I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 178



Setelah keluar dari toko camilan tidak ada percakapan diantara Leathina dan Nora, sejak tadi Nora hanya terdiam sementara Leathina juga sama. Leathina hanya fokus dengan perjalanannya agar bisa segera sampai.


“Aku penasaran bagaimana kabar anak-anak itu, sudah lama aku tidak mengunjungi mereka. Apa si kecil sudah besar ya?” batin Leathina tidak sabar bertemu dengan anak-anak di rumah panti.


“Kakak kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Nora yang kini mendongak dan memperhatikan wajah Leathina yang semenjak tadi hanya terus tersenyum.


“Tentu saja, kau juga jangan pasang wajah cemberut seperti itu. Kau akan membuat mereka takut.”


“Haiss, kakak Leathina ternyata menduakan aku.” Gumam Nora yang merasa kesal dengan Leathina.


Leathina hanya tersenyum tidak menanggapi gumaman Nora yang terlihat sangat kesal.


“Anak mana yang sangat disukai kakak Leathina hingga tersenyum seperti itu, aku tidak menyukainya!” Batin Nora yang merasa kesal.


“Kau tidak perlu iri dengan mereka, kau harus bersikap baik pada anak-anak itu nantinya.” Ucap Leathina memberitahu Nora.


Nora terperanjat karena meras Leathina dapat membaca pikirannya dan mendongak melihat Leathina.


“Kakak membaca pikiranku?”


“Tidak, memangnya apa yang kau pikirkan?”


“Tadi aku memikirkan untuk membenci adik kakak yang lainnya.”


“Itu terlihat jelas di wajahmu.”


“Benarkah?”


“Iya, coba saja bercermin. Wajahmu mengatakan bahwa kau sekarang sedang merasa kesal dan marah padaku, bukan?”


“Aku tidak marah pada kakak Leathina tapi aku marah pada adik-adik kakak yang Lain.”


“Nah sekarang lihat ke depan.” Ucap Leathina memberitahu Nora.


Nora menuruti ucapan Leathina dan melihat sebuah mansion yang tidak terlalu besar dari kejauhan.


“Jadi ini rumahnya.” Gumam Nora kemudian mengamati dari kejauhan.


Dilihatnya banyak anak-anak yang sedang bermain di pekarangan dan saat Leathina melewati gerbang dan membuat anak-anak melihatnya semua anak-anak reflek langsung berlari ke arah Leathina.


“Kakak Lea!” seru semua anak-anak berebutan ingin sampai lebih dulu dari yang lainnya untuk menyambut kedatangan Leathina.


“Ah, jangan mendekat kalian akan terluka jika berada di bawa kuda!” Seru Leathina kemudian melompat turun dari kudanya dan segera mengikatnya agar tidak lepas.


“Kakak Lea, kami dengar bahwa kakak sedang sakit?”


“Iya, kami khawatir  dengan kakak.”


“Kakak juga tidak pernah lagi mengunjungi kami.”


Seru anak-anak yang saling berebutan ingin berbicara dengan Leathina, Leathina hanya tersenyum dan pelan-pelan berjalan ke arah anak-anak berkumpul.


"Seperti yang kalian Lihat, aku baik-baik saja."


Semua anak-anak langsung berlarian memeluk Leathina hingga membuat Leathina kesulitan menjaga keseimbangannya dan pada akhirnya malah terjatuh di rumput.


“Hei! Kalian membuat kakak ku terjatuh!” teriak Nora, kemudian meminta semua anak-anak melepaskan Leathina.


"Kenapa Nora berbisnis dengan menekankan pada kalimat kakakku, apa dia sedang cemburu sekarang?" batin Leathina saat dilihatnya Nora tengah sibuk mengurus anak-anak meminta mereka sedikit menjauh dari Leathina.


“Tidak apa-apa Nora, aku baik-baik saja. Jangan berteriak seperti itu kau membutannya takut.”


“Ma- maafkan aku, ambil ini kakak ku membelikannya untuk kalian!” ucap Nora kemudian langsung memberikan bungkusan berisi camilan yang tadi ia beli di kota bersama dengan Leathina.


“Woah! Ada permen dan biskuit!” seru semua anak bersemangat.


“Terimakasih!” ucap anak-anak lagi mengambil kantungan yang diberikan Nora dan langsung berlari ke arah mansion untuk membagikannya pada anak-anak lainnya.


“Mereka anak-anak yang tidak meiliki orang tua, jadi kau harus bersikap baik padanya. Aku tidak membawamu kesini hanya untuk membuatnya takut.” Ucap Leathina tegas membritahu Nora.


“Maafkan aku kak, aku akan bersikap baik.” Nora menurut karena tidak ingin mengecewakan Leathina.


“Baiklah, anak pintar.” Ucap Leathina memuji Nora, kemudian berdiri dan berjalan ke mansion mengikuti anak-anak yang telah berlari lebih dulu ke mansion.


“Selamat datang Nona Leathina.” Sambut madam Gisella yang merupakan salah satu pengurus panti.


“Terimakasih madam Gisella.” Jawab Leathina sopan.


“Apa anda ingin menitipkan anak baru? Kami akan menjaganya dengan baik nona muda.” Jawab pengurus panti lainnya yang terlihat masih baru di panti.


“Ah, ini adikku Nora. Kami hanya datang berkunjug” Leathina langsung memperkenalkan Nora karena madam Gisella  dan yang lainnya sepertiya salah paham mengira ia akan menitipkan anak baru di panti.


“Mafkan kesalahpahaman kami nona Leathina.” ucap madam Gisella dan yang lainnya pada Leathina.


“Tidak apa-apa, ini pertama kalinya kalian melihat adikku. Tapi, sepertinya banyak pengurs baru yang sekarang bekerja disini?” Ucap Leathina kemudian memperhatikan beberapa pengurus panti yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


“Betul kami kedatangan beberapa orang yang ingin bekerja secara suka rela sebagi pengasuh di sini, maafkan saya tidak meberitahu anda terlebih dahulu selaku orang yang membuat tempat ini nona.”


“Ah, kalian tidak perlu meminta izin padaku jika itu sesuatu yang baik.”


“Tapi tetap saja kami seha ...”


“Kalian terlalu berlebihan, jangan seperti itu, aku jadi merasa tidak enak.” Ucap Leathina dengan canggung.


“Kakak?” panggil Nora pada Leathina.


“Hustt! Diam.” Bisik Leathina pada Nora.


“Nona Leathina! Akhirnya anda datang juga aku khawatir karena kabar yang beredar di kota.” Seru salah satu pengasuh yang berlari ke arah Leathina.


“Emely! Aku baik-baik saja. Bagaimana lukamu apa sudah sembuh?”


“Tentu saja sudah sembuh, nona yang me...mmppp.”Leathina langsung menutup mulut Emely.


“Bagaimana kabar kakakmu?”


“Kakakku dimasukkan ke dalam penjara karena bekerja sama dengan penjahat.”


“Jadi seperti itu, jadi untuk apa kamu kembli ke sini lagi?”


“Aku kesini sebagai pengasuh, aku akan hidup disini untuk sekarang dan membantu anak-anak tumbuh dengan baik.”


”Wah! terimakasih Emely.”


“Ah, kami yang seharunya berterimaksih pada Nona Leathina.”


“Itu tidak perlu.”


“Agam?!” seru Leathina saat meilhat seorang anak yang tiba-tiba menyembul keluar dari punggung Emely.


“Wah kau sudah besar.” Ucap Leathina kemudian mencubit pipi Agam.


Agam mengulurkan kedua tangannya dan menatap Leathina dengan wajah yang hampir menangis.


“Sepertinya Agam merindukan anda Nona Leathina.” Ucap Madam Gisella memberitahu Leathina.


“Ah, jadi begitu. Kalau begitu kemarilah.”


Leathina kemudian lansgung mengambil Agam dari Emely dan menggendongnya di punggungnya dengan hati-hati, agam melingkarkan tangannya pada Leathina dan memeluknya erat.


“Kau serindu itu yah?” gumam Leathina ynag merasa gemas dengan Agam yang masih memeluknya.


“Ohiya, perkenalkan ini adiku Nora dan Nora perkenalkan ini Agam. Bersikap baiklah satu sama lain.” Ucap Leathina memperkenalkan keduanya.


“Senang bertemu denganmu adik kecil.” Ucap Nora menyambut Agam saat Leathina menunjukkannya padanya, sementara Agam hanya melihat Nora.


“Baiklah. Ayo kita bermain di luar bersama anak-anak yang lainnya.”


Leathina mengajak Adiknya Nora dan Agam keluar untuk bermain bersama anak-anak lainnya. Tapi saat anak-anak melihatnya mereka semua malah berhenti bermain dan malah berkumpul mengelilingi Leathina.


“Kakak Lea, apakah kabar itu benar?” tanya anak-anak penasaran.


“Kabar apa yang kalian dengar?” Tanya Leathina.


“Itu tentang kabar yang mengatakan bahka kakak sakit parah.” Ucap anak-anak khawatir.


“Apa aku terlihat sakit sekarang?” tanya Leathina sambil tersenyum.


Semua anak-anak menggeleng-gelengkan kepalanya secara bersamaan, melihat itu Leathina merasa lega karena anak-anak tidak khawatir lagi tentang dirinya.


“Kakak Leathina terlihat sangat kuat!” ucap anak-anak yang mulai berceloteh.


“Kakak Leathina akan selalu sehat!”


“Kakak Leathina kan memang selalu sehat.”


“Terimaksih anak-anak. Tapi kalian terlalu memujiku,” ucap Leathina yang mulai merasa canggung karena anak-anak terus memujinya.


Setelah itu mereka semua pun bermain bersama begitu pula Nora yang terlihat sangat senang bisa bermain bersama anak-anak, dia juga terlihat akrab dengan Agam yang baru pertama kali ia temui.


Leathina yang melihat semua itu juga merasa sangat senang karena akhirnya bisa bertemu kembali.


“Untunglah aku membawa Nora kesini, anak-anak sepertinya sangat menyukainya.” Gumam Leathina kemudian duduk di rerumputan karena lelah bermain kejar-kejaran dengan anak-anak.


“Aku harus keluar untuk berkeliling di kota, tapi aku tidak ingin membawa Nora ikut denganku.” Batin Leathina yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.


“Kakak sudah mau pulang?” tanya Nora yang kemudian menghampiri Leathina saat melihatnya kembali berdiri.


“Iya sebentar lagi malam, kita harus kembali. Ayah dan ibu mu pasti akan khawatir karena aku membawamu tanpa meminta izin mereka terlebih dahulu.”


“Eh? Sudah mau pulang. Bukankah kakak ada keperluan lain?”


“Keperluan apa, aku keluar hanya untuk bermain-main seperti ini. Jadi jangan berpikir yang macam-macam.” Leathina berbicara sambil mencubit pipi Nora karen terlihat kecewa.


“Baiklah anak-anak kami pamit pulang dulu ya.” ucap Leathina berpamitan dengan anak-anak panti.


“Kakak Nora harus sering-sering datang ya, kakak Leathina juga.”


Nora dan Leathina hanya tersenyum tidak mengiyakan karena tidak ingin berjanji, sulit bagi keduanya terus berkeliaran di luar.


“Kakak Leathina mau kemana, bukan kah kuda kita ada di sana?"


“Aku juga harus berpamitan dulu pada madam Gisella dan pengurus panti lainnya.”


Nora mengikuti Leathina dari belakang tapi berhenti saat berada di ambang pintu tidak ikut masuk dengan Leathina dan hanya menunggu di luar.


“Saya pamit pulang, madam Gisella.” Ucap Leathina berpamitan dengan para pengurus panti.


“Terimaksih telah berkunjung nona Leathina.”


“Saya mungkin akan jarang berkunjung lagi untuk kedepannya madam, ambillah ini dan gunakan untuk keperluan anak-anak dan juga para pengurus panti.” Leathina menyerahkan sebuah kantung uang pada madam Gisella.


“Terimaksih banyak nona, kami benar-benar berterimakasih.” Ucap Madam Gisella kemudian membungkuk untuk memberikan rasa hormatnya.


“Saya pamit terimakasih telah menjaga semua anak-anak dengan baik.”


“Hati-hati di perjalanan anda Nona Leathina.”


Setelah berpamitan Leathina langsung keluar, dan berjalan pergi menuju tempatnya menyimpan kuda miliknya.


“Ayo Nora kita pulang, pakai jubahmu dan tutupi kepalamu.”


“Baik kak.”


Nora langsung mengenakan jubahnya dan memasang tudung kepalanya seperti yang di minta Leathina, dan naik ke atas kuda dibantu oleh Lethina.


“Aku tidak tahu kalau kakak membangun panti asuhan.”


“Kau salah aku tidak membangunya sendiri, ada beberapa orang baik lainnya yang ikut andil.”


“Siapa? Apa aku mengenalnya?”


“Kau tidak mengenalnya."


"Tapi, apa anak-anak tadi memang tinggal disana dari kecil? Tampaknya mansion itu bukan di bangun sebagi tempat penampungan anak-anak.”


“Anak-anak tadi adalah korban perdagangan manusia yang dilakukan penjahat, aku tidak sengaja bertemu dengan penjahat yang membawa mereka dan membawanya kesini.”


“Benarkah?  Wah, kakak benar-benar hebat. Apa kapan-kapan aku boleh datang ke sini lagi?”


“Tentu saja boleh, tapi kau harus merahasiakannya.”


“Kenapa bukankah itu baik jika diketahui oleh orang banyak?”


“Pokonya jangan, apapun yang terjadi jangan memberitahukan siapapun. Tanpa terkecuali ayah dan Nicholas tentu saja ibumu juga tidak boleh. Kau janji?”


“Iya aku janji.”


“Anak pintar.”


“Tapi kakak, bukankah kakak terlalu banyak menyimpan rahasia? Aku tidak pernah berfikir kakak Leathina akan seperti ini.”


“Memangnya apa yang kau bayangkan tentangku.”


“Tidak ada bayangan sama sekali, soalnya selama ini kakak Leathina hanya diam tidak menjelaskan apapun dan tidak ingin melibatkan sipapun.”


“Jadi, apa kau menyukaiku Nora?”


“Kenapa kakak Leathina mengajukan pertanyaan aneh seperti itu? Tentu saja aku menyukai kakak Leathina, bukankah sudah terlihat di wajahku?”


“Aku tidak bisa melihat wajahmu sekarang jadi aku tidak tahu.” Jawab Leathina dengan bercanda.


“Kakak bukankah kita harus membeli sesuatu sebelum pulang? Orang rumah  pasti akan curiga jika kita tidak membawa apa-apa kembali ke mansion.”


“Kau benar Nora, apa yang sebaiknya kita beli?”


“Beli saja beberapa kue atau camilan untuk dibagikan pada ayah, Nicholas dan Ibu.”


“Baiklah kita akan singgah membelinya kalau begitu.”


Leathina dan Nora pun langsung membeli beberapa kue dan camilan untuk dijadikan oleh-oleh saat pulang ke rumah di toko kue terdekat yang mereka berdua temukan.


“Apa kau lapar?” tanya Leathina setelah menyadari bahwa sudah sejak tadi mereka berkeliaran tanpa mengisi perut sama sekali.


“Apa kakak juga lapar?”


“Leathina mengangguk kemudian mengedarkan pandangannya mencari kedai makanan yang bisa mereka masuki untuk mengisi perut mereka.”


“Ahk! Kemari Nora.”


Tiba-tiba Leathina menarik Nora bersembunyi di balik tumpukan barang-barang, sesekali Leathina mengintip untuk memastikan orang yang ia lihat tadi adalah orang yang benar atau bukan.


“Siapa kak?” tanya Nora kemudian ikut mengintip mencari-cari orang yang harus mereka hindari.


“Itu Anne, bisa bahaya jika dia melihat kiat disini.” Leathina menunjuk ke sebuah toko dan melihat Anne berdiri di sana bersama teman-tamannya yang lain.


“Mereka juga sedang berjalan-jalan,” gumam Nora yang juga ikut mengamati Anne dari kejauhan.


“Kakak, mereka semua membeli topeng.”


“Iya topeng, eh ..” ucapan Leathina langsung terhenti saat melihat Anne dan teman-temannya membeli topeng di seberang jalan.


“Apa jangan-jangan Anne dan kawannya juga mendengar rumor tentag restoran misterusi yang ada di daerah kumuh itu, ini bisa berbahaya mereka masuk perangkap orang-orang jahat.” Gumam Leathina sambil terus memperhatikan Anne dari kejauhan.


“Rumor?” tanya Nora bingung. “Ah, aku juga pernah dengar tentang restoran dengan aturan topeng. Tapi untuk apa pelayan kakak ke sana?”


“Aku harus mengikutinya, tapi aku tidak mungkin membawa Nora bersamaku ke tempat seperti itu.” Batin Leathina kemudian menatap Nora dengan khawatir, takut jika Nora akan berada dalam bahaya.


“Jangan bilang kakak berfikir untuk mengirimku kembali?”


“Iya kau harus kembali sekarang Nora. Aku akan membayar seseorang untuk mengantarmu kembali dengan aman, ayo.”


“Tidak mau.” Nora menarik tangan Leathina yang akan berdiri dan menolak untuk dikirim kembali.


“Ini berbahaya aku harus mengirimmu kemb...”


“Kakak bersembunyi!” Nora kembali menarik Leathina dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya saat Anne tiba-tiba menoleh ke arah tempat mereka bersembunyi.


“Refleks mu bagus Nora.”


“Kakak tidak harus memujiku di saat-saat seperti ini, aku tahu kakak mencoba untuk membujukku kembali. Pokoknya aku tidak ingin kembali jika tidak bersama kakak Leathina.”


“Baiklah, baiklah, tapi sebelum itu kita harus membuat aturan mutlak dan kau harus menuruti semua aturannya jika kau melanggar maka aku akan langsung memulangkan mu.”


“Baiklah aku setuju.”


“Pertama jangan menjauh dariku, tetap berada dalam jangkauan pengawasanku. Kedua jangan bertindak sesukamu dan lakukan apapun yang aku katakan. Paham?”


“Aku paham.”


“Bukan hanya paham kau juga harus berjanji padaku.”


“Aku berjanji pada kakak Leathina akan mengikuti semua aturan yang kakak Leathina buat.”


“Baiklah.”


Mereka berdua pun saling membuat kesepakatan dan mengikuti Anne dari kejauhan untuk tetap mengawasi kemana perginya Anne.


...***...