
Leathina memasuki kamarnya dilihatnya Anne dengan gelisah mondar-mandi di dalam kamar miliknya karena khawatir terhadap Nonanya yang tadi siang tiba-tiba saja melompat keluar dari kereta dan pergi meninggalkannya saat di kota tadi siang saat dalam perjalanan kembali setelah mengunjungi pantai asuhan..
“Ini sudah malam tapi Nona Leathina masih belum kembali, apa aku harus memberitahukan Tuan Duke agar mengirimkan seseorang untuk mencari Nona Leathina.” Ucapnya dengan terus berjalan kesana kemarin .
“Tidak, tidak, jika aku melapor mengenai kejadian tadi dan Duke mengetahui bahwa putrinya belum kembali Tuan Duke Leonard pasti akan langsung memerintahkan untuk mencarinya dan si saat yang sama pasti Nona Leathina juga akan marah padaku. Sebaiknya aku menunggu Nona Leathina saja sampai kembali.”
Anne berdebat dengan dirinya sendiri, bingung ingin mengambil keputusan yang mana menurutnya paling tepat. Anne sangat ingin memberitahu pada Duke bahwa Leathina masih belum kembali dan menghilangkan begitu saja dan berkeliaran di kota tanpa pengawalan namun disisi lain Anne juga tidak mau melanggar perintah Leathina sebelum melompat turun dari kereta dan menghilang Leathina memintanya agar merahasiakan nya dari Duke Leonard.
“Tidak bisa, Aku tidak tahan lagi. Aku harus segera memberitahu tuan duke agar mencari Nona Leathina.” Anne menetapkan hatinya dan hendak melapor pada tuannya setelah menunggu Leathina cukup lama dan masih belum kembali sementara gelapnya malam telah tiba.
“Brakk.”
Leathina membuka pintu dan berhadapan dengan Anne yang baru saja ingin keluar dari kamar Leathina.
“Nona Leathina!” Pekik Anne ketika melihat Leathina kembali dengan selamat.
Saat Anne baru akan keluar untuk memberitahukan Duke Leonard mengenai menghilangnya Leathina di kota pintu tiba-tiba terbuka dan terlihat Leathina yang kini berjalan masuk dan mendekati Anne yang masih berdiri mematung di tengah ruangan setelah melihat Leathina akhirnya kembali.
“Anne, jangan bilang barusan kamu akan melapor pada Duke?” Tanya Leathina menyelidik yang melihat Anne yang sepertinya akan pergi keluar.
“Maafkan aku Nona Leathina, aku khawatir jika terjadi sesuatu pada Nona Leathina jika sendirian berada di kota. Tapi aku belum memberitahukan Tuan Duke aku tadi hanya kepikiran untuk melakukannya jika Nona Leathina belum juga kembali dari kota.” Anne berusaha menjelaskan bagaimana khawatirnya pada Leathina yang tidak kunjung kembali.
“Baiklah." Ucapan Leathina memahami Anne.
"Anne saat hari pesta diadakan nanti sediakan untukku gaun yang agak terbuka dan sulit digunakan aku juga akan memintamu melakukan sesuatu di hari itu.” Leathina tiba-tiba membahas gaun yang ingin ia kenakan untuk pesta yang tidak lama lagi akan diadakan.
"Jika gaun ku sulit di kenakan maka akan sulit juga untuk dilepas. Aku tidak akan memberikan kemudahan pada orang yang akan mencelakai ku."
“Baik Nona Leathina akan saya ingat.” Jawab Anne, patuh dengan perkataan Leathina.
“Anne besok pagi mintalah seseorang pergi ke balik dinding pembatas taman belakang di sana ada seekor kuda beri kuda itu makan dan minum dan bawakan padaku setelah aku sarapan.”
“Baik saya paham Nona Leathina.”
“Apa anda ingin mandi? Saya akan segera mempersiapkan air mandi untuk Nona Leathina. Tanya Anne lagi pada Leathina.
“Tidak usah, sebagai gantinya bawakan saja aku sebeskom air untuk mencuci wajahku.”
“Baik Nona.” Anne segera keluar untuk mengambilkan Lewat air hendak digunakan untuk membersihkan wajah Leathina.
Tidak memakan waktu lama Anne datang kembali ke ruangan Leathina dengan membawa sebeskom air hangat serta handuk untuk digunakan oleh Leathina mencuci wajahnya. Leathina yang melihat Anne datang dengan membawa air segera beranjak dan mencuci mukanya dengan air yang dibawa oleh Anne dan mengeringkan wajahnya yang sudah dibilas dengan handuk kering yang telah dipersiapkan oleh Anne untuk nya.
Setelah selesai membersihkan wajahnya dan berganti pakaian Leathina berbaring di atas tempat tidur kemudian mencoba mengingat kembali apa yang tadi ia dengar saat di restoran maupun di gang sepi kemungkinan perlahan - lahan tertidur karena merasa sangat kelelahan.
...
Keesokan harinya menjelang beberapa hari sebelum pesta diselenggarakan berniat keluar untuk mengunjungi Denisa yang masih berada di pengasingan karena hukuman atas kejahatan yang pernah ia lakukan.
Setelah menghabiskan sarapannya Leathina segera bersiap untuk keluar ia mengambil tas kain miliknya dan memasukkan beberapa barang pentin yang menurutnya harus ia bawa. Setelah itu memakai jubah dan mengambil pedangnya kemudian menggantungnya di pinggangnya.
“Apa hari ini anda akan keluar Nona Leathina?” Tanya Anne setelah memasuki kamar Leathina dengan membawa beberapa kotak makanan yang sebelumnya di minta oleh Leathina.
Dilihatnya Leathina telah bersiap keluar karena telah mengenakan jubah dan tas kain yang sedang di pengangnya.
“Iya aku akan keluar sekitar dua sampai tiga hari.” Jawab Leathina sambil memakai tas kainnya di punggungnya.
“Baiklah saya akan segera meminta seseorang untuk menyiapkan kereta untuk digunakan Nona Leathina.”
“Tidak perlu Anne, aku akan mengendarai kuda dan pergi sendiri. Oh Iya, apa yang aku minta semalam sudah kau lakukan?”
“Sudah Nona, kudanya sekarang ada di kandang kuda.”
“Baiklah. Jika Nicholas dan Nora datang mengunjungi ku katakan padanya bahwa aku sedang keluar sebentar dan jika Duke tau Duchess yang datang mencari ku katakan bahwa aku pergi menemui seorang teman di luar kota.”
“Itu berarti Nona tidak memberitahukan siapa-siapa jika Nona akan keluar hingga berhari-hari? Apa aku boleh ikut untuk mengawal Nona Leathina?” Tanya Anne khawatir saat mengetahui bahwa Leathina akan pergi sendiri tanpa pengawalan.
“Mereka tidak akan mengizinkan ku jika aku memberitahu mereka dan kau tidak usah ikut Anne aku tidak butuh pengawalan lagi pula aku memerlukan bantuan mu untuk memberitahu mereka agar tidak terlalu mengkhawatirkan aku.”
“Baiklah Nona Leathina saya paham, hati-hata di perjalanan anda.” Anne sebenarnya merasa sedih dan khawatir membiarkan Leathina pergi sendiri karena baru saja kembali Anne takut jika terjadi hal buruk pada Leathina saat bepergian sendiri.
“Baiklah, sampai jumpa lagi Anne. Jaga dirimu baik-baik dan ingat pesanku.” Ucapan Leathina mengingatkan Anne sebelum benar-benar pergi.
Leathina meninggalkan Anne dan segera menuju kandang kuda dan saat sampai matanya langsung menangkap kuda yang sering ia gunakan selama beberapa hari ini.
“Hai! Kita ketemu lagi sobat.” Gumam Leathina sambil mengelus lembut kepala kuda yang sering ia gunakan dalam beberapa hari ini.
“Kali ini kita akan pergi cukup jauh jadi bersiaplah.” Gumam Leathina sambil melepaskan tali yang mengikat kudanya dan mengeluarkan dari kandang.
Leathina memacu kudanya keluar dari kediaman keluarga Yarnell, tidak ada yang mengetahui kemana Leathina akan pergi ia juga tidak memberitahu Anne karena Leathina tahu jika duke bertanya padanya kemana ia pergi Anne pasti akan menjawabnya dan memberitahukan kemana ia pergi.
Setelah hampir setegah jam memacu kudanya akhirnya Leathina sampai pada perbatasan kerajaan kali ini penjagaan tidak seketat saat Leathina keluar bersama Adam dulu. Untuk melewati penjaga yang menjaga perbatasan hanya perlu menunjukkan tanda pengenal pada penjaga.
Leathina menunjukkan tanda pengenalya berupa batu berbentuk lingkaran yang terukir simbol kerajaan tanda bahwa ia adalah penduduk kerajaan. Leathina keluar dengan mudah saat menunjukkan tanda pengenalnya dan dengan hati-hati agar penjaga tidak mengetahui dari keluarga mana ia berasal.
Memakan sehari dan semalam perjalanan untuk Leathina sampai pada tempat Denisa diasingkan dengan menggunakan kuda dan dengan kecepatan yang terbilang cepat.
Leathina memasuki desa pengasingan orang-orang yang tinggal di desa itu tergolong menjadi dua yang pertama adalah orang yang memang penduduk asli desa dan yang kedua adalah orang yang menjalani pengasingan. Di desa pengasingan itu tidak cukup banyak fasilitas dan pekerjaan utamanya adalah bertani. Orang-orang yang dalam masa pengasingan tidak diperbolehkan untuk keluar dari desa sampai masa hukumannya berakhir.
Karena desa tersebut merupakan desa pengasingan guna jadi terdapat pos penjaga di pintu gerbang desa tersebut hingga sebelum masuk Leathina harus di periksa terlebih dahulu.
“Antarkan aku pada tahanan pengasingan bernama Denisa.”
“Baiklah Nona, saya akan menunjukkan pada anda dimana dia tinggal.” Kata si penjaga sambil meminta Leathina untuk mengikutinya.
Sepanjang pemandangan yang terlihat hanyalah perkebunan dan rumah-rumah warga yang tidak saling berdekatan setelah berjalan cukup jauh mengikuti si penjaga mereka akhirnya sampai pada sebuah pondok kecil yang jaraknya cukup terpisah dari rumah-rumah lainnya.
Setelah mengantarkan Leathina si penjaga pamit kembali ke post jaganya di gerbang desa sementara Leathina berjalan menuju pintu pondok Leathina dan mengetuknya berkali-kali tapi tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya.
“Permisi!”
“Apa ada orang?”
“Sepertinya Denisa tidak sedang dirumahnya, aku akan menunggunya sampai kembali.”
Leathina berniat menunggu Denisa kembali dan mengelilingi pondok milik Denisa untuk melihat situasi dan saat berada di halaman belakang pondok dilihatnya seorang perempuan yang terlihat lusuh, pakaiannya kotor dipenuhi tanah kedua tangannya sibuk mengorek tanah dan mengumpulkannya di satu tempat dan disampingnya tumpukan tanah terdapat tumpukan kotoran hewan yang sepertinya dengan sengaja ditumpukkan di sana baunya pekat tercium oleh Leathina walau berdiri beberapa meter dari tumpukan kotoran itu.
“Krak.”
“Siapa disana?”
Karena terlalu serius mengamati perempuan yang ada di depannya itu, Leathina tidak memperhatikan kemana kakinya melangkah dan menginjak ranting kayu kering, bunyi patahannya akgibat diinjak oleh Leathina terdengar dan membuat si wanita menoleh mencari tahu siapa yang memasuki halamannya tanpa izin.
“I-i-ini aku Leathina.” Jawab Leathina ragu-ragu karena merasa tidak enak telah menganggu pekerjaan perempuan tadi.
“Oh, Astaga Yang mulia Putri Leathina.” Seru si wanita sambil beranjak meninggalkan pekerjaanya mengoso tangannya yang penuh tanah degan anduk yang menggantung di lehernya dan buru-buru menghadap Leathina kemudian membungkuk memberi hormat untuk menyambut kedatangan Leathina.
“Hai. Tapi, siapa? Sepertinya kau mengenalku dengan baik.” Sapa Leathina ragu-ragu kemudian bertanya ia merasa familiar dengan wajah si wanita yang ada di depannya itu namun tidak mengingap pernah bertemu dimana.”
“Salam, Nona Leathina perkenalkan saya Denisa pelayan yang pernag Nona Leathina ampuni.” Jawab Denisa dengan sopan dan memperkenalkan dirinya kembali pada Leathina.”
“Oh, Astaga maafkan aku Denisa, aku tidak mengenalimu dengan cepat mungkin karena aku sudah peluma.” Leathina agak janggung karena tidak mengenali Denisa dengan cepat takut jika Denisa tersinggung.
“Kemana Denisa yang dulu kulihat saat di kompetisi berburu dulu? Aku hampir tidak mengenalinya sekarang.”
Denisa yang dulu merupakan salah satu pelayan di rumah bangsawan yang cukup terpandang, penampilannya rapi dan bersih berbanding terbalik dengan Denisa yang ia lihat sekarang. Hanya dalam beberapa bulan Denisa sudah sulit dikenali, rambutnya yang dulu ia ikat rapi kina hanya mengikat sebrono rambutnya, pakaiannya dipenuh tanah dan wajahnya juga terkena tanah pada beberapa bagian.
“Bukan Nona Leathina yang pelupa hanya saja aku pasti terlihat sangat berbeda saat teralhr kali kita bertemu.” Jawab Denisa menimpali perkataan Leathina.
“Nona tidak seharusnya disini silahkan kembali ke depan, disini kotor dan bau karena kotoran hewan yang saya kumpulkan. Saya mencoba membuat pupuk organik saya sekarang sedang belajar bercocok tanam.”
Denisa melepaskan sarung tangannya dan melemparkannya ke sembarang arah, buru-buru membawa Leathina kembali ke depan segera membukakan pintu untuk Leathina dan mempersilahkan duduk setelah masuk ke dalam.
“Maafkan sata Nona Leathina, saya akan memberishkan diri sebentar Nona.” Ucap Denisa kemudian bergegas masuk.
Tidak beberapa lama kemudian akhirnya Denisa kembali ke ruangan tengah pakaiannya telah terganti menjadi lebih baik, wajahnya sudah bersi dan rambutnya rapi.
“Bagaimana kabarmu salam tinggal disini Denisa?” Tanya Leathina.
Leathina secara tidak sadar mengamati Denisa kembali dan dilihatnya kedua tangannya dipenuhi luka gores dan kuku-kukunya rusak karena melakukan pekerjaan keras.
“Saya baik nona Leathina, tinggal disini menurut saya lebih tenang dibandingkan saat saya tinggal di kerajaan dulu.” Jawabnya sambil tersenyum mengigat bagaimana kehidupannya tinggal di desa pengasingan.
“Sykurlah. Jadi, informasi apa yang akan kau laporkan padaku Denisa?” Tanya Leathina serius.
“Baiklah Nona. Saya telah mengunjungi kakak saya Diane di penjara bawah tanah dan pertama-tama setelah mengetaui bahwa aku diselamatkan oleh Nona Leathina kakak ku Diane meminta maaf atas segala kelakuan dan kejahatan yang pernah dia laukan pada Nona Leathina.” Denisa berdiri dan membungkuk di depan Leathina.
“Duduklah kembali Denisa, aku tidak berniat memafkannya tapi untuk sekarang aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Lanjutkan laporanmu.”
“Terimakasi Nona Leathina tetap saja Nona telah memberikan kebakian Nona kakakku karena tidak mempermasalahkannya untuk sekarang.”
“Kakakku Denisa memberitahukan bahwa dirinya terhasut seseorang yang memintanya membalaskan dendam pada Nona Leathina.”
“Siapa orangnya apa kau menanyakannya?” Tanya Leathina antusias mendengarkan laporan Denisa.
“Maaskan saya Nona Leathina, kakakku Diane tidak memberitahu kan namanya padaku tapi kakakku memberikanbeberapa petunjuk.”
“Baiklah katakan apa petunjukknya.”
“Kakakku Denisa sempat mengatakan bahka “andaikan aku tidak berteman darinya sejak kecil aku mungkin tidak akan terhasut untuk menghianati tuanku” tapi saat aku menanyakan lebih lanjut kakaku Denisa sepertinya melindunginya karena temannya itu punya seseorang untuk dia lindungi.”
“Apa kau mungkin mengetai orang yang dimaksud kakakkmu itu?”
“Aku mencurigai satu orang yang merupakan teman kakakku semenjak kecil namanya Liza dia bekerja pada keluarga Baron dan menjadi pengawal pribadi Nona Yasmine, Liza memiliki adiknya yang sangat ia sayangi. Ciri-ciri yang disebutkan kakakku Denisa sama dengan Liza. Tapi aku tidak paham kenapa orang yang hidup dengan baik karena melayani keluarga lembut seperti Madam Amber dan anaknya Nona Yasmine bisa memiliki niat jahat seperti itu.” Ucap Denisa sambil berfikir dengan serius memikirkan kembali ucapan kakaknya mencoba mencari petunjuk lagi untuk dilaporkan pada Leathina.
“Baiklah aku paham sekarang, terimakasi Denisa.” Leathina melihat Denisa yang ada di depannya itu terlihat berfikir sangat serius hingga kedua alisanya hampir bersentuhan karena mengerutkan dahinya.
“Aku akan kembali sekarang.” Ucap Leathina sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Setelah perjalanan jauh apa tidak sebaiknya Nona Leathina beristirahat sebentar disini sampai rasa lelah Nona hilang.” Denisa menghawatirkan Leathina yang kini berjalan ke arah pintu luar mau tidak mau Denisa akhirnya mengikuti Leathina dan mengantarnya keluar.
“Terimakasih telah mengkhawatirkan aku, Tapi sebaiknya aku harus segera kembali. Jika kau bertemu lagi dengan kakak mu sampaikan salamku dan jaga dirimu baik-baik Denisa.”
“Tangannya! Dia benar-benar di beri hukuman oleh alam di sini harus bekerja keras untuk mendapatkan pengganjal perut. Aku ingin menyembuhkan tangannya yang terluka itu tapi sepertinya lebih baik aku tidak melakukannya dan semoga saja dengan sedikit menderita Denisa bisa menyadari kesalahannya lebih dalam lagi dan tidak mengulanginya di masa depan.” Leathina kembali melihat kedua tangan Denisa yang penuh dengan luka goresan tapi berusaha untuk mengabaikannya.
“Terimaksi banyak Nona Leathina dan hati-hati di jalan.” Ucap Denisa sambil membungkuk melepas kepergian Leathina.
...***...