I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 83



“Jadi apa yang ingin kamu lakukan sekarang?”


Adam melipat dan memasukkan kertas pengumuman ke dalam saku celana nya kemudian berjalan menuju kursi dan duduk dengan memperhatikan Leathina yang masih terlihat kebingungan.


“Entahlah, mungkin aku akan pergi mengelana berkunjung ke tiap – tiap kota atau menetap disebuah pedesaan terpencil yang jauh dari keramaian.”


“Jadi kamu tidak punya tujuan sekarang?”


“Aku akan punya nanti.”


“Baiklah sudah aku putuskan!” Tiba – tiba saja adam berdiri dan mengambil tas Leathina.


“Apa yang kamu lakukan, Adam? Dan apa yang sudah kamu putuskan?”


“Aku akan membawamu bersamaku.”


“Kenapa aku harus ikut denganmu?”


“Daripada kamu tidak punya tujuan pasti, ikutlah bersamaku, kamu bisa memulai hidup baru nanti.”


“Kemana?”


“Ikut sajalah dulu.”


“Tunggu, tunggu dulu.”


Adam menarik Leathina namun saat akan keluar dari pintu Leathina menghentikan langkahnya dan memaksa Adam untuk berhenti.


“Kenapa kamu sangat baik padaku? Kamu bahkan tidak mengenalku sama sekali.” Leathina melepas paksa genggaman Adam dan mengambil kembali tas kainnya yang dibawa oleh Adam.


“Tidak ada alasan, hanya saja kamu mengingatkanku dengan seseorang yang aku kenal.”


“Kau tidak akan menjualku kan?” Alis Leathina mengkerut menatap adam dengan curiga dan pelan – pelan mundur ke belakang untuk menjaga jarak dengan adam.


“Memangnya apa untungnya aku menjualmu, Lea?”


“Banyak! Aku cantik, pintar dan memiliki potensi. Jika aku dijual maka aku pasti dibeli dengan harga tinggi.”


“Hahaha! Apa sekarang kamu sedang mempromosikan dirimu? Setelah mendengar ucapanmu aku jadi sedikit kepikiran ingin melakukannya.”


Suara tawa Adam pecah mendengrkan perkataan Leathina bahkan di ujung matanya sedikit berair karena menahan tawanya sendiri.


“Tidak bukan itu maksduku.”


“Baiklah, baiklah, aku paham. Aku tidak akan menjuamu atau menyakitimu. Aku janji!”


Leathina masih tidak percaya dengan perkataan Adam, ia masih tetap pada pendiriannya ingin melakukan pelariannya sendiri.


 “Eh, sekedar informasi saja. Di luar mungkin para prajurit kerajaan sedang berkeliaran jadi hati – hatilah, terutama pada rambutmu yang mencolok itu orang – orang akan langsung tahu itu kau jika melihatnya karena di sini sangat jarang orang dengan warna rambut sepertimu.”


Adam melangkah pergi meninggalkan Leathina, tapi baru beberapa langkah ia pergi  meninggalkan Leathina, Adam kembali lagi untuk memperingati Leathina kemudian setelah memberitahu Leathina mengenai keadaan di luar Adam benar – benar pergi.


“Minggir!”


“Minggir!”


“Beri jalan!”


Terdengar suara keributan dari luar, Leathina segera mendekat ke jendela untuk melihat keadaan yang sedang terjadi.


Terlihat gerombolan prajurit yang dipakaiannya tertempel lambang kemiliteran yang dipimpin oleh keluarga Yarnell sebuah pedang yang bersilang di depan sebuah perisai. Mereka sedang terburu – buru ke suatu tempat dan saat Leathina mengamati mereka dari jendela tiba – tiba saja salah seorang prajurit mendongak ke atas, matanya dan mata Leathina saling beratatapan cepat – cepat Leathina menutup tirai dan bersembunyi.


“Periksa gedung ini!”


Suara teriakan prajurit tadi terdengar dengan jelas dan berhasil membuat Leathina panik.


“Itu, itu, suara Winter.”


Cepat – cepat Leathina mengambil tas kainnya yang berisi barang – barang miliknya, memperbaiki jubahnya sampai menutupi separuh wajahnya dan segera keluar.


“MASUK!”


Saat Leathina membuka pintu Adam masuk dan menarik Leathina kembali ke dalam dan segera mengunci pintu kamar dari dalam.


“Adam! Kau kembali?” Leathina terkejut ketika melihat Adam kembali menemuinya.


“Aku baru saja ingin pergi dari gedung ini, tapi tiba – tib saja para prajurit itu memaksa masuk, dan jangan salah paham aku kembali bukan karena aku mengkhawatirkanmu tapi aku juga salah satu buronan, bisa gawat kalau aku tertangkap.”


“Terus kenapa kamu kembali ke kamarku dari sekian banyak kamar di lantai dua?”


“TOK! TOK! TOK!”


Ditengah – tengah perdebatan mereka berdua tiba – tiba saja pintu diketuk dengan sangat keras membuat keduanya panik.


“Mereka datang!”


“Bagaimana ini?”


“Kesini, Lea!”


“Hey! Hey apa yang kamu lakukan!”


“Husst, diamlah sebentar di sini.”


“TOK! TOK! TOK!” Pintu kamar tempat Leathina dan Adam kembali digedor dari luar dan kali ini semakin besar dari sebelumnya.


“BUKA PINTUNYA SEBENTAR! KAMI HANYA INGIN MEMERIKSA!”


Kemudian terdengar suara prajurit yang menjelaskan tujuan mereka datang, tapi tidak ada jawaban atau sautan dari dalam sementara pintu tidak kunjung dibuka sehingga membuat prajurit menjadi semakin curiga.


“JIKA KALIAN TIDAK MEMBUKANYA MAKA AKAN KAMI BUKA SECARA PAKSA PINTUNYA!” Prajurit diluar pintu semakin bersikeras ingin masuk untuk memeriksa dan kembali memberitahu orang yang ada di dalam kamar, tapi masih tidak ada sautan dari dalam.


“Apa ini tidak apa – apa? Kita tidak akan tertagkap buakan. Akan lebih mudah jika kita keluar lewat jendela.” Leathina berbisik ke telinga Adam agar prajurit tidak mendengarnya.


“Dan kau akan langsung ditangkap karena semua orang bisa melihatmu melompat dari lantai dua, Diam dan bertahanlah di posisi ini sebentar lagi.” Setelah Adam berbicara tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua hanya terdengar suara gedoran dari luar dan suara prajurit yang memaksa untuk masuk.


“BRAKK!” Suara pintu yang sengaja didobrak terdengar dan mengejutkan Leathina.


“BRAKK!”


“BRAKK!” Pintu baru terbuka setelah prajurit melakukannya yang ketiga kalinya.


“Mereka masuk bersiaplah.” Adam berbisik ke telinga Leathina setelah para prajurit berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.


“Sayang, siapa yang membuka pintu secara paksa.” Leathina berbicara seolah – olah Adam adalah kekasihnya.


“Akan aku periksa, tunggulah disini sebentar dan jangan kemana – mana.” Adam menjawab perkataan Leathina dengan lembut berusha memerankan peran masing – masing.


Mereka berdua sedang berpura – pura menjadi sepasang kekasih yang sedang menginap dan menghabiskan malam bersama di sebuah penginapan.


“Ada apa tuan – tuan?” Adam segera turun dari atas tempat tidur dengan bertelanjang dada tapi masih mengenakan celananya ia berakting senatural mungkin seperti orang yang baru bangun, ia berjalan ke arah para prajurit berdiri.


“Ma.. maafkan kami, Tuan. Kami sedang mencari seseorang kami pikir orang itu sedang bersembunyi disini tapi kami ternyata keliru, silahkan lanjutkan lagi." Melihat situasi ambigu tersebut para prajurit menjadi kikuk namun sekali – kali mata mereka melirik ke arah tempat tidur dan melihat kaki seorang gadis yang terekspos.


Tubuh Leathina sengaja Adam tutupi dengan selimut dan hanya menyisahkan ujung kakinya saja yang terlihat, hal itu sudah bisa membuat orang yang melihatya menjadi salah paham.


“Apa yang kau lihat tuan.” Melihat kemana arah mata para prajurt melirik Adam seger menghalangi mereka dan mengalihkan perhatian para prajuri.


“Sekali lagi maafkan kami, Tuan. Kalau begitu kami pamit dulu.” Para prajurit segera keluar dan menutup pintu kembali.


“Apa mereka sudah pergi?” Leathina yang mendengar pembicaraan mereka segera berbisik dan menanyakannya pada Adam.


“Belum, sepertinya ada seseorang yang datang, diamlah sebentar lagi.”Adam memberitahu Leathina agar ia tidak bersuara dulu.


“Apa kalian menemukan sesuati di dalam sana?” terdengar suara laki – laki ia menanyai prajurit yang baru saja keuar dari kamar tempat Leathina dan Adam berada.


Itu suara Winter! Leathia mendengar suara yang tidak asing ditelinganya membuatnya kembali panik sampai menahan nafasnya agar ia tidak ketahuan.


“Wakil komandan, di dalam hanya sepasang kekasih yang. “ Ucapan prajurit berhenti, wajahnya memerah karena panas dan tidak melanjutkan ucapannya.


“Baiklah aku mengerti.” Winter yang paham segera memberitahu prajurit yang ditanyanya.


“Apa anda ingin memeriksanya ke dalam?”


“Tidak usah, aku tidak punya waktu untuk ikut campur urusan orang lain.” Winter kemudian pergi diikuti oleh bawahannya.


“Huahh!” Leathina menghela nafas lega setelah mendengar langka kaki para prajurit menjauh.”


“Kenapa kau menahan nafasmu?”


“Aku sangat takut tertangkap, sampai aku berfikir bahwa mereka mungkin bisa mendengar suara nafas dan detak jantungku.”


“Mereka sudah pergi sekarang.”


......***......