
Edward melihat Adam yang kini berjalan dan datang ke arahnya kemudian memeriksa apakah Troy dan Nina benar telah pergi, “Bagaimana pekerjaanmu?” tanya nya kemudian dengan suaranya yang sengaja ia kecilkan karena tidak ingin membangunkan Leathina.
Saat melihat wajah Adam yang tertekuk membuat Edward tahu bahwa ada yang tidak beres dengan pekerjaannya.
“Semuanya berjalan lancar tapi sepertinya ada kelompok lain yang juga sedang mencari Nona Leathina.” Jawab Adam sopan, sesekali diliriknya Leathina yang berbaring di tempat tidur dan masih belum sadarkan diri.
“Dia baik-baik saja, mungkin hanya kelelahan jadi tertidur. Aku tidak mungkin melukainya, kau juga pasti tahu sendiri bukan?” Ucap Edward paham akan makna lirikan Adam terhadap Leathina.
“Maafkan saya bos, saya tidak bermaksud. Saya hanya khawatir bagaimana bisa ada orang yang tahu keberadaannya padanya kita saja sangat kesulitan menemukannya kalau bukan karena ketidak sengajaan nona Leathina yang menyalakan korek apa penghubung mungkin sampai sekarang kita pun belum menemukan nya.” Jelas Adam memberitahu Edward.
“Katakan,” ucap Edward meminta Adam melaporkan seluruhnya padanya, Edward sebenarnya juga khawatir jika orang yang juga mencari Leathina datang dari sisi berlawanan dengan mereka.
“Mereka semua hanya bandit biasa, si kusir merupakan dalang dari pemikiran jahat mereka, dia yang mengontrol anggotanya dan menargetkan korbannya kemudian meminta kawanannya untuk beraksi saat berada di tengah perjalanan jadi si kusir dapat mengambil semua harta benda korbannya tanpa di curigai sebagai penjahat karena mempunyai alasan yang kuat bahwa para bandit lah yang menyerang mereka.”
“Hanya seperti ini? Melihat dari ekspresi wajah mu sepertinya tidak sesederhana itu.” Ucap Edward.
“Sebenarnya semuanya hanya biasa saja tapi saat melakukan pembersihan seseorang tiba-tiba ikut campur dan membunuh semua bandit dengan panah beracun.”
“Apa yang membuat mereka menjadi target?” tanya Edward yang kini menyimak dengan serius.
“Saat Nona Leathina menghilang Duke mengumumkannya secara luas bahwa mereka menginginkan apapun informasi tentang putrinya yang hilang bahkan menawarkan imbalan bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi apa lagi menemukannya, hal ini membuat orang-orang berebut untuk mencari tahu tentang keberadaan Nona Leathina, walaupun belum pernah melihat secara langsung wajah Nona Leathina ciri-ciri yang disebutkan ternyata mereka gunakan sebagai patokan pencarian dan saat di desa kemarin kemungkinan mereka kebetulan melihat rambut merah Nona Leathina itulah mengapa mereka menargetkannya dan sepertinya orang yang membawa kabar tentang hadiah bukanlah secara resmi datang dari Duke atau Kerajaan melainkan dari orang-orang yang juga sedang mencari Leathina.”
“Jadi maksudmu berita yang mereka dapatkan tidak berasal dari kerajaan ataupun dari kediaman Duke Leonard melainkan dari orang lain yang juga sedang mencari Leathina dan mengetahui bahwa Leathina ada di desa ini?”
“Betul, tapi kemungkinan besar mereka belum benar-benar tahu tentang keberadaan Nona Leathina di sini dan masih hidup. Mereka datang ke sini hanya karena mendengar kabar burung tentang keberadaan gadis dengan ciri-ciri yang sama dengan Nona Leathina, jika memang mereka telah mengetahui dari awal bahwa Nona Leathina ada di daerah ini bukankah lebih baik jika mereka langsung mendatangi Nona Leathina saja di bandingkan mengumumkannya pada semua orang.”
“Mereka cukup pintar, karena tidak ingin diketahui sedang mencari Leathina mereka memilih untuk mengumumkannya dan meminta orang-orang untuk menjual informasi langsung pada dirinya, Kau tahu siapa orangnya?”
“Saat saya mulai mengintrogasi para bandit tadi dan bertanya ke kelompok bandit mereka mengatakan bahwa orang yang memberitahukan mereka adalah tamu dari orang paling kaya di kota terdekat kemudian sebelum sempat berbicara lebih banyak lagi tiba-tiba anak panah yang telah dilumuri racun sudah di tembakkan ke arah mereka semua hingga mati di tempat.”
“Jadi mereka sengaja membunuh pada bandit karena tidak ingin identitasnya diketahui?”
“Iya sepertinya memang seperti itu, dan mereka mungkin juga sedang waspada dengan kita sekarang.”
“Baiklah aku paham sekarang, kau harus tetap berjaga-jaga jangan sampai seseorang masuk ke ruangan ini bahkan jika itu pemilik penginapan ada sesuatu yang harus aku kerjakan.” Ucap Edward kemudian beranjak dari tempatnya kemudian keluar dari ruangan meninggalkan Leathina yang masih tidak sadarkan diri semenjak sengaja ia buat pingsan.
“Selamat sore Tuan.” Sapa si pemilik penginapan saat berpapasan dengan Edward yang hendak pergi.
Edward tidak merespon banyak ia hanya menoleh sebentar kemudian mengangguk pelan tanpa benar-benar memberi perhatian lebih pada si pemilik penginapan yang sepertinya sedang berusaha akrab dengan Edward
“Bagaimana keadaan istri anda? Sepertinya masih beristirahat kalau begitu saya akan pergi untuk melihatnya siapa tahu ada yang di butuh .... Akh!” Ucap si pemilik penginapan lagi kemudian langsung berbalik segera menuju kamar yang disewa Edward untuk Leathina namun tiba-tiba terhenti.
“Kenapa kau sangat penasaran dengan istri pria lain hah?!” Tiba-tiba Edward mencengkram tengkuknya dan menariknya ikut bersamanya sampai di depan pintu utama penginapan.
“Akh! Tu-tuan kalau seperti ini leherku bisa patah loh.” Ucapnya basa-basi kemudian mencoba membebaskan diri namun tidak berhasil karena Edward memang tidak berniat untuk melepaskannya dengan mudah hingga lehernya telah memerah karena tekanan yang dalam.
“Tuan kalau seperti ini leherku bisa benar-benar patah loh.” Ucap si pemilik penginapan lagi yang kini tidak lagi berani bergerak akibat rasa sakit yang ia rasakan di tengkuknya membuatnya harus membungkuk saat berjalan dan terpaksa mengikuti Edward.
“Aku tanya kenapa kau tidak menjawab?” tanya Edward membuat si pemilik penginapan kebingungan.
“Memangnya kapan bertanya nya?” tanyanya dengan wajah mencoba mengingat sesuatu.
“Kenapa kau sangat tertarik dengan istri orang lain?” Edward mengulangi pertanyaannya yang sebelumnya belum dijawab kemudian menunggu si pemilik penginapan untuk menjawab tapi bukannya menjawab si pemilik penginapan hanya cengengesan.
“Ka-kapan aku seperti itu?” ucapnya sambil menggaruk garuk kepalannya yang tidak gatal kemudian melirik ke kanan dan kiri berusaha mencari seseorang yang dapat membebaskannya dari Edward yang sepertinya tidak berniat untuk melepaskannya dengan mudah.
“Akh!” pekiknya kesakitan saat Edward semakin menekan tengkuknya hingga membuatnya tercekik.
“Tu- tuan ma- maafkan aku, aku sungguh minta maaf, aku tidak memiliki maksud apa-apa saya hanya ingin memeriksa kebutuhannya saja dan akan membawakannya jika dia sedang membutuhkan sesuatu. Jadi lepaskan leherku aku bisa mati tercekik.” Si pemilik penginapan memberikan alasan kemudian memohon untuk segera dilepaskan.
“Sepertinya kau baru tahu kalau kau bisa mati juga ya?” gumam Edward. “Tapi kenapa hanya pada istriku kau perlakukan dengan cara yang berbeda, padahal masih ada beberapa tamu–tamu yang lain. Apa jangan – jangan kau merencanakan sesuatu?”
“Tidak, tidak ada yang seperti itu tuan, tapi pertama-tama bisa lepaskan leherku dulu?” si pemilik penginapan kembali meminta untuk di lepaskan sayangnya Edward tidak memiliki hati yang baik, Edward malah mencengkeramnya lebih keras lagi kemudian menatapnya dengan dingin tidak ia pedulikan si pemilik penginapan yang kini mulai tersengal-sengal saat bernafas karena dirinya.
“Akh! Tu-tuan apa pekerjaanmu?” tanya si pemilik penginapan mulai curiga dengan Edward.
Menjadi pemilik penginapan selama puluhan tahun lamannya memberikan pengalaman unik untuk si pemilik penginapan, ia jadi bisa membedakan dan tahu mana tamu yang benar-benar hanya membutuhkan tempat beristirahat, orang yang sedang dalam perjalanan, pedagang, hingga seorang yang bekerja di dunia gelap.
Melihat ekspresi Edward yang tidak berubah sedikit pun bahkan saat menatapnya dengan tatapan penuh dengan penekanan serta tindakan nya yang sepertinya tidak akan disesalkan walau pun membunuh seseorang membuat si pemilik tahu bahwa Edward terbiasa dengan dunia gelap bahkan mungkin memiliki pekerjaan yang berkecimpung disana.
“Pekerjaanku seperti yang kau perkirakan sekarang, atau bahkan lebih gila dari yang kau pikirkan sekarang, kalau kau memang memilih untuk mati maka akan aku kabulkan dengan senang hati .....”
“Akh! Tuan, tuan, aku mohon, akan aku katakan, sungguh akan aku katakan.” Jeritnya ketakutan saat Edward tersenyum.
“Jadi?” ucap Edward singkat.
“Aku hanya ingin melihat rambut dan wajahnya sekali hanya itu sungguh!”
“Ah! Jadi maksudmu jika telah melihat wajah dan rambutnya kau akan berbuat sesuatu pada ist ...”
“Tidak!” potong si pemilik penginapan saat Edward berbicara, “Sungguh tidak seperti itu, demi tuhan!” ucapnya sambil menggeleng dengan cepat. “Aku hanya ingin melihatnya karena sedang mencari seseorang,” sambungnya lagi.
“Siapa yang kau cari dan untuk apa?”
“U- untuk hadiah, aku mencarinya untuk mendapat imbalan, tuan pasti pernah dengar berita tentang putri Duke Leonard tiba-tiba menghilang dari kerajaan bukan? Mereka menawarkan harga tinggi bagi setiap orang yang dapat memberikan informasi bahkan tidak segan-segan membayar dengan harga yang bahkan tidak bisa dibayangkan, jadi aku juga ingin mendapatkan separuh dari bayaran itu.” Si pemilik penginapan berusaha menjelaskan sejelas mungkin pada Edward berharap untuk segera di lepaskan.
Edward masih tidak percaya ditatapnya si pemilik penginapan dengan serius tanpa berkedip sama sekali, membuat si pemilik penginapan bergidik ngeri saat bersitatap dengan Edward secara langsung.
“Sungguh hanya itu saja tuan! Tidak ada maksud lain.” Ucapnya sambil memohon.’
“Tak!”
“Aww!”
Ditatapnya Edward dengan emosi saat Edward berbalik.
“Apa?!” tanya Edward saat tiba-tiba kembali melihat si pemilik penginapan yang masih terduduk di bawah.
“Tidak!” Jawabnya cepat, “Tidak ada masalah Tuan saya baik-baik saja.” Sambungnya lagi kemudian bergegas berdiri kembali.
Si pemilik penginapan yang takut jika tiba-tiba Edward kembali mengekangnya segera mundur beberapa langkah berusaha menjaga jarak dengan Edward sejauh yang bisa ia lakukan.
“Kau!” ucap Edward tiba-tiba setelah lama terdiam membuat si pemilik penginapan terkejut dan refleks menjawab.
“Saya tidak berani lagi tua, sungguh!” Ucapnya spontan.
“Ternyata kau masih sayang nyawamu ya.” gumam Edward kemudian tersenyum ramah, tapi di mata si pemilik penginapan senyuman Edward sekarang adalah senyuman paling mengerikan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
“Baiklah, kau berjaga di depan pintu masuk. Tolak jika ada tamu lain yang ingin masuk apa lagi ingin menginap disini.” Ucap Edward memberi perintah.
“Tidak bisa seperti itu!” jawab si pemilik penginapan spontan, “Eh! Ma- maksudku, saya tidak bisa melakukan apa yang anda minta tuan,” Melihat ekspresi Edward yang tiba-tiba berubah menjadi gelap karena menolak melakukan apa yang di minta oleh Edward membuat si pemilik penginapan kembali merasa takut dan segera mengubah cara bicaranya menjadi lebih lembut dan pelan karena takut.
“Ambil ini!” Ucap Edward sambil melemparkan sebuah gumpalan pada si pemilik penginapan.
Dengan sigap si pemilik penginapan menangkap gumpalan yang di lempar Edward ke arahnya, “Apa ini Tuan?” tanyanya kebingungan namun tidak ada jawaban penjelasan dari Edward, karena melihat Edward tidak masalah saat ia mencoba membuka gumpalan tersebut cepat-cepat ia mengintip isinya kemudian terdiam sebentar setelah mengetahui isi gumpalan tadi. “Baik saya akan menjaga dengan sebaik mungkin dan tidak akan membiarkan siapapun masuk ke dalam penginapan ini!” ucapnya bersemangat kemudian cepat-cepat menyembunyikan gumpalan yang diberikan Edward padanya takut jika seseorang akan mencurinya.
“Penginapan mu aku ambil akhil beberapa hari kedepan, jadi kau harus ingat apa yang tadi aku katakan.”
“Akan saya lakukan tanpa ada kesalahan dan tidak akan membiarkan orang lain masuk ataupun menginap disini selama anda masih ada di sini.” Ucapnya berusaha meyakinkan Edward agar bisa mempercayainya dan menyentuh kembali gumpalan yang ia sembunyikan di balik pakaiannya takut jika tiba-tiba Edward mengambilnya kembali.
“A-ada apa tuan?” tanya nya lagi khawatir.
“Saya juga tidak akan menganggu istri anda lagu.” Ucapnya cepat setelah mengingat ingat kembali kesalahannya yang telah membuat Edward marah.
“Bagus, lakukan pekerjaanmu dengan baik.” Ucap Edward puas kemudian segera keluar dari penginapan.
“Ah! Berhati-hatilah dengan tiga orang yang datang bersamaku.” Ucap Edward sebelum menghilang dari balik pintu.
“Kenapa?” tanya si pemilik penginapan bingung namun Edward sudah terlanjur menghilang sebelum mendengar pertanyaannya.
“A- apa jangan-jangan tiga orang yang dia maksud lebih gila darinya?” gumamnya khawatir. “Tapi, uang yang dia berikan sangat menggiurkan aku mungkin bisa buka cabang penginapan baru dnegan uang ini.” Gumamnya senang sambil menggoyang-goyangkan kantungnya hingga terdengar bunyi koin-koin yang saling berbenturan.
si pemilik penginapan menghela nafas berat kemudian mengambil pena dan kertas menuliskan beberapa kata dan menempelkannya di pintu luar penginapan miliknya.
“Duh, kenapa aku harus terlibat dengan orang-orang gila seperti mereka sih!” gumamnya saat kembali masuk.
“Siapa yang gila?”
“Ekh!”
tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya membuat si pemilik penginapan terkejut.
“Sial! Ini salah satu dari ke tiga oran yang di maksud tuan gila yang tadi.” Batinnya sambil berusaha menenangkan diri gara tidak terlihat aneh.
“Ma- maksudku, saudara-saudaraku gila semua. Me-mereka ingin aku tutup hari ini supaya pelanggan yang lain bisa datang ke penginapan mereka.” Ucap si pemilik penginapan beralasan.
“Ah, jadi begitu,” gumamnya mengerti. “Itulah kenapa kau menuliskan bahwa penginapan hari ini libur dan tidak menerima tamu kemudian menempelkannya di luar pintu.” Ucapnya lagi.
“I-iy tuan, betul sekali apa yang anda katakan. Ta- tapi yang membawa anda kesini.” Tanyanya mencoba mengalihkan pembahasan.
“Aku datang karena ingin meminta selimut, kakak ipar ku sepertinya kedinginan.” Ucap Adam memberitahu alasannya datang mencari si pemilik penginapan.
“Jadi laki-laki yang sebelumnya keluar adalah keluargamu?’ tanyanya penasaran.
Adam mengangguk mengiyakan, menerima apa saja yang di katakan si pemilik penginapan yang kini kembali cerewet seperi sebelumnya padahal beberapa saat yang lalu ia terlihat seperti orang yang berada di ambang kematian.
“Ah! Pantas saja.” Gumam si pemilik penginapan sabil mengangguk paham kemudian memperhatikan Adam dari ujung kaki samapi ujung rambut berulang kali.
Adam mengerutkan dahinya tidak suka dengan perilaku si pemilik penginapan yang mulai membuatnya kesal kemudian menunduk melihat si pemilik penginapan yang lebih pendek darinya, “Pantas saja sama-sama gila, dengan saudaranya?!” ucap Adam kemudian menatap di pemilik penginapan dingin bahkan tidak berkedip sama sekali membuat si pemilik penginapan tiba-tiba terdiam karena merasa tertekan dengan Adam yang hanya melihatnya.
“Tidak, tidak, aku sama sekali tidak bilang begitu tuan.” Ucapnya mencoba mengelak kemudian berusaha menghindari tatapan Adam yang terus menatapnya.
“Kalau kau mengelak dengan keras seperti itu berarti memang benar kau mengatakan kami semua orang gila.” Ucap Adam membuat si pemilik penginapan semakin panik karena bisa membaca isi pikirannya.
“Ekh! Se- selimut, anda butuh selimut ya?! baiklah tuan akan segera saya bawakan ke ruangan anda.” Ucap si pemilik penginapan segera mengalihkan pembicaraannya kemudian cepat-cepat meninggalkan Adam menuju gudang penyimpanan barang untuk mengambil selimut dan berpura-pura sibuk memilih selimut yang akan di bawakan ke kamar yang di tempati Leathina, sengaja ia berlama-lama memilih selimut karena menunggu Adam pergi terlebih dahulu.
“Aku hanya ingin kasi tahu aku dengar kau berusaha mendekati kakak ipar ku ya? hati-hati kaka ku itu berbahaya loh, siapa yang tahu isi kepalamu yang usil itu bisa terpisah dari tengkoraknya dan di temukan remuk besok pagi.” Bisik Adam membuat si pemilik penginapan ketakutan hingga tidak berani melihat wajah Adam bahkan bergerak dan hanya mematung di tempatnya.
“Ah! Aku tidak bermaksud apa-apa kok, aku hanya memberitahumu saja agar kau berhati-hati!” ucap Adam yang kemudian tersenyum ramah dan bersikap akrab kembali, “Ini aku ambil sekarang ya.” Adam mengambil selimut yang tadinya masih di pegang oleh si pemilik penginapan kemudian membawanya kembali ke ruangannya.
“Hufff ....!” si pemilik penginapan akhirnya dapat kembali bernafas dengan lega setelah Adam benar-benar pergi.
“Mungkin aku yang sebentar lagi akan gila jika terus-terusan bertemu dnegan orang-orang seperti mereka.” Gumamnya pasrah kemudian segera merapikan kembali tumpukan selimut
“Tapi aku sungguh beruntung bisa mendapatkan uang sebanyak ini dengan membiarkan orang-orang gila itu tinggal di penginapan bobrok ini beberapa hari, kalau itu aku dan punya uang banyak seperti ini aku sudah pasti memilih penginapan yang lebih bagus dari ini.” Si pemilik penginapan berbicara sambil menepuk-nepunj gumpalan kemudian cepat-cepat membuka nya karena saat di depan Edward ia hanya berani mengintip sebentar karena takut.
Dilihatnya kumpulan koin emas di dalam gumpalan membuat matanya kembali berbinar-binar melihat uang dalam jumlah yang banyak.
“Walaupun tidak bisa melihat tamu yang perempuan tadi aku masih tetap bisa mendapat bayaran yang banyak, ah! Sayang sekali jika saja aku bisa melihat wajahnya aku pasti tidak merasa penasaran padahal rambutnya berwarna merah seperti salah satu ciri – ciri yang di sebutkan, aku juga tidak bisa asal menjual informasi pada kerajaan atau keluarga duke aku pasti akan langsung dipenjarakan jika nekat baiklah segini saja sudah cukup.” Gumamnya senang melihat banyak uang yang ada di dalam gumpalan yang diberikan Edward tadi dan tidak lupa ia mencoba menghitung-hitung total julah yang ada di dalam gumpalan.
“Nanti saja aku hitung, aku lihat-lihat saja dulu sebagai obat mata ku yang mulai rabun ini.” Gumamnya kegirangan kemudian duduk di tempat kasir sambil terus mengintip ke dalam kantung uang yang menggumpal karena berisi banyak koin di dalamnya.
...***...