
“Ayah, apakah sudah ada kabar mengenai keberadaan kakak Leathina?” Nicholas dengan serius sambil membolak-balikkan dokumen yang sedang dikerjakannya, memeriksa dengan seksama isi dari dokumen-dokumen yang menjadi tanggung jawabnya.
Duke Leonard tidak menanggapi ia juga fokus dengan dokumen-dokumen penting yang harus i abaca dan tanda tangani. Tampak wajahnya semakin mengurus dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat dengan jelas sesekali batuk kecil dan berdehem untuk melegakan tenggorokan yang tearsa sakit.
“Ayah?” Panggil Nicholas untuk yang kedua kalinya, Nicholas yang tadi masih fokus pada dokumennya mendongak melihat ayahnya.
“Ayah?!” Panggilnya lagi dengan suara yang sedikit ditinggikan.
“Ada apa Nicholas?” Tanya Duke Leonard pada akhirnya menanggapi Nicholas.
“Aku bertanya tentang kabar kakak Leathina?” Ucapnya mengulangi pertanyaan.
Duke kembali berdehem, kemudian memberikan isyarat pada beberapa pelayan yang kebetulan ada di dalam ruangan yang sama untuk meniggalkan mereka berdua.
“Nicholas, hati-hati dengan pertanyaanmu. Banyak mata yang melihat.” Duke Leonard memperingati Nicholas.
“Ah! Maafkan aku ayah, aku terlalu menghkawatirkan keadaan dan keberadaan kakak Leathina. Dia menghilang sudah sangat lama.” Jawab Nicholas dengan sedih dengan suara rendah.
“Ini sudah hampir tiga tahun semenjak Leathina menghilang, ayah terakhir mendapat kabar tentang Leathina setahun yang lalu.”
“Apa kita tidak bisa menghubungi mereka ayah?”
“Tidak, mereka melarang untuk kita kita hanya bisa menuggu kabar dari mereka. Ini masuk akal jika kita tahu seseorang mungkin akan tahu keberadaan mereka.” Duke Leonard kembali fokus pada dokumen-dokumen yang menumpuk di depannya.
“Tapi, ayah. Apa mereka benar-benar menemukan kakak Leathina?” Nicholas dengan hati-hati bertanya pada ayahnya.
Nicholas meragukan bahwa tentara bayangan yang mereka sewa untuk membawa Leathina pulang benar-benar menemukan kakaknya yang hilang itu, sebab sudah setahun terakhir mereka tidak mengirimkan kabar sama-sekali yang menunjukkan kemungkinan besar bahwa Leathina tidak sedang bersama mereka itulah kenapa tidaka ada kabar yang di kirimkan.
Duke Leonard menghela nafas berat, mengengam erat-erat pena ditangannya hingga meneteskan banyak tinta di dokumen-dokumen yang sedang ia kerjakan sekarang.
Sebenarnya Duke Leonard juga meragukan bahwa tentara bayangan berhasil menemukan Leathina dan membawanya sebab sudah lama sekali mereka berhenti mengirimkan kabar, terakhir kali kabar yang diterima adalah mereka berhasil menemukan Leathina dan berusaha membuat Leathina untuk kembali. Namun tetap saja, walaupun ada sedikit keraguan Duke Leonard tetap ingin mempercayai bahwa anak perempuannya itu selamat dan sedang melakukan perjalanan kembali ke kerajaan entar dimana pun itu Duke Leonard selalu berharap bahwa Leathina selamat dan tetap hidup.
“Ayah tahu apa yang kamu khawatirkan Nicholas, tapi ayah yakin Leathina masih hidup entah dimanapun ia berada.”
“Ayah, bukan maksudku mengatakan kakak Leathina seperti itu aku hanya khawatir dan takut.” Suara Nicholas kembali mengecil dan malah tertunduk, Nicholas menunduk bukan fokus dengan dokumen yang sedang dikerjakannya melainkan takut memperlihatkan wajahnya yang memerah menahan tangis dan amarah.
“Kalau saja malam itu aku jauh lebih kuat, mungkin kakak Leathina tidak akan mengorbankan dirinya.”
“Jangan menyalahkan dirimu Nicholas, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dan jika seseorang bisa membunuh makhluk legenda itu mungkin orang itu adalah Dewa.”
“Tapi ayah, bagaimana jika kakak benar-benar …” Nicholas tidak menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba ayahnya Duke Leonard menatapnya dengan serius membuatnya jadi kaku dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
“Kau hanya harus fokus pada acara pelantikanmu sebagai penerus resmi kepala keluarga Yarnell, selesaikan dokumennya dan lanjutkan pada pertemuan berikutnya.”
“Ayah tapi kakak Leathina juga adalah kandidat, bagaimana kalau kita menunggunya kembali.”
“Ayah juga berfikir begitu, tapi para tetua dan petinggi lainnya mendesak karena seharusnya pelantikan di lakukan saat kamu memasuki umur 20 tapi sekarang kamu sudah 21 dan sebentar lagi ulang tahunmu yang ke 22, bukan.”
“Terus kenapa kakak tidak melakukan pelantikan saat memasuki usia yang ke dua puluh?”
Mendengar pertanyaan anaknya Nicholas Duke Leonard Yarnell hanya termenung namun segera kembali ke kesadarannya.
“Kamu bukannya tidak tahu bukan, kenapa dia tidak dilantik. Ulang tahunnya bahkan tidak sekalipun dirayakan.”
Setelah kalimat Duke Leonrad selesai tidak adalagi balasan dari Nicholas, keduanya kemudian jatuh dalam kesunyian membaca dan menandatangani dokumen yang menjadi tanggung jawab mereka.
‘Dasar, aku sekarang geli melihat diriku sendiri yang bertanya seperti itu padahal aku jelas-jelas tahu apa penyebabnya kakak Leathina tidak diakui, itu semua karena aku. Aku dulu sangat membencinya mengkhawatirkannya sekarang bukan berarti dapat menebus kesalahanku di masa lalu.’ Nicholas mengepalkan tangannya, ia marah pada dirinya sendiri juga merasa bersalah pada Leathina membuatnya bingung bagaimana nanti ia bersikap di depan Leathina jika kakak satu-satunya itu benar-benar pulang.
…
Di kerajaan Winter wakil kesatria dari keluarga kebesaran Yarnell mewakili Duke Leonard menghadiri pertemuan pasukan kerajaan yang diadakaan di istana tidak sengaja bertemu dengan Zeyden penyihir agung dari menara sihir dalam perjalanannya menuju pertemuan.
“Apa ada kabar dari kediaman Duke, Tuan Winter?” Tanya Zeyden setengah berbisik yang berjalan santai di samping Winter.
Winter diam tidak menjawab mengabaikan Zeyden.
“Jangan terlalu kaku Tuan Winter, apa masih belum ditemukan?” Tanyanya sedikit mendesak berusaha agar kali ini Winter mau menjawabnya.
“Zeyden, aku tidak punya hak melaporkan kegiatan dari kediaman Yarnell padamu jadi berhenti bertanya.” Jawab Winter datar.
“Ayolah, kita sama-sama menghkawatirkan keadaan Leathina bukan jadi biarkan aku tahu agar aku bisa sedikit tenang sudah beberapa tahun berlalu aku juga berusaha mencarinya tapi aku tidak bisa menemukan tanda-tanda keberadaanya bahkan radar sihirnya pun tidak tertangkap.”
“Huh, sungguh?!” Winter tertawa mendengar ucapan Zeyden barusan membuat Zeyden mengerutkan keningnya jengkel menatap Winter yang mengejeknya itu.
“Kau keterlaluan Winter, jangan meremehkanku seperti itu. Aku benar-benar berusaha mencari Leathina.” Jawabnya bersungguh-sungguh.
“Ah, kau tersinggung?” Tanya Winter yang tampak tidak terlalu memperdulikan perasaan Zeyden.
“Aku hanya merasa lucu ketika mendengarmu mengatakan sangat mengkhawatirkan Leathina, kau tidak ingat dari banyaknya orang yang membencinya kau salah satu yang terparah. Ah! Terakhir aku ingat kau masih terus mengawasinya dan mengatakan bahwa dia sedang berpura-pura dan menyembunyikan maksud jahat dibalik tindak tanduk Leathina.”
Ucapan Winter menohok Zeyden, membuat Zeyden tersenyum masam karena semua perkataan Winter barusan semuanya benar. Zeyden masih sering memata-matai Leathina, dulu ia percaya bahwa Leathina pasti memiliki maksudku lain dari perubahan sikapnya itu bahkan menuduhnya berpura-pura baik. Namun, melihat Leathina membantu orang yang terluka dan bahkan mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang-orang di kerajaan malam itu membuatnya benar-benar malu telah menuduh Leathina yang tidak-tidak.
“Apa aku salah, Zeyden?” Winter akhirnya menoleh ke arah Zeyden yang kini terdiam, kemudian memperjelas ucapannya agar Zeyden paham ia tidak berhak bertanya tentang Leathina.
“Ini memalukan, tapi aku akui aku dulu memang sangat membencinya, maksudku kau sendiri tahukan bagaimana sikapnya dan perilakunya dulu sebelum koma. Tapi sungguh, aku baru sadar ternyata Leathina benar-benar berubah setelah terbangun dari komanya, jadi jangan terlalu menyalahkan ku, aku benar-benar berharap dia selamat.”
“Baguslah.” Balas Winter datar kemudian kembali fokus berjalan menuju pertemuan.
Winter tidak terlalu memperdulikan kalimat Zeyden, walaupun Winter berteman dengan Zeyden Winter tidak suka Zeyden terus menanyakan tentang Leathina.
Zeyden malu tapi juga tersinggung dengan perkataan Winter barusan.
“Kamu juga samakan, jangan terlalu merendahkanku Winter. Kau memang tidak menganggunya seperti kebanyak orang tapi ingat kau juga dulu menghindari Leathina.” Ucap Zeyden saat keduanya berhenti di depan pintu pertemuan membuat Winter berbalik menatap Zeyden namun kemudian mengabaikannya kembali.
“Salam saya Winter wakil kesatria Duke Leonard.” Ucap Winter membungkuk sopan sebelum duduk di kursinya sementara Zeyden langsung duduk di tempatnya.
“Semua orang telah hadir disini, sebentar lagi raja dan putra mahkota akan memasuki ruang pertemuan diharapkan kalian semua menjaga sikap, perkataan dan tindakan.” Ucap seorang pria paruh baya yang merupakan ajudan raja.
Semuanya langsung terdiam dan berdiri ketika pintu terbuka dan raja serta putra mahkota memasuki ruangannya dan duduk di tempat masing-masing semua orang lalu membungkuk dan menyambut kedatangannya setelah itu kembali duduk dengan tenang di tempatnya masing-masing.
“Kalian semua pasti sudah tahu tentang pertemuan yang diadakan ini, apa semua petinggi dan tetua serta pemimpin kebangsawanan di seluruh kerajaan sudah hadir?” Tanya Raja Daylen Arathon segera setelah ia duduk di kursi kebesarannya.
Winter dengan sopan berdiri dari tempat duduknya, membungkuk kemudian menjelaskan situasinya pada raja Daylen.
“Maafkan kelancangan hamba yang mulia, saya winter mewakili tuan Duke menghadiri rapat penting ini karena suatu hal yang tidak dapat ditinggalkan.” Ucapnya sopan menjelaskan.
“Bukankah itu merendahkan Raja.” Celetuk salah satu petinggi bangsawan yang hadir.
“Orang itu bahkan berani menyalahi perintah yang mulia untuk hadir di pertemuan penting ini, ini adalah sebuah penghinaan yang mulia.” Ucap yang lainnya.
“Ah, dan pangeran kedua nampaknya tidak hadir lagi dalam pertemuan ini.” Seseorang tiba-tiba mempertanyakan tentang kehadiran pangeran kedua yang selalu absen dalam siap pertemuan yang di adakan.
“Benar, Pageran kedua nampaknya selalu bermain-main diluar yang mulia, anda harus bijak menyikapi pangeran kedua jika tidak ingin kerajaan menjadi kacau.” Ucap yang lainnya mencoba mencari-cari kesalahan.
“Sudah cukup!” Ucap Raja Daylen membuat seluruh ruangan tiba-tiba mejadi hening seketika.
“Duke Leonard Yarnell tidak hadir dalam pertemuan kali ini bukan karena melalaikan tugasnya namun sekarang Duke sedang melakukan perintah khusus dariku secara langsung, karena aku memberikannya tugas khusus aku tidak memintanya untuk hadir namun karena menghargaiku Duke Leonard mengirim utusannya itu adalah tindakan yang patut ditiru.”
Walaupun Raja Daylen memberikan penjelasan yang sangat jelas pada semua orang masih terlihat beberapa orang tetap memasang wajah kurang puas namun tidak berani lagi berbicara karena Raja sendiri yang membelanya.
“Izinkan aku berbicara menggantikan saudaraku pangeran kedua, Edward.” Ucap putra mahkota.
“Pangeran kedua bukannya tidak mau hadir namun belakangan ini ia sedang sakit, kalian tau sendiri bukan bahwa saudaraku itu dirumorkan tidak memiliki fisik yang bagus makanya ia dibawa keluar kerajaan sejak kecil untuk berobat untuk menyembuhkan penyakitnya dan baru kembali beberapa tahun yang lalu, sekarang kondisinya memburuk hingga tidak memungkinkan untuk menghadiri pertemuan ini.” Ucap putra mahkota Yardley memberi penjelasan.
“Maafkan ketidak tahuan kami yang mulia Raja dan yang mulia putra mahkota.” Ucap para hadirin bersamaan.
Setelah perdebatan singkat itu pertemuan kembali dilanjutkan dengan rapat mengenai pertahanan kerajaan.
Setelah mendapat serangan telak dari Naga yang tiba-tiba menyerang dan membuat kerusakan yang cukup parah di kerajaan, membuat Raja memutuskan untuk rutin melakukan pertemuan mengenai pertahanan kerajaan untuk mengantisipasi bencana dan ancaman yang mungkin terjadi pada kerajaan yang dipimpinnya itu.
Dua tahun terakhir setelah penyerangan kerajaan cepat pulih dan memperkuat kerajaannya, dengan dukungan dari menara sihir dan petinggi kerajaan serta sumbangsi dari para bangsawan membuat kerajaan sangat cepat kembali membaik.
Semua orang melaporkan wilayah yang dipimpinnya dan tempat yang dijaga pada Raja, mengusulkan saran dan memberikan kritikan hingga pembahasan penting telah selesai dilanjutkan dengan isu-isu yang menjadi permasalahan di dalam kerajaan.
“Terimakasih atas perhatian kalian semua dalam melindungi rakyat dan kerajaan jika masih ada yang ingin kalian katakana silahkan ungkapkan sebelum pertemuan diakhiri.” Ucap Raja Daylen tegas setelah pertemuan akan berakhir.
Setelah kalimat Raja Daylen pada awalnya tidak ada yang berbicara tapi tiba-tiba dari perwakilan bangsawan muncul laki-laki paruh baya yang mengajukan pertanyaan.
“Maafkan saya yang mulia, perkenalkan saya Alger dari keluarga Anson salah satu anggota dalam lingkar kebangsawanan di kerajaan. Apakah saya boleh mengajukan pertanyaan?” ucapnya sopan memperkenalkan diri dan diakhiri dengan pertanyannya sebelum bertanya pada pertanyaan intinya.
“Silahkan.” Ucap Raja Daylen mempersilahkan.
“Terimakasih atas kemurahan hati anda yang mulia.”
“Katakan, tuan Alger.”
“Sekali lagi saya meminta maaf atas kelancangan saya yang mulia, namun apakah benar Putri tertua dari kediaman Yarnell masih belum ditemukan selama hampir tiga tahun ini? Apakah Duke leonard tidak menyembunyikan putrinya untuk mengambil keuntungan sendiri atas anugerah dari kemampuan yang dimiliki putrinya itu. Beberapa dari kami juga membutuhkan kemampuan itu.”
Pertanyaan Tuan Alger pada akhirnya memicu keributan diruang pertemuan, menimbulkan kelompok-kelompok yang mendukungnya mencurigai Duke Leonard sengaja menyembunyikan putrinya dan ada juga kelompok yang membela Duke Leonard.
“Benar, baru kali ini ada orang yang mampu menggunakan sihir penyembuh dengan sempurna. Bahkan sihir penyembuh tingkat tinggi yang terdaftar di kerajaan hanya bisa menyembuhkan luka kecil dan tidak bisa benar-benar menyembuhkan luka yang sangat parah dengan kata lain sihir penyembuh sekarang ini hanyalah mencegah memperparah luka, tapi putri Duke Leonard itu berbeda.”
“Benar efeknya sangatlah luar biasa, bahkan menyembuhkan penyakit yang sudah tidak bisa disembuhkan.”
“Kabarnya juga dapat memperpanjang umur dan mengembalikan yang tua menjadi muda.”
Keadaan mulai ricuh menuduh kediaman Yarnell telah menyembunyikan putri tertuanya agar disimpan untuk keuntungan mereka sendiri. Sementara Winter dan Zeyden berusaha menahan diri agar tidak mengamuk, mereka berdua tidak terima Duke Leonard dan bahkan Putrinya dihina seperti itu sementara Leathina bahkan telah mengorbankan dirinya untuk meyelamatkan orang-orang.
“Tidak tahu malu!” Gumam Zeyden mendengus kesal namun menahan diri agar tidak terjadi keributan yang lebih besar.
“Omong kosong! Kalian bisa-bisanya memikirkan hal menjijikan seperti itu sementara kalian sendiri jelas-jelas melihat kejadian malam itu bagaimana Putri tertua dari keluarga Yarnell mati-matian menyelamatkan orang-orang dari serangan naga dan menyembuhkan orang yang terluka, setidaknya kalian harus berterimakasih!” Byron salah satu petinggi bangsawan yang secara kebetulan diselamatkan oleh Leathina dimalam penyerangan geram mendengar orang-orang menyalahkan duke bahkan putrinya.
“Aku setuju, Duke Leonard bahkan masih berkabung atas kehilangan putrinya dan masih melakukan pencarian mati-matian selama hampir tiga tahun ini. Kalian juga melihat dengan mata kalian sendiri bahwa malam itu putri Duke Leonard benar-benar dibawa pergi oleh Naga itu.”
“Bukannya pertanyaan Tuan Alger ini terdengar ingin mengambil keuntungan dari kemampuan Putri tertua Duke Leonard Yarnell, tidak tahu malu.” Ucap Zeyden kesal dengan Tuan Alger dan pada kalimat terakhirnya sengaja ia ucapkan dengan suara rendah namun masih bisa didengar oleh orang-orang yang duduk di dekatnya termaksud Tuan Alger.
“Bisa-bisanya Tuan Alger, menuduh Tuan Duke Leonard yang masih berkabung atas kehilangan putrinya.”
“Benar, bagaimana mungkin Duke Leonard melakukan hal rendahan seperti itu.”
“Aku setuju dengan pendapat Tuan Alger, bisa jadi Duke telah menemukan putrinya kembali dan menyembunyikannya.”
“Itu tidak mungkin, Duke memiliki pribadi yang lurus.”
“Kasihan sekali Duke Leonard.”
Suasana kembali ricuh, semua orang yang hadir mulai mengeluarkan pendapatnya masing-masing namun orang-orang yang membela Duke Leonard masih lebih banyak daripada orang yang mendukung Tuan Alger. Mereka yang mendukung Duke Leonard adalah para bangsawan dan petinggi yang secara kebetulan diselamatkan oleh Leathina di malam penyerangan.
“Yang mulia, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya berfikir jika putrinya memiliki kemampuan hebat seperti itu kenapa disembunyikan dan baru diperlihatkan sekarang. Bukankah itu salah satu bentuk menola berkontribusi pada kerajaan.” Tuan Alger merasa dipojokkan dan kembali berbicara seolah-olah Duke Leonard memang sengaja menyembunyikan kemampuan putrinya.
‘Humm, aku pikir setelah hilangnya Putri Leonard yang tidak pernah muncul lagi keberadaannya akan dilupakan tidak aku sangka Putrinya Leathina yang dibenci semua orang dulu kini malah dicari-cari sayangnya yang mencarinya adalah orang-orang yang memiliki ketamakan, ini buruk bagi Leathina semoga saja anak itu selamat.’ Raja Daylen dengan seksama memperhatikan semua orang yang ada di ruang pertemuan yang kini saling beradu mulut satu sama lain hanya karena kemampuan yang dimiliki oleh satu orang yang keberadaannya masih belum diketahui apakah ia masih hidup atau telah meninggal di suatu tempat.
...***...