I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 48



“Tap.”


Seseorang melompat dan mengendap – endap memasuki area kediaman keluarga Yarnell kemudian berjalan di sekitar jendela luar Leathina saat sampai di jendela luar orang tersebut berhenti dan mengintip masuk ke dalam. Setelah memastikan keadaan aman dan tidak ada siapa – siapa yang berjaga di sekitar ruangan Leathina orang tersebut kemudian merapalkan mantra dan tiba – tiba sudah berada di dalam kamar Leathina.


Sementara Leathina yang kelelahan karena habis menangis tidak menyadari keberadaan orang tersebut dan hanya terlelap tidur dalam keadaan masih sesenggukan dalam tidurnya.


“Jadi benar dugaanku bahwa gadis itu adalah putri tertua dari keluarga Yarnell.” Orang tersebut sedikit menunduk dan mengamati wajah Leathina.


“Wajahnya memar sepertinya habis dipukuli seseorang dan lama sekali gadis ini menangis aku sampai hampir pulang saat menunggunya tertidur tadi.”  Orang tersebut bergumam sambil terus mengamati wajah Leathina.


Aku datang karena ingin mengucapkan terimakasih karena telah menyelamatkanku tadi siang tapi aku tidak menyangka malah melihatnya menangis, gadis yang dirumorkan jahat dan arogan ini ternyata bisa terlihat semenyedihkan ini apa aku culik saja dan menjadikannya bagian dari anggotaku kemampuan penyembuhnya pasti sangat berguna lagipula orang – orang tidak menyukainya.


“Ini sangat menyakitkan.”  Leathina tiba - tiba bergumam dalam tidurnya membuat orang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin merasa was-was.


“Dia bergumam?” orang tersebut kemudian meletakkan telapak tangannya di depan wajah Leathina dan menggoyang – goyangkannya untuk memeriksa apakah Leathina masih tertidur atau tidak.


“Wajahnya bengkak dia akan terlihat jelek besok.”  ia mengamati wajah Leathina yang masih pulas tertidur kemudian orang tersebut merapalkan mantra dan meniup telapak tangannya tidak beberapa lama terlihat sedikit asap dari tangannya karena suhu tangannya menurun dan membiru karena dingin. Setelah itu ia menempelkan tangannya ke bagian wajah Leathina yang membengkak untuk mengompresnya untuk mengatasi pembengkakannya.


“Dingin, apa karena aku sudah mati jadi sudah tidak bisa merasakan kehangatan lagi.” Leathina kembali mengigau membuat orang yang menyentuh wajahnya terkejut dan diam tapi setelah melihat Leathina masih pulas tertidur orang tersebut kembali tenang dan masih mengompres wajah Leathina.


“Dasar bodoh, mana ada orang mati bisa mengigau.”


“Bajunya masih ada bercak darahnya, kenapa gadis ini tidur menggunakan pakaian kotor.”


“Tak.” Setelah melihat pakaian Leathina yang masih kotor orang tersebut menjentikkan jarinya dan muncullah seorang wanita yang merupakan bawahannya yang tadi menunggunya di luar untuk berjaga.


“Ada apa bos?”


“Ganti pakaiannya.”


“Apa benar wanita ini yang tadi menyelamatkanmu?”


“Iya benar dia orangnya, cepatlah ganti pakaiannya sebelum seseorang menyadari keberadaan kita.” Setelah berbicara ia segera keluar dari kamar Leathina dan menunggu rekannya selesai menggantikan baju Leathina.


“Baik.” Wanita yang baru datang tersebut segera berjalan menuju lemari pakaian Leathina dan mengambil pakaian yang menurutnya nyaman untuk digunakan setelah itu ia segera mengganti pakaian Leathina yang sudah kotor.


“Apa sudah selesai?”


“Sudah.”


“ Ayo pulang.”


Setelah perempuan tersebut selesai mengganti pakaian Leathina dengan pakaian yang bersih ia kemudian segera keluar ke tempat bosnya menunggu dan tidak lama kemudian keduanya pergi meninggalkan kediaman Keluarga Yarnell tanpa diketahui oleh siapa – siapa.


“Tok.. tok.. tok.”


“Nona permisi.”


Leathina menggeliat di atas tempat tidurnya saat mendengar suara berisik dari pintu kemaranya kemudian membenamkan kembali wajahnya di bantal.


“Nona.. nona Leathina?”


“Masuk saja Anne.. “ Leathina berteriak memberitahu Anne agar langsung masuk.


Setelah mendengar ucapan Anne, Leathina dengan malas bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu dan membuka kunci yang mengunci pintu dari dalam.


“Masuk sudah aku buka.”


Setelah membuka kunci pintu Leathina segera kembali ke kasurnya dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja dan melanjutkan kembali tidurnya.


“Nona seharusnya memintaku untuk menggantia pakaian Nona, dan tidak usah repot – repot untu menggantinya sendiri.” Saat Anne memasuki ruangan Leathina ia segera memulai kebiasaannya untuk merapikan dan membersihkan kamar Leathina dan memunguti pakaian kotor Leathina yang ia kenakan kemarin.


“Huh.” Saat mendengar ucapan Anne bahwa pakaiannya telah terganti ia segera membuka matanya dan memeriksa pakaiannya dan seperti yang Anne kataan pakaiannya terganti.


“Apa maksudmu Anne, bukannya kamu yang telah mengganti pakaiannku?”


“Bukan Nona, bagaimana caranya aku masuk jika kamar Nona terkunci dari dalam, mungkin nona Lupa telah menggantinya karena kelelahan kemarin.”


“Benarkah?”


“Iya mungkin karena Nona kelelahan jadi lupa.”


Aku pasti benar – benar lupa karena semalaman menangis tanpa sebab, wajahku pasti sudah sangat bengkak dan mataku sembab tapi kenapa Anne tidak menanyakannya yah.


“Anne, tolong berikan aku cermin.”


“Baik Nona.”


Anne segera berjalan ke meja rias dan mengambil sebuah cermin kecil dan membawakannya pada Leathina yang masih berada di atas tempat tidurnya.


Leathina dengan malas mengambil cermin yang diberikan Anne padanya dan melihat bayangan wajahnya sendiri di dalam cermin tersebut, tapi anehnya wajah Leathina tidak membengkak sama sekali dan matanya tidak sembab hanya terlihat kemerahan di tempat Nicholas menamparnya semalam.


“Aneh, kenapa tidak bengkak?” Leathina bergumam karea heran melihat wajahnya yang baik – baik saja setelah tertampar dan menangis semalaman.


“Ada apa Nona?” Anne yang mendengar gumaman Leathina segera menanyainya untuk memeriksa keadaan nonanya itu.


“Tidak aku baik – baik saja Anne, lanjutkan saja pekerjaanmu.”


“Baik, Nona.”


Setelah mendengar jawaban dari Leathina Anne kemudian melanjutkan kembali kegiatannya membersihkan dan merapikan kamar Leathina.


“Nona Leathina akan saya sediakan air mandi untuk nona membersihkan badan Nona Leathina.”


Setelah Anne selesai merapikan kamar Leathina ia segera keluar untuk menyiapkan air mandi untuk Leathina sementara Leathina tidak menanggapinya dan masih berbaring malas di atas kasurnya.


Beberapa saat kemudian Anne kembali lagi ke kamar Leathina bersama pelayan yang lainnya kemudian meletakkan bak mandi yang akan digunakan oleh Leathina dan mengisinya dengan air hangat, memasukkan beberapa bunga untuk digunakan sebagai aroma terapi setelah semuanya selesai Anne menyuruh pelayan yang lain untuk keluar setelah itu memberitahu bahwa air mandi untuk Leathina telah selesai disiapkan.


Leathina bangun dari kasurnya dan segera membersihkan badannya sendiri sementara Anne yang tau bahwa Nonanya itu tidak suka jika dilihat saat mandi segera merapika tempat tidur Leathina menggantikan sepreinya dengan seprei baru kemudian meletakkan seprei yang lama di sudut ruangan yang akan dibawanya nanti setelah Leathina selesai membersihkan dirinya dan setelah itu Anne segera berjalan menuju lemari pakaian untuk menyiapkan pakaian yang akan digunakan Leathina nanti setelah selesai mandi.


Leathina telah selesai membersihkan dirinya sendiri Anne kemudian segera membantunya untuk berpakaian dan merapikan rambut Leathina dan saat semuanya sudah rapi dari ujung kaki sampai rambut Anne segera memanggil beberapa pelayan untuk membantunya membereskan bak mandi yang tadi digunakan oleh Leathina setelah itu mereka semua keluar dari ruangan Leathina dan meninggalkan Leathina sendiri di kamarnya.


......***......