
“Selamat datang kembali nona Leathina.”
Sambut para kesatria yang masih berjaga di depan ruangan Leathina kemudian segera membukakan Leathina pintu kamarnya dan mempersilahkan Leathina masuk.
“Terimakasih, hari ini kalian sudah bekerja keras. Sebaiknya kalian juga kembali dan beristirahat, kalian akan sakit jika bekerja terlalu keras.” Ucap Leathina kemudian segera masuk.
Leathina yang kelelahan tidak terlalu memikirkan apa yang ia ucapkan, kalimat yang keluar dari mulutnya keluar begitu saja tanpa ia sadari.
“Ba- baik Nona Leathina, kami akan beristirahat setelah jadwal jaga kami selesai dan terimakasih telah menghawatirkan kami.” Jawab kesatria yang menjaga pintu ruangan Leathina.
“Iya, iya, lakukan apa yang ingin kalian lakukan.” Ucap Leathina acuh tak acuh.
Setelah Leathina masuk para penjaga segera menutup pintu ruangan Leathina kembali.
“Kau dengar Nona Leathina benar-benar gadis yang baik.” bisik kesatria memberikan temannya setelah menutup pintu ruangan Leathina dari luar.
“Iya kau benar, aku sempat khawatir jika yang dirumorkan olah orang-orang. Tapi semuanya berjalan dengan baik.”
“Hei! Bukan kah dulu kau tidak menyukainya.” Ucap kesatria yang lainnya menimpali.
“Itu karena dulu dia ...”
“Huss!” jangan bergosip di jam jaga mu kau nanti bisa kena masalah. Nona Leathina juga mungkin mendengar kalian.
Setelah salah satu dari mereka menegur, mereka pun kembai diam dan fokus dengan pekerjaannya.
“Haiss! Aku masih bisa mendengar kalian tahu! Kenapa semua orang suka sekali bergosip di belakang orang lain.” Gumam Leathina kesal mendengar para penjaga kembali membicarakannya padahal dia baru saja masuk dan masih berdiri di depan pintunya.
“Nona Leathina!”
“Ah, Anne?!”
“Duh aku akan dalam masalah lagi kali ini, kenapa anak ini masih tetap di dalam ruangan ku sih, padahal aku sudah menyuruhnya istirahat hari ini.” Batin Leathina saat melihat Anne yang ada di dalam ruangannya dan menyambutnya dengan wajah cemberut.
“Nona Leathina dari mana saja? Kenapa keluyuran keluar dan baru kembali di jam seperti ini?” tanya Anne mengintrogasi Leathina yang baru saja datang.
“Anne, biarkan aku beristirahat. Kau juga kembali lah ke rungan mu dan beristirahatlah.” Ucap Leathina yang berjalan ke arah tempat tidurnya dan langsung merebahkan diri.
“Tidak bisa, Nona banyak berkeringat anda harus mandi terlebih dahulu sebelum beristirahat dan anda juga belum makan malam.”
“Aku akan mandi tapi makan malam akan aku lewatkan.”
“Tapi nona Leathina harus memilihkan kondisi tubuh anda jadi harus makan lebih banyak lagi!”
“Kalau begitu aku akan melewatkan keduanya, tidur lebih bermanfaat untuk memulihkan tubuh kembali.” Ucap Leathina kemudian membenamkan wajahnya di bantal dan perlahan matanya mulai tertutup.
“Baiklah nona Leathina boleh melewatkan makan malam tapi Nona harus membersihkan diri dulu, kulit anda bisa rusak jika tidak dirawat.”
“Iya, terserah kamu saja.”
“Ayo, ayo, bangun dulu!”
Anne membantu Leathina yang telah setengah tidur untuk ke bak mandi dan setelah sampai Leathina pun mulai membersihkan dirinya sendiri, setelah itu Anne membantu merapikan hal-hal lainnya.
“Terimakasih Anne.” Ucap Leathina setelah dapat kembali tertidur di tempat tidurnya dengan nyaman.
“Selamat beristirahat Nona Leathina, selamat malam.” Ucap Anne lembut dan memperbaiki selimut Leathina kemudian pelan-pelan keluar dari ruangan agar Leathina tidak terganggu.
“Kau cepat sekali selesai bekerja hari ini Anne?” ucap kepala koki meyambut kedatangan Anne yang memasuki ruangan dapur.
“Nona Leathina tidur lebih cepat jadi aku selesai bekerja lebih cepat juga hai ini.”
“Kenapa cepat sekali? Kami baru akan mempersiapkan makan malam.”
“Nona bilang akan melewatkan waktu makan malamnya hari ini, itulah kenapa aku datang. Aku ingin minta tolong untuk membuatkan makanan untuk Nona Leathina besok pagi, karena dia pasti akan lapar karena melewatkan makan malamnya.”
“Baiklah akan aku ingat.” Ucap kepala koki yang kemudian kembali sibuk berkutat dengan alat-alat masaknya di bantu oleh pelayan yang lainnya.
“Kalau begitu aku akan kembali ke ruangan ku.” Ucap Anne kemudian berjalan keluar dari area dapur.
“Anne!” Panggil pelayan yang lainnya.
“Ada apa?”
“Jagan tidur terlalu cepat, bantu kami mengupas bahan-bahan makanan untuk malam ini.”
“Heh? Kenapa harus aku, itu bukan tugasku.” Anne menolak tawaran teman-temannya.
“Haiss, kau keterlaluan Anne. “
“Aku juga lelah, tahu!”
“Kalau begitu bergabung saja dengan kami, duduk disini. Kami punya cerita bagus untuk di bagikan, lagi pula kau akan bosan di kamarmu sendiri.”
“Baiklah, tapi aku tidak akan membantu kalian yah.”
Lawan bicara Anne mengangguk kemudian salah satu dari mereka langsung menarik Anne dan duduk bersamanya.
Beberapa saat kemudian setelah Anne duduk dan bergabung bersama pelayan yang lainnya, Anne dengan kesal mengupas kulit bawang bersama yang lainnya.
“Hah! Aku seharusnya curiga saat kalian memberiku tempat duduk.”
“Hahaha, maafkan kami. Kami tidak tahu jika kepala pelayan akan melihatmu dan memintamu membantu orang-orang yang bekerja di dapur.”
“Yasudah lah.” Ucap Anne kesal sambil tetap mengupas kulit bawang untuk bahan masakan.
“Tapi kau tahu kami benar-benar punya cerita bagus untuk dibagikan.”
“Iya, kami akan memberitahukan padamu jika kamu mau.”
“Apa itu?” tanya Anne sambil mengupas kulit bawang.
“Itu akhir-akhir ini ada cerita yang beredar bahwa ada tempat bagus di kota, sebenarnya tempatnya tidak berada di kota juga tapi di pinggiran kota.”
“Memangnya ada apa di sana?”
“Di sana katanya ada tempat bagus, mungkin seperti sebuah rumah makan. Para bangsawan dan orang biasa bisa bebas masuk ke sana tanpa harus mengetahui identitas masing-masing, semua orang yang masuk harus menggunakan topeng.”
“Bukankah itu terdengar aneh?”
“Eh, apa maksudmu Anne. Orang-orang dari kalangan rendah menggunakan tempat itu untuk menggaet bangsawan kaya untuk menaikkan statusnya, apa kau mau ke sana?”
“Aku tidak tertarik.”
“Ah, kau tidak asik Anne. Kau juga butuh liburan, sudah lama kau tidak keluar bukan.”
“Kami berencana ke sana Anne, kau juga ikutlah untuk bersenang-senang, benar katanya kau juga harus menghibur diri.”
“Iya sih, tapi aku tidak bisa meninggalkan nona Leathina sendiri.”
“Minta lah libur sehari besok, kami semua libur besok.”
“Baiklah aku akan meminta izin nona Leathina dulu, tapi aku tidak janji yah.”
“Iya, tentu saja.”
“Nah, aku sudah selesai mengupas bawangnya aku akan kembali ke ruangan ku sekarang.”
Anne membersihkan tangannya kemudian menyimpan pisau yang digunakannya dan langsung kembali ke ruangannya setelahnya.
“Apa aku benar-benar harus pergi yah?” gumam Anne saat dalam perjalanannya kembali ke ruangannya.
“Baiklah, aku akan menyiapkan pakaian yang ingin aku kenakan besok. Jika Nona Leathina tidak mengizinkan aku pergi maka kau tidak harus pergi dan jika diizinkan itu akan jauh lebih baik, kapan-kapan aku akan mengajak Nona Leathina jalan-jalan ke kota.”
Anne membongkar isi lemarinya memilih pakaian yang akan ia gunakan untuk pergi ke kota bersama teman-temannya besok.
“Tok.. tok... tok..”
“Anne, apa kau di dalam?” Seseorang memanggil Anne dari luar.
“Ini waktunya makan malam, Madam Duchess memintamu untuk memanggil Nona Leathina makan bersama.”
“Ah. Apa kepala koki tidak memberitahumu? Nona Leathina melewatkan makan malamnya hari ini, dia sudah tertidur.”
“Jadi seperti itu, baiklah aku akan kembali ke ruangan makan untuk memberitahu pada madam duchess.”
“Iya, beritahukan pada Nyoba bahwa Nona Leathina sudah tidur dan tolong jangan membangunkannya.”
Pelayan tadi kemudian segera pergi ke ruangan makan di mana di sana telah berada Madam duchess, Nicholas dan Nora.
“Kenapa kau datang lagi?” tanya Nora pada si pelayan.
“Kemana Leathina?” Nicholas berbicara sambil melihat ke belakang tapi tidak menemukan siapa-siapa di sana.
“Apa kau belum memberitahu Leathina bahwa kita akan makan bersama?” tanya Duchess.
“Maafkan saya madam, Nona Leathina berpesan akan melewatkan makan malamnya dan sekarang sudah tertidur di ruangannya.”
“Baiklah.”
“Terimakasih madam, saya pamit kembali.”
“Kenapa Leathina cepat sekali tidurnya?” gumam Nicholas.
“Mungkin dia kelelahan, aku dengar setelah kita datang berkunjung ke ruangan nya tadi dia berkeliling.” Ucap Nora menjawab pertanyaan Nicholas.
“Ah, ibu apa ayah masih belum datang untuk makan malam?”
“Ayahmu sebenar lagi akan datang.”
“Ada apa?” baru saja dibicarakan Duke Leonard sudah datang dan duduk di kursi makannya.
“Dimana Leathina? Apa dia belum datang untuk makan malam bersama?” tanya duke setelah melihat kursi milik Leathina yang kosong.
“Leathina sudah tidur, mungkin dia kelelahan. Biarkan saja dia jangan kau ganggu.” Jawab Duchess yang mulai menyantap makanannya setelah Duke menyentuh makanannya terlebih dahulu.
Mereka pun hanya diam dan fokus pada makanan mereka masing-masing.
...
“Apa ada kemajuan?”
“Belum ada sama sekali.”
“Kita harus menemukan cara untuk membuktikan pemberontakan duke Leonard, bagaimana pun caranya!”
“Iya betul katamu, tapi dari mana kau tahu tempat seperti ini?”
“Aku mendengarnya dari kawanku, disini identitas kita tidak akan ketahuan karena bercampur dengan bangsawan dan para rakyat jelata, yang penting harus memenuhi beberapa syarat, seperti ini.” Ucapnya sambil menunjukkan topeng yang ia kenakan.
“Apa tidak ada laporan lain dari orang-orang yang kau pekerjakan di kediaman Duke Leonard?”
“Tidak ada, tapi salah satu orang ku mengatakan bahwa ada dua tamu asing yang berkeliaran di mansion mereka.”
“Memangnya orang asing itu bisa membuktikan pemberontakan yang tidak duke lakukan, lagi pula kenapa kalian bersikeras ingin membuktikan apa yang memang tidak pernah terjadi.”
“Duh, kau ini berada di pihak siapa sih. Ka tidak ingat kejadian yang menimpa grand duke beberapa waktu yang lalu?”
“Iya aku tahu itu, memangnya apa hubungannya?”
“Separuh dari bangsawan melakukan bisnis gelap, korupsi dan perbudakan ilegal, jika duke tetap berdiri kokoh maka kita yang akan dalam masalah. Jadi untuk mengantisipasinya kita harus memotong akar masalahnya terlebih dahulu.”
“Baiklah, baiklah, aku paham aku akan ikut.”
“Memangnya apa ada yang mencurigakan dengan dua tamu asing yang duke bawa ke kediamannya?” Tanya yang lainnya yang mulai fokus pada pembicaraan mereka.
“Kata informan yang bekerja untukku, kedua orang itu sepertinya bukan dari kalangan bangsawan, dan salah satu dari mereka bahkan terlihat seperti seorang penjahat dan yang satunya lagi terlihat seperti orang bodoh tapi kuat.”
“Sepertinya memang mencurigakan, jika kita bisa mengungkapkan identitas mereka berdua jalan kita mungkin akan berakhir mulus.”
“Jangan terlalu lengah, kita hanya punya sedikit waktu yang diberikan oleh yang mulia raja.”
“Sampai kapan kesempatan kita punya untuk membuktikan tuduhan pemberontakan yang dilakukan duke?”
“Sampai pesta yang akan dilaksanakan sebagai peringatan ulang tahun ratu Juliette. Waktu kita sudah akan habis, kita harus segara bergegas.”
“Betul katamu, kalau begitu pertemuan kita sampai disini, kita akan bertemu lagi disini besok.”
“Baiklah, aku akan segera kembali masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan.”
“Baiklah hati-hati dalam perjalananmu, aku akan tinggal lebih lama lagi untuk menikmati wanita-wanita muda disini.”
“Jangan sampai kelewatan, akhir-akhir ini banyak kejadian bangsawan yang menghamili para rakyat jelata.”
“Itu karena orang-orang rendahan yang menyerahkan tubuhnya terlebih dahulu pada orang-orang seperti kita.”
“Pokoknya jangan sampai kau ceroboh dan membuat semuanya kacau!”
“Tidak akan! Pergi saja sana, jangan mengurusi urusan orang lain.”
Perkumpulan yang meraka lakukan pun bubar, beberapa dari mereka tetap tinggal dan beberapa lagi memilih untuk kembali.
“Brak!”
Secara tidak sengaja orang yang tadi berjalan keluar menabrak seorang perempuan yang hendak masuk ke dalam restoran.
“Ma- maafkan saya tuan, saya tidak sengaja. Sekali lagi maafkan saya tuan.” Ucap si wanita yang tadi tidak sengaja bertabrakan.
Si wanita segera menutupi wajahnya dan terus menunduk meminta maaf pada orang yang menabraknya.
“Haiss! Ini jadi kotor.” Gumamnya kesal kemudian melepaskan sarung tangannya dan melemparkan secara kasar pada wanita yang kini masih membungkuk meminta maaf di depannya.
“Menjijikkan! Kau pasti sengaja menabrakkan tubuh kotormu untuk merayuku bukan! Ucapnya sarkas pada si wanita bertudung.
“Kau seharusnya memperhatikan jalanmu dasar miskin.” Ucap si penabrak kemudian hendak melayangkan tamparan pada wanita yang di tabraknya.
“Tap!”
“Tuan kau tidak seharusnya bersikap kasar pada wanita.” Seorang pria tiba-tiba menghalangi dan menepis tangan nya yang hendak melayangkan tamparan.
“Siapa lagi makhluk rendahan ini, mau main pahlawan dan penjahat!” ucapnya ketus kemudian menarik tangannya kasar.
“Kau ingin menyelesaikannya disini sekarang juga? Tapi bukan dengan wanita ini, denganku ayo tampar!” ucap pria yang satunya berdiri tegap menantang si pria kasar.
Si pria kasar mendongak karena pria yang menghalanginya tadi ternyata jauh lebih tinggi darinya, hingga membuat nyalinya menciut.
“Ini lah kenapa aku tidak suka mengadakan pertemuan di daerah kumuh milik rakyat jelata seperti ini, ini membuat tubuhku alergi. Minggir jangan berada di jalanku dasar sampah!” ia pun pergi setelah puas menghina perempuan yang tadi ditabraknya dan menabrak si pria yang menghalanginya tadi.
“Apa-apaan sikap arogannya itu.” Gumam si wanita kemudian segera memperbaiki tudungnya agar menutupi kepalanya dengan baik setelah itu langsung pergi.
“Hei nona!” si pria yang menolong tadi tiba-tiba menarik tangannya dan menghentikannya.
“Bukankah kau berhutang sesuatu padaku?” tanya si pria mendekatkan wajahnya mencoba memeriksa wajah si wanita yang mengenakan jubah dan topeng.
“Aku tidak memintamu untuk menolongku tuan, aku bukan wanita kaya jadi carilah wanita lain untuk kau poroti hartanya.” Ucap si wanita dan melepaskan tangannya secara paksa dari genggaman si pria.
“Nona bukankah kau seharusnya berterimakasih setelah mendapatkan bantuan?” ucap si pria yang tidak terima perlakukan wanita bertudung.
“Haiss, ini menjengkelkan.” Gumam si wanita pelan.
“Baiklah, Terimakasih telah membantu saya tuan yang baik hati, kalau begitu saya permisi sekarang semoga kita tidak bertemu lagi!” Ucap si wanita kemudian membungkuk sopan setelah itu langsung lari meninggalkan si pria.
“Eh! Tunggu dulu... ah sudahlah. Wanita yang aneh.” Gumam si pria kemudian akhirnya pergi dan tidak memperdulikan kejadian yang tadi ia alami.
...***...