
“Sialan! Kenapa semua orang selalu memihak nya, padahal dilihat dari sudut mana pun ia selalu bersikap merendahkan semua orang. Ini tidak bisa dipercaya!” Yasmine berdecak kesal namun masih terus berlari berusaha melepaskan diri dari kejaran para penjaga yang mengejarnya.
Yasmine melihat para penjaga yang kini semakin dekat dan terdesak tapi Yasmine kemudian melihat sebuah cela di bawa bebatuan melihat itu Yasmine pun segera masuk ke dalam cela tersebut untuk bersembunyi.
“Kemana Perginya?!” Teriak Nicholas saat kehilangan jejak Yasmine.
Yasmine menutup mulutnya berusaha tidak menimbulkan suara karena takut Nicholas yang kini berdiri di dekat batu tempatnya bersembunyi akan menemukannya.
“Tuan Muda, perempuan itu menghilang!” Lapor salah satu prajurit.
“Tetap cari!”
“Baik.”
Para prajurit pun kembali melanjutkan pencariannya begitu juga dengan Nicholas. Mereka menyusuri seluruh taman untuk mencari keberadaan Leathina, hingga seluruh taman sudah di periksa mereka pun tetap tidak bisa menemukan Keberadaan Yasmine.
“Arg! Sialan!” Nicholas berdecak kesal, menghentakkan kakinya pada sebuah tumpukan batu yang ada di dekatnya.
“Kalian menemukannya?” tanya Nicholas pada para penjaga yang juga masih mencari keberadaan Yasmine.
“Maafkan kami tuan muda, kami tidak menemukan keberadaan Nona Yasmine.”
"Bagaimana caranya ia bisa tiba-tiba menghilang seperti itu?"
"Ada kemungkinan nona Yasmine telah berhasil melarikan diri, tuan Nicholas."
“Baiklah, kita kembali untuk melaporkan pada Winter dan Ayahku terlebih dahulu.”
Karena tidak menemukan keberadaan Yasmine, Nicholas dan para prajurit yang dipimpinya kemudian kembali ke mansion.
“Nicholas anak itu pun juga membenciku sekarang, padahal dulu setiap melihatku dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi seperti anak anjing, Arg! Leathina Sialan!” Yasmine melihat kepergian Nicholas dari cela batu tempatnya bersembunyi kemudian ia pun akhirnya keluar dari persembunyiannya saat memastikan keberadaanya benar-benar telah aman dari kejaran para penjaga.
“Ah, aku harus segera pergi dari sini sebelum mereka kembali melakukan pencarian.”
Yasmine kembali melanjutkan pelariannya, ia segera memanjat dinding pembatas dan akhirnya keluar dari Mansion kediaman keluarga Yarnell ia kemudian berjalan memasuki hutan hingga akhirnya sampai di sebuah pinggiran sungai, Yasmine yang kelelahan duduk di pinggir sungai untuk beristirahat ia meminum air sungai dengan menggunakan telapak tangannya sebagai penampung air tapi ketika menundukkan kepalanya dan melihat pantulan wajahnya sendiri di dalam air Yasmine malah memukul air hingga bayangannya pecah karena gelombang air yang besar akibat pukulannya.
“Menjijikkan.” Gumam Yasmine pelan saat melihat pantulan wajahnya sendiri.
Yasmine mengepalkan tangannya keras hingga urat-urat nadinya terlihat menonjol keluar karena menahan amarahnya tapi setelah beberapa saat amarahnya yang memuncak berubah menjadi keinginan balas dendam yang besar terhadap Leathina.
“Sialan! Akan aku bunuh! Pasti akan aku bunuh kau!” Yasmine menjerit meninju batu sungai hingga punggung tangannya berdarah.
“Andaikan aku tidak bermimpi tentang alur kejadia yang menunjukkan bahwa akulah pusat perhatian semua orang aku mungkin tidak sedendam ini padamu Leathina. Aku melihatnya, aku melihat seluruh alur nya dan kau merebutnya dan menjadikanku sampah seperti ini. Jika aku tidak bisa mengembalikan keadaan maka kau pun tidak akan bisa hidup dengan tenang seumur hidupmu.”
Yasmine kembali mengingat kejadian dimana ia ingin menjebak Leathina dan malah berakhir dijebak kembali oleh Leathina.
“Aku harusnya tidak menggunakan si sampah grand duke sialan dan anaknya yang tidak berguna itu.” Gumam Yasmine yang kesal ketika mengingat kejadian dimana dia meminta grand Duke dan anaknya membantunya untuk menjalankan rencananya.
Malam itu setelah Yasmine berlari masuk ke dalam hutan Yasmine dikejar oleh Pangeran Edward tidak ada pilihan lain bagi Yasmine selain melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya karena tidak mungkin ia bisa mengalahkan Pangeran Edward, maka dengan sangat terpaksa Yasmine berlari masuk ke dalah hutan hitam.
Tangannya yang terluka akibat serangan Pangeran Edward hingga mengeluarkan banyak darah ternyata dengan cepat menarik perhatian para monster dan hewan buas yang tinggal di dalam hutan hitam, masuk ke dalam hutan hitam bukanlah pilihan yang tepat Yasmine menyesalinya dengan cepat.
Hampir semalaman Yasmine berlari dengan keadaan terluka menghindari kejaran beberapa orang yang tidak ia ketahui identitasnya dan juga menghindari kejaran hewan buas dan monster yang ingin memangsanya karena aroma darah dari tubuhnya hingga ia berada pada titik dirinya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk mempertahankan kesadarannya karena ia kini terkepung dan makhluk buas yang ada di dalam hutan hitam memperebutkannya. Mereka saling menyerang satu sama lain hingga Yasmine yang diperebutkan pun tak luput dari serangan hingga melukai wajah dan membutakan mata kirinya.
Yasmine yang kehilangan banyak darah perlahan-lahan kehilangan kesadarannya dan jatuh tidak sadarakan diri di dalam hutan hitam sendirian.
“Ah, aku selamat!” gumam Yasmine saat akhirnya kembali tersadar dari pingsannya. “Tapi tangan kiriku sudah hilang,” gumamnya lagi saat dilihat tangannya yang telah ditebas oleh pangeran Edward saat mereka berdua bertarung.
“Arggkh!” Yasmine menjerit keakitan saat merasakakan nyeri yang amat kuat di bagian wajah dan mata sebelah kirinya dan tidak membutuhkan waktu lama Yasmine pun menyadari bahwa dirinya telah buta dan wajahnya kini hancur dipenuhi luka cakar yang masih basah.
“Yang paling menjengkelkan dari semua kesialan yang kudapatkan ini adalah kenapa aku masih hidup!” gumam Yasmine setelah teradar.
Yasmine lama termenung mengasihani dirinya sendiri yang sangat terpuruk karena keadaanya yang jauh dari kata sempurna, dalam kondisi seperti itu tidak mungkin ia bisa kembali ke kerajaan.
“Sebaiknya aku mati! Semuanya sudah berakhir disini, kekuasaan dan keagungan yang selama ini aku idamkan sirnah begitu saja daripada harus hidup seperti ini sebaiknya aku mati saja!” gumam Yasmine lirih dan dengan tangan gemetar mengambil belati kecilnya hendak menusuk jantungnya sendiri.
Lama Yasmine mengenggam belatinya yang kini telah siap untuk is tancapkan ke jantungnya sendiri tapi Yasmine ternyata tidak berani ia mengakhiri hidupnya sendiri karena takut.
Setelah lama berfikir tangan Yasmine pun gemetar dan tubuhnya terasa berat karena kehilangan banyak darah dan kemudian kembali tidak sadarkan diri untuk yang kedua kalinya.
“Memangnya apa hebatnya si Leathina itu dibandingankan denganku!” gumam Yasmine lirih sebelum benar-benar kehilangan kesadarnya.
“Tik.. tik.. tik..”
Tiba-tiba langit menjadi mendung setitik demi setitik air jatuh dari langit dan tidak menunggu waktu yang lama air yang tadinya hanya jatuh setetes demi setetes kini berubah menjadi guyuran air yang bagaikan sengaja di tumpahkan dari langit.
Karena terkena air hujan Yasmine pun tersadar kembali, Yasmine yang kehausan dan kelaparan kemudian segera membuka mulutnya dan meminum air hujan yang jatuh dari langit.
“Kenapa aku masih belum mati?” gumamnya yang keheranan.
“Ah, takdir pasti ingin membuatku hidup lebih lama lagi untuk menderita.” Ucapnya lagi kemudian mencoba untuk terbangun.
“Aku tidak mati kedinginan karena daun-daun pepohonan yang terjatuh menutupi tubuhku dan air hujan melenyapkan bau amis dari darahku dan lukaku mengering dengan sendirinya, aku pasti dibiarkan hidup lebih lama agar aku bisa balas dendam.”
“Tapi selama aku tidak sadarkan diri aku melihat mimpi aneh.” Batin Yasmine mencoba mengingat kembali mimpinya saat tidak sadarkan diri.
“Di dalam mimpi itu semua kejadian sama persis seperti yang aku lalui hingga pada akhirnya berubah karena Leathina. Apa aku melakukan kesalahan hingga yang aku mimpikan berbeda dengan yang aku jalani di kehidupan nyata? Dan aku pikir di sana aku yang menjadi pusat perhatian dan menjadi pemeran utamanya tapi kenapa sekarang berbeda? Aku sepertinya memang harus membunuh Leathina.”
...
“Trak”
Jendela kamar Leathina berderit, seseorang diama-diam membukanya secara paksa dari luar.
“Siapa?” batin Leathina yang peka dan lansung merasa wa-was. “Apa itu Yasmine yang datang lagi untuk mengincar nyawaku?” tanyannya.
Leathina tidak menoleh untuk mencari tahu siapa yang masuk secara diam-diam ke kamarnya dan terus berpura-pura tertidur, tangannya pelan-pelan mengambil garpu yang ada di atas meja samping tempat tidurnya. Untuk ia gunakan sebagai senjatanya.
“Apa-apaan penyusup itu kenapa tidak langsung masuk, aku jadi kahwatir jika tiba-tiba dia berada di dekatku dan aku tidak bisa merasakan keadaanya.” Batin Leathina yang mulai berkerigat dingin karenna takut.
Leathina menggengam erat garpunya menunggu si penyusup kembali bergerak dan masuk ke dalam ruangannya.
“Tak”
Setelah lama berdiam diri akhirnya si penyusup melompat masuk ke dalam ruangan Leathina.
Leathina yang memang bersiaga dari tadi pun melihat bayangannya dan mendengar suara tapak kaki si penyusup yang pelan-pelan berjalan mendekatinya.
Si penyusup yang masuk ke kamar Leathina kini berdiri tepat di samping tempat tidur Leathina, dan kembali berdiam diri dan menatap Leathina tanpa melakukan tidakan apapun.
“Apa sebenarnya yang orang ini lakukan, dia tidak menyerang ku ataupun melakukan sesuatu tapi firasatku mengatakan bahwa sekarang dia tengah melihat ku. Apa orang ini bingung ingin membunuhku dengan cara seperti apa atau bingung ingin menusuk tubuhku bagian yang mana?” batin Leathina saat dirasakannya si penyusup hanya diam dan terus memperhatikannya.
“Brengsek!” Gumam Leathina.
Orang yang masuk ke dalam ruangan Leathina dengan cara mnegendap-edap akhirnya bergerak dan perlahan menggerakkan tangannya ingin menyentuh Leathina.
Dengan gesit Leathina langsung menghindar kemudian menangkap salah satu tangannya yang ingin menyentuhnya dan langsung memelintirnya kemudian menusuk leher si penyusup dengan garu yang di peggangnya.
“Katakan siapa yang mengirim mu untuk membunuhku, sebelum aku membunuhmu. Jawab Sekarang?!” Tanya Leathina yang masih dengan kuat mengunci pergerakan si penyusup.
Garpu yang Leathina tusukkan pun perlahan-lahan menusuk tenggorokannya hingga berdarah, jika Leathina menusukkan lebih dalam lagi si penyusup pungkin bisa kehilangan nyawanya karena serangan Leathina.
“Leathina, ini aku?” ucap si penyusup tanpa berani bergerak sedikit pun.
Leathina membulatkan matanya karena terkejut mendengar suara yang tidak asing itu, tapi tidak menurunkan kewaspadaanya.
Dengan hati-hati Leathina meletakkan garpunya dan membuka penutup wajah si penutup sementara tangannya yang lainnya masih kuat memelintir tangan si penyusup.
“Astaga Edward!!” seru Leathina saat melihat wajah yang tidak asing itu.
Cepat-cepat Leathina melepaskan tangannya , Leathina yang panik melihat Edward berdarah karena dirinya segera menutupnya dengan tangannya sendiri.
“Ma- maafkan aku Edward, aku benar-benar tidak tahu kalau itu kamu.” Ucap Leathina panik dan masih berusaha menutupi leher Edward yang terluka karena dirinya.
“Apa kau setakut itu, Leathina?” ucap Edward saat dilihatnya wajah Leathina yang memucat.
“Tidak, aku, aku....” Leathina malah terbata-bata tidak bisa menjawab pertanyaan Edward dengan benar.
“Katakan saja yang sejujurnya Leathina, tidak masalah jika kau memberitahu seseorang untuk melindungimu.” Ucap Edward sambil meraih tangan Leathina yang menutup lehernya karena berdarah dan mengenggamnya erat.
“Tanganmu gemetaran.” Gumamnya sambil membersihkan tangan Leathina yang kotor karena Leathina berusaha untuk menghentikan pendarahan di lehernya.
“Ah, Edward aku ...” Leathina yang mencoba untuk berbicara malah tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia menarik tangannya yang di genggam oleh Edward dan menggenggam erat ujung gaunnya.
“Leathina?” panggil Edward ketika melihta leathina malah termenung.
“Ah, baiklah jika kau tidak ingin mengatakan apa-apa. Tapi aku harap kedepannya aku dapat kau jadikan sandaran untukmu jika terjatuh dalam posisi terpuruk.” Ucap Edward ketika Leathina malah hanya terdiam dan menunduk tidak ingin melihatnya.
“Maafkan aku, aku tidak terbiasa membagi masalahku dengan orang lain.” Leathina akhirnya berbicara tapi pandangannya masih tertunduk karena tidak berani melihat wajah Edward.
“Aku tahu dia berniat baik, tapi aku betul-betul belum bisa mempercayai siapapun untuk sekarang.” Batin Leathina yang merasah bersalah pada Edward.
“Ah, baiklah aku paham. Tapi mulai sekarang cobalah untuk membukakan sedikit pintu kepercayaan untukku.” Edward yang paham dan tidak ingin memaksa Leathina pun hanya bisa pasrah.
“Leathina, apa yang sebenarnya kau takutkan. Kau seolah-olah membangun dinding penghalang agar tidak ada orang yang bisa memahamimu.” Batin Edward ketika Leathina malah tambah gemetaran ketika Edward mendekatinya.
“Ah, tapi Edward untuk apa kau datang kemari di waktu seperti ini?” tanya Leathian mencoba mengalihkan pembicaraan agar Edward tidak terus menanyainya.
“Aku datang karena khawatir, aku dengar Yasmine datang dan menyerangmu. Mereka mengatakan padaku bahwa kau baik-baik saja tapi aku tetap khawatir jika tidak melihatmu secara langsung.” Jawab Edward kemudian menghela nafas panjang ketika melihat tangan dan kaki Leathina kini diperban.
“Ah, informanmu benar-benar mengawasiku dengan baik.” ucap Leathina setelah menyadari bahwa Edward mengirimkan mata-mata di kediamannya dan terus mengawasinya.
“Tidak seperti itu Leathina, aku hanya khawatir terjadi sesuatu padamu.”
“Benarkah? Tapi aku akan menjadi jauh lebih baik jika kau menarik orang-orangmu dan berhenti lah untuk mengawasiku.”
“Baiklah Leathina, aku tidak tahu bahwa aku membuatmu risih, aku akan menarik orang-orangku yang aku pekerjakan di sini. Maafkan aku.” Ucap Edward yang kecewa karena Leathina tidak menyukai tindakannya.
“Terikmakasih Edward.” Ucap Leathina.
“Leathina bukankah kamu punya kemampuan sihir penyembuh, kenapa kamu tidak menggunakannya untuk menyembukan Lukamu. Lukamu bukannya akan terasa nyeri?”
Edward kemudian melihat luka-luka yang ada di tubuh Leathina dan tidak tega melihat Leathina yang dibalut perban.
“Oh, Astaga. betul, maafkan aku Edward.” Seru Leathina yang seperti mengingat sesutu yang sangat penting.
“Aku tidak bisa menyembuhkan lukaku, untungnya aku masih bisa mencoba kemampuanku pada Edward. Aku tidak tahu apa aku ini jahat atau tidak, tapi setelah merasa bersalah telah melukai orang ini sekarang aku malah jadi senang karena dia terluka.” Batin Leathina yang kemudian memperhatikan luka di leher Edward.
“Diam sebentar.”
Leathina meminta Edward untuk tidak bergerak dan mulai mencoba menyembuhka luka Edward dengan kemampuannya.
“Masih bisa aku gunakan.” Seru Leathina kegirangan.
“Nah sudah selesai, apa masih sakit?” tanya Leathina setelah berhasil menyembukan Edward dengan kemampuannya.
“Aku baik-baik saja, tapi Leathina kenapa kau tidak menyembuhkan lukamu terlebih dahulu?” Tanya Edward yang bingung dengan Leathina.
“Itu karena kau terlukan karena aku, aku jadi merasah bersalah. Dan lukaku ini, hanya luka bisa tidak disembuhkan juga bisa sembuh sendiri. Aku juga punya beberapa alasan lain dan membiarkannya jadi jangan menanyaiku terus Edward.”
“Baiklah, maafkan aku Leathina.”Jawab Edward yang begitu menuruti perkataan Leathina.
...***...