I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 39



Astaga sejak kapan mereka sampai di sini sekarang aku benar – benar berada di tengah – tengah pertarungan mereka.


“Srekk.”


Salah seorang dari mereka menebas tubuh lawannya  dan darahnya terciprat pada jubah yang di kenakan oleh Leathina, karena takut ikut tertebas oleh pedang Leathina pelan – pelan melangkah mundur berniat keluar dari situasinya yang sedang kacau itu.


“Hey kamu buka tudung yang menutupi wajahmu!”


“Ampun! Ampun!”


Saat Leathina mencoba untuk menjauh dari pertarungan yang sedang berlangsung tersebut tiba – tiba salah satu dari mereka meletakkan perangnya tepat di depan leher Leathina dan memerintahkannya untuk memperlihatkan wajahnya dan karena Leathina panik Leathina malah melakukan hal sebaliknya dia segera menarik tudung jubahnya dan menutupi seluruh wajahnya kemudian mengangkat kedua tangannya sambil berteriak ketakutan.


“Aku bilang buka tudung yang menutupi wajahmu agar aku bisa tahu kamu salah satu dari mereka atau bukan.”


“Saya tidak melihat apa – apa kok ini mata saya tertutup jadi saya tidak tahu apa – apa.”


“Buka sekauran!” orang yang menghampiri Leathina malah semakin mendekatkan pedangnya ke leher Leathina sehingga Leathina semakin bertambah takut.


“Aku bukan salah satu dari mereka kok, aku hanya tidak sengaja lewat di sini kalau begitu saya permisi dulu. Saya mungkin salah jalan tadi dan saya juga akan bersikap seolah – olah tidak melihat apa – apa.”


“Hey.”


Leathina dengan terburu – buruh membalikkan badannya hendak pergi meninggalkan para penjahat namun pada saat bersamaan penjahat yang lainnya datang menghampirinya dan juga meletakkan pedangnya tepat pada leher Leathina, Leathina hanya terdiam tidak bergerak sama sekali karena takut lehernya ditebas oleh kedua penjahat yang mengapitnya dengan pedang tersebut.


“Srekk.”


“Aaaa!!”


Salah satu dari orang yang mengapit Leathina menggerakkan pedangnya dan merobek tudung jubah yang menutupi wajah Leathina hingga membuat gadis berambut merah itu berteriak karena terkejut mendengar suara robekan yang tiba – tiba.


“Gadis berambut merah?”


“Hey buka matamu jika tidak kali ini aku akan benar – benar merobek kulitmu.”


Leathina perahan – lahan membuka matanya dan melihat sekumpulan orang – orang sedang mengenakan pakaian serba hitam serta menutupi separuh wajahnya sehingga hanya matanya saja yang dapat dilihat oleh Leathina sementara di sekelilingnya juga terdapat banyak mayat – mayat yang ditubuhnya dipenuhi oleh tebasan pedang dan jazadnya tergeletak begitu saja di atas tanah.


“Kenapa gadis muda sepertimu bisa berada di tempat berbahaya seperti ini?” orang yang merobek jubah Leathina dengan pedangnya tadi kemudian mulai mengintrogasi Leathina.


“Itu.. itu.. itu tadi karena aku tersesat. Iya aku berada di sini karena aku tersesat.” Leathina terbata – bata menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya karena takut ditebas karena pedang orang itu masih berada pada posisinya yang siap untuk menebas leher Leathina.


“Ughh.”


“Ketua!!


Orang yang menanyai Leathina tiba – tiba saja oleng dan terjatuh serta memuntahkan banyak darah dari mulutnya sementara teman – temannya yang lain segera menopang tubuhnya dan mendudukkannya di tanah.


“Kapten apa kamu baik – baik saja?”


“Aku baik – baik saja.” Orang yang dipanggil kapten mengakui bahwa dirinya baik – baik saja untuk menenangkan para bawahannya.


“Sepertinya para bandit gunung yang kita buru tadi menggunakan racun pada pedang mereka.”


“Iya sepertinya begitu.”


“Kapten?”


“Kapten jangan sampai kesadaranmu hilang!”


“Kapten!”


Orang yang disebut – sebut dengan sebutan kapten tadi menggelangkan kepalanya beberapa kali berusaha agar tidak kehilangan kesadarannya tapi usahanya sia – sia ia perlahan – lahan malah menutup matanya dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Kasihan sekali mereka kehilangan orang yang menjadi panutannya, sepertinya mereka bukan orang jahat karena tidak langsung membunuhku.


“Permisi... maaf menganggu tapi jika orang itu tidak segera diobati sudah pasti dia akan mati karena racunnya telah menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.” Leathina ragu – ragu memberi penjelasan karena takut akan diancam untuk dibunuh lagi oleh mereka.


“Benarkah? Kalau begitu kapten kami akan mati?”


Leathina mengangguk dengan cepat membenarkan perkataan salah satu dari mereka yang bertanya kembali pada Leathina.


“Nona muda kamu paham dengan kondisinya apa kamu bisa mengobatinya aku mohon dan kami akan sangat berterimakasih padamu jika Nona bersedia menyembuhkan Kapten kami.”


“Iya kami mohon sembuhkan kapten kami Nona!”


“Tapi jika kamu menolak dan kapten kami mati maka terpaksa kami harus membunuhmu.”


Hey.. hey .. hey tunggu dulu kalian sedang minta pertolongan atau sedang mengencangkan. Jika kalian ingin membunuhku itu bukan meminta tolong tapi memaksa. Astaga dasar para penjahat sialan, tunggu saja jika aku sudah mengingat cara menggunakan pedang aku akan memburu kalian satu persatu.


“Jadi kamu mau atau tidak?” salah satu dari mereka kembali menanyai Leathina tapi dengan cara mengancam ia mengeluarkan setengah pedangnya dari sarungnya.


“Ba.. baik, baik, akan aku coba. Tapi mungkin itu agak sedikit sulit untukku dan kemungkinan aku tidak bisa berjalan pulang lagi karena kehabisan energi.”


“Tenang saja Nona kami semua berjanji akan mengantarmu pulang dengan selamat, sebenarnya kami bukan orang jahat kami hanya tentara bayangan kami dibayar untuk membunuh orang – orang jadi kalau kami tidak dibayar kami tidak akan membu...”


“Plak”


Salah satu dari rekannya memukul kepala temannya sendiri dengan gagang pedang karena kebodohan temannya.


“Hey kenapa kamu malah membeberkan identitasmu bodoh.”


“Biar saja dari pada kapten mati gara – gara gadis ini tidak mau menolong.”


“Itu malah akan membuatnya tambah takut sebenarnya otakmu kamu simpan di mana sih?”


Astaga ada apa dengan kumpulan orang – orang ini sebenarnya aku takut dengan mereka tapi setelah melihat tingkah mereka aku jadi berpikir dua kali untuk mempercayai apakah mereka betul – betul tentara bayangan atau bukan perasaan di Novel mereka ini pengikutnya Edward dan mereka digambarkan sangat bengis. Astaga kenapa aku baru kepikiran sekarang kalau mereka pengikutnya Edward berarti orang yang terkena racun ini adalah Edward, apa aku harus menolongnya atau tidak orang ini adalah calon pengikut Yasmine nantinya. Aku harus bagaimana sekarang jika tidak aku tolong sekarang nyawaku yang akan melayang di sini.


“Nona?”


“Nona?”


“Nona!”


“Ah iya.. iya.. akan aku coba tapi kalian harus berjanji untuk menjamin nyawaku tetap aman?” Parah penjaga menyadarkan Leathina yang kini tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Iya kami berjanji Nona.”


Baiklah masalah untuk sekarang akan aku selesaikan dulu dan masalah yang akan datang aku abaikan saja dulu dan menyelesaikannya nanti. Mudah – mudahan tindakanku ini bisa menyelamatkan nasibku di masa depan nanti.


Aku belum pernah mencoba menyembuhkan orang yang terkena racun sebelumnya aku harus mulai dari mana? Ah iya dari kepalanya saja.


Leathina mendekati kapten mereka yang sekarang tidak sadarkan diri kemudian meletakkan kepalanya di pangkuannya mencoba untuk menyembuhkannya dengan sihir penyembuh miliknya.


......***......