I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 204



“Leathina cukup! Cepat kemari jangan mundur lagi.” Edward kembali geram, takut jika Leathina benar-benar jatuh dari tebing dan terluka.


“Leathina cepat kemari, aku lebih baik memaksamu dari pada melihatmu terjatuh dari tebing.” Edward sudah tidak peduli lagi jika Leathina takut padannya, yang menjadi prioritasnya sekarang adalah keselamatan Leathina, Edward benar-benar takut jika Leathina terjatuh.


“Aku sudah pernah jatuh dari tebing sebelumnya, aku tidak akan mati jika terjatuh lagi kan.” Batin Leathina saat mengintip ke bawah mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa menahan tubuhnya nanti jika benar-benar terjatuh.


“Bos!”


“Tuan Ed!”


Seru Adam, Troy hampir bersamaan saat melihat Edward, kemudian ikut terkejut saat melihat Leathina kini berdiri di pinggir tebing.


“Leathina apa yang kau lakukan di sana!” jerit Nina terkejut melihat Leathina berada di pinggir tebing.


“Jangan mendekat!” seru Leathina saat melihat mereka bertiga datang secara bersamaan dan mengalihkan perhatiannya dari Edward.


“AKH!” Pekik Leathina.


Saat perhatian Leathina teralihkan pada kedatangan Nina, Troy, dan Adam, memberikan kesempatan untuk Edward mendekati Leathina dan tanpa menyia-nyiakan kesempatannya Edward dengan cepat segera menarik tubuh Leathina menjauh dari pinggiran tebing.


“Maafkan aku Leathina.” Gumam Edward pelan kemudian langsung memukul leher bagian belakang Leathina hingga Leathina pingsan.


Edward takut Leathina malah semakin nekat dan membuatnya tidak bisa mengendalikan Leathina jika Leathina sadar maka dari itu dengan terpaksa Edward harus membuat Leathina pingsan terlebih dahulu untuk menghindari hal berbahaya yang bisa Leathina lakukan.


“Apa dia baik-baik saja?” Tanya Adam khawatir kemudian segera menghampiri Leathina yang kini berada di dalam gendongan Edward.


“Biarkan saya yang membawanya kembali.” Ucap Adam saat melihat kedua tangan Edward yang terluka karena menahan tubuh Leathina agar tubuh Leathina tidak terbentur tanah dan batu saat berguling tadi di waktu Edward menarik Leathina menjauh dari tebing disisi lain Adam juga menawarkan diri karena khawatir jika Edward menjadi sangat kelelahan sayangnya tawaran baiknya itu malah tidak disambut baik oleh Edward.


Refleks Edward menjauhkan Leathina dari Adam, “Biar aku saja.” Ucapnya dingin kemudian langsung kembali ke desa.


“Bawa semua barang-barang Leathina, kita harus segera pergi dari desa ini.” Ucapnya memberi perintah kemudian ketiga bawahannya itu langsung menurut.


Mereka bertiga bergegas kembali terlebih dahulu mengemasi barang-barang mereka yang masih ada di penginapan kemudian segera menyewa kereta kuda untuk mengantar mereka ke desa selanjutnya.


“Silahkan naik tua.” Ucap Troy mempersilahkan Edward untuk masuk ke dalam kereta kuda.


Sementara Adam dan Nina mengendarai kudanya'' sendiri. Troy sendiri duduk di depan bersama orang yang bertugas menjalankan kereta kuda, berjaga-jaga dari serangan mendadak bandit gunung atau pun serangan mendadak lainnya.


 


“Ehem!” Troy berdehem beberapa kali setelah keluar dari desa dan melanjutkan perjalanan mereka dengan kereta samapi pada jalan setapak yang tidak berbatu dan di sisi kaan dan kiri jalan hanya di penuhi pepohonan membuat jalanan yang mereka lalui itu sebagai tempat sempurna untuk melakukan kejahatan tanpa perlu merasa takut ketahuan oleh orang lain.


“Ehem...! Uhuk!” Troy kembali berdehem pelan kemudian disusul dengan batuk keras membuat Adam dan Nina langsung saling pandang.


Adam segera mempercepat kudanya berjalan memimpin di depan kereta kuda sekilas diliriknya si kusir yang ternyata bersikap sedikit aneh, wajahnya terlihat gelisah dan beberapa kali melirik ke sisi kanan dan sisi kiri jalan. Sementara Nina memperlambat kudanya sengaja karena ingin berjalan di belakang kereta.


Edward yang mendengar mereka memperbaiki posisi Leathina, pelan-pelan Edward pindahkan kepala Leathina yang tadi nya tersandar di bahunya menjadi berbaring di tempat duduknya.


Edward mengintip keluar kemudian bersitatap dengan Nina, melihat Edward melihatnya reflek Nina mengangguk paham kemudian ikut terbatuk. “Uhuk!”


Setelah mendengar Nina terbatuk sekali Troy malah tersenyum saat melirik si kusir yang dari tadi terlihat gelisah di sampingnya sambil terus memecut kudanya agar dapat berjalan.


“Akh! Pegal ya pak seharian duduk?! Mau saya ganti sebentar? Soalnya bapak kok terlihat kelelahan.” Tanya Troy berbasa-basi pada si kusir.


“Tidak kok pak, saya sudah terbiasa jadi tidak merasa pegal atau lelah.” Ucap si kusir ramah tapi mimik wajahnya masih menunjukkan kegelisahan, ia selalu tertangkap oleh Troy melirik sisi kanan dan sisi kiri jalan sepi yang dilaluinya itu.


“Ini jalan satu-satunya ke desa seberang ya pak?” tanya Adam yang akhirnya ikut berbasa – basi dengan si kusir dan Troy yang asik mengobrol berdua.


“Iya, ini jalan satu-satunya kok.” Jawabnya spontan.


“Jalannya aman pak? Kok bapak dari tadi lihat ke kanan dan ke kiri dari tadi? ” Tanya Troy sambil ikut melihat ke sisi kanan jalan tapi hanya melihat pepohonan dan semak belukar kemudian melihat ke sisi lainnya dan menemukan hal yang serupa.


“A-aman, aman kok.” Jawabnya tergagap karena panik melihat Troy yang terus melihat ke sisi jalan. “Saya sudah sering melewati jalan ini, bolak balik ke desa yang tadi dan desa seberang untuk mengantar pelancong yang kebetulan butuh tumpangan.” Sambungnya lagi kemudian terlihat tenang kembali saat melihat Troy menganggu – angguk mengerti dengan penjelasannya tadi.


“Jadi maksud bapak ini, bapak sudah sering merampok penumpang sendiri.” Ucap Adam tanpa menoleh pandangannya tetap fokus melihat ke depan.


“A-apa maksudmu!” ucapnya marah tidak suka dengan apa yang di ucapkan oleh Adam barusan.


"Kau menghinakan ku ya!" Si kusir malah semakin tersulit emosinya karena ucapan Adam dan Troy.


“Akh!” pekik si kusir ketakutan saat Troy dengan mulusnya menempelkan sebuah ujung pisau ke lehernya.


“Sudah sering merampok orang ya pak?” Tanya Troy sabil tersenyum ramah sementara lawan bicaranya hanya terdiam, wajahnya berubah menjadi pucat lidahnya kelu tidak bisa mengelak karena takut ujung pisau yang ditodongkan Troy di lehernya dapat merobek nadinya dan membunuhnya dengan cepat.


“Trak!” Kereta terguncang saat si kusir lepas kendali karena takut. “Brak!” Kereta kemudian kembali menabrak batu membuat guncangan menjadi lebih terasa dari sebelumnya.


Dengan gesit Edward yang ada di dalam kereta langsung menahan tubuh Leathina yang masih tidak sadarkan diri agar tidak terjatuh ataupun bertubrukan dengan benda keras.


“Duh! Apa tidak apa-apa Tuan Ed?” teriak Troy khawatir setelah kereta berguncang.


Cepat-cepat Troy mengambil ahli kereta dan kemudian tidak membutuhkan waktu lama laju kereta menjadi stabil kembali.


“Sialan kau mau membunuh bos ku ya!” bentak Troy emosi ingin langsung membunuh si kusir sayangnya kedua tangannya sibuk mengendalikan kereta kuda agar tidak bertabrakan.


“Mau kemana?” tanya Adam sambil menarik pedangnya dari sarungnya kemudian langsung mengarahkan pedangnya pada kusir kereta yang ingin kabur melompat dari kereta karena Troy sibuk menggantikan si kusir yang tiba-tiba melepaskan kendali.


“Bergerak sedikit saja maka tangan kananmu akan aku potong.” Ucap Adam serius, membuat si kusir yang tadi berniat melompat dari kereta untuk melarikan diri mengurungkan niatnya takut pada Adam dan Troy.


...***...