
Karena merasa tidak bisa melakukannya apa - apa Leathina kemudian mengelilingi kamarnya sendiri dan sudah hampir tujuh kali dia berkeliling karena bosan dan tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya Leathina menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya kembali dan melihat – lihat seluruh isi kamarnya sendiri.
Ia melihat langit – langit ruangan kamarnya dan mengangkat kedua tangannya sendiri berusaha ingin menggapai sesuatu yang tidak ada di hadapannya dan kemudian Leathina malah fokus untuk melihat kedua tangannya sendiri.
“Kulit telapak tanganku ternyata setebal ini akibat terlalu sering memegang gagang pedang.” Leathina bergumam sambil terus mengamati tangannya sendiri.
Saat tangan Leathina dilihat dengan teliti ternyata banyak bekas – bekas luka memenuhi kedua tangannya.
“Wah, hebat sekali aku bahkan hampir tidak menyadari bahwa ada banyak luka di sini, mungkin karena kulit Leathina terlalu putih jadi aku tidak menyadarinya, ini di sini juga ada sedikit bekas luka.”
Karena penasaran akhirnya Leathina malah sibuk dengan meneliti setiap inci kulit ditangannya itu.
“Nona?” Anne yang memasuki ruangan Leathina seketika tertegun di tempatnya karena melihat Leathina kembali bertingkah aneh.
“Oh Anne kamu sudah datang?”
“Apa yang sedang nona lakukan kenapa mengangkat pakaian Nona sendiri, apa pakaiannya yang saya pilih tidak nyaman?”
“Anne!”
“Iya Nona?”
“Sudah saya putuskan.”
“Apa yang sudah Nona putuskan.” Leathina bangkit dari kasurnya dan berdiri dengan penuh semangat.
“Ayo latihan hari ini!”
“Latihan? Latihan berpedang maksudnya Nona Leathina?”
“Iya Latihan, aku harus mengingat ini untuk melindungi diriku di masa depan.”
“Ba.. baiklah kalau begitu aku akan mempersiapkan terlebih dahulu.”
“Iya pastikan tempat Latihan kosong dan tidak ada orang.”
Anne yang bingung karena Leathina tiba – tiba begitu bersemangat segera mempersiapkan seluruh alat – alat yang dibutuhkan untuk memulai latihan yang akan dilakukan Leathina. Setelah itu barulah Anne kembali dan memberitahu bahwa semua persiapan sudah selesai.
“Pedangku.”
Setelah sampai di tempat Leathina Leathina segera meminta pedangnya yang di bawakan oleh Anne sementara Anne segera memberikannya pada Leathina. Di tempat Latihan tersebut hanya ada mereka berdua dan beberapa orang – orangan yang terbuat dari kayu dan jerami yang biasanya digunakan sebagai alat latihan.
“Anne tidak usah menemaniku, pergilah kemana yang kamu mau untuk sekarang kamu aku bebas tugaskan sampai aku selesai latihan.”
“Tapi Nona, aku harus mengawasimu jangan sampai terjadi sesuatu padamu.”
“Tidak akan ada yang terjadi padaku, pergilah dan biarkan aku berlatih sendiri.”
“Ka.. kalau begitu baiklah aku akan datang nanti dengan membawa minuman untuk Nona.” Anne ragu – ragu meninggalkan Leathina sendiri karena Khawatir tapi ia tetap pergi karena Leathina memaksanya.
“Pergilah dan jangan mengintipku.”
Setelah Anne pergi meninggalkannya Leathina segera menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah tidak ada siapa – siapa lagi yang berada di area tersebut, dan setelah merasa aman barulah Leathina merasa lega dan bebas melakukan apapun yang ia mau.
“Trekk.”
“Srekk.”
“Srekk.”
Leathina segera menjatuhkan ujung pedang yang dipeganggnya sampai menyentuh tanah kemudian menyeretnya menuju orang – orangan yang terbuat dari kayu dan mulai menyerangnya tanpa pola.
“Tekk.”
“Oh aku menjatuhkan pedangku.” Saat akan mengayunkan kembali Leathina tidak sengaja menjatuhkan pedangnya dan terjatuh di tanah.
“Wah langitnya biru sekali.”
Saat menunduk ingin mengambil kembali pedangnya Leathina malah mengurungkan niatnya dan ikut menjatuhkan dirinya di tanah dan berbaring di samping pedangnya.
“Ada orang?” Saat Leathina masih beristirahat tiba – tiba Leathina merasakan ada seseorang yang berada dekat dengannya.
“Anne?”
“Mungkin hanya perasaanku saja.”
Leathina memanggil Anne karena menduga Anne lah yang datang tapi saat melihat di sekelilingnya Leathina tidak melihat siapa – siapa dan kembali berbaring.
Belum lama Leathina kembali berbaring di tempatnya tiba - tiba saja beberapa potongan kayu melesat cepat ke arahnya sementara Leathina refleks berguling menghindari serangan mendadak tersebut dan segera mengambil pedangnya kemudian melompat untuk memotong kayu – kayu yang sedang mengincarnya itu.
“Wah refleks tubuh ini memang benar – benar hebat, efek tubuh terlatih memang yang terbaik.” Leathina malah terkagum – kagum sendiri melihat dirinya yang bisa menghindari serangan tersebut.
“Keluar sekarang, pengecut!” setelah selesai mengagumi kemampuannya sendiri Leathina berteriak sambil melihat sekelilingnya untuk mencari tahu siapa yang menyerangya secara sembunyi – sembunyi menggunakan sihir.
“Ah, maafkan aku, aku pikir aku sudah menganggu waktu istirahat Anda Nona.”
“Oh Zeyden ternyata kamu, kamu akan membunuh orang jika menyerang secara mendadak seperti itu.”
Saat melihat seorang laki – laki berjalan ke arahnya dan mengenali orang tersebut Leathina dengan malas berbicara padanya dan kembali melanjutkan istirahatnya dan berbaring di sembarang tempat.
Astaga, aku pikir aku akan benar – benar mati tadi saat serangan mendadak itu, untuk saja tubuh ini telah terlatih. Tapi, apa pria ini sudah gila menyerang secara mendadak seperti itu.
“Kamu tidak akan mati dengan mudah, bukan?” Zeyden datang mendekati Leathina yang sedang berbaring kemudian membungkuk melihat wajah Leathina dan menghalangi sinar matahari mengenai wajah Leathina.
“Apa yang membuatu datang ke sini?” Leathina yag merasa terganggu segera membuka matanya saat wajahnya tidak lagi merasakan sengatan matahari.
“Apakah Nona Leatina lupa bahwa aku dan Andy akan memantau kondisi Nona dalam beberapa hari, aku dengar nona sedang latihan jadi aku datang ke sini menemuimu.”
“Dasar Penipu!” Leathina dengan ketus menjawab perkataan Zeyden.
“Apa maksud Nona?”
“Kondisi tubuhku baik – baik saja, kamu hanya ingin mengawasiku bukan.”
“Sesuai rumor, kamu memang wanita cerdas Nona Leathina.” Zeyden tertawa saat Leathina tanpa basa – basi mengungkapkan tujuannnya datang ke kediaman Yarnell.
“Kenapa? Kamu mau mengumpulkan informasi dan membuat rumor baru mengenai diriku, Zeyden.”
“Tidak aku hanya sedikit bingung saja, ada beberapa hal yang berubah denganmu dan itu membuatku sedikit penasaran.”
“Jangan mencampuri hidup orang lain, apa kamu akan terus datang untuk melihatku?”
“Itu mungkin saja sampai rasa penasaranku hilang.” Saat berbicara Zeyden ikut duduk di samping Leathina kemudian merapalkan mantra dan sebuah awan kemudian terbentuk dari campuran sihir air, api dan angin miliknya membuat mereka berdua terhalang dari sinar matahari.
“Bagaimana jika sekarang aku menjawab semua pertanyaan yang membuatmu penasaran tapi sebagai balasannya jangan mengunjungiku lagi.”
“Ide yang bagus, tapi beberapa hal yang membuatku penasaran mungkin tidak akan bisa dijawab dengan perkataan.”
“Jadi kamu menolak, terserah kamu saja tapi mulai dari sekarang kamu hanya bisa mengamatiku dari jauh dan jaga jarak denganku.”
“Tapi aku harus memeriksa kondisi tubuhmu bukan? Tentu aku harus berada dengan jarak dekat denganmu.”
Mendengar ucapan Zeyden, Leathina tersenyum kemudian segera beranjak berdiri mendekatkan wajahnya pada wajah Zeyden yang masih duduk kemudian mengamati wajahnya. setelah puas Leathina segera berdiri tegak dan berjalan meninggalkan Zeyden.
“Kamu tampan, tapi tetap saja masih bodoh seperti saat di akademi dulu.”
......***......