I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 208



Troy dan Nina yang ditugaskan Edward untuk mencari informasi dengan lihai membaur bersama para penduduk desa lainnya, ikut menikmati kesibukan di desa.


Kadang-kadang mereka berdua ikut membantu jika melihat ada orang yang terlihat kesulitan membuat keduanya cepat akrab dengan penduduk desa bahkan tidak segan-segan memberinya makanan secara percuma sebagai bayaran karena telah di bantu.


“Kau mau jadi menantuku.” Cibir Nina pada Troy setelah Troy selesai menolong seorang perempuan tua dan menawarkan cucu perempuannya untuk dinikahkan dengan Troy.


“Saya belum ada rencana untuk menikah, nek.” Balas Troy sengaja memanggil Nina dengan nenek untuk membalas cibiran nya.


“Cih, dasar penggoda nenek-nenek.” Gumam Nina kemudian mempercepat langkahnya sengaja meninggalkan Troy di belakang karena kesal kemudian memasuki sebuah tempat minum kecil yang ternyata bagi penduduk di desa menyebutnya bar terkenal di desa mereka, satu-satunya tempat minum yang langsung mendistribusikan minuman buatan mereka sendiri ke orang-orang.


“Dasar nenek-nenek.” Cibir Troy namun pada akhirnya ikut menyusul Nina yang masuk ke dalam bar kecil dan ikut duduk di sampingnya.


“Silahkan,” ucap si pelayan sopan memberikan segelas minuman pada Nina yang belum memesan apa-apa.


Ini yang bingung tidak paham kenapa bisa langsung di suguhkan minuman padahal belum memesan hanya menatap si pelayan dengan curiga.


“Ah, ini gratis untuk pengunjung cantik seperti anda.” godanya pada nina kemudian mengedipkan satu matanya berusaha menarik perhatian Nina.


“Eh, kau mau jadi cacat ya.” Protes Troy, “Dia punya hobi aneh loh, mengoleksi bagian tubuh manusia.” Sambungnya lagi kemudian di liriknya Nina yang kini telah menatapnya dengan tatapan dongkol.


Si pelayan bar terbelalak kaget tapi kemudian tersenyum kembali karena mengira ucapan Troy hanya candaan.


“Betul yang dia katakan, dan yang paling aku suka adalah mengoleksi hati manusia mengambilnya saat masih berdetak.” Sambung Nina kemudian balas mengedipkan satu matanya pada si pelayan laki-laki.


“Kalau begitu, akan aku tawarkan milikku untukmu.” Balas si pelayan kemudian tersenyum ramah.


“Tak!” Troy memukul meja tidak suka Nina bertingkah seperti perempuan penggoda terlebih di depan matanya, “Mana minuman gratis ku!” teriaknya menagih minuman gratis pada si pelayan.


“Kau tidak dengar ya, minuman ini gratis hanaya karena aku cantik. Memangnya kau cantik?” tanya Nina yang mulai balas menggoda Troy yang memang sudah kesal.


“Aku cukup ganteng kok,” ucap Troy bangga pada dirinya sendiri kemudian menekuk kedua tangannya memamerkan otot-ototnya yang menggelembung tidak lupa ia naikkan satu alisnya.


“Puffttt ...” pekik Nina menahan rawannya agar tidak meledak.


“Kenapa?” tanya Troy dengan polosnya tidak mengerti kenapa Nina ketawa.


“Hei bodoh!” panggil Nina kemudian menunjuk ke arah kaca yang ada di dekat mereka, “Lihat bayangan dirimu disana, bukannya tampan kau malah lebih seperti beruang hitam hahahah.” Ucapnya dengan susah payah karena harus menahan tawa nya namun pada akhirnya tawa nya tetap pecah membuat Troy segera menurunkan kembali tangannya hingga otot-ototnya kembali mengendur dengan wajah cemberut Troy meneguk segelas minuman yang baru di bawakan pelayan untuknya.


“Nenek sihir.” Gumam Troy pelan melampiaskan rasa jengkelnya.


“Terimakasih,” Nina dengan ramah menegur si pelayan yang baru membawakan minuman untuk mereka berdua, si pelayan tersenyum kemudian mengangguk pelan setelah itu ikut duduk bersama Troy dan Nina.


“Kau tidak bekerja?!” tanya Troy sarkas pada si pelayan.


Si pelayan menaikkan satu alisnya dirasakan Troy sepertinya membenci kehadirannya untuk bergabung bersama mereka, “Namaku Haris Tuan dan Nona,” ucapnya memperkenalkan diri tidak suka dengan cara Troy memanggilnya.


“Salam kenal Haris namaku Ina dan laki-laki disana itu kau panggil saja beruang hutan.” Balas Nina memperkenalkan dirinya.


Sengaja Nina mengubah namanya agar mudah berbaur dan tidak akan meniggalkan jejak jika telah pergi dati tempat itu. Sementara Troy hanya mendengus kesal mendengar nina memuat namanya secara semberono dan menyamakannya dengan beruang hitam.


“Seperti yang kau lihat Tuan  hanya ada kalian berdua pengunjung hari ini.” Ucap Haris menunjukkan ke sekeliling ruangan yang kosong melompong, kemudian melihat Nina dengan tatapan tanda tanya apakah ia bisa bergabung atau tidak bersama mereka.


“Kalau begitu jangan duduk disitu.” Troy tidak suka melihat tingkah Haris yang menjadi sok dekat dengan Nina padahal mereka hanya bertemu beberapa menit yang lalu.


“Tidak apa tuan beruang, tidak ada salahnya mempunyai teman baru.” Nina membela Haris membuat Troy semakin kesal tapi tidak melawan karena tahu Nina punya alasannya sendiri.


Biasannya Nina tidak suka meladeni gombalan pria-pria mesum yang selalu menargetkannya sebagai mangsanya tapi karena pekerjaan Nina pun sering terlibat dengan laki-laki hidung belang yang berusaha memuaskan nafsunya.


“Kenapa barnya sepi sekali?” tanya Nina basa basi.


“Kalian berdua sepertinya orang baru yang kebetulan singgah di desa ini ya?” Tanya Haris memulai obrolan setelah keberadaannya diterima.


“Iya.” jawab Troy singkat.


“Ah, pantas saja kalian tidak tahu. Kedai ini baru akan ramai di malam hari karena orang-orang di desa kami dari pagi sampai sore sibuk bekerja dan hanya punya waktu bersenang-senang di malam hari.” Jelas Haris memberitahu Nina dan Troy kebiasaan orang-orang di desanya


“Oh, jadi seperti itu ya.” Nina mengangguk paham.


“Kalian tinggal di penginapan si pendek ya?” tanya Haris lagi.


“Hah, si pendek?” tanya Nina tidak paham.


“Iya si pendek, soalnya tubuhnya lebih pendek dari kebanyakan orang serta ambisinya yang terlalu tinggi.” Jawab Haris.


“Kenapa kau bilang ambisinya terlalu tinggi?” tanya Nina mulai memancing dan mengorek informasi dari Haris, sementara Troy hanya diam dan ikut mendengarkan dengan tenang.


“Iya betul, beberapa hari yang lalu ada informasi dari kota bahwa ada imbalan bagi orang yang dapat memberikan informasi tentang seorang  putri bangsawan di kerajaan yang di kabarkan menghilang di pendek menjadi berambisi semua tamu nya ia periksa satu-satu menyamakan ciri-ciri yang tertera pada pengumuman, tamu-tamu perempuan yang menginap di sana menjadi tidak nyaman dan memilih untuk pindah atau segera pergi dari desa.”


Nina mengingat-ingat kembali penampakan wajah si pemilik penginapan, kemudian baru paham dengan maksud ucapan Haris barusan. Tubuh si pemilik penginapan yang mereka sewa memang pendek di tambah perutnya yang melebar namun anehnya otaknya terlalu bisa dia andalkan untuk mencari uang apapun cara nya.


“Orang seperti ini yang bisa menjadi sangat berbahaya untungnya dia bodoh tapi setidaknya dia tidak akan mati kelaparan dengan otaknya itu.” Gumam Nina pelan.


“Ada apa?” tanya Haris mendapati Nina termenung sesaat.


“Tidak ada apa-apa.” Nina tersenyum ramah kemudian meneguk minuman yang sebelumnya di berikan haris padannya.


“Hebat juga berita dari kerajaan bisa sampai di desa terpencil seperti ini, apa tentara kerajaan yang datang langsung kesini?” Tanya Troy.


“Tidak mungkin, bisannya penduduk pinggiran seperti kami tidak tahu apa-apa jika terjadi sesuatu di kerajaan tapi beruntungnya kemarin ada warga desa yang pergi ke kota dan mendapatkan informasi bagus di sana kemudian mengumumkannya kembali di desa, karena berita itu orang-orang malah berlomba-lomba mencari gadis dengan rambut yang berwarna merah dan katannya kemarin ada satu di desa sebelah tapi tidak mungkin kan itu putri duke kalau memang dia aku sendiri pun akan pergi mencarinya.” Ucap Haris dengan nada candaan.


“Kenapa tidak kesana, jika ada yang melihat di desa sebelah berarti mungkin saja itu putri bangsawan yang hilang.”  Nina kembali membalas candaan Haris membuat Haris semakin bersemangat untuk bercerita karena merasa Nina menaruh perhatian padannya.


“Itu tidak mungkin, seandainya memang ada seharusnya orang dari kerajaan sudah datang sendiri ke sini untuk melihatya.”


“Betul juga.” Gumam Nina menaggapi perkataan Haris.


Mereka bertiga terus melanjutkan percakapan mereka membicarakan banyak hal tentang desa yang sekarang mereka tempati.


“Brak!”


Hingga tiba-tiba pintu bar di buke oleh dua orang pria kemudian langsung duduk mengambil tempat.


“Orang dari desa?” Tanya Nina sambil berbisik di telinga Haris.


Haris yang terkejut karena tiba-tiba berdekatan dengan Nina menjadi gugup dan tergagap kemudian segera menjauh karena malu.


“I- itu, me- mereka bukan dari desa ini, se- sepertinya pelancog.” Jawabnya tergagap.


“Saya permisi dulu.” Ucapnya sambil menghamipiri dua orang asing tadi.


“Selamat datang tuan-tuan.” Terdengar suara Haris menyapa dua tamu tadi dengan sopan menawarkan beberapa minuman unuk dua orang baru tadi.


“Sepertinya mereka mengawasi kita,” ucap Troy pelan merasakan seseorang yang sedang mengawasinya.


“Sepertinya tidak ada lagi yang bisa kita korek disini, ayo kembali.” Balas ini kemudian beranjak dari tempat duduknya.


“Sudah mau pulang?”


“Iya memangnya kau mau meladeni kami sepanjang hari.”


“Tentu saja bisa,” balas Haris spontan.


“Ah, baik sekali. Tapi tidak untuk hari ini.”


“Baiklah, selamat tinggal.”


“Ambil ini!” Troy yang mengekor di belakang Nina tiba-tiba melemparkan sesuatu pada Haris.


Haris spontan menangkap membuka tangannya secara perlahan dan menemukan sekeping koin emas.


“Ini terlalu ..”


“Simpan saja kembaliannya.” Ucap Troy kemudian berlalu melewati Haris.


Nina melirik dua pria yang baru saja masuk tadi dan menemukan bahwa dua pria itu ternyata juga sedang memperhatikannya.


“Hai,” Sapa Nina kemudian mengedipkan sebelah matannya pada dua pria yang terus menatapnya itu dan berlalu kemudian hilang setelah melewati pintu keluar.


“Aku baru tahu kau ternyata juga pandai merayu.” Gumam Troy yang kini telah berjalan berjejeran dengan Nina.


“Tentu saja, aku bahkan bisa lebih dari yang kau bayangkan. Dasar tuan beruang.” Ejek Nina kemudian segera meneganakan tudung jubahnya begitu pula dengan Troy.


Keduannya berjalan dengan terburu-buru meninggalkan bar tadi kemudian menghilang saat memasuki tikungan di gang kecil.


“Bagaimana menurutmu?” Tanya Troy pada Nina, kedua nya kini tengah bersembunyi di balik tumpukan balok-balok kayu yang sengaja di tumpu-tumpuk.


Setelah bersembunyi dilihatnya dua pria yang tadi memasuki bar juga ikut keluar setelah mereka berdua pergi kemudian mengikuti mereka berdua secara diam-diam.


“Kenapa kau bertanya, sudah jelaskan seseorang mengawasi kita.” Ucap Nina sambil fokus mengamati dua orang yang tadi emngikuti mereka terlihat kebingungan karena targetnya tiba-tiba menghilang.


...


“Kemana mereka pergi?” terdengar suara mereka berdua yang sedang berdiskusi, sementara Nina dan Troy hanya fokus mendengarkan.


“Tadi aku lihat mereka berdua berjalan ke araha sini,”


“Apa kau tidak salah lihat? Kalau begitu bagaimana bisa tiba-tiba menghilang?”


“Aku juga tidak tahu, kau jangan memperumit masalah mereka baru saja keluar tidak mungkin pergi terlalu jauh, berhenti mengeluh dan cepat cari saja lagi.”


“Iya, iya, kau juga pasang mata da telingamu itu baik-baik.”


...


Tidak lama kemudian pembicaraan mereka berdua terhentu dan kembali fokus mencari Nina dan Troy yang menghilang secara mendadak.


“Ayo cepat ikuti mereka.” Bisik Nina kemudian mengikuti dua orang yang mengikuti mereka berdua tadi secara diam-diam.


“Hati-hati.” Ucap Troy saat melihat Nina hampir terjatuh karena terlalu fokus mengikuti dua orang tadi hingga tidak sadar menendang batu.


“Akh!” Pekik Nina.


“Nina!” Spontan Troy menarik Nina bersembunyi setelah Nina bersuara takut jika keberadaan mereka berdua diketahui.


...


“Ada apa?” terdengar kembali salah satu daroi orang yang tadi mengikuti mereka bertannya pada temannya yang tiba-tiba berhenti.


“Sepertinya tadi akumendnegar suara perempuan.”


“Otakmu itu isinya cuman perempuan ya, samapi saat bekerja kau tetap memikirkan perempuan cepat fokus cari mereka berdua!” ucap rekannya yang satunya lagi menemup kepala bagaian belakang lawan bicaranya karena kesal.


“Akh! aku betulan dengar kok.”


“Otak mu itu yang bermasalah, aku tidak dengar suara sama sekali. Diam dan fokus pada pekerjaanmu.”’


“Aku benaran dengar suara perempuan kok.” Gumamnya kesal namun sengaja ia kecilkan karena tidak ingin kepalanya di pukul lagi.


...


Setelah merasa aman dan dua orang yang mereka ikuti tidak lagi curiga barulah Troy dan Nina dapat kembali bernafas dengan lega.


“Akh! Apa-apaan kau!” Pekik Nina pelan karena takut suaranya di dengar kemudian mendorong tubuh Troy menjauh darinya yang sedari tadi memeluknya. “Kau mengambilkesempatan dalam kesempitan ya!” gumam Nina kesal, kemudian merapikan jubahnya yang berantakan.


“Aku tadi kan tidak sengaja karena kau mau jatuh, sudah di tolong kok malah marah-marah.” Troyakhirnya juga ikut keal karena Nina yang menuduhnya sembarangan, namun perselisihan mereka berdua tidak berlangsung lama.


Troy dan Nina kembali fokus mengikuti dua orang aneh yang sekarang tengah mencari mereka berdua.


Telah berjam-jam lamannya mereka berempat saling mengikuti, dua orang tadi mencari Troy dan Nina sementara Troy dan Nina juga secara diam-diam mebgikuti mereka berdua hingga matahari tenggelam dan kembali menjadi malam.


...


“Kita benar-benar kehilangan jejak mereka berdua, mnusia macam apa yang bisa menghilang secara tiba-tiba.” Pada akhirnya salah satu dari merekamulai mengeluh karena tidak kunjung menemukan dua orang yang ditugaskan untuk merek aberdua buntuti.


“Diam, jangan mengeluh dan tetap lah mencari.”


“Aku rasa mereka berdua sudah pergi, jangan keras kepala kau dari tadi cuman sok sibung mencari tapi tidak meemukan apa-apa.”


“Setidaknya aku berusaha kan, tidak seperti kamu yang kerjaanya dari tadi hanya mengeluh saja.”


“Aku tidak mengeluh aku cuman mengatakan yang sebenarnya, kenyataanya memang kita tidak bisa menemukan mereka berdua kan, sudah kita kembali ke penginapan saja dan melanjutkan pencarian lagi besok jika memang tidak kelihatan lagi itu berarti mereka memang sudah pergi dari sini.”


“Bagiklah, ayo kembali. Jika besok kita tidak juga mendapatkan petunjuk maka kita harus segera kembali dan segera melaporkannya.”


...


Nina dan Troy dengan sabar masih mengikuti mereka berdua penasaran apa yang membuat dua orang itu mengikutinya. Hingga pada akhirnya dua orang yang sedang Nina dan Troy ikuti memasuki sebuah penginapan yang letaknya berada di ujung desa.


“Kita tidak bisa masuk, jika memaksa maka mereka pasti akan melihat kita.” Gumam Nina kesal karena tidak bisa lagi mengikuti sampai masuk ke penginapan.


“Benar, jika kita berdua masuk walaupun berpura-pura jadi penyewa kita akan tetap menjadi sangat mencurigakan dan langsung ketahuan karena penginapannya terlalu kecil dan hanya di sewakan beberapa kamar saja.” Ucap Troy membenarkan perkataan Nina barusan.


“Baiklah hari ini cukup samapi disini saja dulu, ayo kembali.” Ucap Nina kemudian langsung memutar arah kembali ke penginapan diikuti oleh Troy.


...***...