
“Humm...”
Leathina menggeliat pelan, bulu matanya terlihat sesekali bergerak berusaha untuk tersadar dari pingsannya.
“Aww!” Desisnya saat merasakan sakit di leher bagian belakangnya.
“Kenapa sampai sakit begini?” ucapnya seraya berusaha menggerakkan badannya yang lemah ditambah dengan tenggorokannya yang terasa sangat kering hingga membuat suaranya menjadi parau namun yang lebih membuatnya kesulitan bergerak adalah tangan dan kakinya yang berada dalam kondisi terikat.
“Apa-apaan ini.” Gerutunya sambil berusaha melepaskan ikatannya sendiri dengan menendang dan melonggarkan ikatannya pada kakinya agar terlepas, sementara ikatan di tangannya sengaja ia biarkan agar tidak membangun orang yang mengikatnya.
“Sialan.” Umpatnya saat melihat Edward yang duduk di sampingnya setengah tertidur.
Leathina duduk dengan sendirinya walaupun dengan susah payah karena tangannya diikatkan ke tangan Edward, ia harus berhati-hati agar tidak membuat banyak pergerakan hingga membangunkan Edward.
“Brak.”
Dengan satu kali ayunan dan dengan segenap kekuatannya yang masih tersisa Leathina gunakan untuk menendang Edward sekeras yang ia bisa hingga Edward terjungkal ke belakang bersama kursi yang ia duduki.
“Akh!” pekik Edward saat punggungnya mendarat di lantai dengan cukup keras.
“Kau sudah bangun Lea?! Serunya sedikit terkejut saat melihat Leathina kini nanar menatapnya.
“Jangan berpura-pura, aku tahu kau tidak tidur dan sudah tahu semenjak aku mempersiapkan diri saat ingin menendangmu.”
“Ah, ketahuan ya hahaha.” Ucapnya kemudian di susul dengan suara tawa canggung. "Aku tidak habis pikir ternyata kau menendang ku, aku pikir kau akan langsung berusaha melepaskan diri terlebih dahulu."
“Memangnya kau akan melepaskan ku begitu saja jika aku melakukannya? dan Kenapa kau mengikatku seperti ini?!” tanya Leathina kesal.
“Maafkan aku Leathina, aku takut kamu melarikan diri lagi.” Ucap Edward kemudian langsung membantu Leathina membuka semua ikatannya kecuali ikatan di tangan Leathina yang ia hubungkan dengan tangannya sendiri.
“Kenapa tidak kau lepas?” tanya Leathina ketika Edward membiarkan ikatannya yang terhubung dengan tangannya masih belum di lepas dan kemudian mencoba membukanya sendiri.
“Jangan!” cegat Edward menolak Leathina melepaskannya.
“Takut aku kabur?” Tanya Leathina kemudian Edward mengangguk pelan di tatapnya mata Leathina dengan sungguh-sungguh.
“Haah!” Leathina menghela nafas “Baiklah, terserah kalian saja.” Gumamnya kemudian duduk di pinggir tempat tidur berhadapan dengan Edward yang sudah bangkit kembali bersama kursinya kemudian duduk di depan Leathina.
“Lea, air minum dulu.” Edward dengan hati-hati menawari Leathina air takut jika Leathina melempar air yang diberikannya itu kepadanya.
Leathina tidak merespon ditatapnya Edward sebentar kemudian kembali menghembuskan nafas berat dan akhirnya menerima gelas berisi air yang di berikan Edward padanya dan meminumnya sampai habis.
“Nina sebentar lagi akan membawakan untukku makan, makanan nya biar untukmu saja kau pasti lapar.”
“Iya aku kelaparan ini semua berkatmu dan si Troy bodoh itu, terimakasih.” Jawab Leathina ketus. “Jadi apa yang ingin kau lakukan padaku?” tanya Leathina lagi.
“Memangnya apa yang ingin aku lakukan? Aku hanya ingin menjagamu saja, hanya itu.”
“Dengan merencanakan sesuatu di belakangku dan membuatku pinsan.”
“Kalau terpaksa aku lakukan maka akan aku lakukan demi keselamatanmu, Leathina.”
“Demi keselamatanku?!” tanya Leathina emosi sementara Edward hanya diam tidak menanggapi dan sibuk menaruh gelas yang tadi digunakan Leathina kembali. “Ini semua hanya karena kau ingin terus aku berada di jarak pandangmu kan!” bentak Leathina menatap Edward dengan marah. “Apa ayahku membayarmu?!” tanyanya lagi.
“Tidak! Aku yang menawarkan diri ku sendiri untuk datang mencarimu.” Ucap Edward dingin. “Dan perkataanmu benar aku hanya ingin melihatmu berada di jarak pandangku, aku sepertinya terobsesi padamu!” ucap Edward tidak menyangkal tuduhan Leathina padanya.
“Apa! Kenapa!” Leathina terkejut ketika Edward tidak menyangkal sama sekali kemudian terdiam dan menjadi bingung sendiri di tatapnya Edward dengan tatapan tidak percaya.
“Leathina, dengarkan aku.” Ucap Edward bersungguh-sungguh kemudian berlutut di depan Leathina. “Aku menyukaimu, dan aku akan menjagamu aku janji.” Ucapnya lembut namun dengan nada tegas mencoba menyakinkan Leathina.
Leathina yang tidak habis fikir segera mengalihkan pandangannya tidak berani menatap wajah Edward terlebih ke matanya, tidak berani mencari kebenaran karena takut memiliki perasaan yang sama dengan Edward.
“Leathina, kenapa?” panggil Edward kemudian menyejajarkan wajahnya dengan wajah Leathina dan setiap Leathina mengalihkan pandagannya ke arah lain Edward juga ikut berusaha agar Leathina mau melihatnya.
“Leathina kau tidak menyukaiku?” tanyanya lagi. “Aku tidak akan memaksa, tapi aku mungkin tidak akan bisa melihatmu dengan pria lainnya.” ucapnya mengambil tangan Leathina kemudian menggenggamnya erat agar Leathina mau melihatnya.
“Bukan seperti itu.” Akhirnya Leathina membuka mulut tapi masih belum berani menatap wajah Edward.
“Kenapa? Katakan padaku alasannya.”
“Aku mungkin tidak akan meyukai siapapun, termaksud kamu jadi menyerahkan lah.” Ucap Leathina pelan.
“Kenapa? Tanya Edward kecewa. "Apa ada sesutu yang membuatmu takut?”
“Maafkan aku Edward tapi aku belum mempunyai perasaan yang sama denganmu.” Ucap Leathina menolak Edward, “Dan kau mungkin akan membunuhku bersama yang lainnya.” Ucap Leathina lagi tapi lebih seperti berbisik.
“Leathina, Aku tidak mungkin membunuhmu. Aku janji! Dan tidak masalah jika kau belum menyukaiku aku akan berusaha sampai kau mau menyukaiku.” Edward bersikeras berjanji pada Leathina.
“Tidak usah berusaha Edward, aku takut padamu. Aku benar-benar takut.”
“Leathina sudah aku bilang aku tidak akan membunuhmu!” bentak Edward mulai terpancing emosinya, tangannya ia kepalkan untuk menyalurkan rasa marahnya. “Darimana kau punya pemikiran seperti itu! Apa pernah aku membuatmu men...” Edward mendadak terdiam tidak melanjutkan perkataanya mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu saat ia memukul Leathina sampai pingsan kemudian pertemuan pertamanya dengan Leathina ia juga hampir membunuh Leathina saat itu juga.
“Ah, iya betul. Kau pasti takut padaku, aku ketua dari tentara bayangan yang pekerjaanya membunuh.” Ucap Edward sambil tersenyum walaupun ia paksakan.
“Tapi Leathina aku janji aku tidak akan menyakitimu, apa lagi membunuhmu. Aku menyukaimu, kalau kau tidak percaya aku akan membuta kontrak sihir denganmu jika aku melanggar maka disaat itu juga aku yang akan mati. tunggu sebentar, aku akan membuatnya sekarang!”
“Edward,” panggil Leathina saat melihat Edward sibuk mencari pena dan kertas ingin membuat kontrak sihir.
“Edward.” Panggil Leathina lagi karena panggilannya yang pertama masih belum ditanggapi oleh Edward ia masih sibuk membongkar semua laci-laci dan lemari hingga seluruh kamar menjadi berantakan.
“Edward!!” Teriak Leathina kemudian menendang kakinya karena tangannya yang terikat dengan tangan Edward membuatnya juga ikut-ikutan mengelilingi ruagan bersama Edward mencari kertas dan pena dan panggil Leathina yang terakhir berhasil membuat Edward menoleh kemudian menghentikan kegiatannya.
“Ah! Leathina, maafkan aku.” Ucapnya lirih kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain tidak ingin memperlihatkan wajahnya pada Leathina. “A- aku belum menemukan kertas ataupun pena untuk membuat kontrak sihir denganmu.” Ucapnya pelan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
“Edward kau menangis?!” tanya Leathina kemudian menarik tangan Edward agar Edward mau menunjukkan wajahnya padanya.
“Tidak, aku tidak menangis.” Edward mengelak dan masih menolak untuk menatap wajah Leathina.
“Bohong! Kau menangis!” goda Leathina sambil memaksa Edward untuk menunjukkan wajahnya.
“Sini perlihatkan wajahmu padaku.” Leathina memaksa dan menarik paksa Edward dan menangkap wajah Edward hingga mereka saling bersitatap.
“E- edward.” Ucap Leathina terbata-bata. “Kau benar-benar menagis.” Ucapnya lagi setelah berhasil melihat wajah Edward.
Dilihatnya kedua mata Edward sembab, Leathina yang penasaran melihat gambaran seluruh wajah Edward sekarang kemudian langsung menarik kain penutup wajahnya hingga memperlihatkan wajah Edward sepenuhnya.
“Kau benar-benar menagis.” Gumam Leathina kembali dilihatnya kedua mata Edward yang masih sembab dan hidungnya yang kini memerah karena menahan tangis.
Leathina lama terdiam menatap wajah Edward dan tidak mengalihkan pandagannya sama sekali dari Edward.
“Puhhfttt!”
“Leathina kau menertawakanku?” Seru Edward malu.
“Tidak, tidak, tentu saja tidak, aku tidak menertawakanmu kok.” Leathina mengelak kemudian berusaha untuk diam kembali agar tawannya tidak pecah.
“Kau lucu,” ucapnya kemudian. “Bagaimana bisa orang paling ditakuti seluruh kerajaan bisa menangis, hahaha.” Ucap Leathina lagi kemudian disusul dengan suara twannya yang pecah. “Aku penasaran bagaimana para bawahanmu akan begitu terkejut ketika mengetahui bos mereka juga ternyata bisa menangis.”
“Leathina hentikan.” Edward kembali menutup wajahnya kemudian menutup mulut Leathina yang masih terus tertawa terbahak-bahak.
“Leathina sudah kecilkan suaramu, orang-orang bisa mendengarmu.”
“Iya, iya, aku tahu, lepaska tanganmu dari mulutku.” Pinta Leathina. “Tapi kenapa kau menangis?” tanyanya lagi.
“Karena kau takut padaku, kau juga langsung menolakku bahkan tanpa perlu berfikir dan kau tidak menyukaiku padahal aku pikir kau sangat menyukaiku.” Jawab Edward.
“Hah! Kenapa kau berfikiran aku menyukaimu.” Tanya Leathina tidak habis fikir karena Edward yang begitu yakin bahwa ia menyukainya.
“Karena setiap kau melihatku matamu tidak pernah beralih ke yang lainnya, kau terus menatap wajahku bahkan kadang-kadang tanpa berkedip.”
“Itu karena kau tampan jadi siapa pun yang melihat wajahmu itu pasti akan betah berlama-lama menatapnya.”
“Kalu begitu kenapa kau tidak memiliki ku saja agar kau bisa melihatnya setiap saat.”
“Ummm, sebenarnya aku tertarik tapi aku masih sayang nyawaku jadi mungkin akan aku pikirkan lagi kau berusahalah menggodaku siapa tau aku berubah pikiran.” Ucap Leathina dengan nada candaan.
“Ah! Hahahaha, aku ketahuan ya.” ucap Leatina kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalau kau ingin maka aku akan melakukan semua yang kau minta, katakan saja apa yang harus aku lakukan agar kau mau mempercayaiku?” Edward dengan serius menatap Leathina berharap mendapatkan jawaban yang ingin ia dengar.
“Edward maafkan aku, tapi untuk sekarang aku sepertinya masih belum bisa. Tapi aku bukannya tidak menyukaimu aku juga tidak takut padamu karena pekerjaanmu walaupun pekerjaanmu memang mengerikan tapi aku begini bukan karena latar belakangmu.”
“Leathina aku telah mengatakan yang sejujurnya padamu sekarang giliranmu sekarang katakan kenapa kau berusaha lari dari orang-orang, tidak ingin kembali ke kerajaan bahkan mengataka hal-hal aneh.”
“Ini semua karena takdir yang terikat pada tubuh ini jadi aku tidak bisa bebas berbuat apa-apa.” Leathina berbicara dengan suara kecil karena tidak benar-benar ingin memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
“Leathina takdir apa yang kau maksud?” tanya Edward yang masih belum mengerti bahkan malah semakin membutanya tidak paham atas semua perkataan Leathina yang menurutnya sangat berbelit-belit.
“Edward aku ...” ucap Leathina tapi terhenti matanya fokos ke satu arah.
“Leathina ada apa?” tanya Edward.
Leathina tidak menjawab ia hanya terus melihat ke satu titik di bawah tempat tidurnya, “Apa itu?” gumam Leathina pelan, dilihatnya sesuatu yang berkilat-kilat seperti sepasang bola mata dari bawah tempat tidurnya kemudian sesekali bergerak bahkan bernafas seperti seorang manusia.
“Edward!” seru Leathina terkejut, “Edward ada orang di bawah tempat tidur!” teriak Leathina lagi dan melemparkan apapun barang yang di temukannya ke bawah tempat tidurnya.
“Aw!” terdengar suara serak lakik-laki yang memekik ke sakitan saat Leathina melemparkan sepatu ke bawah tempat tidur yang entah dari mana ia dapatkan sepatu itu, Leathina hanya melemparkan apapun yang dapat ia temukan di dekatnya.
“Trak!”
“Akh!”
Dengan satu gerakan Edward langsung melemparkan belatinya ke bawah tempat tidur dan di susul dengan suara pekikan lagi.
“Tunjukkan dirimu jika kau tidak ingin kuhabisi di sana!” Ancam Edward yang mulai menarik pedanya dari sarungnya.
“Jangan! Tuan ini aku Troy!” jeritnya.
“Bruk!”
“Aw!”
Troy yang ketakutan dan terburu-buru keluar dari bawah kasur malah tidak sengaja membenturkan kepalanya dengan cukup keras dan berakhir berguling-guling menahan sakit di bawak tempat tidur.
“Troy!?” Ucap Leathina dan Edward bersamaan, mereka berdua sama-sama bingung kenapa ia bisa ada disana.
“Tuan makanan anda sudah siap!” tiba-tiba disaat bersamaan Nina masuk dengan membawa nampan berisi makanan kemudian di susul oleh Adam yang dengan gugup dan terburu-buru menuju tempat tidur dan menarik Troy dari sana.
“Cepat keluar dari sana bodoh!” bisik Adam dan menyeret Troy yang masih berguling menahan sakit.
“Aku ingin menyimpan tubuhnya di tempat yang yang tidak dapat dilihat karena merusak pemandangan tapi aku tidak tahu menyimpannya di bawah tempat tidur adalah pilihan yang kurang tempat.” Adam berbicara tanpa ditanya dengan canggung dan takut-takut ia terus menyeret Troy sampai ke ambang pintu sementara Nina dengan terburu-buru meletakan nampan yang di bawanya di atas meja dan langsung membantu Adam menyeret Troy keluar.
“Ma- maaf menganggu Tuan Ed dan Nona Lea.” Ucap Nina sambil sibuk mendorong Troy bersama Adam keluar dari ruangan.
“Hah.” Edward mengela nafas berat, Nina dan Adam yang mendegar hembusan nafasnya bergidik ketakutan dan langsung mempercepat kegiatannya.
“Kalian mendengar sesuatu?” tanya Edward tiba-tiba sontak membuat ketiganya terdiam mematung di ambang pintu.
“Tidak aku tidak mendengar apa-apa bos!” jawab Adam spontan disusl dengan Nina dan Troy kemudian.
“Aku juga tidak tuan, aku benar-benar tidak mendengar apa-apa.”
“Aku tidak melihat dan mendengar apa-apa, sungguh! Aku betul-betul ....”
“Plak!” belum sempat Troy menyelesaikan kalimatnya sebuah pukulan dari Nina mendarat di perutnya membuatnya berhenti tiba-tiba. “Diam, bodoh.” Bisik Nina pada Troy.
“Hah...” Edward kembali menghela nafas.
“Jadi kalian mendengar percakapan kami.” Ucap Edward, “Sejak kapan?” tayanya lagi.
“Aku hanya mendengar sedikit.”
“Aku juga.”
Jawab Adam dan Nina.
“Aku shapppt akh!” sebelum Troy menyelesaikan kalimatnya Nina sudah menutup mulutya terlebih dahulu khwatir Troy malah memperkeruh suasana dengan apa yang akan ia ucapkan.
“Jadi kalian mendengar semuanya.” Ucap Edward lagi, “Baiklah, aku akan membicarakan masalah ini lagi nanti kalian pergilah dulu karena Leathina masih butuh istirahat.” Ucap Edward pada akhirnya melepaskan Adam, Troy dan Nina.
“Trak!”
Pintu di tutup dari luar kemudian disusul dengan tiga derap langkah kaku yang berbeda pergi secara terburu-buru dengan suara saling memukul.
“Plak!”
“Tak!”
“Plak!”
Troy memukul Adam karena menyimpannya di bawah tempat tidur, Nina memukul Troy yang hampir membuat ketigannya berada di dalam keadaan tidak bagus, Troy yang ada di dalam sudah tentu melihat dan mendengar dengan jelas percakapan antar Leathina dan Edward. Sementara Adam secepat mungkin melarikan diri berusaha melepaskan diri dari Troy yang terus memburunya semenjak keluar dari ruangan.
“Haah ....” Lagi-lagi Edward mengela nafas berat.
“Kau pasti malu.” Ucap Leathina mengganggu Edward yang terlihat frustasi.
“Tidak aku tidak malu.” Edward mengelak.
“Kau benar-benar malu.” Ucap Leathina lagi.
“Aku bilang tidak,” Edward kembali mengelak. “Ah! Leathina.” Pekiknya terkejut ketika Leathina tiba-tiba melepas penutup wajahnya.
“Aku ingin melihat wajahmu yang malu.” Ucapnya tanpa rasa bersalah. “Kau pasti benar-benar malu ya, pipimu merah dan badan mu panas sekarang.” Leathina berbicara sambil memperhatikan wajah Edward dengan serius kemudian menyentuh pipinya untuk memeriksa suhu tubuh Edward sekarang.
“Aku bilang aku tidak malu!” ucap Edward tegas kemudian berdiri dengan melingkarkan tangannya di pinggang Leathina.
“Edward!” Seru Leathina saat tiba-tiba Edward menggendongnya di pelukannya.
“Kau harus makan dulu, kau pasti kelaparan sekarang. Dari tadi aku mendengar beberapa suara dari lambungmu.” Ucap Edward sambil membawa Leathina menuju tempat tidur kembali.
“Edward, turnkan aku sekarang. Aku masih bisa berjalan sendiri.” Ucap Leathina sambil berusaha melepaskan diri.
“Akh!” pekik Leathina saat Edward memperbaiki posisinya agar tidak terjatuh karena selalu bergerak.
“Kau malu, wajahmu merah!” Ucap Edward menatap wajah Leathina.
“Tidak, aku tidak malu.” Leathina mengelak kemudian lengsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Kau benar-benar malu. Apa yang membuatmu tersipu malu, karena aku yang menggendongmu? Atau karena aku tampan?” tanya Edward sengaja menggoda Leathina.
“Aku begini karena lapar!” ucap Leathina kembali mengelak.
“Baiklah, kalau begitu makanlah dengan lahap aku akan menyuapimu.” Ucap Edward kemudian mendudukkan Leathina di tempat tidur kemudian mengambil mangkuk bubur yang di bawa Nina tadi yang letaknya berada tepat di samping tempat tidur.
“Aku bisa makan sendiri.” Leathina menolak saat Edward menyodorkan sesendok bubur padanya.
“Tidak, kau tidak bisa tangan kananmu terikat dengan tangan kiriku jadi kau susah bergerak.”
“Kalau begitu lepaskan ikatannya.”
“Tidak boleh, diam dan menurut saja atau kau mau aku suapi di pangkuanku?” tanya Edward kemudian tersenyum penuh arti.
“Tidak! Aku tidak mau!” tolak Leathina spontan.
“Gadis pintar.” Puji Edward saat Leathina menurut.
Leathina yang tidak punya pilihan lain karena setiap kali beralasan Edward selalu tau caranya membuatnya khawatir hingga pada akhirnya ia terpaksa menurut saat disuapi oleh Edward sebelum Edward melakukan hal-hal aneh padannya.
...***...