I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 14



Akhirnya selesai juga, aku telah membatalkan pertunanganku dengan pangeran jadi langkah selanjutnya aku harus segera melakukan observasi di jalan-jalan kota yang akan aku lalui dalam pelarianku dan aku juga harus mencari tempat persembunyian dan kemudian menentukan dimana tempat yang paling sunyi untuk menjadi tujuan perjalananku. Nanti jika semuanya berjalan lancar aku akan hidup di pedesaan yang jauh dari kerajaan, pusat kota dan tempat-tempat ramai dan akan aku habiskan waktuku dengan berbaring, dan makan saja, sesekali aku akan keluar untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan hidupku aku juga  tidak perlu mengkhawatirkan biaya hidupku jika aku menjual gaun-gaunku itu sudah cukup memenuhi keperluanku selama beberapa tahun kedepannya.


“Apa perlu saya antar Nona Leathina.”


“Uh tidak perlu aku bisa pulang sendiri.” Prajurit yang tadi, aku masih sedikit kesal dengannya karena berani membicarakanku saat aku masih berada di sekitarnya.


Baiklah aku harus segera kembali hari ini aku lelah sekali. Wah lihatlah ada kebun bunga apa aku harus jalan-jalan ke sana sebentar. Mungkin aku akan mengelilingi kebun ini mumpung aku ada di luar, ini juga pertama kalinya aku keluar.


“Wah cantik sekali, lihatlah bunga-bunga ini. apa sekarang musim bunga yah.”


Taman ini benar-benar cantik, bunga-bunga diorganisir berdasarkan warnanya jika dilihat dari atas pasti akan lebih indah karena bisa melihat semua bunga sekaligus. Tapi aku tidak melihat ada danau atau kolam di sekitar sini, apa aku salah mengingat cerita yang ada di novel. Tapi seingatku memang benar Nora meninggal karena terpikat bunga teratai sihir yang tumbuh di dalam kolam. Mungkin ada taman lain di kediaman Yarnell yang belum aku kunjungi waktu kejadiannya juga masih lama jadi aku masih punya waktu untuk menyelamatkan Nora, ah sayang sekali anak seimut dia mati di usia muda tapi tenang saja Nora aku akan menyelamatkanmu karena kamu imut aku penasaran bagaimana jika kamu besar, nanti saja aku mencari tahu matahari sudah turun aku harus segera kembali ke kamarku.


Aku harus istirahat kenapa rumah ini luas sekali, rasanya sudah dari tadi aku berjalan tapi masih belum sampai di kamarku.


“Cepat minta maaf pada Nona Leathina!”


“Aah dasar! Kenapa aku harus minta maaf dan menurut padamu Anne, bukannya benar apa yang aku katakan tadi.”


bukankah itu suara Anne dan kenapa mereka ribut-ribut? Kenapa Anne menyebut namaku di tengah pertengkarannya? Apa Anne sedang bertengkar dengan pelayan lain. Mungkin pelayan yang lain merasa jengkel melihat Anne karena telah menjadi pelayan pribadi dari si penjahat Leathina, karena mereka tidak bisa melampiaskan kemarahannya langsung padaku maka yang menjadi sasaran adalah pelayanku Anne. Yah itu wajar-wajar saja sih mengigat betapa tidak manusiawinya Leathina saat berhadapan dengan para pelayannya.


“Aku bilang cepat minta maaf pada Nona Leathina!”


“Kenapa aku harus minta maaf, bukankah yang aku katakan tadi semuanya benar, bahwa nona Leathina sebenarnya telah mendapat hukuman karma dari Tuhan, itulah sekarang dia menjadi sedikit tidak waras dan tidak mau keluar dari kamarnya.”


“Plakk.”


“Berani sekali kamu menghina nona Leathina seperti itu!” Merasa tidak terima nona yang ia layani dihina oleh pelayan lain, Anne melayangkan sebuah tamparan pada wajah pelayan yang menghina Leathina.


“Eh.. berani sekali kamu, hanya naik setingkat menjadi pelayan pribadi si nenek sihir kelakuannya sudah melunjak.”


“Memang kenapa jika aku menjadi pelayan nona Leathina, katakan saja kamu iri bukan? karena masih harus terus mengepel lantai dan tangga.”


“eh dasar memang makin melunjak padahal aku lebih tua darimu apa kamu juga sudah ketularan jahat karena menjadi pelayan pribadinya. Sini kamu.. sini!”


“Aaaa!”


“Aww... awww...”


“sakit.."


“lepaskan tidak..”


“Kalau aku tidak mau kenapa.”


“Kamu kira karena kau lebih tua dariku aku tidak akan berani denganmu.”


“Aw.. awa.. sakit lepaskan rambutku!”


“Lepaskan rambutku terlebih dahulu!”


Pelayan yang telah ditampar Anne tadi merasa tidak terima diperlakukan demikian dan segera mendekati Anne dan menjambak rambutnya, Anne yang sedang dijambak rambutnya juga tidak terima diperlakukan seperti itu balas menjambak rambut pelayan yang telah menghina Leathina dan akhirnya mereka berdua bertengkar beradu mulut dan saling menjambak rambut lawan masing-masing sehingga menimbulkan kegaduhan. Sementara pelayan lainnya berusah melerai mereka berdua agar segera berhenti bertengkar.


Leathina yang tadinya tidak ingin ikut campur dalam pertikaian tersebut dengan terpaksa akhirnya masuk dalam pertikaian untuk melerai karena sudah tidak tahan mendengar kegaduhan yang dibuat oleh kedua pelayan tersebut.


“Salam nona Leathina!”


Mendengar suara Leathina kedua pelayan yang tadinya sedang sibuk saling menjambak rambut tiba-tiba segera berhenti dan membungkuk memberi hormat pada Leathina.


“Jawab pertanyaanku, kenapa kalian bertengkar?” Lihatlah mereka, apa susahnya sih menjawab pertanyaanku kenapa harus perlu waktu yang banyak untuk menjawab sebuah pertanyaan singkat, oh ayolah aku sudah sangat lelah sekarang.


“Anu.. nona..


“Itu karena..


“KATAKAN!” jika begini terus pasti akan memakan waktu lama, sebaiknya aku harus benar-benar mendalami peranku saja menjadi Si Wanita Jahat. Ini sangat ampuh untuk membuat mereka ketakutan walaupun jujur mungkin perbuatanku sedikit berlebihan.


“Anne menamparku duluan nona.” Pelayan yang satu berusaha membela diri dihadapan Leathina.


“Kami bertengkar karena aku menamparnya nona Lea, tapi aku menamparnya bukan tanpa alasan. Dia menghinamu jadi aku memintanya untuk meminta maaf padamu tapi dia malah terus menghinamu nona.”


“Hey kamu siapa namau?”


“Na.. na..namaku Tania nona.”


“PLAKK”


Uh aku paling tidak suka dengan kekerasan. Tapi maafkan aku Tania aku harus menamparmu kali ini, agar pelayan yang lain juga tidak merendahkan aku, menghina majikan sendiri berarti kamu sudah seperti merendahkan majikanmu dan seorang majikan yang tidak dihormati oleh bawahannya akan dianggap gagal dan seterusnya akan terus direndahkan.


“Maafkan saya nona, ampuni saya. Tolong ampuni saya nona saya bersalah.” Tania menangis dan berlutut dibawah kaki Leathina memohon ampun karena telah menghinanya.


“Berdirilah jangan berlutut dikakiku, kau beruntung aku hanya menamparmu.”


“Maafkan saya nona, saya mohon. Jangan pecat saya.”


“Aku tidak akan memecatmu. Tapi, karena perbuatanmu salah maka aku tetap harus memberimu hukuman.”


“Ba.. baik Nona Leathiana.” Tina segera berdiri dan menjawab pertanyaan Leathina dengan terbata-bata karena takut.


“Mulai hari ini kamu tidak perlu datang ke sini, kamu aku pindah tugaskan bekerja di dapur.”


“Baik Nona dan terimkasih atas kemurahan hati nona.”


“Nona kenapa tidak dipotong lidahnya, menghina majikan adalah tindakan yang sangat fatal? Itu bukan hukuman namanya tapi memindah tugaskan.”


“Apa kamu sedang membantahku sekarang Anne?” Ada apa dengannya memangnya aku tukang jagal apa? sampai harus memotong tangan seseorang. Walau perbuatannya memang tidak bisa dibenarkan tapi menurutku hukuman sekeras itu juga bukan solusi yang bagus, lagipula aku juga tidak merasa terganggu toh yang mengalami semua kesulitan adalah Leathna bukan aku jadi aku tidak tau harus marah seperti apa karena bukan aku yang mengalami.


“Ti..tidak nona saya tidak berani, hanya saja kejahatan yang dia perbuat tidak pantas dimaafkan.”


“Cukup untuk hari ini, aku lelah Anne antarkan aku ke kamarku, oh iya jika kalian tidak ingin dihukum jaga sikap kalian besok-besok aku tidak akan berbaik hati seperti ini.”


“Baik Nona Leathina.” Para pelayan yang ada dan menyaksikan kejadian tersebut segera menjawab perkataan Leathina.


Huh lihatlah para pelayan tersebut, kenapa malah berbisik-bisik aku bisa mendengar semuanya jadi berhentilah berbisik seperti itu, dan juga kenapa kalian malah heran jika aku tidak memenjarakan atau memecat pelayan ini, kalian harusnya merasa besyukur karena aku yang memberikan hukuman bukan Leathina yang asli. Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan sampai harus menetap di dunia ini, aku lelah aku mau beristirahat.


...***...