I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 52



Leathina baru saja terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengusap wajahnya kasar berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya yang masih setengah mengambang dan setelah sepenuhnya sadar Leathina segera bangun dan duduk di pinggiran tempat tidurnya hendak membunyikan lonceng dengan tali yang menggantung di samping tempat tidur untuk memanggil pelayan datang ke kamarnya.


Trekk


Baru saja Leathina ingin membunyikan Loncengnya dengan menarik tali, tiba – tiba terdengar deritan pintu kamar leathina dibuka oleh seseorang, Leathina menunggu dengan sabar siapa orang yang akan melewati pintu tersebut tapi tidak ada siapa – siapa yang masuk malahan pintu yang sudah dibuka tadi tertutup kembali.


Karena tidak ada siapa – siapa yang masuk Leathina kembali menggapai tali yang berfungsi membunyikan lonceng untuk memanggil pelayan datang ke tempatnya.


Trekk


Saat Leathina baru saja ingin membunyikan lonceng untuk memanggil pelayang datang ke tempatnya tiba – tiba pintu kamar Leathina kembali berderik dan dibuka oleh seseorang kemudian masuklah Anne dengan membawa banyak barang di pelukannya membuat wajahnya hampir tidak kelihatan karena barang yang dibawanya itu.


“Kenapa kau bermain – main dengan pintu, Anne? dan benda apa yang kamu bawa itu?” Leathina segera menegur Anne yang masuk dengan membawa sebuah bungkusan besar di pelukannya.


Anne memasuki kamar kemudian meletakkan bungkusan yang ia bawa dan segera menutup kembali pintu kamar dari dalam kemudian Anne kembali mengambil bungkusan yang tadi ia letakkan membawanya ke arah Leathina.


“Aku tidak bermain – main dengan pintu Nona Leathina, kedua tanganku penuh jadi tidak bisa membuka pintu seperti biasanya makanya aku meletakkan dulu barang yang aku bawa kemudian baru membuka pintu dan memungut barang bawaan ku kembali setelah membuka pintu, tapi tadi saat pintunya aku buka dan barang bawaan ku sudah aku pungut kembali pintu yang tadi sudah aku buka malah tertutup kembali. Dan kantongan ini berisi uang hasil dari pengembalian gaun di toko Ny. Rossa dan kalau kantongan ini berisi bahan – bahan untuk membuat sovenir dan kerajinan tangan.”


Anne menjelaskan panjang lebar pada Leathina mengenai persoalan pintu setelah itu menyerahkan sebuah kantung uang pada Leathina dan satu kantung lagi adalah bahan – bahan untuk membuat kerajinan tangan.


“Berapa jumlah uang di dalam kantongan ini?” Leathina berbicara sambil membuka kantung uang yang diberikan Anne untuknya.


“Hanya tersisa dua ribu keping emas Nona, karena tadi aku membeli bahan – bahan ini.”


“Tidak apa – apa, tapi untuk apa kamu membeli kain, benang dan jarum – jarum ini, Anne? apa kamu akan menyulam?”


Setelah mengetahui jumlah uang di dalam kantung yang diberikan oleh Anne tadi Leathina segera meletakkannya dan kini matanya beralih pada kantong yang satunya lagi dimana isinya adalah bahan – bahan untuk menyulam dan merajut.


“Ini bukan punya saya Nona Leathina.”


“Terus untuk apa kamu membeli bahan – bahan sebanyak ini?”


“Aku membeli ini untuk Nona Leatina.”


“Untukku?” Leathina bertanya pada Anne karena tidak mengerti dengan apa yangg dibicarakan oleh Anne.


“Iya, Nona akan menyulam pada saputangan.”


“Untuk apa aku menyulam, aku tidak suka hal – hal merepotkan seperti itu.”


“Ini untuk kegiatan lomba berburu, setiap wanita akan memberikan saputangan pada pria yang akan pergi berburu dan jika pria tadi pulang dari perburuannya hasilnya akan ia persembahkan pada wanita yang memberikannya saputangan, saputangan yang diberikan adalah sebuah pengikat tapi kebanyakan wanita yang memberikan saputangan adalah tunagan atau istrinya yang datang, beberapa orang juga memanfaatkan tradisi ini untuk menyampaikan rasa sukanya terhadap seseorang.”


"Bagimana caranya mereka bisa menyampaikan rasa sukanya hanya dengan sapu tangan?"


“Biasanya jika pria mendatangi seorang wanita dan meminta sapu tangan padanya berarti pria itu menyukai wanita yang ia datangi begitu pula sebaiknya wanita akan memberikan saputangan miliknya pada laki – laki yang ia sukai dan jika beruntung mereka bisa menjadi sepasang kekasih bahkan sampai menikah, bukankah itu romantis nona?”


“Kamu ternyata suka membayangkan hal – hal memalukan seperti itu Anne.”


“Aku tidak akan menyulam karena itu membosankan, lagipula aku sudah tidak memiliki siapa – siapa untuk aku berikan sapu tangan karena pertunanganku sudah aku batalkan dan kenapa juga aku harus repot – repot menyulam untuk seseorang.”


“Eh, tetap saja Nona harus menyulam beberapa sulaman pada saputangan jangan sampai saat kompetisi berburu nanti ada pria  yang meminta benda pengikat pada Nona tapi Nona Leathina malah tidak memiliki apa – apa untuk diberikan.”


“Tidak usah Anne, lagipula tidak akan ada pria yang akan memintanya padaku kecuali orang itu sudah tidak memakai akal sehatnya.”


“Walaupun tidak akan ada yang memintanya pada Nona, Nona Leathina tetap harus menyulam karena ini adalah tradisi bagi wanita jika ikut acara berburu.”


“Aku kan tidak harus ikut tradisi, karena aku hanya ikut kompetisi berburu bukan kompetisi menyulam.”


“Justru karena itu nona harus menyulam beberapa saputangan.”


“Eh kenapa lagi, aku kan sudah bilang aku tidak mau.”


“Muungkin Nona Leathina lupa sebenarnya selain kompetisi berburu ada juga kompetisi menyulam bagi kaum wanita, semua wanita akan memperlihatkan seberapa ahli tangan mereka dalam menyulam dan karena nona adalah wanita bisa jadi nona akan dipaksa membuat sulaman. waktu nona akan habis digunakan untuk menyulam sehingga nona tidak bisa lagi ikut kompetisi berburu. Tapi jika nona menyulam beberapa sulaman lebih awal nona bisa mengatakan bahwa nona telah menyiapkan sulaman untuk diberikan pada seseorang jika ada yang meminta maka orag – orang tidak akan memaksa nona lagi dan bisa ikut kompetisi berburu.” Anne menjelaskan panjang lebar pada Leathina dan berusaha untuk membujuknya agar mau menyulam.


“Ada yang seperi itu yah? Baiklah aku akan mencoba untuk menyulam.” Kata – kata Aynn terdengar masuk akal bagi Leathina dan akhirnya ia mau untuk menyulam.


Mendengar perkataan Leathina mata Anne menjadi berseri – seri dan dengan cepat ia mempersiapkan semua alat dan bahan yang digunakan untuk menyulam dan memberikannya pada Leathina.


Ini akan menjadi pengalaman pertamaku menyulam selama aku hidup.Batin Leatina saat melihat jarum dan benang yang diberikan Anne untuknya.


Leathina menatap bahan – bahan yang disediakan Anne untuknya dan segera memasukkan benang pada ujung jarum kemudian dengan hati – hati menusukkan jarum pada kain yang telah dipasangkan pada pemidangan yang berfugsi untuk mengencangkan kain agar mudah melakukan penyulaman.


“Aw.. aw.”


Leathina meringis kesakitan saat jarum yang ia pegang malah menusuk jarinya hingga mengeluarkan darah, Leathina segera menghentikan pendarahannya dengan melapnya dengan kain.


“Astaga tangan nona berdarah aku lupa membitahu Nona Leathina untuk mengguakan bidal agar jari – jarinya tidak tertusuk , apa nona tidak apa – apa?


“Aku tidak apa – apa, tapi aku tidak mau melakukan ini lagi. Ini terlalu sulit untukku.”


“Tapi nona harus membuat sesuatu yang bisa diberikan sebagai pengikat.”


“Iya.. iya aku tahu, aku sendiri yang akan mengurusnya simpan  saja bahan –bahannya di atas meja untukku.”


“Baik Nona.” Mendengar perkataan Leathina yang mengatakan akan mengurusnya sendiri akhirnya Anne hanya bisa menurut dan melakukan sesuapi perkataan Leathina.


“Anne, kembali ke tempatmu dan beristirahatlah kamu pasti lelah setelah merapikan pakaianku dan melakukan perjalanan ke kota untuk mengembalikannya ke toko Ny. Rissa.”


“Baik terimakasih Nona Leathina, kalau begitu saya pamit.”


Anne keluar dari kamar Leathina dan kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat seperi yang diperintahkan Leathina untukknya.


......***......