I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 120



“Ada apa?” tanya Yasmine pada grand duke yang baru saja kembali dari memeriksa balkon setelah mendengar suara dari sana.


“Tidak ada apa-apa, hanya saja sepertinya tadi aku mendengar sesuatu mungkin hanya perasaanku saja.”


“Jadi apa rencananmu?” Tanya grand Duke setelah duduk kembali.


“Pada pesta yang akan dilakukan di kediaman Duke Yarnell, perintahkan putramu untuk mendekati Leathina ajak dia minum dan campur di minumannya obat tidur.”


“Jadi maksudmu...” grand duke Alcott tidak menyelesaikan ucapannya hanya menatap Yasmine tidak percaya ia sudah mengetahui ke arah mana rencana Yasmine.


“Iya yang kau pikirkan sekarang adalah rencanaku dan akan dilakukan oleh putramu.”


“Tapi, jika rencana ini gagal maka yang mendapat imbasnya adalah keluargaku.” Bantah grand Duke tidak setuju dengan apa yang Yasmine rencanakan.


“Maka dari itu, rencana ini tidak boleh gagal.”


“Tatap tetap saja.” Grand duke ragu-ragu untuk mengikuti rencana Yasmine.


“Kau takut? Terkadang perlu mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan h yang lebih besar, bukan. Tapi kalau tuan grand duke tidak mau aku akan segera mencari orang lain yang mau melakukannya dan tentu saja keuntungan yang aku janjikan juga sudah tidak berlaku lagi.”


“Baiklah, baiklah, akan aku lakukan. Tapi jika ada sesuatu yang terjadi kau harus membantuku.”


“Tenang saja grand duke.”


“Tapi Nona Yasmine, bagaimana kamu membuat ratu Julitte berada di pihakmu? Bukankah Ratu bukan orang yang ingin mengambil sembarang orang berada dipihaknya.”


“Apa maksudmu grand duke, tentu saja dengan pesonaku. Kau meragukan aku ya?”


“Aku masih selalu tidak percaya denganmu Nona Yasmine, benar-benar tidak bisa aku mempercaimu jika saja aku tidak mengenalmu mungkin juga aku akan terpesona denganmu."


...


Di kerajaan, kastil ratu Julitte. Yasmine menerima balasan suratnya dan segera datang menemui Ratu Julitte untuk meminta dukungannya.


“Silahkan ikuti saya Nona Yasmine.” Seorang pelayan menyambut kedatangan Yasmine dan menyuruhnya untuk mengikutinya.


“Tunggulah disini, ratu akan segera datang.” Si pelayan membawa Yasmine menuju taman istana dan memintanya menunggu di gazebo taman kerajaan.


“Salam Ratu Julitte, Ibu dari seluruh rakyat kerajaan.” Yasmine berdiri menyambut kedatangan Ratu Julitte dan membungkuk untuk memberi hormat.


“Bangunlah.”


“Terimakasi Ratu.”


“Aku telah membaca suratu Nona Yasmine, jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”


“Maafkan kelancangan saya Ratu, sejujurnya saya datang untuk meminta dukungan anda.”


“Oh, kamu punya nyali meminta dukungan dariku.”


“Sekali lagi, maafkan kelancangan saya.” Ucap Yasmine sopan sambil meletakkan tangannya di dadanya dan sedkit membungkuk.


“Kau punya nyali dan sedikit licik aku cukup menaruh perhatian padamu, katakan apa yang kau inginkan?”


“Saya ingin menjadi putri mahkota, jadi tolong dukung saya.” Ucap Yasmine tanpa basa-basi, megungkapkan tujuannya.


“Jika kau meminta dukunganku tentu aku ingin imbalan, katakan apa yang bisa kau berikan padaku sebagai balasannya.”


“Akan aku berikan kesetiannku pada anda Ratu.”


“Menarik.” Ratu Julitte terdiam sebentar. “Aku tidak membenci Leathina menjadi menantuku dia cukup berguna sebagai pendamping putraku di masa kepemimpinannya kelak. Tapi, aku juga tidak menyukainya karena jika dia yang menjadi pasangan putraku aku tidak bisa lagi berkuasa Leathina sulit untuk aku kendalikan. Tidak ada salahnya jika aku memungut gadis ini sebagai pion ku.”


“Ini akan sulit karena Raja memihak pada Leathina. "Gumam ratu yang terlihat berfikir.


"Baiklah, akan aku berikan dukunganku padamu untuk menjadi putri mahkota. Putraku juga sudah terlanjur menyukaimu. Tapi, mulai sekarang kau akan menjadi mata dan telingaku jangan bergerak tanpa sepengetahuanku kau kini menjadi salah satu orang ku sekarang.”


“Baiklah saya paham, Terimakasih Ratu Julitte.”


...


“Ah, padahal aku ingin mendengar percakapan mereka sedikit lebih lama lagi. Si ular licik itu!” Gumam dengan Leathina.


“Baiklah mari kita mulai perang dingin ini!”


Leathina menghempaskan dirinya di kursi sesaat setelah masuk kembali ke dalam ruangannya, menghembuskan nafas panjang dan mengusap kasar wajahnya.


Dengan tergesa-gesa Leathina keluar dari ruangan dan segera turun menuju Lantai satu dan segera menghampiri pemilik restoran yang terlihat sedang mendisiplinkan para bawahannya.


“Permisi Tuan.” Sapa Leathina ramah.


“No.. Nona Le..”


“Husst. Jangan sebukan namaku.”


Si pemilik Restoran terkejut ketika tiba-tiba mendengar suara Leathina dari arah belakang.


“Aku tidak memesan apa-apa tapi aku akan tetap membayarmu saat aku datang lagi nanti. Baiklah aku akan pergi sekarang, semoga usahamu selalu sukses Tuan."


“Terimakasih telah datang berkunjung Nona.”


Leathina keluar dari restoran kemudian menyeberangi jalan dan berdiri di depan restoran dan tampak sedang menunggu seseorang. Karena lama menunggu akhirnya makanan pinggir jalan yang masih di masak menarik perhatian Leathina dan berakhir membeli satu jagung bakar dan menikmtinya dan kembali pada posisinya semula menunggu seseorang sambil menikmati jagung bakarnya.


“Nona apa yang kamu lakukan di sini?”


Seorang pria tiba-tiba berbisik tepat ditelinga Leathina dan secara spontan Leathina memutar badannya dan memelintir tangan yang menyentuh pundaknya dari belakang.


“Aww. Awa.. ini aku.. ini aku.” Pekik laki-laki yang tadi berbisik pada Leathina.


“Zeyden! Apa yang kamu lakukan disini? Ah, gara-gara kau aku menjatuhkan jagung yang baru saja aku beli!” Tanya Leathina dan segera melepaskan cengkramannya yang memelintir tangan Zeyden, kemudian beralih melihat jagung bakar yang tadi ia beli kini dilumuri debu dan pasir karena tidak sengaja ia jatuhkan.


“Aku yang bertanya lebih dulu kenapa kau melemparkan pertanyaanku kembali. Tapi, darimana kau mendapat topi seperti ini. Kau sendiri disini? Dan aku akan membelikanmu jangung yang baru  Le....hampptt.”


“Husst! Diam, pergi dari sini atau selesaikan urusanmu sendiri.” Leathina menutup mulut Zeyden dengan tangannya dan mendorongnya menjauh karena wajahnya terus saja mendekat ke arah Leathina.


“Hey.. hey.. tunggu dulu..”


Dengan terburu-buru Leathina mengikuti Yasmine yang akhirnya keluar dari restoran dan tidak mempedulikan Zeyden yang masih memanggil di belakangnya.


Dengan berpura-pura sebagai pejalan kaki biasa Leathina terus mengikut Yasmine yang berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan kereta kudanya yang masih terparkir di depan restoran tadi.


“Kenapa dia berjalan kaki padahal ada kereta yang menunggunya. Kemana Yasmine akan pergi?”


Yasmine membaur dengan pejalan kaki biasa kemudian masuk ke sebuah toko kecil melihat itu Leathina kembali menunggunya keluar tidak berani ikut masuk karena takut ketahuan dan tidak beberapa lama kemudian Yasmine keluar dan telah mengenakan jubah hitam dan kembali berjalan menuju gang kecil yang berbeda di tepi jalan.


Setelah berbelok di sebuah gang kecil Yasmine kembali berbelok mengambi jalan kecil dan sampai pada sebuah jalan buntu. Terlihat lima orang pria yang mengenakan jubah hitam sedang menunggu kedatangan Yasmine.


“Kau datang cantik!” sambut salah satu orang pria menyambut kedatangan Yasmine.


“Diam kau, aku terlalu berharga untuk kau miliki.” Jawab Yasmine sambil menepis tangan yang mencoba memengang wajahnya.


“Kenapa kau menghubungi kami setelah sekian lama.”


“Aku punya pekerjaan untuk kalian.”


“Bukankah kau selalu meminta laki-laki yang bernama Roland itu kenapa kali ini meminta bantuan kami?”


“Aku tidak bisa menghubunginya, mungkin dia sudah mati di suatu tempat.”


“Dua minggu lagi akan ada pesta yang diadakan di kediaman duke Yarnell, aku merencanakan sesuatu yang besar di hari itu dan jika rencanaku tidak berhasil aku akan memberikanmu kode dan berpura-pura lah membunuhku.”


“Oh, Astaga. kenapa Yasmine sangat licik. Tapi siapa orang-orag yang ia temui itu aku tidak pernah melihatnya di markas tentara bayangan.” Leathina diam-diam  mengamati pertemuan Yasmine dari kejauhan sengaja menjaga jarak agar tidak ketahuan.


“Hanya itu?”


“Iya hanya itu, ini bayaran awal kalian sisanya akan aku berikan setelah semuanya selesai.” Yasmine melemparkan sebuah kantung yang berisi uang ke lawan bicaranya.


 “Ingat hanya berpura-pura, janga sampai melukaiku dengan parah. Nanti aku akan berpura-pura terluka parah di saat itu tinggalkan jejak  bahwa ada orang lain melakukan rencana pembunuhan itu.” Yasmine memberitahukan rencananya.


“Targetmu perempuan itu lagi kan?” Tanya si pembunuh. “Kenapa kau sangat membenci perempuan itu apa kau takut tersaingi.


“Iya betul kenapa perempuan itu sangat terobsesi dengan ku.” Leathina mendengar semua percakapan Yasmine dengan para penjahat yang ia temui.


“Bukan urusanmu, lakukan saja apa yang aku perintahkan.”


“Sepertinya sudah waktunya aku pergi. Aku sudah terlalu lama diluar, sebaiknya aku harus segera kembali Anne mungkin akan membuat laporan yang bisa menggemparkan semua orang di mansion.”


“Humpttt.” Baru saja Leathina akan meninggalkan lokasi pertemuan Yasmine dan orang-oangnya agar keberadaanya tidak diketahui tapi tiba-tiba Leathina ditarik serta mulutnya dibekap dan diseret bersembunyi di balik kota kayu yang bertumpuk di sisi gang.


“Diam sembentar, ada beberapa orang lagi yang akan datang.” Bisik orang yang menutup mulut Leathina sambil terus memperhatikan sekitarnya.


Leathina merasakan cengkraman orang yang menutup mulutnya mulai melonggar tanpa pikir panjang Leathina langsung menarik tangan dan membantingnya.


“Ini aku Nona Leathina, Zeyden.” Ucapnya sambil menahan rasa sakit di pingangganya yang mendarat lebih dulu di tanah.


“Oh, Astaga. Zeyden kenapa kau mengikutiku sampai disini?!”


“Husst, kecilkan suaramu Nona Leathina nanti kita bisa ketahuan.”


Mengetahui orang yang barusan ia banting adalah Zeyden cepat-cepat Leathina membantu Zeyden berdiri kembali dilihatnya siku kanan Zayden terluka dan masih merintih kesakitan.


“Siapa disana!” Teriak seseorang setelah mendengar suara.


“Upss... Sepertinya kita telah ketahuan.” Zeyden memberitahu Leathina. “Maafkan aku Nona Leathina.” Setelah meminta maaf Zeyden merangkul pinggang Leathina. “Tak.” Zeyden menjentikkan jarinya kemudian dengan ajaib telah berpindah di pekarangan mansion keluarga Yarnell.


“Woah, sihir apa yang barusan kau gunakan Zeyden. Bukankah itu terlalu keren.” Seru Leathina yang sangat takjub pada kemampuan Zeyden.


“Itu sihir teleportasi Nona Leathina. Dan terimakasih atas pujiannya saya sangat tersanjung.”


“Tapi aku masih lebih kuat dari mu, kau tetap lemah tanpa sihir hahaha.” Leathina melontarkan candaan dengan meremehkan Zeyden kembali setelah memujinya.


“Anda keterlaluan Nona Leathina, menyanjungku kemudian menjatuhkan lagi.”


“Hahah aku hanya bercanda jangan diambil hati. Tapi zeyden apa yang kau lakukan di sana tadi?”


“Aku tidak sengaja mengikuti Nona Leathina, tapi aku benar-benar tidak bermaksud mengikuti anda saya hanya takut jika terjadi apa-apa pada Nona Leathina.”


“Kau penasaran karena aku benar-benar kembali, Makanya kau mengikutiku kan?” Tanya Leathina yang melihat ekspresi Zeyden seperti seorang pencuri yang tertangkap basah sedang mencuri.


“I..iya aku penasaran karena mendengar Nona Leathina kembali. Aku tidak menyangka melihat Nona Leathina berkeliaran di jalanan sendiri tanpa pengawal.”


“Memangnya kau pikir aku siapa yang kemana-mana harus diikuti pelayan.” Leathina berbicara sambil melepaskan topinya dan menguraikan rambutnya untuk menghindari orang-orang mencurigainya karena mengenakan topi laki-laki.


Zeyden melihat Leathina melepaskan topi yag dikenakannya dan diwaktu bersamaaan rambut panjang Leathina terjatuh kebawa terurai menutupi bahu Leathina. “Woah rambutnya berkilauan terkena sinar bulan” gumam Zeyden dan terus menatap Leathina tanpa berkedip.


“Tutup mulutmu, atau lalat akan masuk ke dalam sana.” Ucap Leathina sambil merapikan rambutnya dengan jari-jarinya.


“Ah, itu.. itu.. Nona Leathina sebenarnya tadi aku sempat mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di gang tadi dan.. dan.. mereka seperinya merencanakan sesuatu yang jahat, apa Nona Leathina mendengarnya dari awal?” Zeyden ragu-ragu memberitahu Leathina bahwa dirinya juga sempat mendengar sedikit mengenai apa yang direncanakan oleh Yasmine.


“Oh, jadi kau mendengarnya. Berpura-puralah kau tidak mendengarnya Zeyden jangan membebani dirimu dengan urusan orang lain aku bisa mengurusnya sendiri.


“Tapi tetap saja, apa targetnya adalah dirimu?” Tanya Zeyden lagi kawahatir mengenai Leathina yang terlihat terlalu santai walaupun mengetahui ada seseorang yang ingin berniat buruk padanya.


“Oh, aku hampir lupa lukamu.” Leathina kembali melihat luka pada siku kanan Zeyden yang diakibatkan karena ia membantingnya tadi, Leathina langsung mengambil lengan Zeyden kemudian mengeluarkan aura hijau menutupi luka Zayden dan perlahan-lahan menutup kemudian pulih seperti sebelumnya.


“Nona Leathina anda bisa menggunakan sihir!” Pekik Zeyden setelah melihat apa yang telah Leathina lakukan barusan pada sikunya yang terluka.


Mata Leathina terbelalak dan baru menyadari bahwa ia melakukannya secara refleks karena melihat orang terluka. Karena terbiasa selalu menyembuhkan orang yang terluka saat masih berada di markas tentara bayangan.


“Astaga, aku melakukan kesalahan.” gumamnya sambil melihat kedua tangannya tidak percaya karena memperlihatkan pada Zeyden kemampuannya.


“Wah ini benar-benar luar biasa, sihirmu bahkan lebih kuat dari milik Andy. Sejak kapan anda bisa melakukan sihimmpppp....”


“Diam, kau terlalu berisik.” Ucap Leathina sambil menyumbat mulut Zeyden dengan topinya.


Setelah Zeyden tenang kembali barulah Leathina melepaskan topi yang ia gunakan menyumbat mulut Zeyden.


“Apa anda sengaja menyembunyikannya? Kenapa? Bukankah memiliki kemampuan ini sangat luar biasa? Butuh energi yang banyak untuk menggunakannya.” tanya Zeyden setelah mulutnya tidak lagi disumbat dengan topi.


Leathina mengangguk membenarkan perkataan Zeyden kemudian memijat kepalanya yang pusing karena pertanyaan-pertanyaan Zeyden yang tidak ada hentinya.


“Zeyden.”


“Iya Nona.” Zeyden menjawab dengan patuh dan kembali tenang di hadapan Leathina takut jika Leathina menyumbat mulutnya lagi.


“Bisakah kau merahasiakan kemampuanku ini?” Minta Leathina pada Zeyden.


“Kenapa harus dirahasiakan? Bukankah hal bagus jika kemampuanmu diketahui banyak orang namamu juga bisa di daftarkan di kerajaan.”


“Karena itu aku tidak mau, jika raja tahu kemampuanku maka aku tidak akan bisa bebas lagi aku harus tinggal dikerajaan untuk menjaga kesehatan para anggota keluarga kerajaan. Aku tidak suka kemampuanku hanya boleh digunakan oleh orang-orang tertentu saja.”


“Boleh saja tapi dengan sebuah syarat.” Jawab Zeyden dengan senyuman mengembang di wajahnya membuat Leathina merasa khawatir dengan senyuman aneh yang terlihat di wajah Zeyden.


“Harus ada syarat nya?” Tanya Leathina pada Zeyden.


“Iya tentu saja harus.”


“Baiklah, katakan.”


“Biarkan aku memanggilmu dengan namamu.”


“Bukankah kau suda sering memanggil namaku? Kau aneh sekali Zeyden.”


“Bukan, bukan, seperti itu. Aku ingin memanggil namamu langsung, tingkat kebangsawananku lebih redah darimu jadi tidak boleh memanggil namamu sembarangan.”


“Baiklah, panggil saja aku semamu.”


“Baiklah Leathina, sekarang kita berteman!” serunya sambil merangku Leathina karena merasa senang.


“Siapa disana!” Teriak seorang penjaga tiba-tiba menganggu mereka berdua.


“Upss, sepertinya suaraku terlalu besar tadi. Aku akan pergi, selamat malam Leathina.” Zeyden kemudian diselimuti aura berwarna hijau kemudian tertutup dan menghilang bersaam dengan menguapnya auran yang menutupi tubuhnya.


“Siapa disana!” teriak seorang penjaga lagi sambil berjalan ke arah Leathina berada.


“Ini aku!” teriak Leathina menunjukkan dirinya pada para penjaga yang datang memeriksa.


“Salam Nona Leathina.” Ucap si penjaga memberi hormat pada Leathina. “Maafkan kami karena tidak mengenali anda Nona Leathina.” Sambungnya lagi setelah memberi hormat pada Leathina.


“Baiklah kembalilah pada tempat jaga kalian.”


Setelah meminta penjaga kembali ke tempat jaganya Leathina bergegas kembali ke ruangannya khawatir dengan Anne yang akan memberitahu Duke untuk mencarinya.


...***...