I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 192



Makhluk legenda yang membawa Leathina kini terbang melambung tinggi ke langit kemudian tiba-tiba berhenti mengepakkan sayapnya dan malah terjun bebas ke bawah membuat Leathina setengah mati mempertahankan pegangannya pada kaki sang naga agar tidak terlepas serta mendekatkan kepalanya agar lehernya tidak patah karena terpaan angin yang sangat kencang menerpanya hingga membuatnya kesulitan untuk melihat bahkan jika mengintip sedikit.


Leathina merasa kulitnya sedikit lagi akan robek jika monster yang membawanya itu masih  melanjutkan kegilaannya.


“Wah! Kau sangat menyukaiku ya sampai memelukku seerat itu.” Ucap sang naga tiba-tiba dengan nada mengejek dan tanpa rasa bersalah kemudian disusul dengan suara tawanya yang menggelegar memenuhi langit. “Hahahaha.”


“Naga sialan, aku akan jatuh lalu mati jika kau terbang secara sembrono seperti ini.” Ucap Leathina dengan susah payah karena kencangnya angin.


“Apa?” tanya sang naga. “Bicaralah dengan baik aku tidak bisa mendengarmu.” Ucapnya lagi memperjelas.


“Aku akan jatuh.”


“Ah?”


“Aku bilang aku akan jatuh dasar naga bodoh!!!” Bentak Leathina marah.


“Ah!”


Setelah memahami maksud perkataan Leathina sang naga yang tadinya terjun bebas ke bawah tiba-tiba memutar arah dan terbang kembali melambung ke atas langit setinggi-tingginya.


“Hei! Hei! Apa yang akan kau lakukan?” Leathina panik melihat tingkah gila sang naga membuat Leathina tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bukanlah hal baik.


“Aku punya perasaan buruk dengan ini.” Batin Leathina kemudian menutup matanya karena jika ia terus memaksa melihat matanya mungkin bisa buta karena terpaan angin yang sangat kencang.


“Ah?”


“AAAaaaaaa!!


“KAU GILA YA!!”


Pekik Leathina saat Naga gila yang membawanya menghentakkan kakinya hingga dengan mudah pegangan Leathina terlepas karena guncangan keras yang tiba-tiba di tambah tangannya licin karena keringat dingin.


Sesaat Leathina terangkat ke atas kemudian detik berikutnya Leathina terjun bebas ke bawah jika terus dibiarkan ia bisa menghantam tanah kemudian seluruh tubuhnya bisa remuk dan mati.


Sekilas mata Leathina dan mata monster gila yang membawanya bertemu membuat Leathina jengkel bercampur takut karena tubuhnya sekarang terjun bebas ke bawah setelah dibawa terbang tinggi-tinggi.


“Apa makhluk bodoh ini tadi tersenyum? Aku yakin tadi kedua sudut bibirnya tersungging saat melihatku jatuh.” Batin Leathina tidak percaya dengan apa yang barusan tadi ia lihat.


“Hei! Aku akan mati jika terus jatuh seperti ini” teriak Leathina berusaha menggapai sesuatu di udara kemudian dengan cepat Leathina menyadari bahwa ia tidak akan bisa selamat jika naga gila yang membawanya tidak menolongnya, sayangnya Leathina tau dengan pasti sekeras apapun nantinya Leathina memohon untuk diselamatkan makhluk legenda itu tidak akan menyelamatkannya jika bukan karena keinginannya sendiri dan oleh karena itu Leathina memilih pasrah dan menutup pelan matanya untuk menghadapi kematiannya yang konyol.


“Mati karena menjadi mainan monster ini adalah salah satu kematian konyol, aku akan mati secara tidak berarti sebanyak dua kali. Aku penasaran apa yang akan dia katakan jika bertemu kembali setelah kematian konyol seperti ini.” Batin Leathina sambil mengingat saat dulu pertama kali mati tertabrak karena berusaha untuk hidup menghindari kejaran orang-orang setelah mencuri roti kemudian diberikan kesempatan untuk kembali hidup walaupun harus mengambil ahli tubuh orang lain.


“Hah! Tidak seru aku pikir kau akan menangis dan memohon-mohon untuk aku selamatkan, siapa sangka kau malah begini bahkan tersenyum saat menghadapi kematian.” Gumam sang naga kehilangan keseruannya melihat Leathina tidak bereaksi bahkan berteriak ketakutan saat tubuhnya dengan bebas terjun ke bawah.


“Heh?” Leathina terkejut saat sang naga terbang lebih cepat terjun ke bawah kemudian menangkapnya dengan melebarkan sayapnya dan membiarkan Leathina terjatuh di atas punggungnya.


“Aw!” Pekik Leathina saat pantatnya mendarat dengan keras di punggung sang naga yang memiliki kulit tebal.


“Kau menyelamatkan aku?” tanya Leathina kebingungan sekaligus curiga takut jika tiba-tiba naga gila itu berbalik dan dengan sengaja membuat Leathina terjatuh kembali seperti tadi.


“Tentu saja kau tidak boleh mati sebelum aku bosan menjadikanmu mainan ku.” Jawab sang naga sekenannya.


“Ah, harusnya aku tidak bertanya toh aku sudah tahu jawabannya memangnya apa yang aku harapkan dari naga bodoh ini.”


“Kau akan membawaku kemana?” tanya Leathina lagi setelah menunggu lama duduk di atas punggung sang naga. “Disaat dia mendarat nanti aku harus melarikan diri.” Batin Leathina yang mulai merencanakan pelariannya.


“Kita akan ke tempat tinggal ku, jangan berpikir untuk bisa melarikan diri itu tidak akan bisa terjadi.” Jawab sang naga seakan mengetahui apa yang ada di dalam kepala Leathina ia memperingati Leathina agar tidak melarikan diri.


“Memangnya kau tinggal dengan pengawalan, aku pikir kau makhluk penyendiri yang hidup di dalam gua dengan gundukan emas di dalamnya membunuh semua orang yang mendekat dan menjaganya sampai mati.”


“Ah, dari mana kau mendengar cerita konyol itu dan kenapa manusia kecil sepertimu bicara seperti itu lebih hormatlah sedikit padaku hidupmu bergantung padaku. Kau belajar dari mana menggunakan kata todak sopan seperti itu.”


“Semua orang bisa berkata kasar, tentu saja aku bisa tanpa aku pelajari.” Batin Leathina tidak berani menjawab pertanyaan yang ditanyakan untuknya dan memilih untuk diam saja.


“Bersiaplah kita sebentar lagi akan samapi di rumahku.” Ucap sang naga kemudian terbang lebih rendah.


Leathina mengencangkan pegangannya setelah mendengar peringatan sang naga.


“Diaman rumahmu?” tanya Leathina kebingungan karena sepanjang pengelihatannya hanyalah hamparan pepohonan di dalam hutan yang belum pernah Leathina kunjungi.


“Akh!”


Leathina tersentak kaget saat tiba-tiba merasakan hawa dingin sesaat kemudian hangat kembali di kulitnya.


“Itu barrier pelindung.” Ucap sang naga memberitahu.


Leathina malah lebih terkejut setelah melewati barrier pelindung yang dimaksud sang naga karena hutan yang tadi ia lihat hilang entah bagaimana caranya.


Yang sekarang Leathina lihat adalah mansion berukuran besar berdiri di bawahnya saat ia melihat ke bawah.


Terlihat seperti mansion milik bangsawan dibandingkan seekor naga yang merupakan monster buas yang ditakuti semua orang.


“Apa kau akan memakan ku setelah ini?” tanya Leathina gugup.


“Kenapa aku harus memakan manusia mungil sepertimu, melihatmu saja aku sudah tahu kalau dagingmu pastilah tidak enak.”


“Kau terlalu jujur.” Gumam Leathina yang merasa dirinya sedang diejek tapi disaat bersamaan ia juga merasa lega karena jangka hidupnya sedikit di perpanjang.


“Setidaknya aku tidak dijadikan makanannya.” Batinnya kemudian menghela nafas berat.


“Pegangan, jangan samapi jatuh aku akan turun.” Ucap sang naga kembali memperingati Leathina.


Cepat-cepat Leathina mempererat pegangannya agar tidak terjatuh kemudian menunduk untuk menghindari terpaan angin saat sang naga terjun bebas ke bawah.


“Brak!”


Suara benturan terdengar sangat keras saat sang naga mendaratkan kakinya di dataran tanah tepat di depan mansion besar milik sang naga.


Hening seketika saat mereka berhasil mendarat sementara Leathina hanya melongo tidak percaya melihat mansion tersebut dari jarak dekat.


Tidak terlihat tanda-tanda bahwa mansion itu di tinggalkan karena semuanya terlihat terawat dengan sangat baik, bunga-bunga di taman sepertinya rutin di bersihkan dan dipotong agar tidak merambat dan bahkan tidak ada tanaman menjalar yang merambat di dinding mansion satu sampah pun tidak terlihat di halaman luas mansion itu.


“Cepat turun dari atas punggungku, mau sampai kapan kau duduk disitu apa mau aku turunkan.” Ucap sang naga memerintah.


“Ahm i-iya, aku akan segera turun.” Takut dihempaskan dari punggung sang naga cepat-cepat Leathina turun dan berdiri sedikit lebih jauh dari sang naga karena takut terkana sayap besarnya saat bergerak.


“Ba-bagaimana kau masuk ke dalam mansion mu, pintunya terlihat normal seperti pintu biasa. Ah apa mungkin kau punya kandang sendiri di belakang.” Ucap Leathina tanpa ia pikirkan.


Seketika tatapan sang naga menjadi dingin bahkan jika itu pisau mungkin sudah menusuk Leathina.


“Ah, sepertinya dia tersinggung.” Batin Leathina sambil mundur beberapa langkah ke belakang taku jika tiba-tiba naga yang marah itu tiba-tiba menangkapnya kembali dan meremukkan badannya atau menghempaskannya dengan ekor besarnya.


“Ah tuan anda sudah kembali!”


Tiba-tiba serombongan orang-orang aneh keluar dari mansion dengan sangat terburu-buru membuat sang naga mengalihkan perhatiannya dari Leathina.


“SELAMAT DATANG KEMBALI TUAN!!”


“Mereka semua bukan manusia?” batin Leathina setelah menyadari bahwa orang-orang yang tadi ia lihat adalah manusia setengah hewan, hampir dari setengahnya memiliki telinga hewan atau ekor.


“Ini pertama kalinya aku lihat yang beginian selain anak yang di bawah ayah ke rumah.” Gumam Leathina yang kemudian berhasil menarik perhatian semua orang.


“Ah! Tuan membawa mainan manusia dari luar.” Teriak salah satu manusia yang memiliki telinga dan ekor seperti rubah sambil menunjuk ke arah Leathina.


Leathina yang terkejut karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian mahkluk aneh perlahan mundur.


“Akh!” pekik Leathina saat tidak sengaja tersandung batu dan jatuh terduduk.


“Kau..” ucap sang naga terputus sambil menatap tajam ke arah Leathina.


“Sepertinya monster ini benar-benar tersinggung karena aku menyembut rumahnya dengan sebutan kandang.”  Batin Leathina panik dan beringsut mundur ke belakang berusaha menjauh.


“Ma-maafkan aku, a-aku ha-hanya tidak bermaksud mengatai rumahmu.”


“Bruk!”


“Eh?”


Tiba-tiba saja naga yang tadi berdiri tegak dan menatap Leathina dengan tajam ambruk dengan sendirinya membuat susana hening seketika tapi di waktu berikutnya membuat suasana menjadi kacau karena semua pelayannya menjadi panik dibuatnya.


“AHK!”


“Tuan!”


“Dia tidur atau mati!” teriak yang lainnya lagi.


“Akh! Tuan akan mati.”


“kalau mati siapa yang akan mengurus kita!”


“Tidak! Tidak! Itu tidak boleh terjadi.” Jerit yang lainnya panik.


Ditengah-tengah kepanikan yang melanda karena tuan mereka tiba-tiba ambruk dan tidak ada yang memperhatikan keberadaan Leathina menjadikan Leathina memiliki kesempatan untuk kabur.


Secara perlahan Leathina terus mundur selangkah demi selangkah agar pergerakannya tidak disadari oleh siapa-pun.


“Sedikit lagi, sedikit lagi, kalau aku sampai di balik semak-semak itu tidak akan ada yang menyadari kepergian ku dan aku akan lari mencari jalan pulang.” Batin Leathina dengan harapannya yang tinggi melihat sampai sekarang belum ada yang menyadari bahwa dirinya sudah hampir menghilang.


“Hei manusia!” teriak salah satu manusia setengah hewan membuat Leathina langsung mematung tidak bergerak.


“Jangan berdiri terlalu jauh, tuan kami akan sedih jika kau berdiri sejauh itu.” Ucap yang lainnya sambil menyeret Leathina kembali dan membuatnya berdiri di dekat sang naga yang berbaring.


“Benar setidaknya di detik-detik terakhirnya dia memiliki mainan yang dapat menemaninya sampai akhir hidupnya.”


“Tenang saja kami akan memperlakukanmu dengan baik walau tuan kami sudah tidak ada.”


“Betul, kau kesukaan tuan kami maka kamu pasti istimewa.”


“Betul, walau disayangkan bahwa kau ini manusia.”


“Apa kita buatkan rumah saja di dekat makam tuan kami, agar tuan kami dapat pergi dengan tenang yah.”


“Hei kalian gila ya! kalian pikir aku juga tidak punya keluarga, aku ini diculik bagaimana aku bisa tahan tinggal disini. Dasar mahkluk aneh, pulangkan aku sekarang!”


“Itu yang ingin aku katakan, tapi jika aku mengatakannya sudah pasti aku akan dibunuh.” Batin Leathina pasrah dan memilih untuk tetap diam takut jika semua manusia setengah hewan itu langsung membunuhnya di tempat.


“Selamat jalan tuan, kami akan selalu mengingat anda.”


“Dan akan kami jaga manusia yang anda bawa dengan baik.”


Ucap yang lainnya dengan meletakkan setangkai bunga yang mereka cabut dari taman.


“Hei! Kalian pikir aku bisa mati.”


Tiba-tiba terdengar suara serak dan tajam namun terdengar lemah tapi berhasil membuat semua orang cepat-cepat mundur kebelakang karena ketakutan.


“Maafkan kami tuan!”


Ucapnya secara serentak dan berlutut di depan sang naga yang masih berbaring di atas tanah.


“Jangan berisik, aku terlalu lelah. Sepertinya aku terlalu lama di luar hingga kalian semua memiliki selera humor yang tinggi.” Ucap sang naga pelan sambil perlahan-lahan menutup matanya kembali.


“Wah! Kenapa mata anda tinggal satu, siapa yang berani melukai mata besar anda.”


“Dari mana luka yang ada di tubuh anda!”


 Teriak semua orang terkejut ketika menyadari bahwa salah satu mata tuannya terluka dan banyak luka disekujur tubuhnya.


“Kalau Tuan bertarung tidak  mungkin bisa kalah.”


“Betul tuan tidak mungki bisa kalah, kecuali....” ucapannya terhenti kemudian semua orang menatap Leathina dengan tatapan dingin.


“Kecuali jika manusia-manusia lemah itu berusaha bertarung melawan tuan kami dan tuan kami tidak mau melawan karena tidak tega melawan makhluk yang lebih lemah darinya.”


Tatapan meraka semakin dingin menatap Leathina kemudian serentak berjalan mendekati Leathina membuat Leathina panik dan pelan-pelan mundur ke belakang untuk menjauh dari mereka semua.


“Aku mungkin akan mati kali ini.” Batin Leathina sambil berusaha menjauh dari semua manusia setengah hewan yang menatapnya dingin. “Wah, mereka benar-bear marah. Bagaimana ini.” Leathina semakin panik saat mereka semua mulai berdiri hampir mengepung Leathina.


“Ini menyeramkan.”


Leathina yang pasrah menutup matanya takut dan tidak ingin melihat wajah dari orang-orang yang akan menghabisinya sampai mati karena termakan dendam tuannya yang terluka karena manusia.


“Tau begini aku pasti tidak akan menyia-nyiakan masa mudaku, aku akan langsung menghabiskan seluruh uang ayahku dan membelanjakannya sesukaku padahal aku sudah lahir sebagai anak orang kaya tapi malah mati sia-sia lagi dan kali ini karena naga konyol ini.”


“Akh!”


Pekik Leathina saat seseorang menarik tangannya hingga jatuh terduduk, Leathina menunggu dirinya dipukuli atau langsung ditusuk dengan kuku-kuku tajam milik manusia setengah hewan pasrah dengan nasibnya.


“Kenapa belum dipukul-pukul juga.” Gumam Leathina pelan.


Setelah beberapa saat menunggu Leathina tidak merasakan satupun orang yang menyakitinya malah yang ia rasakan kedua tangannya malah digeggam dengan erat entah oleh oleh siapa dan bahkan pakaiannya pun ikut-ikutan ditarik.


“Apa mereka ingin mengulitiku dan memanggang ku kemudian disantap bersama-sama? Seperti babi guling!”


Lama Leathina kembali menunggu untuk dieksekusi tapi masih tidak ada yang terjadi padanya membuat Leathina penasaran apa sebenarnya yang sedang terjadi terhadap dirinya sekarang dan perlahan-lahan membuka matanya yang sedari tadi ia tutup  untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sekarang.


...***...