
Dengan kemampuan sihir miliknya Zeyden segera mematahkan sihir yang menciptakan kabut hitam menyelimuti aula utama dan kemudian perlahan-lahan kabut hitam pun mulai memudar dan akhirnya benar-benar menghilang hingga semua orang bisa melihat tanpa penghalang lagi, angin kencang yang sebelumnya tiba-tiba muncul tadi juga telah menghilangkan seiring menghilangnya kabut hitam.
“Nona Yasmine hilang!” Teriak penjaga yang tadi bertugas mengawal Yasmine sebelum kabut menutupi aula utama.
Sementara Edward juga dengan cepat menyadari bahwa Leathina juga telah menghilangkan kemudian ia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula utama mencari dimana keberadaan Leathina yang kini telah menghilangkan tapi sekeras apapun ia mencari Edward tetap tidak dapat menemukan keberadaan Leathina.
“Leathina?” Seru Duke Leonard dan Nicholas hampir bersamaan ketika sesaat setelah kabut menghilangnya yang ia cari pertama kali adalah Leathina dan tidak menemukan keberadaan perempuan berambut merah itu di manapun.
Tanpa diperintah Zeyden langsung melepaskan sihirnya untuk mendeteksi keberadaan Leathina, ia telah melihat sihir jenis apa dan bagaimana bentuk energi sihir milik Leathina sebelumnya jadi dengan kemampuannya ia berharap bisa langsung menemukan keberadaan Leathina.
"Mereka berdua sudah tidak ada disini lagi,” seru Zeyden mengejutkan semua orang, “Aku mendeteksi dua energi sihir yang berbeda di hutan.” Sambungnya lagi kemudian langsung berlari ke arah energi sihir yang telah ia deteksi.
Sementara para prajurit segera menyusul Zeyden yang sudah berlari lebih dulu di depan, Zeyden yang ada di depan bersama Edward, Winter, Duke Leonard dan Nicholas semakin mempercepat langkah mereka.
Sebelum pergi bersama Zeyden, Duke Leonard meminta Duchess untuk membubarkan pesta dan menangani para tamu agar seger meninggalkan kediaman Yarnell.
“Apa yang terjadi Zeyden?” Tanya Edward yang peka akan kekhawatiran yang terlihat di wajah Zeyden.
“Sihir Leathina melemah Edward kita harus bergegas.” Jawab Zeyden kemudian semakin mempercepat langkah kakinya berlari memasuki hutan untuk mencari dimana keberadaan Leathina.
"Apa seburuk itu, Zeyden?" Tanya Winter yang juga melihat Zeyden juga ikut khawatir dengan keadaan Leathina
Zeyden terdiam tidak menjawab pertanyaan yang Winter tanyakan padanya ia pun sebenarnya juga tidak yakin bagian kondisi Leathina sekarang.
Apa yang dikatakan zeyden semakin membuat mereka semua panik kemudian berusaha secepat mungkin untuk segera sampai dititik energi yang ditemukan oleh Zeyden.
...
Sementara pertarungan Leathina dan Yasmine terus berlanjut, pertarungan keduanya didominasi oleh Yasmine dengan sekuat tenaga ia mencekik Leathina seluruh energinya sengaja ia pusatkan di tangannya untuk membunuh Leathina.
“Mati! Mati! Mati!” gumam Yasmine tak henti-hentinya sementara tangannya terus memperdalam cekikannya, emosinya yang meluap-luap ia limpahkan pada Leathina.
Dengan segenap kekuatannya yang tersisa Leathina masih berusaha mendorong tubuh Yasmine dan melepaskan cengkraman tangan Yasmine di lehernya. Namun, karena sebelumnya ia terlalu banyak menggunakan kekuatannya perlahan-lahan membuat Leathina semakin melemah.
Kesadaran Leathina mulai menurun, suplai oksigen mulai berkurang mengalir ke otaknya membuatnya kesulitan mempertahankan kesadarannya. Dipertarungan sebelumnya Yasmine dengan kekuatan sihirnya yang merupakan elemen angin menyerangnya dari segala penjuru hingga membuat Leathina terpaksa harus menggunakan banyak sihirnya untuk menyembuhkan dirinya sendiri yang mendapat banyak luka dari serangan Yasmine.
“Argk! Aku tidak kuat lagi menahannya, Yasmine terlalu kuat mencengkram leherku, aku tidak boleh sembarangan menggunakan sisa energiku lagi aku akan benar-benar mati jika kulakukan.”
Leathina semakin melemah kedua tangannya yang mendorong Yasmine untuk lepas dari cengkramannya jatuh dan kesadarannya pun perlahan-lahan menurun kemudian matanya kini menutup.
“Sudah mati!” seru Yasmine sembari melepaskan cengkeramannya. “Aku kira kau akan bertahan lebih lama dari ini.” Ucapanku sambil tersenyum puas karena telah berhasil membunuh Leathina dengan tangannya sendiri.
Yasmine kembali menunduk kemudian menampar-nampar wajah Leathina untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah mati.
Dilihatnya bulu mata Leathina sedikit bergerak, "Apa hanya perasaanku saja," Gumam Yasmine bingung dengan apa yang barusan ia lihat.
“Kau!” pekik Yasmine saat melihat mata Leathina kembali terbuka dan menatapnya dengan dingin, mata biru Leathina mengkilap terkena pantulan sinar bulan.
“Hai Yasmine!” sapa Leathina tenang, “Lama tidak berjumpa,” sambungnya lagi kemudian menyeringai dan terlihat sangat mengerikan di mata Yasmine.
Yasmine terkejut memundurkan dirinya sejenak tapi tiba-tiba kembali membabi-buta mencekik leher Leathina.
Tidak ada reaksi pemberontakan dari Leathina hanya matanya yang kadang-kadang mengerinyit karena merasakan sakit di lehernya membuat Yasmine dengan leluasa mencekiknya.
“Mati kau! Akan aku bunuh kau!” teriaknya dengan emosi yang meledak-ledak rasa bencinya terhadap Leathina seakan ia tampung dan lepaskan sekarang.
Leathina mengepalkan tangannya membuat tinjunya seerat mungkin sampai buku-bukunya tidak lagi di aliri darah kemudian dengan seluruh kekuatannya ia menghantam Yasmine sampai Yasmine terpental kebelakang.
“Argkh!” Pekik Yasmine kesakitan saat Leathina menghantam wajahnya, terlihat disudut bibirnya mengeluarkan darah segar dan di sekitar pipi kanannya terdapat luka lebam akibat pukulan telak yang Leathina hadiah kan untuknya.
Sengaja Leathina tidak bereaksi saat Yasmine mencekiknya untuk membuat Yasmine Lengah dan membiarkannya fokus untuk membunuhnya agar ia bisa memberi balasan yang sepadan pada Yasmine
Leathina berdiri kembali walaupun agak sedikit oleng karena Yasmine terlalu lama mencekiknya tapi setelah beberapa saat keseimbangannya kembali, Leathina merenggangkan tubuhnya kemudian memutar-murakan sedikit kepalanya untuk memeriksa lehernya rasa perih ia rasakan saat melihat ke arah kanan dan kiri.
“Kau masih punya banyak sisa energi ternyata,” Ucap Yasmine kemudian kembali berdiri, “Kau akan kehabisan energi jika menggunakan kekuatanmu lagi untuk menyembuhkan dirimu, dan tentu saja aku akan terus menyerangmu sampai kau mati karena menghisap energi kehidupanmu sendiri.” Ucam Yasmine merendahan Leathina.
“Tentu saja aku tidak akan menggunakannya, itu kekuatan yang dianugerahkan untuknya maka tidak akan aku gunakan karena bukan milikku,” Leathina berbicara sabil mengusap lehernya untuk memeriksa nya kembali karena masih merasakan nyeri saat menggerakkannya membuatnya merasa sedikit tidak nyaman saat bergerak.
“Dia terlalu lembut dan terlalu baik untukkmu dia bahkan tidak punya niat untuk membunuh mu, aku juga tidak berfikir untuk membiarkannya membunuh makanya aku sendiri yang keluar untuk membunuhmu secara langsung Yasmine!” Nada bicara Leathina dingin, tatapannya intens mengarah ke arah Yasmine.
“Kau!? Pekiknya kemudian melangkah mundur beberapa langkah karena terkejut melihat sikap Leathina yang aneh. “Siapa kau?” tanya Yasmine karena merasakaan perasaan yang berbeda sebelumnya saat berbicara dengan Leathina.
“Leathina!” serunya ketika menyadari sesuatu yang aneh namun terasa familiar ketika ia berada di dekat Leathina seperti dulu.
“Iya ini aku, Leathina Yarnell devil from the Duke!” Jawab Leathina menyeringai dan segera menerjang ke arah Yasmine.
Dengan gesit Leathina meraih pisaunya yang berada tidak jauh didekatnya dan dengan cepat menyerang Yasmine, sementara Yasmine yang menyadari dirinya berada dalam bahaya segera membuat pelindung dari sihirnya hingga terdengar benturan yang cukup besar saat kedua serangan mereka berdua bertemu.
“Brak!” Keduanya terpental mundur dari kecil Leathina memang dianugerahi energi yang cukup kuat dan pikiran yang sangat cerdik hingga bisa mengalahkan lawannya yang bisa menggunakan sihir begitu jugalah caranya mengalahkan Zeyden dulu saat berduel di akademi.
“Kau, bagaimana bisa kau yang bukan pengguna sihir melakukan hal semacam itu!?” Tanya Yasmine tidak percaya dengan apa yang barusan Leathina lakukan.
“Aku bukan pengguna sihir tapi tidak ada yang bilang bahwa aku tidak punya sesuatu yang lebih istimewa dari sihir bukan.” Ucap Leathina sambil menunjuk kepalanya sendiri bangga dengan pikiran kritisnya.
Kekuatan fisik ataupun energi sihir dapat dengan muda Leathina manipulasi hingga dapat melawan balik musuhnya dengan mudah, dengan kecerdikan otaknya Leathina mampu melihat titik-titik terlemah lawannya untuk segera melumpuhkannya.
Di Setiap gerakan sempurna ataupun di setiap serangan sihir yang kuat pastilah memiliki titik lemahnya sendiri hingga jika tidak bisa mengendalikannya dengan baik dapat digunakan sebagai bumerang dan berakibat fatal bagi penggunanya, hal itulah yang selalu Leathina manfaatkan.
...***...