
“Bukankah kau sudah tahu semuanya, dari pertama kita bertemu sampai sekarang bukankah kau sudah tahu semuanya?”
Edward tertegun sejenak dan sedetik berikutnya ia kembali pada kesadarannya, ditatapnya Leathina sebentar kemudian mengalihkannya kembali.
“kau mau mengelak?” Leathina dengan sengaja memancingnya.
“Jadi kau tahu?” Edward menghela nafas panjang, kemudian kembali menatap lurus ke arah Leathina. “Malam itu, kau tidak tidur?” Tanya Edward mengingat kembali saat setelah bertemu dengan Leathina untuk yang pertama kalinya dan menyelamatkannya ia menyusup masuk ke dalam kediaman Yarnell untuk melihat kondisi Leathina setelah itu.
“Ah? Kapan? Kau pernah mengunjungiku saat aku tidur?” Tanya Leathina kebingungan.
“Bukannya aku memang sering datang?” Jawab Edward disusul dengan tawanya membuat Leathina menjadi kebingungan lalu kemudian Edward kembali serius.
“Jadi beritahu aku kekurangannmu?” Edward kembali bertanya dengan bersungguh-sungguh.
“Apa saja yang kau tau dan dari mana kamu tahu bahwa aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk diriku sendiri?” Tanya Leathina kembali.
Leathina berfikir sejenak sambil menunggu jawaban dari lawan bicaranya ‘Kenapa Edward berfikir aku tidak bisa menggunakan kekuatanku untuk diriku sendiri?’ batin Leathhina penasaran.
“Malam itu, saat naga menyerang kerajaan bukankah kau juga terluka tapi aku tidak melihatmu menggunakan kekampuanmu itu untuk dirimu sendiri jika kau punya kemampuan sehebat itu tidak akan berguna jika tidak bisa digunakan menyembuhkan penggunanya.” Jawab Edward, ingatanya kembali pada malam tragis saat ia kehilangan Leathina yang dibawa pergi oleh Naga yang mengamuk di dalam pesta pada malam itu.
Leathina kmbali tertegun, menaikkan satu alisnya kemudian menatap Edward dengan serius berfikir keras bagaimana caranya menjelaskan pada Edward situasi yang sebenarnya malam itu.
Saat itu Leathina bukannya tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan lukanya sendiri, tapi saat itu Leathina sudah terlalu banyak menggunakan energy dari tubuhnya untuk menyembuhkan orang-orang yang terluka parah termaksud ayahnya jika ia memaksakan diri maka ia akan pingsan atau bisa mati karena energinya terkuras habis.
“Huf!” Leathina akhirnya menghela nafas kemudian kembali berfikir kera. ‘Sepertinya ada kesalahpahaman disini, karena aku tidak menggunakan kekuatanku malam itu jadi Edward mengambil kesimpulan bahwa aku tidak bisa menggunakannya untuk menyembuhkan diriku sendiri, aku beritahu atau tidak ya? Aku suka melihatnya mengkhawatirkanku tapi aku juga merasa kasihan melihatnya.’
“Melihatmu tidak membalas kalimatku, membuktikan bahwa kamu benar-benar tida bisa menggunakan kemampuanmu itu untuk menyembuhkan dirimu sendri? Kalau begitu aku berharap kamu jadi wanita biasa saja tanpa kemampuan special seperti ini.” Edward terlihat sangat sedih, perlahan tangannya menggapai tangan Leathina dan mengenggamnya erat-erat seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya.
‘Duh! Bagaimana ini imutnya.’ Leathina kegirangan dalalm hati, tidak menyangka melihat sisi Edward yang ke kanak-kanakan. ‘Aku tidak membayangkan seorang monster pembunuh berdarah dingin sepertinya bisa bersikipa seperi ini, sebaiknya aku menyimpan beberapa rahasia untuk diriku sendiri, aku juga tidak boleh terlalu mempercayai seseorang. Maafkan aku Edward bukannya aku tidak mempercayaimu taoi aku juga harus berhati-hati.’
Leathina menghirup nafa dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan untuk mengontrol ekspersi wajahnya di depan Edward, namun karena masih gagal dan mashi ingin tertawa Leathina mencubit pahanya sendiri membuatnya menjadi kesakitan.
“Akh!” Leathina menutup mulutny secepat mungkin kemudian memperbaiki ekspresinya mencoba menjadi seserius mungkin.
“Leathina ada apa?” Tanya Edward panik melihat Leathina menunduk terlalu lama.
“Tidak aku tidak apa-apa Edward, dan tolong lepaskan tanganku dulu.”
“Ah! Maafkan aku, aku mengenggamnya tanpa sadar.”
“Tidak apa-apa.”
Setelah lama tertunduk menahan tawa dan menyembunyikan ekspresinya Leathina akhirnya duduk dengan tegap dan menatap Edward dengan serius.
Mata Edward yang tajam melihat pada ujung mata Leathina yang kini berair.
“Apa ada yang sakit?” Tanya Edward khawatir. “Kau menangis Leathina.” Ucapnya hendak mengusap air mata yang ada disudut mata Leathina namun tangannya ditepis oleha Leathina.
“Ah! Aku tidak apa-apa.” Ucap Leathina kemudian segera mengusap matanya dengan kencang.
“Baiklah akan aku katakana semuanya.” Jawab Leathina dengn serius membuat Edward dengan seksama mendengarkannya agar tidak melewatkan dan melupakan apa yang akan dikatakan oleh Leathina.
“Seperti yang kau tahu Edward menggunakan sihir berlebihan pasti memiliki efek samping pada penggunanya. Semakin besar kekutan yang kau gunakan maka besar pula harga yang akan kau bayar.”
Leathina terdiam sejenak memastikan Edward mendengarkan apa yang dia katakana, namun karena merasa gemas melihat Edward Leathina kembali tertunduk menahan diri agar tidak mencubit dua pipinya itu.
‘Aku jadi sedikit merasa bersalah, pada anak ini.’ Batinnya sambil memperbaiki ekspresinya kembali.
“Leathina, Teruskan aku siap mendengarkannya.” Dengan serius Edward menganggam tangan Leathina berusaha menguatkan perempuan berambut merah itu.
“Baiklah.” Leathina kembali duduk dengan benar dan memasang tampang bersungguh-sungguh.
“Aku bisa menggunakan sihir penyembuh karena mendapat sedikit hadiah dari dewa tapi aku tidak bisa menggunakannya secara berlebihan berbeda dengan pengguna sihir lainnya yang jika memaksa menggunakan sihir penyembuh secara berlebihan energy sihirnya lah yang akan habis dan hanya akan pingsan tapi dengan beristirahat beberapa hari kemampuannya akan kembali. Aku sedikit berbeda, aku juga dapat memulihkan energiku tapi jika digunakan secara terus- menerus tanoa henti maka yang akan terisap adalah energi kehidupanku sendiri hingga disaat itu aku bisa saja langsung meninggal.” Ucap Leathina dengan serius membuat Edward sedikit tercengang.
‘Aku tidak berbohong aku hanya tidak mengatakan semuanya, waktu itu kalau tidak salah orang itu maksudku kupu-kupu, dewa atau apapun itu yang membantuku hidup kembali setelah mati di bumi menjelaskannya seperti ini, jadi aku tidak sepenuhnya berbohong.’ Leathina mengingat-ingat kembali peringatan yang diberikan untuknya setelah diberi hadiah dulu.
“Itu berarti apapun itu kamu pasti akan mati dengan kekuatanmu sendiri, apa masih ada lagi?” Tanya Edward dengan sedih.
“Ah, itu sebenarnya aku juga …” Leathina ragu-ragu mengatakannya pada Edward takut jika hal yang akan dia katakana dapat dimanfaatkan.
“Katakanlah Leathina, aku akan membantumu apapun itu.”
‘Apa sebaiknya aku tidak mengatakannya ya?’ Leathina bingung tapi pada akhirnya tetap memberitahu Edward salah satu kelemahan terbesarnya sekarang ini.
‘Benar, yang ahli menggunakan pedang adalah Leathina yang asli aku hanya beruntung memiliki tubuhnya yang dapat bergerak dengan sendirinya karena terbiasa digunakan jadi aku masih bisa berkelahi dan membela diri tapi jika dibandingan dengan Leathina yang asli aku kalah telak.’
“Tidak apa-apa, aku masih bisa melindungimu. Aku bersumpah!” Jawab Edward bersungguh-sungguh.
Leathina merasa terharu mendengar jawaban Edward karena baik dikehidupan sebelumnya ataupun sekarang baru kali ini ia mendengar kalimat yang mengatakan akan melindunginya.
“Terimakasih Edward.” Leathina tersenyum sementara matanya berkaca-kaca tapi dengan cepat memperbaiki emosinya kembali agar kembali stabil.
“Terimakasih, kau yang pertama.” Ucap Leathina sekali lagi.
“Apanya?” Tanya Edward.
Leathina tertunduk karena malu memperlihatkan matanya yang masih berair, takut reputasinya jatuh di depan Edward din di cap sebagai perempuaun cengeng.
“Kau orang pertama yang bersumpah untuk melindungiku.”
“Aku merasa tersajung mendengarnya, terimakasih telah mengizinkanku menjadi orang pertama yang bersumpah untuk melindungimu Nona Leathina.”
Leathina masih tertunduk melihat lantai lekat-lekat takut jika ia mengalihkan pandangannya dan bersitatap dengan Edward air matanya akan pecah.
“Huh?”
Raut wajah Edward yang tadi melembut sekarang menjadi serius matanya lurus ke perapian yang tidak menyala disana hanya terlihat bekasbekas katu yang menjadi arang dan debu.
Melihat sesuatu yang tidak beres membuat Leathina ikut merasa was-was, pandangannya pun tertuju di tempat yang sama Edward melihat.
“Ugh!” Edward mendengus kesal dengan menatap ke tungku perapian dengan jengkel.
“Keluarlah.” Ucapnya sarkas kemudian dengan arogan melipat kedu atangannya di depan dadanya.
Leathina meraba pakaiannya dengan was-was meraih belatinya yang ia sembunyikan di balik gaunnya, ia baru ingat bahwa selama di perjalanan menuju kerajaan ada beberapa orang yang terus mengikuti mereka berdua, Leathinakembali melihat Edward tapi laki-laki yang ada di dekatnya itu sama sekali tidak memperlihatnkan sikap was-was yang tergambar di wajahnya hanya eksprsi jengkel membuat Leathina mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan belatinya.
“Siapa?” Tanya Leathina menatap ke dalam lubang perapian.
“Aku bilang keluar!” Ucap Edward sekali lagi dengan tegas setelah leathina bertanya padanya.
Tak
Tak
Terdengar suara gemuruh dari dalam tungku perapian.
Brak
Diusul dengan suara kayu di pukul kemudian terbukalah sebuah lubang kecil yang terlihat seperti pintu rahasia.
“Ah! Kalian ada disini.” Ucap Leathina sedikit terkejut melihat tiga orang yang sangat dikenalnya itu merangkak keluar dari dalam pintu yang baru saja terbuka.
“Sejak kapan kalaian di dalam sana?” Tanya Leathina penasaran melihat betapa kecilnya tempat itu untuk tiga orang terlihat sangat pengap jika harus berhipitan di dalam sana.
“Ah! Kami tidak mendengar apa-apa di dalam sana… Aaaakh!” Ucap Troy panik dan diakhiri dengan erangan karena Nina mencubitnya.
Adam tersenyum melihat dua rekannya yang kini saling menyalahkan, tapi kemudian melihat Leathina dan mendekat.
“Kalau begitu, izinkan saya menjadi yang kedua yang akan bersumpah untuk melindungi anda Nona Leathina.” Ucap Adam sopan sedikit membungkuk di depan Leathina, membuat Nina dan Troy terdiam dan ikut meletakkan tangannya di dadanya dan membungkuk di depan Leathina.
“Kami juga.” Susul Troy dan Nina hampir bersamaan.
“Jadi kalian mendengarnya!” Celeuk Edward kesal dengan posisinya yang masih terlihat angkuh di depan anak buahnya.
“Akh! Tidak tuan, aku benar-benar tidak sengaja. Saat akan masuk melalui pintu rahasia kami mendengar tuan Ed dan Nona Lea mengobrol dengan serius jadi kami takut menganggu dan memilih untuk diam di sana sampai percakapan selesai.” Troy berusaha membuat alasan agar tidak terkena hukuman dari Ed.
“Huss, diamlah jika tidak ingin memperburuk keadaan.” Bisik Nina pada Troy dengan kesal sementara Adam hanya menggelengkan kepalanya melihat situasi mereka bertiga yang sangat tidak menguntungkan.
Leathina tersenyum melihat mereka semua sangat menyanaginya dengan cara yang tergolong unik.
“Aku seperti deja vu, sepertinya aku pernah mengalami hal yang serupa.” Gumam Leathina pelan namun disusul dengan tawa kemudian melihat tingkah Troy dan Nina yang selalu bertengkar setiap bertemu.
...***...