
Leathina memacu kudanya pelan saat melewati keramaian kota dan singgah sebentar pada sebuah kedai makanan pinggir jalan dan mengambil tempat duduk yang berada di paling pojok untuk membaca surat yang diberikan Toni padanya.
.........
Salam Nona Leathina.
Maafkan saya karena tidak mengirimkan anda surat selama saya berada di pengasingan karena para penjaga tidak mengizinkan saya mengirimkan surat yang telah saya tulis. Saya telah membaca surat yang adan kirimkan melalui seorang anak laki-laki. Saya telah mengunjungi saudari saya Diane di penjara bawah tanah dan saya harap anda dapat mengunjungi saya segera.”
...Denisa...
.........
“Penjaga tidak mengizinkannya menulis surat? berarti walaupun aku memerintahkan penjaga disana untuk memperbolehkannya mengirimkan surat, surat yang dituliskan pasti akan di periksa terlebih dulu oleh para penjaga dan dengan otomatis penjaga akan membacanya.”
Setelah membaca surat yang dituliskan Denisa untuknya Leathina kemudian membakarnya pada lilin yang sedang menyala di depannya yang sengaja di letakkan di atas meja sebagai dekorasi.
“Itulah kenapa Denisa memintaku untuk datang mengunjunginya untuk memberitahuku secara langsung informasi yang telah ia dengar dari kakaknya karena Denisa takut penjaga akan membaca surat yang ia kirimkan.” Gumam Leathina pelan sambil memperhatikan kertas yang dibakarnya kini telah menjadi abu.”
“Ada yang ingin anda pesan, Nona?” Tanya sorang pelayan yang mendatangi Leathina dengan memperlihatkan papan menu yang terpampang di dekat meja kasir.
“Ah, maaf tuan aku sedang terburu-buru aku tidak akan memesan apa-apa karena harus pergi sekarang.” Jawab Leathina sambil beranjak dari tempat duduknya hendak keluar dari kedai makanan.
“Huh, Dasar petualang miskin sok-soan masuk ke sembarang toko hanya untuk menumpang beristirahat.” Gumam si pelayan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Leathina dan kemudian pergi meninggalkan Leathina dengan wajah dongkol.
Leathina hanya tersenyum kecut dan melanjutkan langkahnya keluar dan kembali ke kediamannya.
“Minggir! Beri jalan!” Teriak seorang kusir kuda pada orang-orang yang ada di jalanan hendak meminggirkan kereta kudanya.
Teriakan kusir itu menarik perhatian Leathina, membuat Leathina penasaran bangsawan seperti apa yang akan turun dari kereta kuda itu.
Leathina terus mengamati dari sisi seberang jalan dilihatnya si kusir kuda yang kini membuka pintu kereta dan mempersilahkan seorang bangsawan wanita turun.
“Yasmine?” Gumam Leathina saat melihat seorang wanita muda turun dari kereta dan segera memasuki gedung yang di depannya tertulis dengan jelas “Rumah Judi” dilihatnya Yasmine menutupi wajahnya dengan kipas seakan-akan takut jika dilihat oleh orang-orang.
“Apa yang dilakukan perempuan berwajah seribu itu di rumah judi? Ini berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang polos dimata orang-orang.”
“Bukan urusanku, aku harus segera kembali.” Gumam Leathina pelan kemudian melanjutkan perjalanannya ke tempatnya mengikat kuda miliknya.
Tapi beberapa saat kemudian karena rasa penasaran Leathina berbalik dan segera berlari menyebrangi jalan menuju rumah judi yang di masuki oleh Yasmine dan segera ikut masuk ke dalamnya.
Leathina diam-diam membuntuti Yasmine yang berjalan beberapa meter di depannya.
“Nona Yasmine, selamat datang.” Sapa seorang laki-laki tua yang kini rambutnya mulai memutih ia menyambut kedatangan Yasmine dan langsung merangkul pinggangnya.
“Salam Grand Duke Alcott.” Balas Yasmine dengan tersenyum.
Leathina terus mengamati mereka berdua dari kejauhan, dilihatnya Yasmine cukup akran dengan grand duke Alcott. Mereka berdua terlihat sedang mendiskusikan sesuatu yang penting.
“Apa yang dilakukan laki-laki tua itu dengan Yasmine?” Gumam Leathina sambil mengikuti grand duke Alcott dan Yasmine yang kini berpindah tempat ingin memasuki sebuah ruangan privasi.
“Maaf Nona, Ini area Khusus pelanggan bangsawan orang biasa tidak boleh masuk.”
Seorang pelayan menghalangi Leathina di depan pintu lorong saat ia akan mengikuti orang yang sedang dibuntutinya itu.
“Oh, Astaga.” Decak Leathina kesal karena kini ia hampir kehilangan Yasmine.
“Ambil ini.” Leathina dengan tergesa-gesa menyerahkan begitu saja sekantung uang pada si pelayan yang menghalanginya.
“Oh, Astaga. aku tidak melihat apa-apa dan sepertinya aku memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Ucap si pelayan setelah menerima kantung uang Leathina dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Dengan tergesa-gesa Leathina memasuki area privasi yang dikhususkan hanya digunakan oleh para bangsawan, matanya menangkap sosok Yasmine yang masih bersama dengan grand duke Alcott memasuki ruangan dan dari ruangan itu terdengar gelak tawa beberapa pria dan wanita.
“Oh Grand duke Alcott dan Nona Yasmine.”
“Selamat datang.” Sambut orang-orang yang yang ada di dalam ruangan saat grand duke Alcott dan Yasmine masuk secara bersamaan.
Leathina diam-diam menyusul Yasmine dan berdiri di depan ruangan sambil memasang indra pendengarnya dan berpura-pura menjadi pengawal dari salah-satu bangsawan yang sedang menunggu majikannya di luar.
“Kita sekarang harus berhati-hati menjalankan bisnis ini.” Ucap salah satu bangsawan memulai percakapan.
“Benar ini gara-agar si sialan, Tesro. Bisnis yang aku jadi berantakan dan keuntungannya menurun.”
“Benar, akhir-akhir ini karena penjaga kerajaan menangkap mereka pemilik bisnis lain juga ikut di selidiki.”
“Bagaimana denganmu Nona Yasmine apa kamu tidak berencana menjalankan bisnis mu sendiri?” Tanya seseorang pada Leathina.
“Aku belum berniat Tuan, aku hanya berminta menginvestasikan uangku saja pada bisnis perbudakan dan prostitusi milik Grand duke.”
“Hahaha kau ini benar-benar sesuatu Nona Yasmine, aku tidak menyangka wajah polos mu itu tidak sebanding dengan kelakuanmu.” Ucap grand duke Alcott sambil tertawa.
“Jadi mereka pemilik bisnis pusat penjualan perbudakan dan wanita secara ilegal, mereka aliansi pemilik bisnis gelap rupanya Dan Yasmine salah satunya.”
Leathina terus mempertajam pendengarannya mencoba mendengar lebih banyak informasi tapi yang ada Leathina hanya kebanyak mendengar pembicaraan tidak penting dan omong kosong dari para bangsawan yang ada di dalam ruangan.
“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa aku dapatkan, aku harus segera kembali.” Gumam Leathina kemudian berjalan keluar meninggalkan rumah judi.
“Gawat, ini sudah sangat terlambat.” Gumam Leathina dengan langkah terburu-buru ke tempatnya mengikat kudanya.
Cepat-cepat ia menaiki kuda miliknya dan memacunya meniggalkan kota kembali ke kekediaman keluarga Yarnell.
“Duh, aku tidak bisa masuk ambil membawa kuda ini bersamaku.” Leathina melihat beberapa penjaga yang berjalan mengelilingi mansion untuk memeriksa keadaan.
“Maafkan aku.” Ucap Leathina pada kudanya sebelum meninggalkannya.
Leathina memutari mansion menuju ke barat mengikat kudanya di antara pepohonan setelah itu melompati pagar pembatas dan menerobos semak-semak dan berakhir memasuki taman.
Diam-diam Leathina berjalan di pekarangan sesekali bersembunyi untuk menghindari para penjaga dan segera pergi ke bawah ruangannya yang berada di lantai dua dan mulai memanjat naik dengan menginjak celah-celah dinding yang sengaja di buat sebagai ventilasi di lantai bawa dan akhirnya berhasil mencapai jendela kamarnya dan segera masuk ke dalam.
“Oh Astaga.” Pekik Leathina terkejut saat seseorang mencoba membuka pintu kamarnya dari luar.
“Maaf tuan muda, nona Leathina berpesan tidak ingin diganggu.” Terdengar suara Anne mencoba menahan seseorang yang hendek menerobos masuk ke ruangan Leathina.
“Anne, aku hanya ingin memeriksa sebentar apakah Leathina baik-baik saja.”
“Itu suara Nicholas, kenapa dia datang ke kamarku selarut ini.” Gumam Leathina saat baru melangkahkan satu kakinya melewati jendela kamarnya.
“Benar Anne, kami hanya ingin memeriksa keadaan kakak Leathina sejak tadi siang di terus mengunci diri di kamarnya dia bahkan belum makan malam.” Terdengar lagi suara Nora mencoba meyakinkan Anne agar tidak menahan mereka berdua.
“Tapi, tapi Nona Leathina mengunci pintunya dari dalam tuan muda.” Ucap Anne dengan suara gemetar karena takut.
“Kau punya kunci cadangannya kan?” Tanya Nicholas lagi pada Anne
“Iya Anne kau pasti punya kunci cadangan kamar kakak Leathina kan.”
“Clek.”
“Brakk.”
Anne akhirnya membuka kunci dan membuka pintu hingga terdengar suara deritan dan membukanya lebar-lebar hingga dapat di lewati oleh Nicholas dan Nora.
Mereka berdua berjalan mendekati Leathina di ikuti oleh Anne dibelakangnya. Terlihat Leathina sedang tertidur dengan pulas di atas tempat tidurnya dan seluruh tubuhnya di tutupi oleh selimut.
“Kakak Leathina benar tertidur.” Gumam Nora saat melihat Leathina tertidur pulas.
“Dia baik-baik saja, ayo kita kembali Nora. Jangan sampai kita membuatnya terbangun.” Ajak Nicholas setelah lega melihat Leathina baik-baik saja.
“Kakak sepertinya kepanasan lihat dia berkeringat.” Nora menunjuk pada wajah Leathina yang berkeringat.
“Tunggu dulu kak.” Ucap Nora lagi kemudian mengeluarkan sapu tangannya dari saku celananya dan melap keringat Leathina.
“Sudah selesai?” Tanya Nicholas pada Nora dan dibalas dengan anggukan.
“Kalau begitu kita harus segera kembali.”
Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan Leathina setelah merasa lega karena telah memeriksa keadaan Leathina dan setelah itu Anne segera menguncinya kembali dari luar dengan kunci cadangan yang ia pegang.
Leathina membuka satu matanya untuk mengintip apakah Nicholas dan Nora telah benar-benar pergi dari kamarnya.
Dilihatnya pintu kamarnya telah terkunci kembali dan tidak melihat siapa-siapa di dalam ruangannya.
“Huff”
Leathina bernafas lega. Kemudian segera keluar dari dalam selimutnya dan melepaskan jubahnya dan pedangnya yang masih menggantung di pinggangnya. Leathina menyimpan kembali pedangnya dan melipat jubahnya kembali kemudian memasukkannya kembali ke dalam lemari.
“Oh, Astaga aku hampir ketahuan meniggalkan kamarku diam-diam. Aku sebaiknya harus meminta kunci cadangan kamarku yang ada pada Anne.” Gumam Leathina sambil merebahkan dirinya kembali.
...
Keesokan harinya Anne dengan ketakutan melaporkan kejadian semalam pada Leathina. Bahwa dia membiarkan Nicholas dan Nora masuk ke kamarnya dengan kunci cadangan yang ia miliki.
“Anne, Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin di ganggu.” Ucap Leathina berpura-pura tidak mengetahuinya.
“Maafkan saya Nona, tapi tuan muda terus memaksa karena khawatir pada Nona yang tidak pernah keluar dari kamar nona semenjak siang bahkan melewatkan waktu makan malam.”
“Baiklah kali ini akan aku maafkan, sekarang serahkan kunci cadangan yang kamu pegang.”
“Tapi, Nona bagaimana jika nanti ada keadaan yang tidak diinginkan dan Nona Leathina terkunci di dalam.”
“Itu tidak akan terjadi, berikan padaku sekarang.”
“Apa mungkin Nona tidak mempercayaiku lagi?” Tanya Anne pada Leathina.
“Bukan begitu, hanya saja aku tidak suka diganggu kau tentu tidak akan bisa menolah perintah Nicholas dan Nora. Jadi, berikan padaku sekarang kunci cadangannya, aku yang akan menyimpannya.”
“Baiklah Nona Leathina.”
Dengan berat hati akhirnya Anne menyerahkan kunci cadangan yang ia pegang pada Leathina.
“Sekarang kembalilah, kau tidak perlu berada di sisiku sepanjang hari. Aku hanya ingin membaca.”
“Nona Leathina, Duchess Nice bertanya apakah Nona punya waktu hari ini Duchess ingin datang berkunjung.”
“Duchess Nice? Untuk apa?”
“Sepertinya ingin mendiskusikan pesta penyambutan yang akan di laksanakan nanti.”
“Aku sibuk, katakan saja padanya bahwa aku akan menyukai apapun tema pesta yang akan Duchess Nice gunakan.”
“Tapi Nona perayaan nanti bukan hanya pesta penyambutan saja tapi juga menjadi perayaan ulang tahun nona Leathina yang ke dua puluh satu tahun.”
“Ulang tahunku?” Tanya Leathina lagi pada Anne.
“Ah, itu.. itu.. sebenarnya karena Nona tidak suka merayakan ulang tahun nona dan sebelumnya memang tidak pernah di gelar tuan dan madam memutuskan untuk menggantinya sebagai perayaan penyambutan saja.” Anne menjelaskan dengan gugup karena takut Leathina memarahinya.
“Baiklah aku paham, katakan saja pada duchess seperti yang tadi aku katakan.” Ucap Leathina kemudian meraih sebuah buku yang ada di ats meja dan membacanya.
“Baiklah Nona Leathina.”
Anne kemudian keluar dari ruangan Leathina hendak memberitahukan duchess nice apa yang di katakan Leathina.
“Jadi perayaan ulang tahun ku yang ke dua pulu satu tahun ya?” gumam Leathina setelah Anne pergi dan meletakkan kembali buku yang ia ambil di atas meja.
“*A*ku harus memikirkan sesuatu yang bisa membongkar sifat asli Yasmine sebelum membodohi banyak orang, dan sepertinya Yasmine lah yang patut aku curigai sebagai orang yang sangat menginginkan kematianku.”
Leathina beranjak dari tempat duduknya berpindah tempat ke meja miliknya mengeluarkan kertas kosong dan pena.
“ Baiklah, aku harus melakukan penyelidikan ku sendiri.” Leathina kemudian mulai menyusun rencananya dan menandai orang-orang yang mungkin terkait dengan dirinya.
Leathina membuat daftar nama-nama orang yang ia curigai, dan melingkari nama Yasmine, kemudian nama grand duke Alcott dan beberapa nama lagi yang sempat ia dengarkan saat berada di rumah judi.
“Apa orang ini harus aku masukkan dalam daftar orang-orang yang akan aku selidiki?” Tanya Leathina pada dirinya sendiri sambil melihat daftar nama yang ia tuliskan sebelumnya.
“Mereka tentu saja bisa menjadi tersangka dilihat bagaimana mereka sangat tidak menyukaiku menjadi calon putri mahkota.”
Dan pada akhirnya Leathina melingkari nama Pangeran Yardley dan ratu Juliette.
“Sepertinya aku akan punya banyak pekerjaan, tapi sebaiknya aku melakukannya pelan-pelan agar pergerakan ku tidak dicurigai.”
“Dan untuk sekarang mari kita selidiki si tersangka utama kita.” Gumam Leathina lagi sambil menyilangi nama Yasmine dengan penanya.
“Tok.. tok.. tok..”
“Permisi Nona Leathina.”
Tiba-tiba Leathina dikagetkan dengan suara ketukan dari pintu kamarnya di susul suara Anne yang memanggilnya. Cepat-cepat Leathina melipat kertas yang tadi ditulisnya dan menyimpannya di bawah tumpukan buku yang ada di mejanya dan mengambil buku secara acak berpura-pura sedang membaca.
“Ada apa Anne?” Teriak Leathina dari dalam ruangannya berusaha mencegah Anne masuk sebelum posisinya dia rapikan.
“Duchess Nice, datang ingin menemui anda.”
“Untuk apa lagi Duchess Nice menemui ku? Aku tidak harus berlari ke pintu dan menyambutnya kan baiklah aku akan bertindak seperti biasanya.”
“Masuklah!” Teriak Leathina lagi memerintah Anne.
...***...