
Adam dan Leathina telah menyelesaikan makanannya masing-masing dan kini Leathina menatap Adam dengan serius sementara yang ditatap hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Lea, jangan menatapku seperti itu. Kau sudah seperti akan memakanku saja.”
“Kau bilang akan membawaku mencari tempat tinggal yang baru, Adam? Tapi lihatlah kemana kau membawaku sekarang kalau begini apa bedanya degan tempat sebelumnya.”
Setelah sarapan tadi Adam langsung membawa Leathina pergi untuk mencari tempat tinggal, kini mereka berdua tengah berdiri di depan sebuah penginapan yang juga ditempati para pembunuh bayaran menginap melihat hal itu Leathina hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya dengan pelan agar emosinya tidak meledak.
“Ah, soal itu aku pikir disini akan lebih aman untukmu.”
“Tidak, tidak, aku tidak mau disini. Kau kembalilah, aku sendiri yang akan mencari tempat tinggalkan aku punya cukup uang kok.”
“Baiklah, baiklah, aku akan mengantarmu ke kota terdekat disana kau bisa memilih tempat tinggalnya sendiri.”
“Tidak, aku tidak mau tinggal diperkotaan itu akan berbahaya untukku jika bisa aku hanya ingin tinggal di pedesaan saja agar aku bisa merasa aman, kau tahu kan aku orang-orang dari kerajaan masih mencari ku.”
“Baiklah tapi sebelum itu aku ke kota dulu ada barang yang harus aku ambil jadi untuk sementara kau tunggulah aku disini Lea, nanti akan aku jemput.”
“Aku akan ikut denganmu, akan memakan waktu lama jika kau harus kembali lagi kesini karenaku, Adam.”
“Tapi katamu kau tidak ingin ke perkotaan?”
“Iya, tapikan kau hanya mengambil barang saja jadi tidak apa-apa aku ikut, sudah lama aku tidak keluar sampai sejauh itu.”
“Aku akan mengizinkanmu ikut denganku, tapi kau harus berhati-hati terutama dengan rambutmu itu kau harus menutupinya dengan baik.”
“Siap. Akan aku ingat.”
Mereka berdua akhirnya berangkat ke perkotaan menggunakan kereta pengangkut barang yang kebetulan lewat di dekat mereka dan memiliki tujuan yang sama untuk pergi ke kota, seperti yang dikatakan Adam mereka berdua nantinya hanya akan mengambil barang yang dimaksud oleh Adam kemudian langsung kepedesan untuk mencarikan Leathina tempat tinggal.
“Sudah sampai, ayo turun.”
“Iya.”
“Hati-hati.”
Adam dengan hati-hati membantu Leathina turun dari kereta saat mereka telah sampai diperkotaan kemudian Leathina mengikuti Adam yang berjalan menuju kesebuah toko yang ada diujung gang jika dilihat sekilas toko tersebut hanya sebuah toko biasa yang menjual beberapa barang antik.
“Selamat datang.”
Seorang perempuan yang merupakan penjaga toko menyambut kedatangan Adam dan Leathina.
“Tunggu disini dan jangan menyentuh apapun yang ada disini, paham.”
“Iya.” Leathina menganggu paham sementara Adam segera berjalan mendekati si perempuan yang menyambut kedatangan mereka tadi.
“Aku ingin membeli Merpati dan ular.” Adam segera mengatakan tujuannya pada si penjaga toko.
“Oh, seorang pelanggan rupanya baiklah tuan silahkan masuk ke pintu yang ada dipojok sana.”
Setelah diberikan instruksi Adam segera memasuki pintu yang ditunjukkan untuknya tapi sebelum masuk ia sempat memperhatikan Leathina terlebih dulu, mengetahui bahwa Adam sepertinya khawatir padanya Leathina tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Adam tanda bahwa dirinya akan baik-baik saja dan tidak akan membuat masalah.
Setelah Adam masuk Leathina hanya melihat-lihat benda-benda antik yang dipajang di toko tersebut dalam pikirannya dia terus mengigat pesan Adam yang melarangnya menyentuh benda yang ada disitu tapi perhatian Leathina kemudian tertuju pada boneka marionette yang terbuat dari kayu dan digantungkan di pojok toko, boneka tersebut memiliki rambut merah seperti dirinya.
Boneka ini unik sekali, ini pertama kalinya aku melihat boneka yang seperti ini secara langsung.
Tanpa sadar Leathina hendak menyentuh boneka yang dilihatnya itu tapi tiba-tiba saja si penjaga toko berbicara dan menyadarkan Leathina kembali, cepat-cepat Leathina menarik tangannya dan tersenyum canggung saat melihat si penjaga toko yang juga tersenyum padanya.
“Boneka itu dapat memikat orang yang melihatnya dan di tali yang menggantungnya beracun jadi hati-hati yah.” Si penjaga toko sedikit berbisik ke arah Leathina dan mengedipkan salah satu matanya tanda bahwa itu adalah rahasia.
“Kalau kau mau aku bisa menunjukkanmu barang bagus.”
Si penjaga toko berjalan mendekati Leathina dan segera merangkulnya sementara Leathina yang merasa jubahnya tertarik karen rangkulan Si penjaga toko cepat-cepat menarik tudungnya kembali agar tidak terbuka.
“Lea, ayo pergi!”
Saat si penjaga toko baru akan membawa Leathina tiba-tiba saja Adam keluar dari pintu dan berjalan ke tempat Leathina berada dan segera menariknya keluar.
“Selamat tinggal pelanggan.” Ucap si penjaga toko saat melihat Adam keluar sambil menarik Leathina.
“Hah, i.. iya adam, kalau begitu saya pergi dulu Nona penjaga toko, terimakasih.”
Saat Adam menariknya cepat-cepat Leathina pamit dan berterimakasih pada si penjaga toko karena telah menyadarkannya tadi saat ingin menyentuh boneka yang akan dia sentuh tadi.
“Adam, adam? Adam! Pelan-pelan.”
Adam menarik Leathina dengan langkah yang terburu-buru kemudian ia baru melepaskan tangannya yang menarik Leathina setelah cukup jauh dari toko antik itu.”
“Kau tidak apa-apa Lea? Apa ada yang perempuan itu berikan padamu?”
“Aku baik-baik saja Adam, dia tidak memberiku apa-apa-apa hany saja dia menawariku sesuatu tadi. memangnya ada apa?”
“Untunglah aku selesai tepat waktu.”
“Ada apa sih adam?”
“Kau harus tahu semua orang yang didekati oleh perempuan itu kabarnya selalu menghilang atau mati mendadak, jadi aku takut dia mendekatimu karena sesuatu.”
“Be.. benarkah ada yang seperti itu?” Mendengar perkataan Adam membuat Leathina sedikit gugup.
“Itu yang aku dengar sejauh ini.”
“Ah, tidak mungkin ada yang seperti itu adam. Mungkin saja hanya kebetulan sudah kita harus cepat mencari tempat tinggal untukku tapi sebelum itu ayo kita makan dulu tadi aku melihat banyak makanan di sepanjang jalanan.”
“Kau sudah lapar lagi Lea? Kita makan sebelum kesini loh, kalau begini kamu bisa gendut nantinya.”
“Huss diam. Kita hanya memakan sepotong roti dan semangkuk soup itupun ukuran mangkuknya kecil jadi tidak ada salahnya jika aku cepat lapar bukan, lagipula apa masalahnya jika aku gendut aku tetap cantik kok.”
“Iya, iya kau bisa melakukan sesuai keinginanmu.”
Adam hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan Leathina karena tidak ada gunanya ia berdebat dengan perempuan yang sekarang sedang bersamanya itu karena ujung-ujungnya dialah yang selalu kalah.
Mereka berdua sampai pada sebuah kedai makanan dan memesan dua poris besar daging untuk mereka makan, tapi belum sempat mereka berdua menghabiskan makanannya tiba-tiba saja seorang prajurit kerajaan memasuki kedai makanan dan datang menghampiri meja mereka berdua.
“Permisi, apa boleh anda membuka jubah anda sebentar kami sedang mencari seseorang.” Prajurit itu berbicara sambil menunjukkan sebuah gambar ke arah Adam yang kebetulan duduk menghadap si prajurit sementara Leathina duduk membelakanginya.
...***...