
“Kakak?” Panggil Nora yang masih berlutut.
“Maafkan aku ya, aku tidak sengaja.” Ucap Leathina yang kemudian ikut berlutut dan menepuk-nepuk punggung Nora untuk menenangkannya.
“Aku akan memberitahukan ayah!” ucapnya sambil memegang ujung gaun Leathina.
“Kau kan sudah janji tidak akan memberitahu siapa pun.”
“Aku tahu kakak Leathina akan pergi lagi ke tempat berbahaya, kakak pasti akan pergi lagi seperti yang terakhir kali kan! Kenapa tidak memberitahu ayah saja, ayah pasti akan membantu kakak.” Teriak Nora yang kini malah memeluk kaki Leathina dengan erat.
“Hust! Jangan ribut, kakak mohon.” Ucap Leathina yang mencoba menenangkan Nora yang semakin lama semakin rewel.
“Tidak! Pokoknya aku tidak akan membiarkan kakak Leathina pergi lagi, bagaimana jika kejadian yang terakhir kali terulang kembali.”
“Itu tidak akan terjadi, aku janji. Aku hanya ingin memeriksa sesuatu... eh maksudku aku hanya ingin berjalan-jalan di kota.”
“Kalau begitu aku akan ikut!”
“Tidak, tidak, pokoknya tidak boleh.” Ucap Leathina kemudian mendorong Nora mundur agar bisa melepaskannya.
“Sudah aku duga, kakak pasti akan pergi ke tempat yang berbahaya.” Teriak Nora dan langsung memeluk kembali Leathina.
“Tidak aku janji! Jadi diam lah, kalau kamu rewel aku akan pergi diam-diam.”
Nora langsung terdiam dan patuh dengan perkataan Leathina, ia pun kini melepaskan pelukannya dan duduk di depan Leathina dengan rapi.
“Nah anak baik.” ucap Leathina sambil mengelus kepala Nora.
“Kalau begitu aku yang akan ikut!”
“Eh?! Apa katamu!”
“Aku bilang aku akan ikut!!” Teriak Nora yang bersikeras ingin ikut dengan Leathina.
Leathina tercengang, berfikir dengan cukup keras bagaimana solusi untuk menangani Nora.
“Akh! Aku tidak mungkin membawamu ke tempat berbahaya!” ucap Leathina kesal sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Benar kan! Kakak akan ke tempat berbahaya!” teriak Nora sambil kembali memeluk Leathina.
“Kalau kakak tidak ingin membawaku bersamamu aku akan memberitahukan ayah dan memberitahukan kakak Nicholas untuk selalu mengikuti kakak Leathina kemanapun kakak pergi!” Nora mengancam Leathina.
“Kalau kau melakukannya maka aku tidak akan pernah ingin melihatmu lagi!”
“Maka bawa aku, pokoknya aku ingin ikut!”
“Aku tidak bisa melindungi mu, di luar sana apapun bisa terjadi Nora jadi diam saja dan tunggu aku pulang.”
“Tidak, aku bisa gila karena khawatir! jika aku tahu kakak berkeliaran di luar sana tanpa tahu apa yang sedang terjadi, jadi bawa aku juga!”
“Tidak, tidak akan!”
Leathina terus mendorong Nora menjauh tapi Nora terus mendekat dan memeluknya erat bersikeras meminta Leathina untuk membawanya juga.
“Bawa aku juga!” Nora semakin gigih dan terus memeluk Leathina walaupun Leathina berkali-kali mendorongnya menjauh.
“Kalau begitu aku akan berteriak!”
“AYAH mppp!!”
Leathina langsung menyumbat kembali mulut Nora agar tidak berteriak dan memancing perhatian orang-orang.
“Nora dengarkan aku!”
Nora mengangguk menjawab dengan cepat.
“Bagaiman aku bisa membawamu ke tempat berbahaya, aku tidak bisa selalu melindungi mu jika aku membawamu.”
Nora mendorong tangan Leathina yang menyumbat mulutnya hingga dapat dengan bebas membuka mulutnya kembali untuk berbicara.
“Tenang saja kakak Leathina, aku bisa melindungi diri sendiri kemampuan berperang ku sudah sangat baik ayah pernah memujiku dan aku juga bisa menggunakan sedikit sihir.”
Nora tetap bersikeras untuk tetap ikut dengan Leathina, ia juga bahkan menunjukkan sedikit sihirnya pada Leathina. Ia mengeluarkan sedikit api dari tangannya dengan mengucapkan beberapa mantra.
“Tidak, tetap tidak! Aku tidak ingin kau terluka, menurutmu saat kau jatuh ke danau untuk apa aku melompat turun dan menyelamatkanmu disana jika sekarang aku sendiri yang harus membawamu ke tempat yang berbahaya?”
“Kalau begit aku akan memberitahu ayah!”
Nora langsung berdiri dan ingin lari menuju ruangan kerja ayahnya.
“Ahk! Aku membuat kesalahan.”
Gumam Leathina yang langsung mengambil sebuah kerikil yang ada di sekitarnya dan melemparkannya hingga mengenai kaki Nora hingga Nora malah terjatuh.
“Aww!” Jerit Nora kesakitan, dan mulai menangis.
“Hustt! Diam, diam, baiklah aku akan membawamu!”
“Benarkah!” mendadak Nora langsung terdiam.
Leathina mengangguk, walaupun sebenarnya ia masih tidak yakin dengan keputusannya.
“Tapi kau tidak boleh memberitahukan pada siapapun!”
“Iya, Aku janji!”
“Baiklah, kembali ke ruangan mu.” Leathina membalikkan badan Nora kemudian mendorongnya menjauh dari dirinya dan memintanya untuk segera kembali ke ruangannya.
“Bukankah kakak akan pergi? Apa kakak akan meninggalkan aku?!”
“Bagaimana dengan menyelinap keluar? Aku juga ingin merasakan menyelinap keluar secara diam-diam dan kembali secara diam-diam juga, sepeti yang kaka Leathina lakukan. Malam itu kakak bahkan mppp....”
“Kau terlalu cerewet kembali ke kamarmu dan bersiap sekarang, kita tidak akan menyelinap!”
“Apa yang akan kakak lakukan?”
“Diam saja dan ikuti saja interaksi ku, aku beri waktu lima menit untuk bersiap. Aku menunggumu di ruangan ku.”
“Baik!” seru Nora bersemangat dan langsung berlari ke ruangannya.
“Duh, aku dalam masalah sekarang.” Gumam Leathina yang juga berjalan kembali ke ruangannya sambil memijat keningnya untuk mengurangi rasa sakit kepalanya setelah berdebat dengan Nora.
“Baiklah, aku hanya perlu membawanya ke suatu tempat dan berpura-pura melakukan hal yang luar biasa.” Batin Leathina.
Leathina terus menggerutu selama perjalanan kembali ke kamarnya dan menghela nafas panjang saat dilihatnya masih banyak penjaga yang sedang berjaga di sekitar ruangannya.
"Haiss! ini menjengkelkan." Gumam Leathina yang merasa kesal.
“Edward?!” Leathina terkejut ketika melihat Edward telah berada di ruangannya.
“Kau datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.” Ucap Leathina yang kemudian langsung duduk.
“Ah, maafkan aku. Aku tidak menemukan pelayanmu aku juga tidak melihatmu, pelayan yang lainnya membawaku kesini dan memintaku menunggu sampai kamu kembali.”
“Jadi kenapa kau datang?”
“Kau melarangku datang di malam hari, jadi aku datang di siang hari untuk memilihatmu.”
“Baiklah, bagus untukmu.”
“Apa kau terlibat dalam sebuah masalah? Kenapa kau terlihat buruk Leathina.”
“Aku baru saja melakukan kesalahan, tapi kau tidak perlu khawatir.”
“Dalam hal apa? Apa kau perlu bantuanku, katakan saja aku akan menyingkirkan orang yang menganggumu.”
“Tidak bisa, kau mustahil menyinkirkannya.”
“Siapa? Katakan saja namanya. Aku akan langsung mencarinya untukmu.”
“Nora!”
“Maaf siapa?” tanya Edward yang mengira dirinya hanya salah dengar saja.
“Leathina?” tanya Edward kebingungan dengan apa yang baru saja dikatan oleh Leathina.
“Sudah aku katakan kan. Kau tidak mungkin melakukannya, jadi tidak usah repot-repot.”
“Itu karena jika aku melakukannya maka kau pasti akan sedih, tapi mudah bagiku untuk menyingkirkannya jika dia bukan adikmu.”
“Iya, iya aku tahu. Tapi Edward apa selama ini kau baik-baik saja?”
“Iya aku merasa baik-baik saja, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Tidak, hanya saja aku penasaran apakah kau pernah mengalami perasaan yang aneh seperti tiba-tiba merasa tidak suka denganku walau hanya sebentar, atau tiba-tiba ingin membunuhku.”
“Kau aneh hari ini Leathina.”
“Benarkah?”
“Iya apa ada sesutu yang menganggumu?”
“Tidak hanya saja aku kahwatir jika nanti tiba-tiba kamu akan merasa seperti itu, apa yang harus aku lakukan.” Gumam Leathina pelan sambil melihat ke arah jendela kamarnya.
“Apa katamu?” taya Edward lagi, tapi tidak ada jawaban dari Leahina.
“Kakak Leathina!”
Disaat bersamaan Nora tiba-tiba menerobos masuk dan langsung berlari ke arah Leathina dengan sengaja memblok pandangan Edward yang sedang serius menatap Leathina.
“Ah, kau sudah disini.” Ucap Leathina dan kembali duduk dengan baik.
“Edward maafkan aku, tapi seperti yang kau lihat aku telah berjanji pada Nora untuk menemaninya hari ini. Lain kali beritahukan terlebih dahulu jika kau ingin datang berkunjung.”
“Baiklah Leathina aku mengerti, aku juga akan segera pergi karena memiliki urusan lain.”
“Terimakasih telah mengunjungi ku Edward dan hati-hati dalam perjalanan pulang mu.”
“Iya sampai jumpa.”
Leathina mengantar kepergian Edward sampi ke depan pintu ruangannya, dan setelah memastikan bahwa Edward telah benar-benar pergi Leahina masuk kembali ke ruangannya dan segera mengunci pintu ruangannya dari dalam.
“Kakak?” panggil Nora tapi Leathina malah langsung berlari ke arah jendela dan melihat kereta milik Edward benar-benar telah pergi.
“Kakak Leathina?” panggil Nora lagi yang kini telah berdiri di depan Leathina, berusaha untuk menarik perhatian Leathina yang terlalu serius melihat keluar jendela
“Oh, Nora! Jadi apa yang kau bawa kenapa bajumu menggembung seperti itu? perasaan beberapa saat yang lalu perutmu masih datar.” Leathina melihat pakaian Nora yang menggembung serta pada beberapa bagian menojolkan sesuatu yang terlihat aneh.
“Kakak Leathlah!” seru Nora sambil membuka pakaian lapisan luarnya.
“Apa-apaan semua ini?” Leathina melongo ketika melihat apa yang ada di balik pakian Nora.
Dilihatnya Nora menyelipkan banyak senjata di beberapa pakainnya yang hampir memenuhi bahkan seluruh tubuhnya.
“Brak!”
Leathina menarik-narik pakaian yang dikenakan Nora dan beberapa senjata yang Nora selipkan jatuh berguguran.
“Ah, aku mengambil beberapa senjata di ruangan penyimpanan senjata yang digunakan para prajurit menyimpan senjata.” Jawab Nora kemudian menunduk dan memungut kembali satu persatu senjatanya yang berjatuhan.
“Ini bawa yang ini saja, kau akan sulit bergerak jika membawa senjata sebanyak itu.” Leathina mengambil sebuah belati yang tidak sengaja jatuh di dekat kakinya dan memberikannya kembali pada Nora.
“Tapi aku hanya mahir menggunakan pedang bukan pisau kecil?”
“Kita tidak pergi bertarung, kita hanya pergi melihat beberapa penjahat dari kejauhan. Seperti mengamati mengsa.”
“Wah! Itu hebat.” Nora menyimpan semua senjata-senjatanya dan mengambil belati yang diberikan Leathina untuknya.
“Apa kakak tidak membawa senjata? Kenapa begitu tenang.”
“Ah, aku bawa. Hanya saja kau tidak perlu tahu dimana aku menyimpannya, hanya orang bodoh yang memebritahu orang lain dimana letak senjata rahasianya, jadi biarkan hanya kamu saja yan tahu tentang pertahanan dirimu. Kau paham?”
Nora mengangguk paham kemudian mencari letak yang tepat di mana ia bisa menyimpan senjatanya.
“Kau harus menyimpan senjatamu di tempat yang mudah kau jangkau saat terdesak, Nora.”
“Apa di sini boleh?” Tanya Nora sambil menyimpan belatinya di punggungnya dan kembali menutupinya dengan pakiannya.
“Barusan aku beritahu bahwa rahasiakan tempatmu menyimpan pertahanan diri tapi kamu malah menunjukkanya padaku.”
“Kenapa? Bukannya tidak apa-apa jika itu kakak Leathina?”
“Jangan terlalu percaya pada orang lain Nora, bukankah dulu aku sering menyiksamu, simpan sedikit rasa dendam mu padaku untuk memperkuat dirimu. Kau akan menjadi orang lemah jika terlalu baik dan pemaaf.”
Nora hanya tersenyum mendengar perkataan Leathina kemudian segera memperbaiki pakaiannya yang tadi berantakan.
“Baiklah kau siap?!” tanya Leathina.
Nora dengan semangat mengangguk mengiyakan.
“Baiklah ayo pergi.”
Leathina memberitahu penjaga yang berjaga di depan pintunya bawa ia akan pergi berjalan-jalan ke kota bersama Nora, Leathina juga meminta agar tidak perlu ada penjaga yang mengikutinya dan juga memberitahu bahwa mereka berdua akan memakan waktu lama di luar.
“Kakak apa kita tidak perlu memberitahu ayah dulu?” tanya Nora pada Leathina.
“Tidak usah, jika kita memberitahukan ayah. Maka dia pasti akan mengirimkan penjaga jadi kita pergi tanpa izin saja setidaknya dia akan tahu bahwa kita hanya pergi bermain-main sebentar di luar.”
“Baiklah ayo naik!”
Leathina melompat naik ke atas kuda kemudian mengulurkan tangannya agar Nora bisa ikut naik bersamanya.
“Kakak, kenapa kita tidak menggunakan kereta saja? Aku takut tika nanti kakak sakit, bukankah kakak belum pulih sepenuhnya.”
“Kalau kau tidak mau ikut ya sudah.” Leathina pun memacu kudanya pelan, Nora yang takut di tinggal langsung menarik kaki Leathina untuk menahannya.
“Aku, aku ikut.”
“Baiklah, ayo naik.”
Leathina kembali mengulurkan tangannya dan membantu Nora naik ke atas kudanya dan mereka berdua pun berada di satu kuda yang sama.
Setelah Nora naik ke kudanya Leathina langsung memacu kudanya berlari ke luar dari mansion.
“Pakai tudung jubahmu, dan berpegangan agar tidak jatuh.” Ucap Leathina sambil menutup kepala Nora.
“Iya kak, tapi aku juga mahir menunggangi kuda kenapa tidak memberikan aku kuda lainnya.”
“Kenapa? apa kau tidak suka berkuda denganku? Lagi pula aku tidak bisa mengawasimu dengan baik jika kau juga punya kuda sendiri jadi lebih baik seperti ini.”
“Bukan begitu, hanya saja aku seperti anak perempuan yang harus di jaga. Padahal aku yang ingin menjaga kakak Leathina.” Gumam Nora pelan.
“Kau harus lebih tinggi dari orang yang ingin kau lindungi, baru kau bisa melindunginya kau terlalu lucu Nora.” Ucap Leathina yang kemudian di susul dengan suara cekikikan karena berusaha menahan tawanya agar tidak pecah dan menyinggung perasaan Nora.
“Jahat sekali, kakak menertawakan aku.” Gumam Nora dengan wajah cemberut karena merasa malu, karena yang dikatakan oleh Leathina memanglah benar bahwa tubuhnya masih jauh lebih pendek dari Leathina.
Leathina yang mendengar gumama Nora hanya tersenyum tanpa menimpali agar Nora merasa tidak terpuruk.
“Kakak kita sudah sampai di kota, kakak akan kemana?” tanya Nora karena Leathina hanya terus berjalan di jalan besar dan berhenti saat berada di depan sebuah toko camilan.
“Oh, aku akan memperkenalkan mu dengan adik-adikku yang lainnya.” Jawab Leathina dengan bercanda.
“Apa kakak punya adik lain selain aku? Atau apa ayah mempunyai istri lain dan melahirkan anaknya secara diam-diam?!”
“Apa yang kau katakan! Tidak ada yang seperti itu, mereka adik-adik yang aku pilih sebagai adikku.” Ucap Leathina meluruskan kesalah pahaman pada Nora.
Nora hanya dia tidak menanggapi lagi ucapan Leathina tapi masih patuh mengikuti Leathina dan membantu Leathina membawa beberap toples permen dan kue ke meja kasir.
“Tolong bungkus semua ini agar kami mudah membawanya, kami tidak menggunakan kuda.” Ucap Leathina memberitahu kasir setelah membayarnya.
Setelah membayar dan kasir membungkuskan semua belanjaannya Leathina segera melanjutkan kembali perjalannaya.
“Kenapa anak ini tiba-tiba jadi pendiam?” batin Leathina dan melirik Nora yang sedari tadi hanya diam setelah keluar dari toko camilan.
...***...