
“Kenapa kamu melihatku seperti itu Winter?” Zeyden kemudian balas menanyai Winter yang masih terus menatapnya.
“Tidak hanya saja kau agak sedikit aneh.” Winter berbicara menjawab pertanyaan Zeyden terhadapnya kemudian mengalihkan pandangannya menuju gelas minuman miliknya.
“Yardley, aku ingin bertanya padamu sebagai seorang teman bukan sebagai utusan atau masalah pekerjaan apa kamu bersedia menjawabnya?” Winter kemudian kembali berbicara setelah menenggak satu teguk minumannya?”
“Kamu ingin mengatakan apa Winter, bertanya saja selama itu tidak bersifat rahasia aku akan bersedia menjawabnya.”
“Baiklah. Apa benar kamu meminta Leathina untuk membatalkan pertunangan kalian.”
“Uhuk... uhuk... uhuk..” Zeyden yang mendengar pertanyaan Winter untuk pangeran Yardley terkejut sehingga terbatuk – batuk karena saat Winter berbicara Zeyden sedang meminum minuman miliknya.
“Kamu betul meminta wanita itu membatalkannya Yardley? Aku bertaruh perempuan itu tidak akan mau, dia bahkan berani sampai meminta langsung dirimu pada ayahmu. Ada – ada saja kamu Winter kamu terlalu lama berjaga di perbatasan. Sesekali kamu harus mendengar rumor orang – orang agar tidak termakan kebodohan.” Zeyden berbicara sambil membersihkan tumpahan minumannya yang mengenai pakaiannya dengan sapu tangan miliknya.
“Iya aku meminta Leathina untuk membatalkan pertunangan kami dan dia menyetujuinya.”
“Uhuk.. uhuk.. uhuk.” Zeyden kembali terbatuk-batuk karena terkejut mendengar perkataan Pangeran Zeyden.
“Benarkah? Dia mau melakukannya Yardley? Wah aku rasa rumor yang beredar memang benar Leathina sekarang mengalami gangguan mental.” Zeyden menghentikan tangannya yang tengah sibuk melap pakaiannya yang kotor karena terkena cipratan air, Zeyden kemudian fokus menatap Yardley yang ada didepannya karena penasaran apa yang akan menjadi jawaban Yardley untuk pertanyaannya.
“Iya benar Zeyden dan dia mau menyetujui pertunangan ini surat pembatalan dari keluarga Duke Yarnell bahkan sudah dikirimkan.”
“Tapi kenapa harus Leathina yang memegang keputusan, kamu bahkan tidak bisa menolak saat dia ingin bertunangan denganmu bahkan kamu juga tidak bisa membatalkan pertunanganmu jika bukan karena persetujuan Leathina, bukannya kamu lebih berhak membatalkan pertunangan ini karena derajatmu lebih tinggi dari gelar Duke?”
“Seharusnya memang begitu tapi ayahku sangat menyukainya dan aku rasa ayahku lebih menyayangi Leathina dibandingkan diriku dan saudaraku?”
“Benarkah malang sekali nasibmu.” Zeyden berbicara sambil kembali melanjutkan kegiatannya membersihkan pakaiannya dengan sapu tangan miliknya.
“Jadi memang benar dia melakukannya, kalau begitu setelah pengumuman pembatalan pertunanganmu sudah diumumkan secara resmi oleh kerajaan berarti kamu tidak akan memiliki hubungan apa – apa lagi dengan Leathina bukan?”
“Iya betul dan aku akan sangat bersyukur jika itu terjadi dan diumumkan lebih cepat lagi. Tapi kenapa kamu kamu mempertanyakan masalah itu Winter? biasanya kamu tidak tertarik dengan masalah pribadi orang lain.”
“Tidak hanya saja aku lega mendengarnya bahwa kamu sebentar lagi akan putus hubungan dengan Leathina.”
“Terimakasih Winter kamu sudah sangat mendukung dan memperhatikanku.”
“Iya aku sangat mendukungmu untuk segera membatalkan pertunanganmu dengannya itu akan lebih baik untuknya.”
“Apa maksudmu Winter kamu malah semakin aneh saja setiap kita bertemu.” Zeyden berbicara menanggapi perkataan Winter sementara Pangeran Yardley hanya diam saja tanpa memberi perhatian lebih pada apa yang telah diucapkan Winter.
“Tidak ada maksud apa – apa Zeyden. Nah baiklah kalau begitu aku akan pergi lebih dulu.” Winter berbicara sambil berdiri dari tempat duduknya bersiap – siap untuk pergi meninggalkan kedua temannya yang masih menikmati perjamuan.
“Kamu mau pergi kemana? Tinggallah lebih lama lagi Winter kamu juga butuh sedikit hiburan lihatlah gadis – gadis yang ada di sana sepertinya mereka tertarik denganmu.” Zeyden yang melihat Winter sudah ingin pergi berusaha untuk menahannya agar mereka punya waktu sedikit lebih lama karena mereka bertiga sangat jarang bisa bersama karena pekerjaan masing – masing.
“Aku ada pekerjaan penting, aku harus pergi megambil batu berharga yang tidak diinginkan lagi oleh pemiliknya.”
“Benarkah, batu itu masuk jenis batu mulia? batu yang ingin kamu ambil jenis apa Winter.” Zeyden kembali menanyai Winter yang sudah ingin pergi karena penasaran dengan batu yang dibicarakan oleh Winter.
“Mungkin batu ini jenis batu mulia golongan Ruby, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa memilikinya atau tidak.” Winter berbicara sambil meletakkan tangannya pada dagunya seolah – olah bahwa dia sedang berfikir dengan keras.
“Baiklah semoga beruntung dan kamu bisa mendapatkannya jika kamu memerlukan bantuan hubungi saja aku, aku akan membantumu.”
“Baiklah terimakasih Zeyden akan aku pastikan menggunakan bantuan yang kamu tawarkan nanti.”
Setelah menjawab pertanyaan Zeyden Winter kemudian beranjak pergi meninggalkan Pangeran Yardley dan Zeyden kemudian keluar dari tempat tersebut dan meninggalkan acara perjamuan yang diadakan untuk mendiskusikan persiapan perayaan ulang tahun kaisar.
...***...
Duke Yarnell dengan tergesa – gesa berjalan menuju sebuah ruangan, saat sampai di depan sebuah pintu ruangan berwarna keemasan yang dijaga oleh dua orang pengawal kerajaan pada sisi kanan dan sisi kiri pintu tersebut Duke Yarnell kemudian disambut oleh dua pengawal dan segera membukakan pintu untuk Duke Yarnell.
“Kaisar telah menunggu anda.” Salah satu penjaga segera membukakan Duke Yarnell pintu dan membungkuk saat Duke Yarnel berjalan melewatinya.
“Oh kamu sudah datang Yarnell.”
Seorang pria yang kurang lebih telah berumur setengah abad menyapa Duke Yarnell setelah ia memasuki ruangan tersebut, sementara Duke Yarnell sendiri langsung membungkuk untuk menghormati orang yang menyambutnya itu.
“Salam Raja Daylen Arathorn cahaya dari kerajaan Coniferland.” Duke Yarnell membungkuk pada orang yang kini duduk di balik meja keja yang dipenuhi dengan tumpukan dokumen.
“Duduklah Duke Yarnell.”
Raja Daylen kemudian mempersilahkan Duke Yarnell duduk pada kursi yang ada di depan meja kerjanya kemudian ia segera beranjak dari meja kerjanya dan berjalan menuju tempat duduk yang ad di depan tempat Duke Yarnell duduk sehingga sekarang mereka saling berhadapan.
“Aku memanggilmu dengan tiba – tiba seperti ini karena aku penasaran apa yang membuatmu mengirimkan aku surat pembatalan pertunangan secara mendadak bahkan setelah anakmu baru sadar dari masa komanya, aku tahu kamu tidak terlalu menyukai pertunangan ini tapi bukankah tindakanmu ini akan membuat perasaan putrimu terluka dari ia kecil kamu bahkan tidak pernah bertanya mengenai pendapatnya terlebih dahulu sebelum memutuskan.”
“Bukan seperti itu, memang saat dia meminta pertunangan ini aku menolak dan dia malah datang langsung memintanya padamu. Sekarang bukan aku yang ingin membatalkannya tapi Leathina yang memintanya langsung padaku untuk membatalkan pertunangan ini.”
“Benarkah? Bukannya aku tidak mempercayaimu tapi bagaimana aku bisa percaya jika satu – satunya orang yang sangat menyukai Yardley anakku malah meminta pembatalan secara mendadak seperti ini.”
“Yah aku juga tidak percaya tapi memang seperti itulah yang terjadi.”
“Baiklah akan aku putuskan setelah aku berbicara langsung dengan putrimu.”
......***......