
Adam megambil kembali pakaiannya yang tadi ia lepas dan segera mengenakannya kemudian berjalan kearah pintu dan mengintip keluar.
“Mereka sudah benar – benar pergi?” Leathina kini juga ikut mengintip keluar bersama Adam.
“Iya, mereka sudah pergi kau aman untuk saat ini. Kalau begitu jaga dirimu baik – baik jangan sampai tertangkap aku akan benar – benar pergi sekarang.”
“Eh, kau mau kemana?”
“Aku akan kembali.”
“Kau akan meninggalkan aku?”
“Bukankah kamu yang tidak mau ikut denganku, Lea.”
“Soal itu..”
“Kau ingin pergi bersamaku?” melihat Leathina kebingungan dan ragu – ragu menjawab membuat Adam ingin menawarinya kembali apakah ia ingin ikut atau tidak bersamanya.
Tidak ada jawaban dari yang di tanya, leathina masih belum menjawab Adam karena bingung memutuskan akan ikut atau tidak.
“Baiklah, kalau kamu tidak ingin ikut maka aku akan pergi sekarang.”
“Tunggu baiklah, aku akan ikut.”
Adam sudah pergi berjalan lebih dulu karena lama menunggu jawaban dari Leathina, namun saat ia sudah pergi Leathina segera menyusulnya dan mengikutinya.
Keduanya melakukan perjalanan bersama, pertama – tama mereka berdua mengendarai kereta kuda yang berisi muatan barang – barang yang akan dikirim keluar kota setelah kurang lebih sehari melakukan perjalanan mereka berdua kemudian pergi kesebuah penginapan mengambil dua ekor kuda untuk ditunggangi dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
“Adam, apa masih jauh?”
“Tidak, sebentar lagi kita akan sampai.”
“Kita sekarang berada di perbatasan kerajaan bukan, dan disini tidak banyak orang yang tinggal aku hanya melihat hanya beberapa rumah saja yang berpenghuni.”
“Kamu benar, ini desa terbengkalai. Penduduk desa disini kebanyakan pindah ke tempat yang lebih aman karena di perbatasan sering ada penyerangan bandit dan monster disini.”
“Nah kita sudah sampai.”
Adam menunjuk sebuah mansion yang terlihat sudah sangat tua, halamannya tidak terawat terlihat semak belukar dan sampah dimana – mana tapi jalanan menuju pintu utama masih bersih karena sering dilalui.
“Kau yakin disini tempatnya?”
“Iya, ikutlah kau akan terkejut nanti setelah masuk.”
“Trakk” Deritan pintu terdengar sangat jelas saat Adam membukanya, terlihat bahwa pintu itu sudah sangat tua tapi masih kokoh membuatnya berderit dengan keras.
“Tempat apa ini?” Leathina bergumam pelan sesat setelah ia melihat isi dari balik pintu yang dibuka oleh Adam.
Terlihat beberapa orang dengan wajahnya yang dipenuhi luka sedang berkumpul, kemudian yang lainnya sibuk mengasah pedangnya ditambah cahaya redup yang menerangi mansion tersebut membuat Leathina merasa ngeri.
“Adam kau telah kembali!” beberapa orang melambai kearah Adam menyambut kepulangannya.
Astaga, aku sepertinya masuk ke sarang ular. Bagaimana ini aku sudah seperti lolos dari kejaran binatang buas dan malah masuk ke tempat yang salah untuk bersembunyi.
“Ayo masuk.” Adam balas melambai, kemudian menarik Leathina masuk yang masih terlihat kebingungan didepan pintu.
“Adam ini tempat apa?”
“Oh, ini markas para pembunuh bayaran.”
“Dan kamu salah satu dari mereka?”
“Iya, tentu saja kalau bukan untuk apa aku kemari.” Adam dengan santai menjawab pertanyaan Leathina tapi yang bertanya malah sebaliknya Leathina berkeringat dingin mengetahui dirinya pernah menjadi target dari mereka dan sekarang dirinya malah berada di dalam markas para pembunuh bayaran.
“Iya betul, kau ternyata tahu ya?”
“Ah, sepertinya aku ketempat yang salah Adam. Setelah mengigat – ingat kembali sepertinya aku telah memiliki tujuanku dan sekarang aku akan berangkat ke sana.” Leathina perlahan – lahan mundur dan hendak pergi meniggalkan mansion tersebut.
“Eh, mau kemana kamu sudah terlanjur disini. Ayo kamu harus masuk dulu.”
“Tidak, tidak, aku mohon lepaskan aku.”
Adam yang melihat tingkah Leathina segera menariknya kembali memaksa untuk membawa Leathina masuk sementara Leathina dengan segenap kekuatannya menolak untuk masuk ia berpegangan di pintu agar Adam tidak bisa membawanya.
“Astaga, kau seperti anak kecil saja Leathina, tadi dengan suka rela kamu ikut setelah sampai malah menolak, aku tidak punya pilihan lain selain memaksamu masuk, hari sudah sangat gelap berbahaya bagimu berkeliaran disini seorang diri.” Adam mengangkat Leathina, melepaskan secara paksa genggamannya dan membawanya masuk kemudian mendudukkannya disebuah kursi.
“Oh, kamu membawa mainan Adam. Berbagilah dengan kami.” Tiba – tiba saja beberapa orang berjalan ke arah Lethina dan mulai mengerumuninya.
“Jangan menganggunaya kalau tanganmu tidak ingin terpotong, bos yang memintaku untuk membawanya kesini.”
“Benarkah? Sayang sekali padahal dia cantik.” Mendengar ucapan Adam oarng – orang yang tadi mengerumuni Leathina segera pergi dan tidak lagi menganggunya.
“Apa maksudmu? Bagaimana bisa bos kalian mengenalku?” Leathina segera mengintrogasi serelah mendengar apa yan g diucapkan Adam kepada teman – temannya.
“Husst! Aku berbohong agar mereka tidak menganggumu.”
Adam berbisik kemudian mengedipkan sebelah matanya tanda bahwa ia hanya berbohong untuk menakut – nakuti para penganggu.
“Kau bisa tinggal disini sampai kamu menemukan tempat baru, kau juga bisa bergabung jika kau mau menghasilkan uang, mansion ini sudah sangat tua tapi masih koko sengaja digunakan sebagai markas karena sulit dijangkau.”
“Kau ingin aku jadi pembunuh?”
“Tidak, tidak, bukan itu maksudku.”
“Jadi?”
“Aku hanya menawarkan tempat sementara untukmu, dan kamu tidak harus bergabung denan kami.”
“Kenapa? Bukankah seharusnya hanya anggota yang diperbolehkan keluar masuk dengan bebas?”
“Sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu soal ini tapi karena kamu masih terus bertanya aku akan memberitahumu, bukankah kamu pernah menyelamatkan pimpinan kami? Dengan alasan itu tentu saja kami tidak akan pernah menolak membantumu, kami berhutang budi padamu, Nona Leathina?”
“Dari awal kau mengenalku? Dari awal kamu memang berencana membawaku?” Leathina menjadi sangat terkejut ketika mendengarkan perkataan Adam.
“Tidak, sungguh! Aku dari awal tidak memiliki niat apapun. Kita bertemu murni karena kebetulan semata, tapi setelah melihat kertas pengumuman yang disebarkan aku jadi mengenalmu dan mengetahui bahwa itu kamu setelah melihat rambutmu.”
Leathina tidak membalas ucapan Adam ia malah sibuk menatap adam dengan tatapan curiga.
“Kau marah Nona Lea?” melihat cara Leathina melihatnya Adam menjadi sedikit bersalah karena tidak menjelaskan pada Leathina lebih awal.
“Tidak, aku tidak marah walau bagaimanapun aku harus berterimakasih padamu Adam karena telah membatuku dari kejaran pada prajurit kerajaan.”
“Oh, iya dan jangan panggil aku Nona Leathina, panggil saja seperti yang biasanya kamu memanggilku.”
“Syukurlah, kau tidak marah padaku.” Adam menghela nafas legah setelah Leathina ternyata tidak marah padanya.
“Tapi bukankah kamu seorang bangsawan, apa kamu tidak risi jika orang sepertiku memanggilmu langsung dengan namamu?”
“Tidak apa – apa, untuk sekarang dan seterusnya aku hanya orang biasa bukan seorang bangsawan.”
Sekarang aku harus melupakan kehidupan lamaku, aku harus fokus memulai hidup baru. Aku akan hidup tanpa muncul kembali kepermukaan sampai ulang tahunku yang ke 25 tahun aku berharap mereka menganggapku telah benar – benar hilang atau meninggal setelah aku menghilang cukup lama dan aku akan hidup seperti yang aku mau tanpa merasa takut lagi.
Senyum Leathina mengembang diwajahnya, ia terlihat sangat senang setelah berhasil terlepas dari keluarganya dan masalah yang terus mengikutinya.
......***......