
“Leathina?” Panggil Edward membuyarkan lamunan Leathina, "apa yang kau pikirkan?” Tanyanya Lagi setelah Leathina tersadar kembali.
“Ah, aku sedang berfikir Edward.”
“Apa yang kau pikirkan?”
“Edward haruskah kau menahan Aelfric seperti itu?” Tanya Leathina sambil menunjuk ke arah kaki Edward yang menahan tubuh Aelfric dengan salah satu kakinya agar tidak terguling dan jatuh.
“Kenapa? Aku memperlakukannya cukup baik.” jawab edward acuh tak acuh dan menyilang kan kedua tangannya di dadanya.
“Tapi, apa perlakuanmu padanya tidak akan menimbulkan masalah nanti? Duke bilang jika terjadi kesalahan bisa saja menimbulkan perselisihan di antara kerajaan kita dengan kerajaan lain yang melindungi bangsa elf.”
“Masalah seperti apa? Justru dialah yang harus berhati-hati dengan kita sekarang.” Ucap Edward dan pandangannya beralih ke luar jendela kereta untuk melihat sudah sampai mana mereka meninggalkan tempat penyimpanan penyelundupan.
“Maksudmu? Kenapa?” Tanya Leathina kebingungan dengan perkataan Edward yang berbanding terbalik dengan apa yang dijelaskan oleh ayahnya.
“Bangsa elf memilki wilayahnya sendiri di dalam hutan timur tidak ada yang bisa masuk ke dalam kekuasaanya jika tidak diizinkan oleh raja elf sendiri, itu karena mereka memasang mantra yang dapat menyesatkan siapapun yang mencoba masuk ke dalam wilayah mereka tanpa izin. Si biang masalah ini pasti kabur dari wilayahnya sendiri dan berakhir tertangkap oleh para pemburu di hutan dan dijual ke penyelundup untuk dilelang.” Ucap Edward kemudian kembali duduk dengan tenang di samping Leathina.
Edward melihat ujung bulu mata Aelfric bergetar dan menyadari bahwa Aelfric kini telah sadar sepenuhnya tapi malah tetap berpura-pura masih tidak sadarkan diri.
“Jadi apa yang akan kita lakukan padanya?” Tanya Leathina yang juga memperhatikan Aelfric dan merasakan hal yang sama dengan Edward hingga keduanya tersenyum merencanakan sesuatu pada Aelfric.
“Mungkin kau bisa menjadikannya budak dalam beberapa tahun Leathina kemudian setelah itu dikembalikan kembali ke tempat asalnya atau berikan saja dia padaku aku yang akan mempekerjakannya sebagai budak.”
“Apa raja elf tidak akan marah jika dia dijadikan budak?”
“Tentu saja tidak, malah raja elf akan merasa bersyukur jika kita membantunya menghukum pembangkang sepertinya.”
Alis mata Aelfric terlihat berkerut menahan omosi, semakin lama ia mendengar percekapan Leathina dan Edward semakin membuatnya tidak lagi bisa berlam-lama untuk berpura-pura tidak sadarkan diri.
“Kalian!” teriak Aelfric tiba-tiba sesaat setelah membuka matanya, “Berani sekali membicarakan orang yang tidak sadarkan diri.” Sambungnya lagi dengan mendengus kesal dan menatap Edward dengan tatapan tidak suka.
“Aku tidak tahu kamu sudah bangun.” Balas Edward tanpa ambil pusing.
“Hei! Jangan bersikap seolah-olah tidak sedang terjadi apa-apa.”
“Namaku Edward, bukan hei.”
“Aku tidak ingin mengetahui namanmu, kamu kan yang tadi memukulku hingga tidak sadarkan diri.”
“Kamu pingsan karena kondisi tubuhmu memang tidak baik, kenapa malah menyalahkanku. Dasar lemah.” Balas Edward kemudian pada akhir kalimatnya sedik berbisik mengatai Aelfric hingga membuat harga diri Aelfric merasa direndahkan.
“Aku bisa mengalahkanmu sekarang, disini!” Tantang Aelfric pada Edward dan sebuah angin yang cukup besar tiba-tiba berputar-putar di sekitar mereka.
“Kita sampai.” Seru Leathina mencoba melerai dan melihat kediaman keluarga Yarnell.
Angin kencang yang tadi berpusat di sekitar mereka perlahan-lahan mereda kemudian menghilang sepenuhnya bersamaan dengan Aelfric duduk kembali di tempatnya.
...
“Tuan Duke, Nona Leathina dan yang lainnya telah kembali” lapor salah satu penjaga pada Duke Leonard ketika melihat kereta kuda yang digunakan Leathina kembali ke mansion.
“Benarkah?” Duke Leonard segera meletakkan pena dan dokumen-dokumennya, berjalan secepat mungkin untuk menyambut kedatangan Leathina.
“Leathina, bagaimana keadaanmu apa kau baik-baik saja?” Tanya Duke Leonard menyambut Leathina yang telah turun dari kereta.
“Aku baik-baik saja, ayah aku akan kembali bersama dengan para prajurit yang lainnya untuk menolong Winter dan Pangeran Yardley.”
“Duke, rawatlah bocah ini.” Ucap Edward sambil menunjuk Aelfric yang berdiri di belakang mereka, “aku juga akan kembali membantu Leathina.” Sambungnya lagi.
“Aku tidak ingin orang lain merawatku selain Leathina.” Aelfric memberontak dan memegang tangan Leathina dengan sekuat tenaga.
“Kakak Leathina.”
“Leathina, kau kembali.”
Seru Nora danvNicholas hampir bersamaan dan dengan sedikit berlari ke arah Leathina.
“Aku akan menjadi objek rebutan jika mereka melihat Aelfric seperti ini terhadapku.” Batin Leathina dan memijat keningnya tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kakak Leathina kau membawa adik baru?” Jerit Nora dan berlari ke arah Leathina kemudian menarik tangan Leathina mencoba melepaskannya dari Aelfric.
“Siapa orang aneh ini?” Tanya Nicholas menyelidik dan menatapnya dengan tatapan tidak suka.
“Kau yang siapa?!” bentak Aelfric tidak kalah garangnya, “Pokonya aku tidak akan mau tinggal disini jika Leathina tidak ada!”
“Maka tinggallah di kandang kuda.” Jawab Nicholas menantang perkelahian dengan Aelfric.
“Pak”
Edward kembali memukul punggung leher Aelfric hingga tidak sadarkan diri kemudian memberikannya pada penjaga untuk segera dirawat.
Setelah melaporkan kepada Duke Leonard tentang apa yang telah terjadi dan bagaimana keadaan di penyimpanan barang selundupan, Leathina dan Edward segera kembali ke pondok penyimpanan penyelundupan dengan bala bantuan.
Sehari telah berlalu para korban penyelundup manusia telah diselamatkan dan beberapa dari mereka segera dikirimkan kembali ke tempat asal mereka masing-masing dan beberapa lagi tetap tinggal untuk membantu penyelidikan lebih jauh mengenai dalang dari kejahatan itu.
Dan dua penjahat yang menjaga barang selundupan juga telah berhasil di tangkap oleh Winter dan Yardley, dua penjahat itu telah ditahan di penjara bawah tanah untuk dilakukan introgasi oleh Winter dan Duke Leonard yang bertanggung jawab menangkap bos mereka.
Sedangkan keberadaan Aelfric telah diketahui oleh raja elf, seperti yang di katakan oleh Edward bahwa Aelfric memang benar berusaha keluar dari wilayah kekuasaan para elf karena ingin berpetualang untuk melihat dunia luar dan rencananya di tentang karena usianya masih sangat muda, kemudian karena Aelfric keras kepala ia akhirnya diam-diam melarikan diri dan berakhir tertangkap oleh para penjahat.
Dan seperti itulah waktu berlalu dengan cepat hingga malam pesta perayaan kembalinya Leathina tiba, semua pelayan sibuk mendekorasi aula banquet dan menata seluruh makan dan minuman untuk di sajikan para tamu nantinya.
“Nona surat yang anda kirimkan untuk tuan Zeyden telah saya kirimkan.” Anne memberi tahu Leathina tentang surat yang sebelumnya ia tulis untuk dikirimkan ke menara sihir tempat Zeyden berada.
“Jadi apa sudah ada balasan? Aku mengirimnya sejak pagi tadi.” tanya Leathina.
“Iya, Tuan Zeyden telah mengirimkan balasannya Nona.” Ucap Anne sambil menyerahkan sebuah surat pada Leathina.
“Baiklah, kerja bagus Anne. Sekarang bantu aku bersiap.”
Anne membawakan gaun yang sebelumnya di pesankan kusus oleh Duchess untuk di kenakan oleh Leathina. Sebuah gaun mewah berwarna silver untuk Leathina warnanya menyatu dengan warna rambut Leathina dan serasi dengan warna matanya yang berwarna biru.
Gaun yang dikenakan terbuat dari satin panjang yang ujungnya jatuh hingga sedikit menyentuh lantai dan pada bagian lehernya memiliki potongan yang cukup lebar hingga menunjukkan bahu leher jenjangnya karena potongan simetris dimana bahunya tetap dibiarkan terbuka serta dihiasi renda-renda lembut pada ujungnya membuat gaun yang dikenakan oleh Leathina tampak lebih mewah.
Sesuai permintaan Leathina gaun yang dikenakannya cukup sulit untuk dilepas karen pada bagian punggungnya terdapat banyak tali-tali yang harus di ikatkan jika dikenakan begitu pula sebaliknya.
“Apa sudah selesai?” tanya leathina ketika telah kelelahan dan bosan menunggu Anne menyelesaikan ikatan yang ada di belakangnya.
“Ini tali yang terakhir Nona, tapi kenapa Nona ingin tiba-tiba mengenakan gaun yang sulit dikenakan seperti ini tidak seperti biasanya yang menyukai pakaian yang mudah untuk dikenakan.” Ucap Anne sambil terus mengikat tali-tali yang ada di gaun Leathina. “Nah sekarang sudah selesai.” Anne mengusap peluhnya dengan bahunya kemudian memandang Leathina dengan puas.
“Berikan aku segelas air Anne.”
“Ini Nona.”
Leathina memakan beberapa pil obat kemudian segera minum untuk menetralisir rasa pahitnya.
“Karena ini malam istimewa, jadi tentu aku harus bersiap.” Ucap Leathina menjawab pertanyaan Anne setelah selesai meminum obat dan mengembalikan gelas kosong pada Anne.
Tok tok tok
“Siapa?”
“Aku akan pergi untuk memeriksanya nona.”
Anne segera membuka pintu dan melihat Nicholas lah yang berdiri di depan pintu ruangan Leathina dengan pakaian yang rapi.
“Kenapa?” tanya Leathina kemudian menghampiri Nicholas.
“Baiklah, terimakasih Nicholas.” Jawab Leathina tersenyum kemudian meraih tangan yang diulurkan Nicholas padanya.
“Tidak usah sungkan.” Balas Nicholas kemudian mereka berdua segera berangkat ke aula utama di mana pesta diadakan.
“Oh, Iya Selamat ulang tahun Leathina.”
Leathina hanya tersenyum mendengar ucapan yang diberikan Nicholas untuknya, kemudian mengingat kembali ucapat selamt ulang tahun pertama tahun ini dan pertama untuk Leathina setelah bertahan-tahun yang ia dengar dari ayahnya Duke Leonard.
...
Semua mata tertuju pada Leathina dan Nicholas saat mereka berdua memasuki aula utama, ada berbagai macam tatapan yang menjelaskan berbagai rasa penasaran bagi mereka khusunya para golongan bangsawan, bagaimana Leathina bisa kembali dengan selamat dan walau bagaimanapun selama dua puluh tahun Duke Leonard tidak pernah mengadakan pesta untuk putrinya sendiri dan kemudian tiba-tiba membuat sebuah pesta khusus untuk putrinya yang baru saja kembali.
Semua orang yang ada di kerajaan tahu bahwa Leathina tidak memiliki hubungan baik dengan keluarganya tapi pemandangan yang terlihat sekarang cukup berbeda dengan rumor yang beredar dimana Nicholas sendiri yang mengantar kedatangan Leathina serta Duke bahkan Duchess yang menyambutnya dengan senyuman.
“Pesta ini aku adakan untuk putriku.” Duchess berbicara sepatah kata untuk memulai pesta setelah Leathina tiba, “Dan sebelum aku memulainya yang ingin aku katakan pertama adalah selamat ulang tahun untuk Putriku Leathina Yarnell yang ke 21 tahun.”
Setelah mendengar apa yang dikatakan Duchess Nice, aula pesta bergemuruh karena tidak ada perayaan ulang tahuun yang tertulis dalam undangan melainkan hanya pesta penyambutan kepulangan Leathina membuat para tamu merasa tidak enak karena tidak membawa hadiah.
“Oh, Kalian tidak perlu khawatir mengenai masalah hadiah ulang tahun. Putriku Leathina tidak mementingkan hal sepeleh seperti itu dia telah memiliki segalanya,” Ucap Duchess sengaja agar tidak ada yang merendahkan Leathina lagi terlebih masalah terlahir sebagai setengah bansawan.
“Silahkan nikmati pestanya.” Sambungnya lagi kemudian berbaur menyambut para tamu yang telah ia undang.
“Pergilah.” Ucap Leathina tiba-tiba saat Nicholas melihat beberapa kenalannya.
“Kau tidak apa-apa sendiri?” Tanya Nicholas khawatir degan Leathina karena orang-orang dari golongan bangsawan sepertinya sangat penasaran tentang Leathina.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sebentar menyapa para tamu.” Nicholas meninggalkan Leathina sendiri untuk menyapa tamu yang ia kenal.
Orang-orang mulai mengerumuni Leathina untuk memberikan ucapan ulang tahun untuknya, tapi dengan sengaja Leathina memasang ekspresi datarnya dan terlihatlah wajah antagonisnya yang berhasil membuat orang-orang tidak berani mendekatinya lagi.
Setelah Nicholas pergi Leathina berjalan di sekitar banquet berusaha mencari seseorang.
“Brak” seseorang tiba-tiba dengan sengaja menabrakan dirinya ke arah Leathina.
“Aww” pekiknya saat terjatuh ke lantai.
“Yasmine?”
“Ma-maafkan aku Nona Leathina, aku-aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu.” Ucap Yasmine terbata-bata dengan seribu ekspresinya yang selalu bisa menarik simpati orang-orang.
“Ada apa dengan perempuan licik ini, dia sengaja menabrakkan dirinya kepadaku untuk menarik perhatian orang-orang.” Leathina melihat Yasmine dengan prihatin , “Apa kau akan terus duduk di sana Nona Yasmine kenapa tidak sekalian kau pel saja lantainya dengan gaun anehmu itu.”
Ucapan Leathina benar-benar menusuk hati Yasmine, tapi saat Yasmine menatap sekelilignya yang berhasil menarik simpati orang-oramg kemudian tersenyum licik sekilas tapi tidak ada yang menyadarinya selain Leathina yang telah mengetahui sifatnya.
“Menjijikan” Gumam Leathina dan pergi begitu saja meninggalkan Yasmine yang kini di kerumuni oleh orang-orang.
Gumaman Leathina ternyata di dengar oleh Yasmine membuat Yasmine mengepalkan tangannya sampai tangannya memerah.
“Leathina!” seru seorang pria menyapa Leathina dari kejauhan.
“Hai! Troy!” balas Leathina tidak kalah girangnya melihat teman-temannya.
“Argh” Nina tiba-tiba meninju pinggag Troy hingga ia meringkuk dan meringis tapi masih tetap berjalan ke arah Leathina.
“Kau harus memanggilnya secara formal Troy, dan apa-apaan caramu menyapa seorang wanita bangsawan, kita tidak sedang di pasar yang meneriaki pencuri.” Gumam Nina kesal karena temannya itu tidak bisa menjaga etikanya padahal sedang berbaur dengan para angsawan yang biasanya tidak suka dengan keberadaan orang biasa sepeti mereka.
“Apa kabar Leathina?” Sapa Adam sedikit membungkuk kemudian tegap kembali untuk mengormati Leathina.
“Aku baik, kau tidak usah seformal itu padaku. Bagaimana dengan kalian?"
“Kami baik tapi Leathina.” Jawab Nina, tapi apa kau tidak apa-apa? Mengenai keributan yang terjadi barusan...” Ucapan Nina terputus.
“Aku Tida....”
“Kau benar-benar keren tadi saat mengatakan menjijikkan!” seru Nina tiba-tiba hingga membuat Leathina hanya tersenyum melihat Nina berbicara sambil menirukan gaya nya saat pergi meninggalkan Yasmine tadi.
“Kau mendengarnya?”
“Tentu saja semua orang mendengarnya. Tadi suasana tiba-tiba menegang tidak ada yang berani berusara saat kalian berdua bertabrakan hingga suara nafaspun bisa terdengar.”
“Apa kalian kesulitan sampai disini?”
“Semuanya lancar hanya saja sebenarnya saat undangan dari kediaman Duke datang ke markas kami kira itu adalah surat penagkapan.” Bisak Troy pada Leathina, “Tapi yang lebih menakutkan dari pada surat penangkapan ternyata adalah undungan menghadiri pesta para bangsawan, mereka tidak ada yang mau bicara dengan kami ketika mengetahui identitas kami kamu lihat di sana,” Troy menunjuk ke arah sekumpulan orang, “Itu kumpulan para bangsawan saat aku mencoba mendekat tadi mereka langsung bubar.”
“Tidak usah kau pedulikan.” Sambung Adam menenangkan Troy yang terlihat kecewa.
“Pakaian itu bagus untukmu Nina.” Leathina berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya, aku tidak menyangka akan memakainya aku kira gaun ini hanya akan tersimpan terus menerus di dalam lemari.”
“Aku juga, Lihatlah. Ini baju yang kita beli bersama Leathina.” Ucap Troy tidak mau kalah dengan Leathina.
“Itu cocok dengan kalian berdua.”
“Oh iya Selamat ulang tahun Leathina maaf yah tidak ada hadiah karena kami baru mengetahuinya.” Nina mengucapkan selamat pada Leathina.
“Selamat ulang tahun Leathina.” Ucap adam hampir bersamaan dengan Troy.
“Terimakasih, aku tidak perlu hadiah seperti yang dikatakan Duchess aku telah memiliki segalanya.” Jawab Leathina dengan nada candaan.
“Ada yang sedang mengawasimu.” Bisik Adam tiba-tiba sementara Troy dan Nina mengangguk membenarkan perkataan Adam.
“Aku tahu, tidak usah kau pedulikan. Aku akan mengurusnya sendiri kalian nikmatilah pestanya makan sebanyak yang kalian bisa.”
Sebelum Adam memberitahu Leathina bahwa ada seseorang yang megawasinya Leathina telah menyadarinya lebih dulu bahkan saat pertama kali ia memasuki aula bersama Nicholas tadi.
Leathina berjalan menjauhi keramaian sengaja memisahkan diri untuk memancing orang yang telah mengawasinya sejak tadi mengikutinya mencoba menariknya masuk ke dalam jebakannya.
“Kakak Selamat Ulang Tahun!” Teriak Nora dan menghadang jalan Leathina kemudian memberinya pelukan.
“Terimaksih Nora. Nikmatilah pestanya aku ingin mencari Anne untuk membantuku." Leathina tersenyum agar Nora tidak kecewa, kemudian dengan terburu-buru meninggalkannya.
Leathina melihat di sekitarnya kemudian matanya tertuju pada koridor yang mengarah ke taman yang terlihat sepi dan dengan langkah biasa Leathina berjalan ke arah sana.
Tap... Tap... Tap...
Samar-samar Leathina mendengar langkah kaki seseorang yang sedang mengikutinya terdengar seperti suara kaki pria yang mengenakan sepatu pantofel pria.
Semakin Leathina menjauhi keramaian dan pergi ke area sepi semakin jelas Leathina mendengar derap lagkah kaki yang mengikutinya.
Leathina terus berjalan berpura-pura tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengikutinya kemudian dengan sengaja singgah seolah-olah sedang mencari udara segar.
Langkah kaki yang sedari tadi mengikut Leathina juga tidak terdengar lagi setelah Leathina tidak berjalan lagi.
Leathina dengan was-was meraba belati yang ia sembunyikan dibalik gaunnya berisap menariknya dan menyerang jika orang yang mengikutinya ternyata akan melukainya.
“Permisi Nona Leathina.” Sapa seorang laki-laki tiba-tiba membuat Leathina mengurungkan niatnya untuk menarik belatinya dan menyerang orang yang mengikutinya itu.
“Umpanku berhasil dimakan.” Batin Leathin kemudian berbalik dan tersenyum raham melihat laki-laki yang mengikutinya itu.
...***...