
“Rasanya aku akrab dengan pusaran angin ini.” Gumam Leathina menunggu pusaran angin itu berhenti.
“Leathina!” seru Aelfric yang tiba-tiba datang entah dari mana.
“Apa kau Aelfric?” Tanya Leathina ragu-ragu.
Aelfric mengangguk, “Iya benar ini aku.” Aelfric mendekatkan wajahnya agar Leathina bisa melihatnya dengan jelas.
“Wah! Kau benar-benar Aelfric? Kau tumbuh lebih tinggi dan tumbuh menjadi lebih tampan ya.” Puji Leathina senang karena sudah lama tidak melihat Aelfric. “Tapi apa yang kau lakukan disini?”
“Kenapa kau bertanya? Tentu saja aku datang untuk melihatmu, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Aku bisa menyembuhkan mu.”
“Aku baik-baik saja Aelfric, dan tidak ada yang terluka. Duduklah bersamaku dan kita minum teh bersama.”
Aelfric dengan senang hati duduk dan patuh ia benar-benar senang melihat Leathina baik-baik saja.
“Leathina apa yang terjadi pada naga itu?” tanya Aelfric.
“Aku tidak tahu, aku hanya berhasil kabur darinya.”
“Benarkah? Tidak mudah untuk lari dari tempat tinggalnya karena tempat tinggalnya itu sejenis dengan hutan para elf banyak ilusi dan monster disana, kau sungguh beruntung bisa keluar hidup-hidup.”
“Kau tahu?!” Leathina agak terkejut, “Bagaimana kau tahu bahwa disana itu sangat berbahaya? Kau pernah ke sana?” tanyanya penasaran.
“Tentu saja tidak pernah, tapi para elf dan makhluk seperti naga itu sudah ada dari lama dan memiliki umur yang panjang jadi kadang-kadang mereka sudah saling tahu dari dulu karena ras mereka yang abadi para leluhur ku juga dulu sering bercerita mengatakan bahwa betapa bar-barnya ras naga.”
Leathina tidak terlalu paham tapi juga tidak ingin tahu lebih banyak karena sudah tidak ingin kesana untuk yang kedua kalinya.
“Aelfric, bagaimana kamu bisa masuk? Bukankah tidak ada orang yang diizinkan bertamu ke sini.”
“Tentu saja aku menerobos, kau harus tahu aku tinggal di kastil pangeran Edward dan dia ternyata seorang tiran.”
“Uhuk-Uuhuk! Leathina terkejut mendengar kalimat Aelfric barusan.
‘Apa Aelfric tahu bahwa Edward adalah seorang pembunuh bayaran?’
“Kau tidak apa-apa Leathina?” Aelfric panik segera menepuk pundak Leathina yang terbatuk-batuk.
“Ah! Aku tidak apa-apa Aelfric tapi kenapa kamu bilang pangeran Edward itu seorang tiran?”
“Dia itu pangeran gila Leathina, setiap hari memaksaku untuk minum teh bersamanya dan dilain waktu memaksaku untuk ikut ke rumah malam untuk menemaninya bermain di sana dan yang lebih parahnya lagi dia akan langsung membawaku kemana-mana jika dia tau aku akan menemanimu untungnya tadi dia sedang rapat jadi tidak sempat menggangguku, dia itu aneh.”
“Ah! Jadi seperti itu.” Leathina akhirnya mengerti apa maksud Aelfric. “Iya benar dia benar-benar aneh.”
“Aelfric kau sudah lama disini kapan kau kembali ke hutan?” Tanya Leathina lalu membuat Aelfric merinding. “Ada apa? Apa kau kedinginan?”
“Tidak, sebenarnya aku kabur lagi dari hutan, Delfa dan Aelfar pasti akan menghukum ku jika kembali sekarang jadi sebelum kembali aku ingin melakukan banyak hal disini.”
“Jadi begitu ya.”
‘Nora? Cepat sekali dia kembali dari akademi nya?’
“Ada apa dengan anak itu? Baru kali ini aku melihatnya semurung itu, dan apa aku tadi salah lihat ya? Wajahnya sepertinya habis menangis.”
“Ada apa Leathina?” tanya Aelfric membuyarkan lamunannya.
“Tidak ada, kau minum lah teh nya nanti dingin kalau dingin rasanya akan sepat.”
Mereka berdua menghabiskan waktu di taman bersama hingga matahari tenggelam, seperti biasa Aelfric memohon agar bisa tinggal di kediaman Duke Lonard Yarnell tapi ditolak oleh Leathina karena segan dengan kerajaan, sebab ia pasti tercatat sebagai tamu kerajaan jika dibiarkan Leathina takut jika nanti ada kabar miring tentang dirinya dan ayahnya lagi lalu dengan sedih Aelfric terpaksa pulang ke kastil Pangeran Edward.
Setelah Aelfric pulang Leathina yang penasaran kenapa adiknya Nora yang periang terlihat murung namun saat di tengah jalan Nicholas yang baru kembali dari menjalankan tugas malah memanggilnya.
“Kakak Lea mau kemana?” Tanya senang sebab orang yang pertama kali ia lihat saat kembali adalah kakaknya Leathina.
“Aku mau kembali ke kamarku.”
“Katanya kakak Lea bermain di taman sampai sore, kakak minum the dengan siapa disana sampai selama itu?”
“Tadi Aelfric datang mengunjungi ku, kami minum teh bersama di taman, kenapa?”
Raut wajah Nicholas mejadi masam setelah mendengar nama Aelfric disebutkan ia tidak suka kakak perempuannya berteman dengan banyak Lelaki aneh.
“Tidak apa-apa, kalau begitu aku akan kembali ke kamarku untuk membersihkan diri, sampai jumpa lagi nanti.”
“Iya hati-hati.”
Hari sudah sangat larut Leathina tidak ingin mengganggu waktu istirahat Nora jadi ia memilih kembali ke kamarnya, namun bukannya beristirahat Leathina malah berganti pakaian menjadi pakaian pria lalu mengenakan jubahnya dan tanpa diketahui prang-orang mansion Leathina berhasil menyelinap keluar.
Leathina berkeliaran kesana kemari di luar mengunjungi berbagai macam toko dan peralatan lalu dengan bergaya pria ia mengangkut barang-barangnya yang sengaja di simpan di dalam karung dan membawanya pergi.
Firasat Leathina jarang salah saat berjalan di keramaian ia merasakan seseorang mengikutinya kemudian dengan sengaja Leathina masuk ke sebuah toko dan seseorang juga ikut masuk tidak lama setelahnya Leathina yang tidak pasti bahwa orang itu mengikutinya lalu keluar dan masuk lagi ke toko lainnya sampai beberapa kali dan sekarang dia sudah sangat yakin bahwa pria tinggi bertopi yang selalu ikut dengan nya kemanapun Leathina singgahi itu adalah penguntit.
Dengan langkah cepat Leathina keluar dari toko berbaur dengan pejalan kaki lalu dengan cepat menunduk dan mengendap-endap masuk ke sebuah kedai dan duduk di dekat jendela untuk memperhatikan pria bertopi tadi.
Benar saja terlihat pria besar bertopi itu kebingungan saat targetnya tiba-tiba menghilang sementara Leathina hanya menonton nya dari balik jendela kedai tentu saja tetap waspada dan berhati-hati dengan sekitarnya.
Setelah hampir satu jam menunggu dan Leathina tidak lagi melihat pria besar bertopi yang mengikutinya tadi barulah Leathina keluar dari kedai dan dengan terburu-buru segera pergi dari sana.
Leathina masuk ke jalan-jalan kecil kemudian kembali ke jalan besar menuju semua mansion di pinggir perkotaan di sana terlihat lampu-lamu mansion yang mulai padam.
“Ha? Apa aku datang terlalu larut ya?” gumamnya lalu memutuskan untuk tetap ke mansion itu.
“Ternyata kamu diam-diam selalu kesini ya.” Ucap seseorang tepat di samping Leathina.
Leathina lalu spontan melompat mundur dan mengeluarkan belati yang ada di pinggangnya.
“Siapa disana?! Teriak Leathina karena tidak dapat melihat dengan baik karena dalam keadaan gelap.
Sayangnya tidak ada jawaban dari yang ditanya.
...***...