
Hari peradilan untuk Leathina akhirnya telah tiba, orang – orang telah berkumpul kembali seperti yang dikatakan Raja Daylend tidak ada yang boleh pergi sebelum pelaku ditemukan.
Tuan Alfred sebagai penuntut beserta bawahannya juga hadir begitu pula Duke Leonard sementara Leathina digiring dan berdiri tepat ditengah sebagai orang yang akan diadili.
“Ini adalah sebuah penghinaan bagi keluarga Yarnell, kami akan mengigat ini Tuan Alfred.” Duke Leonard menatap tajam ke arah Tuan Alfred yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
“Aku tidak bermaksud mempermalukan keluarga besar dari kediaman Yarnell, tapi ini karena sebuah keadilan.”
“Baiklah mari kita memulai sidang ini.”
Raja Daylend memulai peradilan ia meminta penuntut untuk mengemukakan tuntutannya pada terdakwa.
“Salam Raja Daylend, Saya Alfred sebagai hakim agung telah menerima beberapa laporan bahwa dalang dari percobaan pembunuhan salah satu anggota kerajaan adalah Nona Leathina putri tertua dari kediaman Duke Leonard dengan alasan ingin membalas dendam karena pertunangannya telah dibatalkan, adapun buktinya adalah orang terakhir yang bertemu dengan Pangeran ialah Nona Leathina.”
“Perkataan Tuan Alfred tidak cukup rasional untuk dikatakan sebagai bukti.” Raja Daylen berbicara membantah perkataan Tuan Alfred yang memang tidak dapat digunakan sebagai bukti.
“Tidak ditemukan anak panah yang membunuh kuda milik Pangeran jadi bisa dikatakan bisa saja Nona Leathina mengatur pembunuhan ini dengan berpura – pura menjadi target setelah menampakkan diri di depan pangeran kemudian menghilang di saat itu dia menghancurkan bukti.”
“Tuduhan mu tidak berdasar Tuan Alfred!” Leathina berbicara membela dirinya sendiri.
“Jadi apa Nona Leathina punya bukti yang menunjukkan bahwa anda tidak bersalah?” Raja Daylend memberi kesempatan Leathina untuk membela diri.
“Ada Raja Daylend. Aku punya banyak alasan bahwa aku tidak pantas dituduh seperti ini.”
“Silahkan Nona Leathina.” Leathina dipersilahkan berbicara dan menunjukkan bukti – bukti yang membela dirinya sendiri.
“Terimakasih Raja Daylend, Pertama memang benar aku yang terakhir menemukan pangeran tapi dia sudah tidak sadar dan mengalami banyak banyak pendarahan saat aku menemukannya aku bahkan merobek pakaianku untuk membalut lukanya agar pendarahannya berhenti dan menggantikannya sebagai buronan para pembunuh saat merek datang lagi mencarinya.” Leathina berbicara sambil menatap tajam ke arah Pangeran pertama yang juga hadir pada persidangan tersebut.
“Kedua bukan aku yang membunuh kuda milik Pangeran Yardley aku bahkan tidak pernah menembakkan anak panahku.”
Leathina memberi kode kemudian masuklah Anne dengan membawa tas penyimpanan anak panah Leathina dan menunjukkannya pada Raja Daylend sebagai pemimpin sidang.
“Tuan Alfred sepertinya Nona Leathina mempunyai bukti lebih kuat dari penuduh.”
“Aku masih punya bukti Lain yang mulai Raja.”
“Baiklah, silahkan tunjukkan.”
“Bawa dia masuk.”
Tuan Alfred memberi perintah kemudian masuklah seorang pelayan laki - laki dan segera berjalan ke tengah – tegah pengadilan.
“Baiklah Tuan katakan apa yang kamu lihat kemarin.” Tuan Alfred kembali berbicara.
“Salam Raja Daylend cahaya dari kerajaan Coniferland, saya adalah salah satu pelayan dari salah satu bangsawan yang tendanya didirikan berdekatan dengan tenda keluarga Duke Leonard.”
“Jadi Tuan, apa yang ingin kamu sampaikan.”
“Kemarin saat hamba sedang merawat kuda – kuda milik majikan yang saya layani, saya tidak sengaja melihat Nona Leathina mengendap – endap keluar dari tendanya kemudian berjalan memasuki hutan seorang diri.”
“Apa benar demikian Nona Leathina?” Raja Daylend meminta penjelasan pada Leathina mengenai keterangan yang dinyatakan oleh pelayan laki – laki tadi.”
“Aku.. aku.”
“Leathina kemarin hanya beristirahat di tendanya, kemarin aku mengunjunginya dan melihatnya tertidur.”
Leathina terbata – bata menjawab pertanyaan Raja Daylend tapi saat dia baru akan memikirkan jawabannya Nicholas sudah berbicara lebih dulu membelanya.
“Kalau begitu bisakah Nona Leathina memberitahu kami, kemana Nona Leathina pergi saat orang – orang mencari anda sepanjang malam dan tiba – tiba muncul kembali.”
“Aku terjatuh dari tebing dan tersangkut di sana ternyata ada sebuah lubang aku masuk ke sana untuk bersembunyi karena aku menyangka suara ribut para regu pencari adalah para pembunuh bayaran yang datang mencari ku kembali saat semuanya telah pergi barulah aku keluar dan kembali ke perkemahan.”
“Perkataan Nona Leathina tidak dapat dipercaya, kami bahkan berkali – kali mencari di tebing tapi tidak melihat seperti yang Nona Leathina katakan, bisa saja ini adalah sebuah trik licik yang Nona ciptakan.”
“Kamu sudah keterlaluan Alfred, aku tau reputasimu sebagai hakim agung sudah sangat dikenal oleh orang – orang tapi ini sudah sangat keterlaluan, Leathina bahkan tidak berhak untuk dituduh.” Akhirnya Duke Leonard berbicara membela Leathina karena sudah tidak tahan lagi dengan perkataan dan tuduhan Tuan Alfred.
“Oh, Duke Leonard apakah anda mempunya sesuatu untuk dikatakan atau diperlihatkan.” Raja Daylend mempersilahkan Duke Leonard untuk berbicara.
“Terimakasih Raja Daylend, bawa dia masuk.”
Duke Leonard memberi perintah kemudian masuklah Winter dengan menyeret seorang wanita yang kedua tangannya diikat dan mendorongnya secara sembarangan ke tengah – tengah pengadilan sampai wajahnya terbentur dan terluka.
“Siapa ini, Tuan Winter?”
“Perkenalkan dirimu!” Suara Winter dingin dan tatapannya tajam melihat si wanita hingga wanita tadi menunduk dan tubuhnya mulai bergetar karena ketakutan.
“Perkenalkan dirimu!” Winter membesarkan suaranya dan membuat wanita tadi semakin ketakutan.
“Aku.. aku Denisa, aku adalah adik Diane mantan pelayan pribadi Nona Leathina, aku...”
“Katakan!”
“Aku yan.. g menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Nona Leathina dan memburu pa.. pangeran.”
Orang – orang mulai berbisik, mereka semua terkejut mendengar pernyataan dari wanita yang dibawa oleh Winter.
“Apa alasanmu ingin membunuh Nona Leathina dan bahkan putra mahkota, kamu tahu akibat perbuatan mu? Nona Leathina bukan bangsawan sembarangan ia memiliki status yang tinggi begitu juga dengan Pangeran Yardley yang merupakan putra mahkota.” Raja Daylend memberi kesempatan pada wanita tadi untuk mengutarakan alasannya.
“Raja Daylend, anda sungguh bijak sana tapi dengarkanlah aku. Kakakku Diane tidak mungkin mencoba membunuh Nona Leathina dia dijebak oleh wanita iblis itu dan aku harus membalasnya untuk menuntut keadilan pada kakakku yang malang aku harus membunuhnya dan menghancurkan apapun yang dicintainya seperti dia menghancurkan keluargaku!”
“Nona aku tahu kamu marah karena saudarimu dihukum seumur hidup dipenjara tapi kakakmu itu sudah mengakui perbuatannya di depan pengadilan resmi dia bahkan beruntung karena tidak diberi hukuman mati.” Winter mengomentari perkataan wanita tadi dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Dan maafkan saya Raja Daylend, Saya sendiri Winter la Pedro juga ingin memberi kesaksian jika diperbolehkan.”
“Silahkan Tuan Winter.”
“Saat kami menemukan Pangeran dalam keadaan terluka, Pangeran Yardley bahkan mengatakan bahwa Leathina pergi untuk mengalihkan perhatian para pembunuh bayaran agar bisa melindungi pangeran, Pangeran Edward dan Nicholas serta para regu pencari pada tim pertama bahkan mendengar apa yang diucapkan pangeran saat itu, jadi saya rasa tuduhan pada Nona Leathina cukup berlebihan.”
“Benarkah seperti itu Pangeran Yardley.”
“Ah, i.. iya ayah. Leathina yang menemukan dan menyelamatkanku.” Pangeran Yardley berbicara dengan menatap ke arah lain karena Leathina terus memelototinya, sebenarnya ia malu mengakui bahwa wanita yang paling dibencinya malah menyelamatkannya.
“Jadi mendengar semua bukti dan pembelaan untuk Leathina bagaiman menurut anda Tuan Alfred, sebagai hakim agung kerajaan.”
“Maafkan aku Raja Daylend, sebenarnya aku malu untuk mengakuinya tapi dilihat dari bukti – bukti kuat dan para saksi yang membela Nona Leathina maka menurutku Nona Leathina tidak bersalah dan aku telah mengumpulkan tuduhan palsu padanya, dengan ini saya memohon maaf pada Keluarga Yarnell.” Tuan Alfred membungkuk ke arah Leathina dan Duke Leonard sebagai permintaan maafnya.
“Baiklah aku tahu anda melakukannya karena anda tidak bisa mengabaikan laporan dari orang – orang Tuan Alfred.”
“Terimakasih Raja Daylen atas kemurahan hati anda.”
“Nah sekarang Tuan dan nyonya sekalian, dengan kekuasaan ku aku menyatakan bahwa Nona Leathina tidak bersalah dan aku juga akan memberi hukuman eksekusi pada tersangka sebenarnya karena kejahatannya yang tidak bisa dimaafkan mencoba membunuh keluarga bangsawan dan bahkan putra mahkota.”
“RAJA DAYLEND, DENGARKAN AKU DULU. TOLONG JANGAN EKSEKUSI SAYA SAYA MASIH MEMPUNYAI DUA ADIK YANG HARUS SAYA LINDUNGI, AKU MOHON RAJA DAYLEN!” Wanita yang dibawa Winter berteriak histeris mendengar hukuman yang dijatuhkan untuknya ia meraung – raung dan memohon pengampun agar tidak di eksekusi.
"Menyedihkan, dia terjerumus karena rasa kasih sayangnya menjadi dendam." Leathina bergumam pelan sambil terus melihat wanita tadi menangis dan memohon untuk diampuni.
“Raja Daylen, maafkan aku karena menyela.”
“Oh, Nona Leathina. Silahkan katakan apa ada yang ingin anda sampaikan?” Raja Daylen mempersilahkan Leathina untuk berbicara.
“Pertama – tama karena peradilan ini telah selesai bisakah anda menyuruh yang lainnya untuk segera pergi dan hanya orang – orang yang mempunyai keperluan yang diperbolehkan untuk tinggal.”
“Baiklah, kalian semua dengarkan. Pengadilan telah selesai Nona Leathina terbukti tidak bersalah jadi silahkan kembali ke tenda masing – masing.” Mendengar perintah langsung dari Raja Daylend orang – orang yang tadinya berkumpul mau tidak mau terpaksa meninggalkan tempat tersebut. Hanya tersisa Tuan Alfred, Duke Leonard, Winter, Pangeran Edward, Nicholas, pangeran Yardley serta tersangka percobaan pembunuhan.
“Baiklah, paman aku juga akan berbicara santai padamu.”
“Berani sekali kamu berbicara tidak sopan terhadap Raja Daylen!” Mendengar cara berbicara Leathina yang sangat santai terhadap Raja membuat Tuan Alfred terganggu mendengarnya.
“Oh, Tuan Alfred tenanglah aku yang memintanya untuk memanggilku dengan paman.”
“Maafkan aku Raja Daylend.” Tuan Alfred membungkuk dan meminta maaf setelah mendengar penjelasan dari Raja Daylend.
“Nah sekarang Leathina katakan, apa yang ingin kamu bicarakan.”
“Aku sebagai orang tertuduh dan dirugikan ingin meminta kompensasi atas kejadian ini.” Leathina dengan tegas berbicara kepada Raja Daylend.
“Kompensasi? Baiklah katakan apa yang kamu inginkan, Leathina.”
“Aku baru akan mengatakannya jika paman, menyetujuinya terlebih dahulu.”
“Bagaimana aku bisa menyetujuinya jika aku tidak mengetahui apa permintaanmu, kau tahu aku tidak bisa sembarangan menyetujui sesuatu.”
“Ini tidak akan merugikan kerajaan, Paman. Aku janji.”
“Baiklah katakan apa keinginanmu, kamu beruntung karena aku menganggap mu sebagai putriku Leathina.”
“Terimakasih paman, pertama tolong tarik hukuman yang paman berikan pada wanita itu.”
“Apa maksudmu Leathina, apa kamu tahu kejahatan yang dia lakukan sangat serius.” Semua orang terkejut mendengar perkataan Leathina termaksud sang tersangka matanya refleks menoleh ke arah Leathina.
“Baiklah, baiklah, jadi apa yang kau inginkan sebagai gantinya Leathina aku tentu saja harus menghukumnya.”
“Aku ingin mengasingkannya, dia hanya boleh datang ke kerajaan dua kali dalam setahun untuk mengunjungi saudarinya.”
“Aku tidak setuju, dia bahkan hampir membunuhku permintaanmu terlalu berlebihan Leathina, sadari tempatmu kamu bahkan bukan lagi tunangan ku.” Pangeran Yardley tidak menerima permintaan Leathina dia menentang apa yang Leathina minta.
“Paman kamu sudah terlanjur berjanji padaku, dan aku tidak mau mendengarkan perkataan dari orang yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.”
“Benar kata Leathina Yardley, aku sudah terlanjur berjanji padanya dan aku sedikit kecewa terhadapmu, Leathina jelas – jelas menyelamatkanmu tapi kamu tidak mengatakan yang sebenarnya dari awal.”
“Maafkan aku ayah.”
“Baiklah cukup untuk hari ini, pengawal bawa wanita ini.” Dua orang pengawal kemudian membawa pergi wanita tadi.
“Terimakasih Paman, kalau begitu aku juga akan pergi.”
“Baiklah Leathina.”
Leathina segera pergi, langkahnya sengaja dia percepat agar bisa menyusul pengawal yang membawa adik Diane untuk diasingkan.
“Tunggu.. Tunggu sebentar.”
“Salam Nona Leathina.”
“Bisa beri aku waktu sebentar, aku ingin berbicara dengannya.” Dua pengawal tadi membungkuk kemudian berjalan agak jauh untuk memberikan Leathina kesempatan berbicara pada Denisa.
“Hey, apa kamu baik – baik saja?” Leathina mengajak Denisa berbicara terlebih dahulu.
Denisa tidak mau menatap Leathina, ia sengaja memalingkan wajahnya karena perasaanya sekarang sedang bercampur aduk ada rasa bersalah, benci dan terimakasih saat dia melihat Leathina.
“Oh, kamu terluka.., bagaimana, sudah tidak perih kan.” Leathina tidak mempermasalahkan tingkah Denisa yang mengabaikannya dan dengan hati – hati Leathina menyentuh pipi Denisa yang terluka dan menyembuhkannya dengan sihirnya.
“Kenapa kamu menolongku? Aku tidak akan berterimakasih padamu kau penyebab saudariku dihukum.”
“Jangan salah paham aku tidak berniat menolong mu, aku hanya kasihan melihat dua adikmu yang akan hidup di jalanan tanpamu. Aku tahu kamu sangat membenciku tapi jangan bertindak sembrono karena masih ada dua jiwa yang harus kamu lindungi, baiklah jaga dirimu aku akan pergi.”
Mendengar ucapan Leathina membuat Denisa menangis air matanya mengalir dengan deras kemudian jatuh terduduk dan berlutut dibawah kaki Leathina.
“Ma.. maafkan aku Nona, maafkan aku. Aku.. kaka. Kakaku... kami merindukannya.” Denisa menangis sejadi – jadinya dibawah kaki Leathina sambil terus menangis.
“Masalah kakak mu itu, mungkin aku bisa membantunya, tapi dengan sebuah syarat kamu harus melakukan sesuatu untukku.” Leathina berjongkok dan berbisik ditelinga Denisa.
Sementara Denisa yang mendengar ucapan Leathina terbelalak tidak percaya Leathina masih akan membantunya.
“Akan aku lakukan Nona Leathina, akan aku Lakukan bahkan jika itu mempertaruhkan nyawaku. Beritahu aku, aku mohon apa yang harus aku lakukan agar kakakku bisa bebas.”
“Setiap dua kali dalam setahun kamu di perbolehkan datang ke kerajaan untuk mengunjunginya gunakan kesempatan itu untuk membujuk saudarimu agar mau mengatakan siapa yang memerintahkannya untuk meracuniku.”
“Jadi benar kakakku meracuni anda, aku bahkan juga mencoba membunuhmu.”
“Oh ini sudah waktunya aku pergi, jaga adik - adikmu dan berusahalah untuk tetap hidup.” Leathina melihat dua penjaga tadi datang kembali ingin membawa Denisa, Leathina menepuk pundak Denisa sekali untuk menyemangatinya kemudian segera pergi meninggalkannya.
Denisa melihat Leathina pergi kemudian segera berdiri dan membungkuk memberi hormat pada Leathina walaupun Leathina tidak melihatnya, setelah itu dua pengawal tadi segera membawanya pergi.
“Hey!”
“Edward! Kenapa kau selalu muncul dimana – mana?” Leathina menoleh saat mendengar suara Pangeran Edward menegurnya.
“Kamu mengobati lukanya, apa yang kamu katakan padanya Leathina?”
“Kamu melihatnya? Bukan urusanmu aku tidak ingin lagi berteman denganmu. Oh.. kembalikan gelang yang aku berikan.”
“Eh.. kenapa?”
“Kamu berjanji akan melindungi ku jika aku berdansa dan memberikanmu benda pengikat, tapi kamu bahkan tidak melakukan apa – apa untukku, jadi kembalikan.”
“Itu karena aku tidak bersamamu.”
“Jangan membuat alasan.”
“Aku tidak membuat alasan, tapi aku penasaran dengan sesuatu.”
“Apa?”
“Aku penasaran dengan kompetisi berburu yang telah diadakan.”
“Memangnya apa hasilnya? Siapa yang menang? Kamu? Winter? Atau Kesatria lainnya.”
“Tidak ada yang memenangkan kompetisi.”
“Eh! Apa maksudmu, bukannya harus ada pemenangnya?”
“Harusnya seperti itu, tapi anehnya orang – orang mengaku telah memburu banyak binatang tapi saat dicari tidak ada binatang yang ditemukan, aku juga yakin berhasil memanah seekor rusa tapi saat melihatnya kembali rusanya hilang, apa kamu tahu sesuatu?”
“Apa? Aku? Aku tidak tahu apa – apa, kenapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu, Edward.”
"Tidak, hanya saja kamu terlihat panik.”
“Apa maksudmu? Sudah pergi sana, aku mau kembali ke tendaku.”
“Hey.. tunggu aku.”
Mendengar perkataan Pangeran Edward membuat Leathina sedikit gugup, Leathina berusaha menghindari tatapan mata pangeran Edward kemudian mempercepat langkahnya untuk meninggalkan Pangeran Edward yang masih terus bertanya padanya.
......***......