I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 227



Orang-orang berjubah masih setia mengikuti Leathina, Edward, Troy dan Nina. Tiap kali mereka istirahat atau melanjutkan perjalanan merekapun melakukan hal yang sama namun dengan hati-hati dan tetap waspada agar tidak dicurigai.


“Apa mereka bodoh?” Ucap Nina yang duduk berteduh dibawah sebuah pohon rindang sambil membuka tutup botol air minumnya.


“Biarkan saja, nanti juga muncul sendiri.” Balas Troy yang langsung merebut botol air yang di pegang Nina dan membuka tutup botolnya.


“Aku tidak selemah itu, botolnya bisa aku buka sendiri.” Nina mengerinyit dan hendak merebut botol airnya lagi dari tangan Troy namun Troy mengelak.


 “Airnya habis.” Gumam Troy sambil membalikkan botol yang dipegangnya menunjukkan pada Nina.


“Habis ya?” ucap nina. “Kemarikan botolnya aku akan mencari sumber air terdekat.” Ucapnya sambil beranjak dari tempat istirahatnya.


“Aku yang akan mengambil Air.” Troy ikut berdiri kemudian mendorong Nina agar duduk Kembali.


“Hati-hati.” Ucap Nina sembari melambaikan tangannya dan duduk Kembali, ia menatap sekelilingnya sejenak kemudian bersandar di pohon tempatnya berteduh.


Troy mengangguk kemudian berjalan memasuki hutan kemudian menghilang di dalam hutan.



“Bersiaplah!” Ucap salah seorang berjubah Ketika melihat salah satu orang yang telah berhari-hari mereka ikuti masuk ke dalam hutan dan meniggalkan rekannya sendiri.


“Sepertinya laki-laki yang selalu menempel bersamanya itu pergi mencari air.”


“Iya, cepat tangkap perempuan itu sebelum pasangannya Kembali!”


Mereka kemudian berjalan seperti pengguna jalan lainnya, kebanyakan para petualang lah yang melalui rute yang memasuki hutan atau melewati lembah jadi sudah biasa jika bertemu dengan pengelana atau orang-orang yang melakukan perjalanan berpapasan di dalam hutan karena rute mereka memang seperti itu.


Mereka yang awalnya berjalan dengan santai kemudian semakin was-was Ketika telah mendekati targetnya, sesekali mereka melirik ke seluruh penjuru arah, berjaga-jaga jika tiba-tiba berpapasan dengan orang lain atau jika laki-laki yang tadi pergi tiba-tiba Kembali.


Perlahan namun pasti mereka mulai membuat formasi dan mengepung targetnya, seorang perempuan yang masih duduk dengan santainya dengan wajahnya yang ditutupi jubahnya untuk menghalau sinar matahari agar tidak menyilaukan matanya saat beristirahat.


“Sepertinya perempuan ini tidur dengan nyenayak.” Ucap salah seorang pria berjubah sambil berjongkok dan mencoba mengintip dari balik jubah yang menutupi wajah targetnya.


“Tak!”


“Akh!”


Baru saja ia akan mengintip wajah di balik jubah dari targetnya yang masih tersandar di dahan pohan tiba-tiba sebuah tinju mendarat tepat di wajahnya membuatnya terpental ke belakang dan mengerang kesakitan.


“Sialan!” Umpatnya kemudian segera berdiri sambil menutupi hidungnya yang berdarah akibat pukulan telak yang ia terima di wajahnya itu.


“Tangkap cepat sebelum kabur!” ucap yang lainnya kemudian dengan gesit memegang pergelangan tangan dan bahu targetnya, mereka juga menarik jubah yang menutupi wajah dan kepala yang sedari tadi masih menutupi wajah orang yang mereka telah kepung itu.


“Dia orangnya?” tanya yang lainnya sambil kebingungan menatap perempuan yang sudah ia tangkap itu.


“Sepertinya sudah betul, rambutnya merah tapi apa wajahnya memang seperti ini dari awal?” jawab yang lainnya sambil merogoh kantugnya dan mengeluarkan gambar seorang Wanita berambut merah dengan wajah kecil di gambar yang mereka pegang.


“Sudah betul, gambarnya yang kusut dan terkena air jadi tidak jelas seperti itu.” Ucap rekannya yang lain. “Ayo cepat ikat tangannya dan buat ia pingsan.”


Perempuan yang mereka kepung ikut mengintip melihat gambar yang mereka lihat kemudian mengeritkan alisnya seakan tidak suka melihat gambar yang ia lihat.


“Perempuan sialan ini, berani sekali kau membuat hidungku patah!” Ucap orang yang tadi terkena pukul di wajahnya, dengan geram ia mendekat dengan susah payah sambil memegang hidungnya yang masih terus mengeluarkan darah.


“Menjijikan.” Gumam lawan bicaranya sambil meludah.


Dengan geram ia menatap perempuan yang tadi memukul wajahnya sampai hidungnya patah, kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi ingin membalas dengan pukulan juga.


Perempuan tadi tidak begitu mempedulikan laki-laki yang ia hidungnya patah karena pukulannya, matanya malah fokus melihat warna rambutnya yang perlahan-lahan berubah warnah dan tidak lagi berwarna merah.


“Ups! Aku pikir sihir pengubah wujud tuan Ed sudah sampai pada waktunya.” Gumamnya. “Apa Troy si otak otot itu masih lama mengambil air yah?” ucapnya lagi pelan.


“Sialan! Kita ditipu!” pekik orang yang mengepungnya dengan suara tinggi.


“Siapa kau sialan!” teriak pria yang hidungnya masih mengeluarkan darah sambil melayangkan pukulannya.


“Akh, sialan!” gumam Nina kesal.


Dengan lihai Nina menghindari pukulan yang diarahkan padanya menukarnya dengan tendangan membuat orang yang ia tendang terlempar ke belakang beberapa meter setelah itu menendang pedangnya hingga terpental ke arahnya dan dengan gesit menangkapnya kemudian mengarahkan pedangnya hendak memotong tangan orang-orang yang tadi mengekangnya namun sayangnya mereka juga tidak kalah gesit dari Nina dan mampu menghindar.


“Sial, siapa perempuan ini?” ucap salah-satu laki-laki berjubah sambil menarik pedangnya dari sarungnya yang tergantung di pinggangnya.


“Kita ditipu, aku ingat dengan jelas mereka keluar berlima kemudian pada saat di gerbang perbatasan desa mereka sepertinya berpencar hingga hanya menyisakan perempuan ini dan laki-laki besar yang tadi pergi mengambil air itu.”


“Brengsek, mana perempuan berambut merah itu?” tanyanya emosi dan segera memasang kuda-kuda hendak menebas Nina.  “Kalau kau jawab dengan jujur maka kau akan kami lepaskan dan jika tidak kami tidak punya pilihan lain selain membunuhmu Nona.” Ucapnya dengan senyuman yang meremehkan Nina.


“Sayang sekali tuan-tuan, sepertinya aku akan mengecewakan kalian.” Ucap Nina dengan senyuman yang juga merendahkan.


“Cepat Jawab!”


“Jangan banyak berharap Nona, kami tidak akan melepaskan mu walaupun kamu perempuan.”  teriak yang lainnya tidak sabar.


“Aku tidak tahu siapa yang kalian maksud, oh! Aku penasaran darimana kalian mendapatkan gambar jelek itu, orang yang kamu cari itu sepuluh… tidak dia lebih cantik seratus kali dari gambar yang kau pegang itu. Kalian dari organisasi mana? Kenapa begitu bodoh? Diperintahkan mengikuti dan menangkap satu perempuan saja salah, apa kalian memang orang-orang dari organisasi pembunuh? Ah! Sekarang ada banyak organisasi yang isinya pecundang semua aku beruntung aku tidak bergabung dengan mereka.” Ucap Nina mencemooh membuat emosi lawannya semakin mendidih dengan ucapannya itu.


“Sialan! sepertinya kamu tidak tahu situasimu sekarang ya?!”


Dengan cepat salah satu orang berjubah maju menyerang Nina, Nina yang sengaja memancing emosi mereka juga tidak kalah gesit dengan gesit ia dapat menghindari serangan dan balas menyerang beberapa kali hingga akhirnya terjadi pertarungan antara dirinya dengan beberapa orang sekaligus.


Sayangnya bertarung dengan beberapa orang sekaligus membuat Nina sedikit kewalahan karena mereka ternyata tidak bertarung sebagaimana mestinya, lawan-lawannya menggunakan beberapa trik licik untuk menyerangnya. Salah satu dari mereka mempunyai keahlian unik yakni menggunakan obat-obatan dan menjadikannya racun yang ia tempelkan di pedang mereka hingga Nina harus ekstra hati-hati agar tidak terkena racun dari serangan mereka.


Salah satu jari-jari Nina yang tidak sengaja tergores pedang mereka saat bertarung mulai merasa kebas kemudian mati rasa secara perlahan dari situlah Nina tahu bahwa pedang-pedang yang mereka gunakan telah dibaluri racun.


“Brengsek!” Ucap Nina geram kemudian tidak lagi menahan-nahan dan mulai menyerang dengan serius hingga akhirnya dapat bergerak bebas karena musuhnya sisa satu orang yang masih mampu melakukan perlawanan yang lainnya telah kehilangan kesadaran karena cedera hebat serta terkena racun dari pedangnya sendiri karena Nina merebut salah satu pedang mereka dan menggunakannya untuk menyerang balik.


Nina tersenyum mengejek namun tetap waspada dan tidak meremehkan lawannya itu, karena melakukan kesalahan sedikit saja nyawanya bisa melayang kapan saja. Terlebih ia tidak tahu trik apa lagi yang akan digunakan lawannya itu, namun Nina tahu satu hal yang pasti lawannya itu masih belum menyerah dan mempunyai persiapan lain terlihat dari caranya memegang pedang yang masih stabil dan tidak panik sama sekali walaupun rekan-rekannya telah tumbang dan hanya tinggal ia sendiri yang masih bertahan.


“Heh? Tidak juga dasar sok tahu.” Balas Nina.


“Kau memang hebat Nona, walaupun terkena racun kamu masih bisa bertahan sampai sekarang. Tapi sayang sekali kamu akan tetap mati hari ini, ohiya teman laki-lakimu mungkin juga sudah mati di suatu tempat sekarang.” Ucapnya sambil terkekeh pelan. “Kau pasti tahu apa maksudku bukan?” ucapnya lagi sambil melihat ke sekelilingnya.


“Mereka masih punya komplotan di sekitar sini.” Gumam Nina pelan dengan meningkatkan kewaspadaannya. “dan komplotannya itu pastilah pemanah handal yang sedang bersembunyi atau pengguna racun lagi, melihat dari kepercayaan dirinya yang masih tinggi bahkan jika hanya tersisa dirinya yang masih berdiri.”


Nina degan waspada memperhatikan sekelilingnya dengan seksama, mencoba mencari tahu dan menebak dimana kira-kira musuhnya itu bersembunyi sesekali Nina melirik ke atas menduga-duga jika mereka bersembunyi di atas pohon dan memperhatikannya sedari tadi menunggu perintah untuk menyerang dirinya.


“Akh!”


“Suara jeritan? Apa aku salah dengar?” Batin Nina saat sayup-sayup mendengar suara pekikan dari kejauhan.


Mendengar itu Nina Kembali mendengarkan berharap yang didengarnya itu bukanlah halusinasinya namun ternya Nina Kembali mendengar walaupun hanya sebentar dan pelan.


Mengetahui itu Nina tersenyum sumringah menatap laki-laki didepannya dengan tatapan mencemoh.


“Berani bertaruh?” Tanya Nina senang.


“Kamu selalu berpikir positif ya? Orang-orang yang berada diambang kematian memang selalu punya harapan hidup tinggi walaupun jelas-jelas ia akan mati, baiklah aku bertaruh kamu akan mati sekarang Nona.” Ucapnya kemudian bersiul seakan memberikan kode.


Nina menunggu, namun tidak terjadi apa-apa padanya. Tidak ada serangan panah yang mendarat ke arahnya ataupun bom beracun.


“Mungkin siualanmu kurang kencang tuan, jadi tidak kedengaran rekanmu yang lain.” Nina sengaja mengejek, membuat muka lawannya merah karena marah bercampur malu.


“Kemana ucapanmu yang kau ucapkan dengan percaya diri tadi Tuan berjubah?” tanya Nina sambil tersenyum manis, sengaja menggoda lawannya itu.


“Siuttt!” Ia Kembali bersiul namun masih tidak terjadi apa-apa.


“Siuttt!”


“Siuttttttt!”


Beberapa kali ia mencoba bersiul namun masih tidak terjadi apa-apa membuatnya benar-benar marah.


“Tembakkan anak panahnya brengsek!” Teriaknya dengan marah hingga suaranya bergema di tenga-tenga hutan dan terdengar bunyi pantulannya beberapa kali.


Tidak ada jawaban sama sekali, tidak ada anak panah yang meluncur hanya beberapa burung yang tiba-tiba terbang serempak ke udara.


“Sial.”  ucapnya dengan emosi, kemudian menatap Nina dengan tatapan kebencian.


Tahu situasinya tidak lagi beruntung ia perlahan berjalan mundur menjauhi Nina kemudian saat mendapat situasi yang tepat dengan cepat ia berlari masuk ke dalam hutan secepat mungkin.


“Sial, tenagaku habis. Aku tidak bisa mengejar berandal sombong itu.” Nina menggerutu kemudian duduk bersandar di dahan pohon sembari beberapa kali mengayunkan tangannya yang mulai mati rasa dan terasa menjalar ke lengannya.


“Komplotan bedebah bodoh itu benar-benar menggunakan racun di pedangnya, Sial! Padahal aku hanya tergores sedikit tapi tanganku hampir tidak bisa digerakkan.”


“Srek!”


Nina merobek lengan bajunya dilihatnya telapak tangannya mulai membiru hingga lengannya, saat mencoba menggerakkannya ia sama sekali sudah tidak merasakan apa-apa dari telapak tangan hingga lengannya itu.


“Ini akan menjalar ke seluruh tubuh, aku harus mencari penawarnya.” Gumam Nina, namun terlalu lelah untuk menggeledah mayat orang-orang yang tadi ia lawan dan akhirnya ia hanya memilih duduk dan bersandar di pohon mencoba tidak bergerak untuk menghambat penyebaran racun di tubuhnya.


“Aaaaa!”


“Akh!”


“Trak!”


Terdengar jeritan yang melengking dari dalam hutan kemudian disusul dengan suara pekikkan seseorang yang tengah menahan sakit dan terakhir suara retakan yang terdengar samar-samar di telinga Nina setelah itu tidak ada lagi suara dari dalam hutan.


“Aku harap Troy baik-baik saja.” Gumam Nina pelan sambil menutup matanya perlahan mencoba untuk tertidur.


“Srek!”


“Tak!”


“Tak!”


Setelah tadi hening Kembali terdengar lagi suara benda berat yang diseret kemudian terdengar pula suara derap Langkah kaki yang perlahan-lahan mendekati tempat Nina beristirahat.


Nina yang tahu betul itu pastilah orang dan orang itu kini tengah berjalan menuju dirinya segera waspada, dipegangnya pedang yang ada di tangannya itu dengan erat sambil menatap satu titik di depannya, menuggu sesuatu yang akan keluar dari sana.


“Trak!”


Tidak terlihat apapun namun kemudian tubuh manusia terlempar di depan Nina dan sudah tidak bergerak lagi.


“Orang yang melarikan diri tadi.” Gumam Nina sambil memperhatikan mayat di depannya itu.


Setelah itu keluarlah Troy sambil melihat ke sekelilingnya yang juga tergeletak beberapa tubuh yang sudang tidak bergerak lagi.


“Jadi kamu juga diserangnya?” Gumamnya kemudian matanya mencari keberadaan Nina.


“Nina!” pekiknya panik Ketika melihat wajah pucat Nina dan bersandar di bawah pohon sambil memegang pedangnya dengan kuat.


“HAH! Ternya kau Troy.” Ucap Nina menghela nafas lega mengetahui yang dating ternyata adalah Troy, Nina kemudian melepaskan pedangnya dan Kembali bersandar dengan tentang.


“Nina apa yang terjadi, kenapa wajahmu pucat dan lenganmu membiru seperti ini? Ini buruk.” Tanya Troy khawatir dan memeriksa bagian tubuh Nina yang lainnya untuk memastikan keadaan Nina.


“Oh! Aku terkena racun, mereka menggunakan trik licik dan aku terkena racunnya.” Jawab Nina sambil melihat tangannya yang masih membiru.


...***...