I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 138



“Arkh! Lepaskan!” terdengar suara Aelfric yang sedang berteriak seperti memberontak karena tertangkap oleh seseorang.


Suara teriakan Aelfric yang sepertinya sedang memberontak karena sesuatu memecahkan suasana hening yang telah terjadi cukup lama semenjak Zeyden berbicara.


Semua mata orang-orang yang ada di dalam ruangan Leathina kemudian tertuju ke arah pintu karena mendengar suara Aelfric semakin lama semakin terdengar jelas.


“Edward!” seru Winter ketika melihat Edward kini berdiri di ambang pintu sambil menyeret Aelfric bersamanya, Edward menyeretnya seperti menyeret sebuah karung gandum membuat Aelfric terus memberontak karena itu.


“Ada apa?” Tanya Duke Leonard ketika Edward telah memasuki ruangan dan melihat Leathina yang masih belum membuka matanya.


“Aku menemukan si biang masalah ini, dia memaksa masuk dan berbuat ulah di luar,” Ucap Edward kemudian melepaskan cengkramannya yang memegang kerah baju bagian belakang milik Aelfric hingga membuat Aelfric hampir tersungkur ke depan saat Edward akhirnya melepaskannya.


“Bagaimana dengan Yasmine?” Tanya Duke Leonard kemudian.


Edward menggeleng lemah, “Dia berhasil kabur ke dalam hutan hitam,” Ucapnya sambil berjalan mendekati sisi tempat tidur untuk melihat keadaan Leathina lebih dekat lagi.


“Aku akan segera mengirimkan prajurit untuk mencari Yasmine di dalam hutan hitam,” Ucap Winter memberitahu Duke Leonard kemudian hanya dibalas dengan anggukan.


"Bahagia keadaan Leathina?" Tanya Edward tapi tiba-tiba Aelfric kembali berbuat ulah.


“Lea?!” Jerit Aelfric ketika melihat Leathina berbaring seperti orang mati di atas tempat tidur setelah itu segera mendekati Leathina, “Leathina!” Teriaknya lagi berusaha membangunkan Leathina.


“Argh! Lepaskan!” Seru Aelfric saat tiba-tiba Nicholas dan Nora hampir bersamaan menariknya mundur menjauh dari Leathina hingga terjatuh ke lantai.


Aelfric tidak menyerah dan kembali berdiri menyerbu untuk bisa mendekati Leathina tapi kali ini Edward lah yang menghadangnya dan kembali mencengkeram kerah baju bagian belakangnya hingga terlihat seperti anak kucing yang terus memberontak ketika digendong.


“Biarkan aku menyentuhnya! Aku hanya ingin memeriksa keadaanya.” Ucap Aelfric pasrah karena kali ini Edward mencengramnya sangat kuat hingga bernafas pun susah dibuatnya.


“Kau ingin memeriksanya atau ingin membunuhnya!” Ucap Nicholas sarkas ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Aelfric mengingat betapa bar-barnya sikap Aelfric saat baru masuk dan saat menghampiri Leathina dia malah berteriak.


“Aku tidak melihat kehidupan lagi di dalam tubuhnya, kau tahu sebagian dari bangsa kami dapat melihat jiwa seseorang.” Ucap Aelfric memberitahu semua orang agar mau percaya padanya dan agar Edward mau melepskan cengkramannya.


“Jika kalian membiarkannya seperti itu mungkin dia akan mati,” Gumam Aelfric sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya karena tidak ada orang yang mau mempercayai apa yang di ucapkanya.


Ia akhirnya pasrah karena Edward selalu memperlakukannya dengan tidak adil. Aelfric melipat tangannya dengan cemberut.


“Hei! Hei! Apa yang kau lakukan sialan!” Teriak Aelfric tiba-tiba saat Edward dengan entengnya mengangkatnya dengan menarik kerah baju bagian belakangnya lagi.


“Jika yang kau katakan itu benar maka periksalah!” Ucap Edward sambil menurunkannya Aelfric tepat di sisi tempat tidur Leathina.


Edward tidak terlihat seperti mengankat Aelfric tapi terlihat seperi orang yang menjinjing barang ketika ia mengangkat Aelfric berhubung karena badan Aelfric memang berukuran lebih kecil darinya jadi mudah bagi Edward untuk menyeretnya atau memidahkannya seperti memindahkan barang belanjaan.


“Uhuk! Uhuk!” Aelfric terbatuk ketika Edward akhirnya melepaskannya karena tercekik kerah bajunya sendiri yang ditarik Edward dari belakang.


Aelfric mengusap lehernya karena masih merasakan sedikit perih kemudian menatap orang-orang disekelilingnya dan dilihatnya semua orang telah menatapnya dengan tatapan penuh dengan harapan.


“K-a-lian jangan terlalu berharap banyak padaku,” ucapnya gugup karena melihat semua orang yang terlihat sangat berharap padanya sementara dirinya pun masih tidak yakin akan kemampuan sendiri.


“Kau harus mencari jalan keluarnya jika tidak aku akan menjadikanmu budak seumur hidupmu!” Edward mengancam kemudian ancamannya didukung oleh Nicholas dan Nora yang kini menatap ke arah Aelfric dengan intens.


"Kenapa aku harus menurut padamu!" Ucap Aelfric tidak terima di perintah oleh Edward, "Kau akan menyesal setelah aku melaporkan perlakuan mu terhadapku pada paman ku." Aelfric balas mengancam Edward tapi Edward tidak terlalu mempedulikan perkataan Aelfric.


“Cepat lakukan Tuan Aelfric, kami sangat berharap padamu,” Ucap Duchess Nice yang memohon bantuan Aelfric.


“Baiklah madam Duchess, akan saya bantu sebisa saya,” Balas Aelfric ketika Duchess memintanya dengan memohon padanya.


“Jangan sebisamu tapi harus bisa!” Edward memotong perkataan Aelfric membuat Aelfric mendengus kesal tapi kali ini tidak berani membalas takut Edward kembali menarik kerah baju bagian belakangnya lagi dan menyeret-nyeretnya seperti barang.


Aelfric akhirnya mulai memeriksa keadaan Leathina kemudian perlahan-lahan menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Leathina.


“Argh!” pekiknya ketika tiba-tiba ditarik dan dihempaskan kebelakang.


Aelfric mengusap pantanya yang sakit karena mendarat dengan keras di lantai dilihatnya semua orang kini menatapnya dengan geram.


Kali ini bukan hanya Edward yang menarik kerah pakaiannya dari belakang tapi juga Duke Leonard, Winter dan Nicholas juga menariknya secara bersamaan dan bahkan melemparya seperti sebuah barang ke belakang.


“Apa yang akan kau lakukan pada kakak Leathina!” teriak Nora kemudian menutupi wajah Leathina dengan tangannya seperti seorang induk yang mencoba melindungi telurnya.


“Aku hanya ingin memeriksa keadaan Leathina!” teriaknya emosi sambil berusaha berdiri kembali, “Memangnya kalian pikir apa yang akan aku lakukan padanya ketika kalian semua berada di sini!” ucapnya lagi dan merapikan pakaiannya yang kini berantakan akibat ulah orang-orang yang menariknya tadi.


“Kau mencoba menyentuh Leathina bukankah itu aneh saat kau mendekatkan wajahmu pada seorang wanita.” Ucap Duke Leonard menghalangi pandangan Aelfric untuk melihat Leathina.


“Aku bilang aku hanya ingin memeriksanya!” teriak Aelfric karena semua orang terus menatapnya dengan aneh.


“Apa yang kalian lakukan!” bentak Duchess Nice membuat semua orang memalingkan wajahnya ke arah lain, “Maafkan perbuatan mereka Tuan Aelfric, aku mohon periksa putriku lagi.” Ucap Duchess sambil mempersilahkan Aelfric kembali mendekati Leathina.


Aelfirc melirik para lelaki yang kini mengelilinginya, “Jika kalian menarikku lagi maka kalian harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada Leathina karena terlambat mendapat pertolongan!” Ancamnya sambil menatap semua mata-mata yang terus melihatnya dengan tatapan aneh sedari tadi.


Aelfric kembali mendekatkan wajahnya ke arah wajah Leathina kemudian terthenti saat jidat keduanya bertemu dan Aelfric pelan-pelan menutup matanya dan fokus dengan apa yang ia lakukan kemudian terlihat cahaya kuning keemasan menyelimuti tubuh keduanya dan sekilas menyilaukan mata orang-orang yang melihatnya.


“Leathina!” seru Aelfric kemudian segera membuka matanya dan kemudian duduk dengan tegap kembali.


Keringat dingin menyelimuti Aelfric karena saking terkejutnya setelah melihat ke dalam diri Leathina.


“Apa yang terjadi?!” tanya semua orang hampir bersamaan karena melihat ekspresi yang terlihat sangat terkejut.


“Tubuh Leathina kosong tidak ada jiwa di dalamnya, dia terjatuh dalam tidur abadi.” Ucap Aelfric mulai menjelaskan apa yang ia ketahui setelah melihat ke dalam diri Leathina.


“Dan lagi ...” Aelfric tidak melanjutkan perkataanya dan menatap Leathina dengan tatapan sedih sekaligus prihatin.


“Kenapa dengan putriku?” Tanya Duke Leonard khawatir dengan keadaan Leathina.


“Wadah penampung jiwanya retak, sebenarnya Leathina hidup seperti apa selama ini hingga terus memendam emosinya sendiri dan membuat wadah penampung jiwa yang seharusnya kokoh bisa retak separah itu?”


“Dia tidak pernah menerima kasih sayang dari siapapun selama ini!” Ucam Edward tiba-tiba menjawab pertanyaan Aelfric.


Perkataan Edward sangat menyakitkan di dengar oleh Duke Leonard dan yang lainnya, jantungnya seakan ditancapkan sesuatu yang sangat tajam. Ia tidak berani membantah ataupun memarahi Edward yang berbicara dengan sangat kasar yang bisa Duke Leonard lakukan hanyalah pasrah dan menerima rasa sakit akibat penyesalannya terhadap Leathina.


“A-apa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membawanya kembali?” Tanya Duke Leonard dengan terbata-bata.


“Umm ...” Aelfic berfikir degan keras mencari jawaban yang tepat teradap pertanyaan Duke Leonard yang diajukan untuknya.


“Aku melihat sesuatu!” seru Aelfric tiba-tiba.


“Apa? Apa yang kau lihat?” Tanya Winter yang tidak kalah khawatirnya dengan yang lainnya.


“Saat melihat ke dalam tubuh Leathina aku menyadari sesuatu dan disaat bersamaan aku juga melihat sesuatu yang menarik.” Ucap Aelfric kemudian terdiam mengingat sesuatu dengan cukup keras.


“Apa itu?” Tanya Duchess pada Aelfric, penasaran sekaligus penuh harapan terhadap apa yang akan dikatakan Aelfric selanjutnya.


“Aku menyadari bahwa warna jiwa Leathina itu gelap aku hampir tidak bisa melihat apa-apa tadi, Tapi aku melihat setitik cahaya yang sepertinya merupakan sumbu kehidupan Leathina yang masih tertinggal. Aku memeriksanya tapi aku tidak yakin bahwa itu milik Leathina atau bukan seakan-akan ada perbedaan diantara keduanya.”


Aelfric bingung dengan perkataannya sendiri tidak bisa memastikan dengan yakin apa yang sebenarnya tadi dia lihat, saat Aelfric mencoba mengingat-ingat kembali ia tetap tidak bisa menemukan kebenarannya.


“Apa tidak ada hal lain yang bisa kau katakan selain membuat orang bingung seperti itu?” Tanya Edward karena merasa tidak puasa dengan jawaban yang diberikan oleh Aelfric.


“Diam kau!” bentak Aelfric yang akhirnya kembali membuat keributan dengan Edward, sifat keduanya tidak cocok dan disetiap pertemuannya dengan Edward pasti akan berujung pada perseteruan yang tidak memiliki akhir.


“Apa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk membawa Leathina kembali?” Tanya Duke Leonard membuat pertengkaran antara Aelfric dan Edward secara otomatis terhenti.


“Aku tidak yakin ini akan membantu, tapi ...” Jawab Aelfric kemudian berfikir ia ragu-ragu mengatakan solusinya “Pamanku mungkin bisa membantu situasi seperti ini, dia selalu mengetahui semuanya karena telah lama hidup,” Aelfric pada akhirnya mengungkapkan solusinya tapi wajahnya seperti mengatakan bahwa itu bukan solusi yang bagus.


“Apa kita bisa membawa pamanmu kemari?” tanya Winter hati-hati saat melihat wajah Aelfric yang tidak terlihat bagus setelah membicarakan pamannya.


“Mungkin bisa hanya saja pamanku itu sudah puluhan tahun tidak pernah keluar dari wilayah kekuasaan kami, kau tahu temperamennya sangat buruk bahkan lebih buruk dari orang itu,” Aelfric berbicara sambil menunjukk ke arah Edward membuat Edward segera berjalan mendekatinya untuk menarik kerah bajunya lagi.


Aelfric yang mengetahui apa yang akan terjadi padanya segera lari menjauh saat Edward berjalan ke arahnya.


“Memangnya siapa pamanmu itu? Apa dia adalah salah satu tetua agung bangsa elf?” Tanya Winter lagi kemudian memblok langkah kaki Edward yang masih berjalan mengejar kemana perginya Aelfric.


“Iya bisa dibilang seperti itu, tapi terkadang posisinya bisa lebih rendah dibanding para tetua agung,” jawab Aelfric setelah Winter membantunya menghentikan Edward.


“Baiklah jika itu adalah jalan satu-satunya untuk bisa mengembalikan Leathina maka aku akan pergi ke wilayah kekuasaan bangsa elf untuk meminta bantuan. “Duke Leonard berniat untuk pergi ke wilaya bangsa elf untuk meminta paman yang dimaksud oleh Aelfric, “Lagipula aku memiliki satu teman lama disana, semoga saja dia mau membantuku untuk meyelamatkan putriku Leathina.” Batin Duke Leonard yang sebenarnya merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri.


“Ayah aku juga akan ikut denganmu.” Nicholas menawarkan dirinya sendiri untuk ikut ke wilayah kekuasaan bangsa elf.


“Tidak Nicholas, kau tinggallah di kerajaan jaga kakak mu Leathina, ibu dan juga adikmu Nora.” Ucap Duke Leonard tidak setuju, “Dan selama aku tidak ada kaulah yang jadi kepala keluarga Yarnell untuk sementara, jangan biarkan kedudukanku kosong bersikaplah selayaknya pemimpin.” Ucapan Duke Leonard tidak bisa dibantah oleh Nicholas, walaupun ia sangat ingin ikut untuk membantuh tapi apa yang dikatakan oleh ayahnya juga sangat penting.


“Kalau begitu aku yang akan mengawal mu, paman.” Winter juga mengusulkan dirinya untuk ikut bersama Duke Leonard.


“Tidak Winter, posisimu juga tidak boleh kosong. Tinggallah disini dan jaga mereka untukku bantu Nicholas menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga sementara.”


“Baik paman, saya paham.” Winter juga tidak bisa membantah apa yang diucapkan oleh Duke Leonard, akhirnya ia pasrah dan memilih untuk tinggal disisi Leathina.


“Aku juga akan mengantar Aelfric pulang ke tanah kelahirannya, jadi aku punya alasn untuk berkunjung ke wilayah bangsa Elf yang kabarnya sangat sulit menerima ras asing masuk ke wilayah mereka.”


“Duke aku tidak ingin pulang!” teriak Aelfric membantah keputusan yang telah dibuat oleh Duke Leonard, “Biarkan aku juga tinggal disini menjaga Leathina!” Ucapnya sambil memelas.


“Jika kau akan pergi kesana sebagai hubungan diplomatik maka aku akan ikut bersamamu Duke.” Ucap Edward memutuskan dirinya sendiri untuk ikut.


“Baiklah pangeran, terimakasih telah bersedia membantu.” Jawab Duke Leonard setelah Edward menyatakan dirinya juga akan ikut bersamanya. Karena keberadaannya pasti akan sangat membantu karena ia salah satu dari pangeran dan calon penerus kerajaan dan tentu saja mereka tidak akan berani menolaknya.


“Tidak, tidak, aku tidak ingin pulang jika harus melakukan perjalanan selama berhari-hari bersamanya.” Bantah Aelfric tidak setuju karena Edward juga ikut bersama mereka.


“Kita akan berangkat besok, kau pulanglah untuk bersiap Edward.” Duke Leonard memutuskan untuk segera pergi ke wilayah bangsa elf secepat mungkin.


“Baiklah,” Ucap pangeran Edward sebelum kembali ke kerajaan ia juga tidak lupa membawa Aelfric bersamanya.


“Hei! Hei! Bren*gsek! Kenapa kau menarik kerah bajuku lagi.” Teriak Aelfric emosi karena Edward kembali memperlakukanya seperti sebuah barang lagi.


“Kau harus kembali denganku ke kerajaan karena kau akan dipulangka besok secara resmi.” Jawab Edward dan masih terus menarik kerah baju bagian belakang Aelfric.


“Tidak! Tidak! Kau membawaku pasti karen ingin menyiksaku kan!” Teriaknya tidak setuju, “Biarkan aku tinggal disini! Aku ingin tinggal disini, Duke aku mohon hentikan orang bodoh ini, aku mohon Duke!”


Aelfric terus memberontak memohon pada duke untuk meminta Edward melepaskannya tapi Edward tetap menyeretnya ikut bersamanya tidak mempedulikan Aelfric yang masih terus memberontak ingin tetap tinggal di mansion kediaman keluarga Yarnell.


“Kau terlalu berisik bocah!” gumam Edward kemudian menghentikan langkahnya dan mengangkat tangannya.


“Baiklah! Baiklah! Aku akan diam!” teriak Aelfirc saat meliht Edward mengankat tangannya. “Aku janji aku tidak akan berisik dan mengikutimu dengan tenang jadi jangan buat aku pingsan lagi dengan memukuliku, kau tahu rasanya sakit kau harus mencobanya sendiri jika kau tidpp ...” Aelfirc langsug menutup mulutnya sendiri rapat-rapat ketika Edward memelototinya dan menepati janjinya untuk diam dan tetap tenang.


Setelah Aelfric benar-benar menjadi anak pendiam dan patuh. Edward kemudian melanjutkan kembali perjalanannya ke kereta kuda miliknya untuk kembali ke kerajaan.


...***...


Hai Readers! 😄


Author mau cerita sedikit, jadi kemarin itu sebenarnya author udah nulis banyak-banyak tapi tiba-tiba ketikan Author hilang karena laptop tiba-tiba mati dan file nya belum disimpan. Jadi, segini dulu untuk hari ini ya.. 😆


Terimakasih 💙


Stay healthy and Happy Reading 💙💙


Love You All 💙💙💙