”
“Baik Tuan.” Ucap Troy sambil berjalan ke arah kusir yang tadi telah dibuat pisang olehnya kemudian menyiramnya dengan air dari botol bambu yang ada di pinggangnya.
“Huek! Huek!” Pekik si kusir saat air dingin meluncur bebas mengenai wajahnya.
“Brengsek mana yang berani menyi ..” Umpat si kusir setelah sadar tapi tidak menyelesaikan umpatannya ketika melihat Troy yang menyeringai dan menatapnya nanar.
“Ahhk, ampun tuan! Ampuni aku!” si kusir segera bangkit dengan sikunya karena terikat kemudian segera membungkuk meminta pengampunan atas nyawanya.
“Oh, dia sudah sadar Tuan Ed.” Troy dengan santai berteriak pada Ed’ untuk memberitahunya.
“Kesini kau pak tua!” Troy kemudian menyeretnya secara paksa ke depan Ed’ dan melemparkannya secara sembarangan hingga terhempas ke tanah.
“Hekk!” pekik si kusir saat tubuhnya di lempar di depan Ed’.
“Kau.” Ucap Ed’ datar tapi si kusir cepat-cepat bangkit kembali dan berlutut di depan Ed’ karena menyadari bahwa orang yang berbicara itu merupakan pimpinan sekaligus yang paling berbahaya.
“Kau yang bertugas membawa kotak yang berisi anak-anak ini?” tanya Ed’
“I.. iya Tuan, Ampuni saya tuan! Saya hanya kusir tidak lebih.” Si kusir memohon-mohon dibawah kaki Ed’ agar nyawanya diampuni.
“Baiklah, antar kami ke tuan mu dan lakukan seperti biasanya jangan membuat kode peringatan atau nyawamu akan aku cabut dengan pedang ku.” Ed’ berbicara sambil memperlihatkan pedangnya yang mengkilat-kilat karena terkena pantulan cahaya matahari.
“Baik Tuan! Akan saya lakukan.”
“Bagus.” Ucap Ed’ singkat kemudian segera memalingkan wajahnya.
“Tutup kembali kotak kayu itu, aku, Adam dan Nona Lea akan menjadi pengawal sementara Troy menjaga anak-anak ini sampai bantuan datang.” Ed’ memberikan arahan kemudian berjalan ke tempat kudanya berada dan segera melompat naik ke punggung kudanya.
“Baik.” Ucap Leathina dan Adam hampir bersamaan dan kini telah berada di atas kudanya masing-masing.
Mereka mengaturnya seperti sebelumnya Adam berjaga di depan sementara Leathina masih tetap berjaga di belakang sementara posisi Troy kini digantikan oleh Ed’ yang juga ikut melakukan pengawalan. Troy sendiri bertugas menjaga anak-anak sampai kereta yang menjemput mereka datang dan membawa mereka kembali.
Matahari hampir tenggelam dan menyisakan warna keunguan di langit mengiringi mereka bertiga sampai di perbatasan kota, Adam melompat turun dari kudanya dan memperlihatkan sebuah surat izin keluar masuk pada penjaga yang mencegat mereka.
“Oh, barang milik Tuan Tesro.” Ucap salah satu penjaga yang memeriksa surat tapi, tiba-tiba si kusir yang bertugas membawa kereta melompat turun Adam yang melihat itu pelan-pelan memperlihatkan pedang miliknya membuat si kusir terpekik pelan karena ketakutan.
“Oh terimakasih-terimakasih, anda tidak seharusnya memberi ini. Kalian bisa langsung lewat. Silahkan! Silahkan!” Ucap si penjaga perbatasan dengan ramah ketika ternyata si kusir diam-diam memberinya kantung berisi uang agar langsung membiarkan mereka lewat tanpa pemeriksaan.
Setelah itu si kusir buru-buru kembali ke posisinya dan mengendalikan kuda-kuda yang menarik kereta yang mengangkut kotak kayu dan mereka akhirnya kembali melakukan perjalanan memasuki kota.
Setelah hampir sejam melakukan perjalanan di perkotaan mereka akhirnya sampai pada sebuah mansion yang ukurannya tidak terlalu besar si kusir mengarahkan kuda-kudanya memasuki halaman mansion tersebut dan berputar menuju area belakang.
“Ki..kita sudah sampai. Silahkan ikuti saya untuk mengambil sisa bayaran kalian.” Si kusir memarkirkan kuda-kudanya kemudian menuntun Adam, Lea, dan Ed’ pada sebuah bangunan yang sengaja di bangun terpisah tidak ada jendela di bangunan itu dan hanya satu pintu yang digunakan sebagai keluar masuk ke dalam tempat itu.
“Silahkan masuk tuan, tuan besar ada didalam.” Ucap si kusir takut-takut sambil berhenti di ambang pintu.
“Kenapa kau tidak ikut masuk bersama kita.” Ed’ berbicara seolah-olah bertanya tapi dalam perkataanya ia sedang memberikan perintah agar si kusir ikut masuk ke dalam dan karena takut secara terpaksa si kusir akhirnya juga ikut masuk kedalam membuntuti mereka bertiga.
Oh, kalian sudah sampai rupanya. Wah terimakasih atas bantuan kalian karena telah melakukan pengawalan pada barang kami, silahkan ini bayaran kalian.” Seorang pria yang masih terlihat cukup muda menyambut kedatangan mereka dan memberinya sekantung uang sisa bayaran mereka.
“Brakk!”
Tiba-tiba saja pintu yang tadi mereka bertiga lewati ditutup dan muncullah sekitar dua puluh kesatria dengan pedangnya mengepung mereka.
“Ini jebakan, kita akan dibunuh di sini.” Gumam Leathina sambil menarik pedangnya keluar dari sarungnya sementara Ed’ dan Adam juga melakukan hal yang sama.
Perlahan-lahan para kesatria tersebut berjalan mendekati mereka sementara secara refleks mereka bertiga melangkah mundur hingga punggung mereka kini saling bersentuhan, dan kini mereka bertiga terkepung.
“Aku benar-benar berterimakasih atas bantuan kalian tapi maafkan aku di saat yang sama aku terpaksa harus menghabisi kalian karena sepertinya kalian telah mengetahui pekerjaan kami.” Ucap Tesro yang merupakan dalang dari penculikan dan penjualan anak-anak, wajahnya yang tadi ramah seketika berubah dan menyeringai melihat Ed’, Adam, dan Leathina terkepung.
“Yah, tidak ada gunanya juga aku meminta maaf pada kalian yang sebentar lagi akan mati. Habisi mereka sekarang, Ah sialan sapu tanganku kotor!” Tesro berbicara dan memberi perintah eksekusi dan kemudian mengumpat karena tidak sengaja menjatuhkan sapu tangannya Tesro pun membungkuk untuk mengambilnya.
“Srek”
“Teng”
“Srek”
Suara dentingan pedang yang saling beradu bergeming di dalam bangunan itu serta suara tebasan menyisakan percikan darah yang menempel dimana-mana membuat si kusir yang tadi ikut mamasuki gedung itu hanya bisa meringkuk dengan tubuh gemetaran sambil menutup mata dan telinganya karena ketakutan.
...***...