I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 113



Perasaan apa ini? aku tidak bisa melakukan kehendakku sendiri. Semuanya terlihat gelap. Dimana aku?


“Hallo Isabella?”


“Leathina!”


...


“Astaga!” Leathina terperanjat dari tidurnya dan langsung terduduk wajahnya dipenuhi keringat dan nafasnya memburu Leathina merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


“Oh, Ya ampun Nona Leathina pasti telah bermimpi buruk.” Anne segera memberikan segelas air putih pada Leathina untuk menenangkannya.


“Hanya mimpi ternyata.” Gumam Leathina pelan dan mengembalikan pada Anne sebuah gelas kosong yang sudah ia minum isinya.


“Sejak kapan aku tertidur?”


“Nona tertidur sejak Duke Leonard mengunjungi anda, dan buru bangun kembali pagi ini.”


“Aku tertidur selama itu?”


“Iya Nona, kalau begitu aku akan segera menyediakan air mandi untuk Nona Leathina.


Anne kemudian segera keluar dan melakukan pekerjaannya melayani Leathina. Sementara Leathina kembali berbaring mencoba menenangkan perasaanya yang sedang kacau.


...


Leathina berdiri di depan jendela kamarnya melihat keluar tapi walaupun ia seperti sedang menikmati pemandangan luar pikirannya melayang memikirkan kejadian yang ia alami pagi ini.


“Apa itu mimpi?” Gumam Leathina dan mencoba mengingat kembali mimpi yang ia lihat tadi pagi.


“Perasaan apa ini? aku tidak bisa melakukan kehendakku sendiri. Semuanya terlihat gelap. Dimana aku?” Saat melihat sekelilingnya ia hanya melihat ruangan tak berujung dan segala sisinya gelap bagai dikurung dalam kotak hitam raksasa.


“Hallo Isabella!” Sapa seorang perempuan kemudian ia mencoba memperhatikan orang yang menyapanya itu  lebih detail lagi dilihatnya perempuan yang sedang berdiri di depannya itu memiliki ciri-ciri yang sama dengannya memiliki rambut merah dan bermata biru.


“Leathina?!” ia kemudian melihat sebuah kaca besar yang entah dari mana asalnya dan melihat pantulan dirinya sendiri kini telah berubah ia sekarang memilki rambut berwarna hitam pekat dengan bola mata yang juga berwarna hitam, ia kembali melihat sosok perempuan yang masih berdiri di depannya kemudian menjerit menyebutkan namanya.


...


Leathina yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya tanpa sadar menggigit ujung jari jempolnya karena merasa khawatir dan pikirannya masih terus memikirkan kejadian yang ia alami.


“Apa aku kembali ke wujudku yang asli?”


“Dan aku melihat Leathina yang asli, aku melihat ekspresinya tapi aku lupa apa dia sedang tersenyum atau menyeringai ke arahku, aku tidak bisa memastikannya karena terlalu gelap di sana.”


“Apa Leathina yang asli akan mengambil kembali tubuhnya dan aku sebentar lagi akan menghilang?”


“Aku sempat merasakannya Leathina kembali saat Duke Leonard memelukku, aku melihat semua kejadian tapi aku tidak bisa bergerak atau berbicara seakan-akan aku terkurung dalam tubuh ini.”


“Jika dia kembali maka jiwaku akan terkurung dan pelan-pelan menghilang karena tidak memiliki tubuh untuk kembali.”


“Dan disaat itu aku pasti akan benar-benar mati.”


Leathina bingung dengan apa yang sedang ia alami Leathina kemudian mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya. Semakin Leathina memikirkan yang terburuk membuatnya semakin terlihat depresi di saat yang sama.


Sedangkan diluar kamar Leathina, Nora dan Nicholas melakukan rutinitas hariannya ia datang untuk mengunjungi kakaknya Leathina.


“Tok.. Tok.. Tok..”


Nora mengetuk pintu kamar Leathina dari luar karena melihat pintunya tertutup tidak berani masuk karena sebelumnya Leathina memperingati bahwa mereka tidak boleh seenaknya memasuki kamar seorang perempuan dan  harus ada izin Leathina dulu agar mereka bisa masuk ke dalam.


“Tidak ada jawaban.” Nora memberitahukan Nicholas kemudian menempelkan kupingnya di pintu mencoba mendengar suara yang ada di dalam.


“Tidak terdengar apa-apa.” Nora kemudian tidak lagi menguping dan mundur kembali berdiri tepat di sebelah Nicholas.


“Mungkin dia sedang tertidur beberapa hari ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, ayo kembali kita bisa datang lagi besok.”


“Sebentar saja, aku ingin melihatnya sebentar saja. Tidak apa-apakan jika kita hanya mengintip.”  Nora memohon pada Nicholas agar dibiarkan mengintip sebentar untuk melihat keadaan Leathina.


“Ah, baiklah tapi jangan mengganggunya dan lihat sebentar saja.”


Nora tersenyum sumringah senang karena Nicholas mengizinkannya untuk mengintip.


“Sudah kau lihat? Apa dia tertidur?” Tanya Nicholas pada Nora dengan berbisik saat melihat Nora telah mengintip dengan setengah kepalanya memasuki ruangan.


“Dia tidak tidur.” Gumam Nora pelan membuat Nicholas penasaran dan ikut mengintip ke dalam.


“Jadi apa yang dia lakukan sehingga tidak mendengar pintunya diketuk.”


Mereka berdua melihat Leathina yang sedang berdiri dan menghayal di depan jendela sambil menggigit-gigit ujung jarinya. Wajah Leathina terlihat cukup serius dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang penting hingga membuatnya tidak menyadari bahwa kini Nora dan Nicholas sedang mengintipnya.


“Kakak Nicholas apa kita mengganggunya jika menegurnya?”


“Iya sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, ayo kita kembali saja sebelum dia menyadari keberadaan kita.


“Tadi aku mendengarnya bergumam dan sepertinya ada orang yang ingin membunuhnya.”


“Mungkin kau salah dengar Leathina cukup kuat jadi dia bisa melindungi dirinya sendiri, kita juga bisa diam-diam membantunya atau kita laporkan pada ayah, ayo kita harus segera kembali.”


“Tapi ini sudah ke dua kalinya aku mendengarnya berbicara seperti itu dan kau tahu dia sudah pernah diburu sebelumnya bahkan telah meminum racun, ini berbahaya.” Nora memberitahu Nicholas mengenai kejadian-kejadian yang pernah menimpa Leathina.


“Maka kita hanya harus menjaganya diam-diam.” Jawab Nicholas singkat.


Mata Nicholas membulat karena terkejut  ketika melihat tangan Leathina sudah memerah dan sedikit lagi akan terluka karena Leathina terus menggigitnya dan tanpa sadar Nicholas telah melangkah memasuki kamar dan menghampiri Leathina.


“Apa yang kau lakukan? Kau akan berdarah jika terus menggigitnya seperti itu.” Nicholas menarik tangan Leathina dan menggenggamnya erat ketika Leathina secara spontan akan terjatuh kebelakang karena terkejut.


“Woahh! Astaga Nicholas! Kau mengejutkan aku! Sudah aku peringatkan jangan masuk ke ruangan ku tanpa izin dariku terlebih dahulu.” Ucap Leathina dengan berdecak kesal karena Nicholas mengejutkannya dan hampir membuatnya terjatuh.


“Kakak Leathina apa kau baik-baik saja?” Nora memegang ujung baju Leathina dan menariknya pelan agar Leathina melihatnya.


“Oh Nora, kau juga datang?” Dilihatnya adik bungsunya itu menatapnya dengan khawatir.


“Apa tanganmu tidak apa-apa?” Nicholas melihat dengan teliti tangan Leathina yang masih dipegangnya.


“Aku tidak apa-apa.” cepat-cepat Leathina menarik tangannya yang masih di genggam oleh Nicholas kemudian berjalan dan duduk di kursi.


“Apa yang membawa kalian berdua ke sini?” Tanya Leathina mencoba memulai percakapan karena Nicholas dan Nora masih melihatnya dengan tatapan khawatir.


“Aku hanya kebetulan lewat dan penasaran kenapa kau sangat diam di kamarmu.” Nicholas berbicara sambil mengambil tempat duduk tepat di depan Leathina.


“Aku datang karena ingin melihatmu kakak Leathina.” Jawab Nora yang juga mengambil tempat duduk di damping Leathina.


“Kalian berdua sangat menyukaiku ya aku jadi khawatir dengan kalian jika aku benar-benar akan hilang nanti hahah.” Leathina melontarkan candaan tapi tidak berhasil membuat Nora dan Nicholas tertawa.


“Eh, tidak lucu yah?” Leathina menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa canggung dengan dua orang yang kini sedang menatapnya dengan serius.


“Sebenarnya apa yang membuatmu khaw....”


“Maaf Nona Leathina.”


“Ada apa Anne? Kau terlihat terburu-buru.” Tanya Leathina saat melihat pelayannya memasuki kamarnya.


“Nona Tuan Duke Leonard memanggil anda.”


“Aku? Ada apa? Bukankah kemarin aku sudah bertemu dengannya.”


“Saya juga tidak tahu Nona, saya hanya di perintahkan untuk memberi tahu anda agar datang keruangan kerjanya.”


“Baiklah aku akan pergi, kalian berdua kembalilah ke tempat kalian.”


Leathina meninggalkan Nora dan Nicholas yang masih berada di kamarnya kemudian menyusuri koridor menuju ruangan kerja Duke Leonard dimana ayahnya itu telah menunggu kedatangannya.


Leathina menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskanya pelan-pelan saay berdiri di depan ruangan kerja Duke Leonard menunggu penjaga yang tadi masuk ke dalam untuk memberitahukan kedatangannya pada Duke Leonard.


“Astaga bagaimana aku akan bertemu dengannya setelah kemarin aku menangis seperti anak kecil di depannya, aku sangat malu. Tapi yang lebih penting aku harus memanggilnya apa? Ayah atau tetap duke Leonard duh Leathina kau membuatnya semakin runyam saja kenapa kemarin kau tiba-tiba muncul.”


“Nona Duke telah menunggu anda di dalam ruangannya.” Seorang prajurit yang baru saja keluar dari ruangan Duke Leonard memberitahu Leathina agar segera masuk kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya berjaga di depan pintu.


“Leathina duduklah.” Sambut Duke Leonard ketika melihat Leathina memasuki ruangannya.


Ia kemudian meninggalkan meja kerjanya dan duduk pada kursi yang ada di tengah ruangan.


“Ada apa anda memanggilku?” Tanya Leathina dan sebisa mungkin menghindari mata Duke Leonard.


“Leathina ibumu ingin mengadakan pesta perjamuan atas kedatanganmu, apa kau setuju?”


“Ibuku?” Otak Leathina sulit mencernah perkataan Duke Leonard kemudian terdiam sebentar.


“Ibuku? Oh Astaga aku lupa past yang ia maksud adalah Duchess Nice, ibu tiri Leathina.”


“Iya, Nice ingin mengadakan pesta untuk menyambut kepulanganmu sekaligus untuk memberitahu semua orang bahwa kamu telah kembali dengan selamat.”


“Aku sebenarnya tidak terlalu mementingkan hal-hal seperti itu tapi aku juga tidak keberatan tapi juju saja aku tidak suka repot menulis undangan dan mengirimkannya pada orang-orang.”


“Kau tidak usah memikirkan itu Nice yang akan mengurus semuanya apa ada seseorang yang ingin kau undang di acara penyambutanmu.”


“Umm Orang yang ingin aku undang” Leathina kembali berfikir dan tiba-tiba ia teringat teman-temannya yang berada di kota perbatasan.


“Kalu boleh aku ingin mengundang beberapa orang tapi mereka bukan dari kalangan bangsawa melainkan hanya orang biasa, apa boleh?” Tanya Leathina ragu-ragu pada Duke Leonard.


“Tentu saja boleh, tuliskan nama orang-orang yang ingin kau undang dan berikan pada Ibumu biarkan dia yang mengurus sisanya.”


“Wah terimakasih, kalau begutu aku akan kembali ke kamarku dan mulai menuliskan nama-nama orang yang ingin aku undang.”


“Baiklah.”


Leathina segera keluar meninggalkan ruangan Duke Leonard dan kembali ke kamarnya dan mulai menuliskan list nama-nama orang yang akan ia undang.


“Kira-kira siapa yang akan aku undang? Oh aku tahu tentu saja aku akan mengundang Adam, Troy, Nina, dan... sepertinya aku harus mengundang semua orang yang ada di markas dan anak-anak dari panti asuhan. Baiklah segini saja.”


“Teng.. teng.. teng...”


Leathina membunyikan lonceng untuk memanggil Anne yang sedang tidak bersamanya dan beberapa saat kemudian datanglah Anne dengan terburu-buru memasuki kamar Leathina.


“Maaf saya terlambat Nona, Apa Nona Leathina membutuhkan sesuatu?” Tanya Anne pada Leathina sesaat setelah memasuki ruangan.


“Terimakasih sudah datang Anne, aku ingin meminta tolong padamu tolong antarkan ini pada Duchess Nice katakan bawa ini adalah daftar nama-nama orang yang ingin aku undang, mereka semua orang biasa jadi katakan pada Duchess agar tidak membedakannya dengan undangan para bangsawan.”


“Baiklah Nona, akan segera saya antarkan.”


Anne menerima kertas yang berisikan daftar nama orang yang akan Leathina undang dan segera pergi untuk mengantarkannya pada Duchess Nice yang bertanggung jawab pada pesta yang akan mereka adakan.


“Aku tidak sabar ingin bertemu dengan mereka, di pesta itu aku akan bertemu dengan Toni apa anak itu telah bertemu dengan Denisa?”


“Nona Leathina, daftar nama-nama yang ingin anda undang dan pesan anda sudah saya sampaikan pada madam Duchess.”


Anne telah kembali dan melaporkan kembali pada Leathina bahwa ia telah menyelesaikan pekerjaannya.


“Oh terimakasih Anne.”


“Apa nona membutuhkan sesuatu?” Tanya Anne pada Leathina saat melihat Leathina kembali termenung.


“Aku tidak membutuhkan sesuatu. Anne kapan pestanya diadakan?”


“Dua minggu lagi Nona, Duchess mempersiapkannya dengan hati-hati jadi memakai waktu lama.”


“Jadi seperti itu, oh iya Anne untuk hari ini aku akan mengunci kamarku aku ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu, kau tidak usah datang melihatku dan beristirahatlah di ruangan mu.”


“Baik Nona.”


“Jika ada orang yang mencari ku katakan bahwa kau sedang tidur dan ingat jangan datang mencari ku aku tidak suka diganggu, baiklah sanpai nanti.”


“Clek”


Leathina berbicara sambil mendorong Anne sampai ke depan pintu kamanya kemudian langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam karena tidak ingin ada orang yang mengganggunya.


“Sepertinya akan terlalu lama jika aku menunggu bertemu dengan Toni di pesta. Aku memang arus datang sendiri untuk mengunjungi anak itu.”


Leathina menumpuk beberapa bantal di kasurnya kemudian menutupinya dengan selimut membuatnya sepeti orang yang sedang tertidur pulas dibalik selimut.


“Nah sempurna.” Gumam Lethina sambil tersenyum bangga melihat hasil usahanya membuat penyamaran seolah-olah dirinya lah yang sedang tertidur di balik selimut.


Leathina berjalan menuju Lemari pakaiannya dan mengambil jubah hitan kemudian segera mengenakannya hingga menutupi kepalanya ia juga sengaja menutupi separuh wajahnya dengan kain agar tidak dikenali oleh orang-orang.


“Sepertinya tidak ada pelayan yang berkeiaran di sekitar kamarku.” Gumam Leathin ketika menempelkan telinganya di pintu kamarnya dan kemudian melihat keluar jendelanya dan tidak melihat siap-siapa di sekitar kamarnya.


Setelah memastikan keadaan aman Leathina mengambil pedangnya yang digantung di dinding kamarnya, pelan-pelan membuka jendela kamarnya dan mulai memanjat turun ke bawah.


“Trakk.”


“Oh, astaga.” gumam Leathina pelan saat tidak sengaja mengijak ranting kering saat melompat turun. Cepat-cepat ia berlari menjauh dan bersembunyi di semak-semak.


“Kau mendengar sesuatu?” Tanya seorang penjaga pada temannya.


“Aku tidak mendengar apa-apa.”


“Benarkah?” Tanya temannya lagi tidak percaya.


“Cepatlah ini pergantian penjaga, aku ingin pulang dan beristirahat kalau kau ingin mengeceknya pergilah sendiri.”


“Hey tunggu aku! Aku juga akan pulang biar penjaga selanjutnya yang mengeceknya aku akan memeberitahunya untuk memeriksa di bagaian sana nanti.”


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan tempat jaganya karena waktu jaga mereka telah habis dan akan berganti dengan penjga yang akan bertugas selanjutnya.


...***...