I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 41



Leathina tidak membalas perkataan Duke Leonard dan hanya berjalan menuju kereta bersama dengan Anne sesuai yang diperintahkan oleh Duke Leonard padanya. Ia tanpa berkata apa –apa naik ke atas kereta yang telah disediakan Anne untuknya.


Sepanjang perjalanan Leathina tidak pernah berbicara sementara Anne tidak berani mengajak Leathina untuk berbicara lebih dulu karena dia tahu bahwa sekarang Leathina sedang kesal terhadap dirinya karena telah memanggil Duke Leonard untuk menjemputnya.


“Anne, kemana kita akan pergi kenapa kereta ini mengarah ke tempat lain dan tidak kembali pulang di kediaman keluarga Duke Leonard?”


“Saya juga kurang tahu Nona Leathina, mungkin Tuan Duke ada urusan sebelum kembali ke mansion.”


Setelah beberapa saat melakukan perjalanan dengan kereta tersebut Leathina sampai pada sebuah pintu gerbang dan kereta yang sedang ia tumpangi di hentikan kemudian datang dua orang prajurit memeriksa kereta tersebut sementara kusir yang menjalankan kereta itu terburu – buru melompat turun dan menghampiri kedua penjaga yang datang untuk memeriksa.


“Ini kereta dari kediaman Duke Leonard, Tuan.” Pria yang menjadi kusir kereta yang ditumpangi Leathina berbicara sambil memperlihatkan lambang keluarga yang terukur di pintu kereta tersebut.


Setelah selesai memeriksa kedua penjaga tadi mempersilahkan kusir itu lewat kemudian segera memasuki area tersebut dan menurunkan Leathina dan Anne di depan sebuah tangga dan di ujung tangga tersebut terdapat sebuah pintu yang sangat besar berukiran sebuah ornamen yang sangat indah jika dilihat.


“Anne bukankah ini istana kerajaan?” Leathina berbicara sambil melihat keadaan sekitar dari jendela kereta.


“Iya Nona Leathina benar kita di istana sekarang.”


“Untuk apa kita ke sini?”


“Saya juga tidak tahu Nona mungkin Tuan Duke punya urusan lain di sini.”


Tidak lama setelah itu Duke Leonard datang dan membuka pintu kereta mempersilahkan Leathina untuk turun tapi Leathina hanya berdiam diri tidak beranjak dari tempatnya duduk karena bingung dengan situasinya saat ini.


“Duke Leonard..”


“Ayah.. panggil aku ayah bukan kah kamu sudah berjanji padaku bahwa kamu akan memanggilku dengan sebutan ayah.”


“Ah iya baiklah ayah, untuk apa kamu membawaku ke istana aku sudah membatalkan pertunanganku jadi aku tidak ada urusan lagi di sini.”


“Aku membawamu ke sini untuk bertemu dengan Raja dia tidak menyetujui pembatalan pertunangan mu dengan pangeran Yardley jika tidak mendengar alasanmu secara langsung, aku juga membawamu ke sini untuk memeriksakan keadaanmu pada dokter kerajaan.”


“Tapi aku baik – baik saja.”


“Turuti saja apa kataku Leathina, kamu perlu diperiksakan.”


Duke Leonard melangkah meninggalkan kereta diikuti oleh Leathina dan pelayan pribadinya Anne, mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang dikhususkan sebagai tempat pengobatan dan Duke Leonard kemudian segera memasuki ruangan tersebut .


“Selamat datang Duke Leonard, apa yang membuat anda datang ke tempat seperti ini. apa anda sedang sakit?” Duke Leonard disambut oleh seorang laki – laki muda dan mempersilahkannya duduk di sebuah kursi.


“Zeyden? Apa yang membuatmu datang ke tempat ini bukankah kamu berada di menara sihir untuk bekerja?”


“Kebetulan aku mempunyai sedikit urusan di ruang berobat, aku mengantarkan beberapa ramuan dan alat untuk membantu orang – orangku dari menara sihir yang bekerja di sini, bagaimana dengan anda Duke Leonard apa yang membawamu ke sini?”


“Ah aku ingin memeriksakan keadaan putriku dan mengobati lukanya.”


“Nona Leathina silahkan duduk di sini terlebih dahulu, aku akan merekomendasikan salah satu pekerjaku yang paling terpercaya.” Zeyden mempersilahkan Leathina duduk pada sebuah kursi sementara Anne hanya berdiri di sebelah Leathina.


“iya terimakasih.” Leathina segera duduk saat dipersilahkan untuk duduk sementara ia juga masih fokus melihat – lihat keadaan ruangan tanpa memperdulikan apa yang ayahnya bicarakan dan dengan siapa yang berbicara.


“Terimakasih?” Zeyden mengulangi ucapan Leathina dan memancarkan ekspresi wajah aneh karena sikap Leatina padanya.


“Iya apa ada masalah?” Leathina yang bingung mendengar orang yang telah mempersilahkan dirinya untuk duduk mengulangi ucapanya segera menoleh dan bertanya pada orang tersebut sehingga kedua mata mereka saling bertatapan.


“Ah tidak ada, aku hanya terkejut saja tadi."


Laki – laki yang ada di depanku ini sama seperti deskripsi di dalam buku yang telah aku baca ia memiliki mata berwarna hijau seperti batu emerald, dan sebuah senyuman memikat yang mengantung di bibirnya dengan hiasan lesung pipi di kedua pipinya, imutnya.


“Zeyden?” Leathina secara tidak sadar menyebutkan nama pemeran laki – laki yang ada di depannnya itu.


“Iya saya Zeyden nona, apa ada masalah?”


“Ah tidak apa – apa aku hanya bingung saja tadi karena tidak memperhatikan dengan siapa aku berbicara.” Leathina segera memalingkan wajahnya ke arah lain karena menyadari bahwa dirinya telah memandang wajah Zeyden cukup lama.


Zeyden segera pergi meninggalkan Leathina kemudian setelah beberapa lama Zeyden datang kembali dengan membawa seseorang beramanya menuju tempat Leathina duduk menuggu pemeriksaannya.


“Salam Tuan Duke Leonard, salam Nona Leathina saya Andy yang akan memeriksa keadaan tubuh nona Leathina.”


Duke Leonard hanya mengangguk tanda ia telah menerima salam dari Andy dan mempersilahkannya untuk memerikas keadaan Leathina.


“Maafkan ketidak sopanan saya Nona, tapi apa boleh Nona Leathina melepaskan jubah nona terlebih dahulu untuk mempermudah saya melakukan pemeriksaan.”


“Ah iya baiklah.” Leathina segera membuka jubah yang ia kenakan tadi setelah itu memberikannya pada Anne agar Anne bisa memegang jubah itu untuknya.


Andy melihat sebuah perban yang melilit di bahu kanan Leathina kemudian dengan cekatan segera membuka balutan tersebut dan melihat luka robek yang sudah sedikit mengalami pemulihan tapi belum seutuhnya pulih.


“Apa Nona pernah di obati dengan sihir penyembuh sebelumnya?” Zeyden yang ikut mengamati luka Leathina besama Andy bertanya setelah melihat dengan teliti luka Leathina.


“Ah tidak, aku belum pernah.” Leathina segera menggeleng berusaha menutupi kemampuannya.


“Tapi aku melihat ada bekas aura penyembuh di luka Nona Leathina, benarkan Andy?” Andy yang ditanyai oleh Zyden segera mengangguk mengiyakan perkataan bosnya itu.


“Ah itu Ta.. ta. tadi aku bertemu segerombolan orang – orang di jalan mereka sedang terluka dan salah satu dari orang – orang itu ada yang bisa menggunakan sihir penyembuh mereka tadi juga sempat melihat lukaku." Leathina menjawab pertanyaan Zeyden dengan sedikit terbata – bata karena takut dia salah bicara dan di curigai oleh Zeyden dan Andy.


“Benarkah? Siapa orang itu, seharusnya semua orag yang bisa menggunakan sihir penyembuh namanya pasti akan dicatat oleh buku kerajaan. Zeyden bergumam karena merasa aneh mendengar seseorag yang tidak diketahui identitasnya biasa menggunakan sihir penyembuh.


“Baiklah Nona Leathina silahkan pindah dan berbaring sebentar di sini.” Andy yang akan memeriksa Leathina lebih lanjut meminta Leathina untuk pindah dan berbaring pada sebuah tempat tidur berukuran kecil yang memang biasanya digunakan oleh pasien yang datang untuk pemeriksaan kesehatan.


......***......