
“Para keparat-keparat itu kenapa sangat keras kepala.” Edward mengayunkan pedangnya sekali dan darah yang menempel di sana sudah hilang lalu dengan elegan membersihkan pedangnya kembali dengan sapu tangannya.
“Tuan Ed, jadi apa kah kita akan membersihkan mereka sebelum acara perjamuan tiba?” tanya Adam yang juga sedang membersihkan pedangnya dari darah.
“idak perlu seperti itu, untuk sekarang kita hanya memerlukan informasi saja karena jika kita membunuh mereka semua sekarang mereka pasti akan curiga dan merencanakan sesutu yang lebih aneh. Untuk sekarang apapun rencana mereka kalian hanya harus mengawasi.”
“Aku paham, akan aku sampaikan kepada yang lain.”
…
“Wah! Aku harus segera mengganti pakaien dan tidur sebelum Anne datang dan mengomeliku.” Leathina terburu-buru mencari piamanya takut Anne memergokinya setelah lama berkeliaran di luar.
“Darimana?”
“Waaaaaa!” Leathina kaget saat menutup pintu tiba-tiba seseorang sudah berdiri di sampingnya.
“Nora?! Apa yang kau lakukan di kamarku?” Tanya Leatina panik menecilkansuaranya takut terdengan orang lain.
“Aku menunggum pulang.”
“Semalaman?”
Nora mengangguk kecil.
“Kau tidak liha aku sedang tertidur.” Leathina menunjukkan buntalan berbentuk manusia di kasurnya.
“Itu kan bantal yang di susun Anne untuk membantu kakak menyembunyikan faktah bahwa kakak selalu keluyuran keluar setiap malam.”
“Eh, ah, t-tidak setiap malam kok.” Leathina panik.
“Tapi kakak, bukankah kakak pernah berjanji untuk membawaku juga saat akan keluar? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu di luar sana dan tidak ada yang tahu, aku masih takut kakak benar-benar tidak akan pernah kembali setelah berkeliaran di luar sana.”
“Kau ini kenapa sih Nora, kok tiba-tiba begini kau tidak ingat aku ini kuat loh, diculik naga saja aku masih selamat kok.” Leathina menanggapi perkataan Nora dengan candaan agar adiknya itu tidak tegang dan mengkhawatirkannya sepanjang waktu.”
“KAKA!”
Raut wajah Nora menjadi merah padan, kesal dengan candaan Leathina barusan.
“Apa kau tidak tau seberapa khawatirnya kami saat kamu menghilan waktu itu? Apa kakak tidak tahu seberapa takutnya kami bahwa yang ditemukan hanya tinggal tubuh atau bahkan tidak ditemukan sama sekali.”
Leathina tertegun baru kali ini meliha Nora begitu marah padanya dengan ekspresi wajah yang begitu menakutkan.
“N-nora maafkan aku, maksudku adalah dimanapun aku berada aku pasti akan baik-baik saja, kau tahukan aku kuat.”
“Justru karena itu, aku tau kakak kuat makanya kakak tidak membutuhkan aku, kakak Nicholas, ibu atau bahkan ayah. Aku takut karena tidak membutuhkan siap-siapa dan bisa mengatasi masalah sendiri kakak tidak akan pernah melihat kami lagi.”
“Nora bukan begitu maksudku tentu saja aku membutukan keluargaku.”
“Tapi bukankan sebelumnya kakak berpikir seperti itu? Kakak ingin kabur dan menghilan dari seni? Apa aku salah?”
“Tidak, itu ….”
Leathina tidak tahu harus mengatakan apa agar Nora bisa tenang, kemudian menaik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pasrah.
“Kau benar aku pernah berfikir ingin pergi dari sini, itu karena kalian tidak membutuhkanku dan berfikir keberadaanku adalah kesalahan.”
“Nora coba kau pikirkan dan ingat kembali siapa yang seharusnya membuka hati aku atau kalian?”
Nora tersentak tertunduk malu dan meremas ujung pakaiannya tidak berani menatap wajah Leathina.
“Nora, aku tanya sekali lagi siapa? Kau tidak ingat dulu setiap hari aku datang ke meja makan berharap kalian sedikit menanyakan kabarku tapi ayah malah pergi sebelum menyentuh makaanya, Nicholas mendengus dengan kesal mengatakan bahwa aku adalah aib keluarga dan ibumu selalu menarikmu dengan memberikan tatapan benci padaku.”
Nora semakin tertunduk meremas pakaiannya kuat-kuat.
“Aku tidak mau mengungkit ini tapi kau memaksaku, bahkan saat aku menyelamatkanmu dari kolam malam itu akankah ada yang percaya aku menyelamatkanmu? Malam itu aku bahkan diseret pengawal dengan basah kuyup dan tubuh yang penuh luka sampai kau bangun dan mengatakan yang sebenarnya itupun masih ada yang tidak percaya dengan kesaksianmu. Tidak ada yang peduli dengan apa yang aku lakukan aku akan tetap menjadi aib dimata kalian.”
“Kau tidak ingat, seberapa sering kau menjahiliku hanya karena ingin mendapatkan perhatian dariku sampai aku dihukum karena dituduh selalu menyulitkanmu? Aku tidak ingin mengatakan ini tapi Nora coba ingat kembali kenapa aku bisa seperti ini? Jangan tiba-tiba memaksaku berubah hanya karena kalian ingin bersikap baik padaku, jika kau menyalahkanku karena aku terlalu mandiri itu karena dari kecil aku tidak punya siapa-siapa yang bisa aku andalkan, kau sendiri pasti tahu bagaimana dulu orang-orang melihatku bukan?”
“Ma-maakan aku.” Bisik Nora terisak.
“Nora kau pasti tau sifatku bukan? Kau hanya berani mendekatiku setelah aku hampir mati dan kehilanagan sebagian ingatanku karena berfikir aku pasti melupakan semua kejahatanmu padaku, aku ingat kau sengaja terjatuh di depanku dan meraung-raung kesakitan hanya karena ingin aku menolongmu, tapi mereka malah berikir aku sengaja mendorongmu.”
“Kakak ingat semua itu?” Tanya Nora dengan wajah yang merah padam karena malu.
“Aku ingat, aku ingat semuanya semua yang kau katakan dan semua yang kau lakukan.”
“Ma-maafkan aku, aku benar-benar tidak bermaksud menyulitkanmu, t-tapi aku… aku… dulu….”
Nora tergagap tidak sanggu untuk meneruskan kalimatnya, ia bahkan tidak berani menatap mata Leathina secara langsung.
“A-aku, aku benar-benar minta maaf aku sudah bersalah.” Ucapnya pada akhirnya dengan sesenggukan kemudian berlari keluar meninggalkan Leathina di ruangannya.
“Nora ada apa?” tanya Nicholas bingung melihat Nora menagis saat tidak sengaja berpapasan dikoridor, pertanyaannya tidak dijawab dan Nora mengunci diri di ruangannya.
“Ada apa dengannya.” Gumam Nicholas penasaran dan berjalan menuju ruangan Leathina.
“Kakak kenapa Nora menagis sepert …..” Nicholas tidak menyelesaikan kalimatnya saat membuka pintu Leathina sudah berbaring di lantai dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin.
“Kakak? Kakak Leathina? Ada apa?” tanyanya panik, tapi Leathina terlalu lemah untuk menjawab ia hanya membuka matanya sebentar lalu kembali tertutup.
“Kau demam?!” Nicholas segera memeriksa suhu tubuh Leatihna dan mendapati suhu tubuh kakanya itu benar-benar tinggi seperti sedang mendidih, “Kenapa bisa tiba-tiba demam parah seperti ini?!”
Nicholas dengan hati-hati mengangkat Leathina dan memindahkannya di tempat tidur dan segera membunyikan lonceng.
“Ada apa Nona?” Anne datang sesaat setelah lonceng berdering.
“Loh, Tuan Nihcolas kenapa ada disini?” tanyanya bingung.
Sebelum Nicholas menjawa mata Anne sudah tertuju pada wajah Leathina yang pucat dengan keringat di wajahnya.
“Ada apa dengan Nona Leathina? Tadi dia baik-baik saja.” Anne panik kemudian memeriksa suhu tubuh Leathina seperti yang dilakukan Nicholas.
“Aku menemukannya pingasn di lantai dengan suhu tubuh yang sudah setinggi itu, Anne cepat panggilakn dokter.”
Tanpa menunggu perintah lagi Anne yang panik segera berlari keluar.
...***...