I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 193



“Akh!”


Pekik Leathina saat seseorang menarik tangannya hingga jatuh terduduk, Leathina menunggu dirinya dipukuli atau langsung ditusuk dengan kuku-kuku tajam milik manusia setengah hewan pasrah dengan nasibnya.


“Kenapa belum dipukul-pukul juga.” Gumam Leathina pelan.


Setelah beberapa saat menunggu Leathina tidak merasakan satupun orang yang menyakitinya malah yang ia rasakan kedua tangannya malah digenggam dengan erat entah oleh oleh siapa dan bahkan pakaiannya pun ikut-ikutan ditarik.


“Apa mereka ingin mengulitiku dan memanggang ku kemudian disantap bersama-sama? Seperti babi guling!”


Lama Leathina kembali menunggu untuk dieksekusi tapi masih tidak ada yang terjadi padanya membuat Leathina penasaran apa sebenarnya yang sedang terjadi terhadap dirinya sekarang dan perlahan-lahan membuka matanya yang sedari tadi ia tutup  untuk mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi.


“Apa-apaan ini?!” gumam Leathina saat dilihatnya semua manusia setengah manusia itu duduk lebih rendah dari dirinya.


“Nona tolong berada disisinya untuk yang terakhir kalinya.”


“Dia tuan kami yang malang!”


“Kenapa pula dia harus menghadapi para manusia lemah itu.”


“A-aku juga manusia.” Ucap Leathina takut-takut.


“Kami tahu, tapi kamu berbeda. Tuan kami pasti menyukaimu itulah kenapa dia membawamu bersamanya kembali ke sini.”


“Ini sudah berapa dekade sejak ada manusia yang berkunjung ke sini ya?” tanya yang lainnya.


“Pokoknya tetaplah disampingya agar tuan kami tidak mati menyedihkan!”


“Hei! Aku bilang aku tidak akan mati!” ucap sang naga lagi dengan suara seraknya tapi lebih lemah dari sebelumnya.


“Ka-kalian tidak akan membawanya masuk?” tanya Leathina lagi sambil melirik ke arah sang naga yang sepertinya sedang menahan rasa sakit.


“Bagaiaman bisa kami membawanya masuk dengan ukuran seperti itu, kami hanya bisa menunggu sampai tubuhnya mengecil dulu.”


“Apa dia bisa berubah wujud, kalau aku menyelamatkannya apa dia mau membebaskanku?” batin Leathina sambil memperhatikan seluruh luka yang ada disekujur tubuh  sang naga akibat serangan para kesatria dan prajurit termaksud dirinya yang melukai matanya saat di kerajaan.


“Ka-kalau aku menolongnya apa kalian bisa menjamin keselamatanku disini?”


Leathina memberanikan dirinya untuk membuat kesepakatan, walaupun sebenarnya tubuhnya gemetaran karena takut dengan situasi yang dihadapinya ia tetap melanjutkan usahanya berharap bisa segera pergi dari tempat aneh itu secepatnya.


Suasana yang tadi ricuh seketika menjadi hening dan pandangan mereka semua hanya fokus pada Leathina.


“A-aku bisa membantunya jika kalian mau.” Ucap Leathina lagi mencoba untuk menyakinkan.


“Ah, Nona ini benar-benar baik tapi tenang saja tuan kami sangat kuat, sekarang mugkin terlihat lemah karena lama diluar tapi istirahat sebentar saja pasti akan kembali membaik.”


“Ini mungkin hanya persaanku tapi mereka tidak panik sama sekali.” Batin Leathina kebingungan kini sang naga tadi sudah tidak bergerak sama sekali hanya perut besarnya yang terlihat kembang kempis karena kesulitan bernafas.


“A-apa dia akan mati?” tanya Leathina lagi penasaran.


“Tidak mungkin, tuan kami kuat.”


“Ayo kembali biarkan tuan beristirahat sebentar.” Ucap yang lainnya sambil berjalan kembali ke dalam mansion untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang sebelumnya tertunda.


“Kenapa mereka semua terlihat tenang sekali setelah tadi heboh takut tuannya mati. Apa mahkluk manusia setengah hewan memang seperti ini?”


“Ah, ka-kalau begitu aku juga akan pergi sebenarnya aku tidak sengaja ikut dengan tuan kalian. Aku akan pulang sendiri tidak perlu mengantarku!” Ucap Leathina dengan terburu-buru kemudian segera lari meninggalkan mansion sekuat yang ia bisa.


“Eh! Mau kemana? tinggallah disini sedikit lebih lama.”


“Tuan kami akan sedih jika bangun nanti tamu yang ia bawa malah menghilang.”


"A-aku tidak ingin merepotkan kalian, makanya aku harus pergi sekarang!” ucap Leathina lagi kemudian kembali berusaha melepaskan dirinya namun ia malah diapit oleh dua manusia setengah hewan dan membawanya kembali ke mansion.


“Diluar berbahaya, gadis baik sepertimu tidak akan bisa selamat jika pulang sendirian.”


“Iya benar, di wilayah ini hanya ada satu mansion kamu bisa kelaparan nanti jika pulang tanpa perbekalan.”


Leathina masih berusha melepaskan diri tapi semakin ia berusaha pergi semakan banyak orang yang menghalanginya dan secara halus memaksanya untuk tetap tinggal hingga pada akhirnya Leathina tidak punya pilihan lain selain tinggal di mansion sang naga bersama para manusia setengah hewan lainnya.


Satu hari telah berlalu dan naga yang membawanya masih berbaring di depan mansion dengan posisi yang sama tidak bergerak sama sekali dan hanya perut besarnya yang terlihat kembang kempis karena bernafas.


“Apa dia akan mati?” gumam Leathina sambil menatap dengan malas dari balkon ruangannya yang ia tempati.


Leathina sudah mengawasinya semenjak ia di bawa paksa masuk ke dalam mansion, menunggu naga yang meculiknya itu bangun.


Para manusia setengah hewan yang memaksanya untuk tetap tinggal ternyata adalah pelayan sang naga, mereka semua tinggal di mansion itu untuk mengabdikan dirinya melayani naga tersebut karena masing-masing dari mereka pernah diselamatkan dan kemudian memilih untuk membalas budi dengan menjadi pelayan setianya.


“Satu-satunya cara aku keluar dari sini adalah dengan membujuk si naga gila itu untuk mengantarku kembali ke kerajaan, tapi yang jadi masalah dia tidak bangun-bangun juga dari kemarian.”


Walaupun para pelayan setia sang naga memperlakukan Leathina dengan baik bahkan sampai memberikan kamar mewah dan pelayan yang melayananinya dengan sangat baik tanpa satupun kesalahan Leathina tetap merasa resah dengan keadaan keluarganya yang mungkin sudah tidak waras dikarenakan mencari dirinya yang tiba-tiba menghilang karena diculik oleh naga gila.


“Haah...”


Leathina menghela nafas kemudian masuk kembali ke dalam ruangannya setelah lelah menunggu naga yang menculiknya itu bangun dan ternyata belum bangun-bangun juga kemudian memilih untuk tidur.


“Apa-apaan ini!” teriak Leathina frustasi yang berdiri di atas balkon kamarnya sambil melihat sosok naga gila yang membawanya masih saja tertidur.


Sudah hampir tujuh hari naga itu tertidur di depan mansion tanpa bergerak barang seinci dari tempatnya membuat Leathina yang terus-menurus menunggunya bangun jadi frustasi melihatnya sementara orang-orang yang ia tanya malah mengatakan bahwa memang sudah seperti itu jika lama berada di luar.


“Kenapa naga gila itu belum bangun-bangun juga sih!” ucap Leathina emosi kemudian dengan langkah cepat ia keluar dari ruangannya menuju pintu utama dan berjalan mendekati naga yang masih pulas tertidur di depan mansioan.


“Hei! Hei! Bangun! Kau sudah tidur disini selama tujuh hari.” Leathina berteriak sekencang mungkin berusaha untuk membangunkan tapi tidak ada reaksi sama sekali.


“Hei! Aku bilang bangun!” teriaknya lagi sambil menendang-nendang ekornya yang besar.


“Kau harus bangun! Aku ingin kembali ke tempat asalku.”


“Ukh!” Naga yang Leathina coba bangunkan menggeliat tapi tidak juga terbangun.


“Hei! Hei! Kau kenapa!” teriak Leathina panik saat melihat mata naga yang pernah ia tusuk dengan tombak mengalirkan darah kemudian tercium aroma busuk dari darah yan mengalir itu membuat Leathina tambah panik.


“J-jangan mati, jangan mati dulu sebelum kau mengantarku kembali.” Ucap Leathina panik.


“Aku harus segera mengobatinya tapi tubuhnya terlalu besar, yang bisa malah aku yang mati karena mengeluarkan seluruh energiku untuk menolongnya. Sebaiknya aku obati saja bagian-bagian yang terluka saja.”


Leathina yang panik langsung memanjat menginjak yang mana saja bagian tubuh dari sang naga untuk bisa menggapai matanya dan menyembuhkannya sesegera mungkin.


“Ini buruk, matanya mungkin infeksi. Apa naga tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri sih sungguh merepotkan tubuhnya juga terlalu besar.” Gerutu Leathina sambil mulai mengobati naga pada area matanya.


“Hei! Hei! Nona, apa yang kau lakukan disana!” tiba-tiba seorang pelayan melihat Leathina menginjak-injak tubuh sang naga membuat mereka yang melihatnya menjadi panik dan berusaha menurunkan Leathina.


“Cepat turun, kenapa kau bersikap tidak sopan pada tuan kami.”


“Akh!”pekik Leathina. “Jangan kau tarik-tarik pakaianku bisa merosot, tuanmu bisa mati jika tidak segera ditolong matanya akan rusak.” Leathina berusha mengeratkan pegangannya di telinga sang naga menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh.


Mendengar ucapan Leathina membuat para pelayan yang memintanya untuk turun terpaksa mengikuti ucapan Leathina, karena mereka pun tidak berani menurunkan Leathina secara paksa karena jika mereka melakukannya maka itu berarti mereka juga harus menginjak tubuh tuannya sendiri.


“Ini sudah lebih dari cukup, matanya terlalu besar dan energiku sudah terkuras banyak setidaknya sudah tidak seburuk tadi dasar merepotkan.” Gumam Leatina kemudian segera melopat turun.


“Kau punya kemampuan yang unik.” Ucap sang naga yang tiba-tiba terbangun.


“Akh!”


“Aww!”


Naga yang kerjanya hanya tidur sepanjang waktu selama tujuh hari berhasil membuat Leathina terkejut karena tiba-tiba berbicara membuat Leathina terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangannya.


“Mataku sudah tidak sakit lagi, tapi masih belum sembuh seutuhnya kenapa kau tidak menyembuhkannya.”


“Tubuhmu terlalu besar, aku bisa mati jika memaksakan diri untuk menyembuhkannmu tahu.”


“Ah! Jadi begitu.” Gumam sang naga sekenannya.


“Aku telah menolongmu jadi cepat bangun dan antar aku pulang.” Ucap Leathina kemudian berdiri kembali sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang tertempel debu karena terjatuh tadi.


“Kalau wujud seperti ini apa bisa kau sembuhkan?!”


“Aaa!”


“Aww!”


Leathina kembali terkejut saat sesosok laki-laki tiba-tiba saja muncul di depannya dengan jarak kurang dari satu meter, membuatnya refleks mundur ke belakang namun malangnya Leathina malah kembali terjatuh karena tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya.


“Si-siapa?!” tanya Leathina spontan saat dilihatnya sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan warna rambut silver serta mata merah terang menatap Leathina dengan seksama.


Terlihat salah satu matanya terluka membuat Leathia menduga-duga siapa laki-laki yang tiba-tiba saja ada di depannya itu.


“Benar ini aku, naga gila yang menculikmu.” Ucapnya sekenannya seakan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Leathina.


“Ka-kau!” pekik Leathina malah semakin panik.


“Kenapa? Ada apa?” tanya laki-laki berambus silver kebingungan melihat Leathina yang malah semakin panik setelah melihat wujud manusianya.


“Kembali sekarang! Kembali ke wujud nagamu!” Teriak Leathina sambil membolak-balikkan tubuh si lelaki misterius jelmaan sang naga.


“Kenapa!”


“Aku bilang cepat kembali kewujud nagamu sekarang! Kalau kau jadi manusia bagaimana kau bisa mengantarku pulang ke asalku.”


“Heh?!” Wujud manusia sang naga tersenyum sinis kemudian dengan cepat menyambar tangan Leathina yang dari tadi memukulnya untuk memintanya kembali berubah wujud.


“Memangnya siapa yang bilang bahwa aku akan membawamu kembali ke sana.” Ucapnya dengan menyeringai sengaja menakut-nakuti Leathina yang masih terlihat panik karena perubahan wujudnya.


Leathina yang terkejut karena tiba-tiba kedua tangannya di tahan hanya bisa terdiam kemudian menatap jelmaan manusia naga tanpa berkedip sambil berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkannya.


“Tak!” tiba-tiba Leathina membenturkan kepalanya ke kepala laki-laki yang sekarang menahannya itu hingga menjerit kesakitan dan melepaskan Leathina.


“Aw!”


“Kau gila ya!” teriaknya emosi sambil mengusap-usap jidatnya yang kesakitan karena berbenturan dengan kepala Leathina.


“Aku sudah menyembuhkan matamu tapi kau tidak mau membawaku kembali, padahal kau yang tiba-tiba menculikku!” teriak Leathina emosi.


“Kau tidak takut padaku?!” tanyanya lagi sambil menantang Leathina tidak mau kalah.


“Untuk apa aku takut! Aku tidak takut padamu, aku sudah merusak matamu sekali jadi aku bisa kembali merusaknya kau yang harus hati-hati denganku dasar naga gila!” teriak Leathina tersulut emosi.


“Perempuan aneh! Oh tidak, sepertinya aku harus mempertanyakannya kembali apa kau itu benar-benar perempuan? mana ada perempuan yang tidak takut dengan hal mengerikan seperti ini!” Ucap sang naga dengan emosi yang tidak kalah besarnya dari Leathina.


“Pokonya kembalikan aku! Bawa aku kembali, dasar naga gila menculik anak orang sembarangan!”


“Aku tidak mau mengembalikanmu, akan aku jadikan kau budak disini selama akhir hayatmu. Dasar perempuan aneh!”


“Kalau bergitu bersiaplah tinggal dengan iblis berwujud manusia, akan aku buat tempat tinggalmu lebih buruk dari neraka.”


“Memangnya kau pernah keneraka hah! Dan jangan merusak tempat tinggal orang lain, aku sekarang menjadi tuanmu dan kau pelayanku.”


“Tidak akan! Tidak akan aku turuti! Aku tidak mau! Dan tidak aka pernah dasar naga gila!”


“Hei apa kita perlu menghentikan pertengkaran tuan dan perempuan muda itu?” bisik seorang pelayan pada temannya yang mulai lelah mendengar pertengkaran keduanya.


“Pelayan seperti kita tidak usah ikut campur, nanti malah kita yang menjadi korban. Selama mereka tidak bertarung maka tidak jadi masalah.” Jawab temannya sambil berdiri sedikit lebih jauh menunggu pertengkaran antara tuannya dan Leathina selesai.


Leathina dan sang naga hanya bertengkar dengan beradu mulut sambil menjaga jarak masing-masing agar tidak terlalu dekat ataupun tidak terlalu jauh.


Leathina sengaja menjauh karena sebenarnya dia takut jika nanti naga yang beradu mulut dengannya itu tiba-tiba menyerangnya karena sebenarnya ia hanya berani menantangnya saja.


Sementara sang naga juga sama dia takut Leathina kembali melukai matanya yang memang sudah terluka karenanya.


“Huh!”


“Huh!”


Keduanya mendengus secara bersamaan kemudian sama-sama melipat kedua tangannya di depan dada dan berpaling saling membelakangi.


“Tenggorokanku kering setelah beradu mulut dengan si naga gila!” Batin Leathina yang masih merasa kesal.


“Butuh air?” ucap seorang pelayan yang entah dari mana asalnya dan tiba-tiba muncul sambil membawa nampan berisi segelas air dan memberikannya pada Leathina, hal yang samapun juga terjadi pada sang naga pelayannya juga tiba-tiba muncul dan menawarkan segelas air untuk diminum.


Tanpa pikir panjang Leathina langsung menyambar air yang ditawarkan oleh pelayan tadi kemudian menghabiskannya dalam sekali teguk dan kembali meletakkan gelas kosong di nampan.


“Tak.”


“Tak.”


Bunyi dentingan gelas yang diletakkan kembali di atas nampan terdengar bersamaan membuat Leathina menoleh dan kembali bersitatap dengan sang naga yang bewujud manusia, Leathina yang sudah terlanjur kesal kembali mendengus keras dengan sengaja agar terdengar oleh lawannya.


Sang naga pun sama ia menoleh saat mendengar suara dentingan gelas dan kembali bersitatap dengan Leathina dan karena kesal ia langsung mendengus kemudian kembali membelakangi Leathina.


...***...


Hai Semua! 💙


Maafkan Author yang jarang Up.


Terimakasih telah mendukung Author 💙


Sehat-sehat ya kalian semua 💙💙💙