I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 152



“Lukanya sering muncul dan juga sudah sering disembuhkan oleh dokter kerajaan, tapi kali ini saat pelayan membersihkan tubuhnya mereka menemukan luka yang lebih besar di punggungnya, lukanya menghitam dan dalam. Aku baru saja akan meminta Nicholas untuk segera pergi ke kerajaan menjemput dokter kerajaan lagi.” Ucap Duchess Nice memberitahu situasinya pada Duke Leonard yang tidak sengaja berpapasan dengannya saat dalam perjalanannya mencari Nicholas.


“Zeyden, bisakah kau menggunakan sihir teleportasimu untuk pergi ke kerajaan dan membawa dokter kerajaan ke sini dengan cepat,” tanya Duke Leonard pada Zeyden.


Zeyden mengangguk paham, “Baik Tuan Duke, kalau begitu aku akan segera pergi sekarang,” ucapnya kemudian aura sihirnya mulai menutupi tubuhnya seluruhnya dan saat auranya menghilang Zeyden pun ikut menghilang.


Setelah kepergian Zeyden untuk menjemput dokter yang akan mengobati Leathina, Duke Leonard dan yang lainnya pun kembali meneruskan perjalanan mereka menuju ruangan Leathina begitu juga Duchess Nice yang kini juga kembali untuk memeriksa Leathina setelah Duke meminta Zeyden menjemput dokter kerajaan menggantikan Nicholas.


“Ayah!” seru Nora ketika melihat ayahnya memasuki ruangan Leathina, Nora telah berada di sisi Leathina sejak ia bangun di pagi hari dan baru akan meninggalkan Leathina ketika ia akan tidur di malam hari.


Tidak bosan-bosan nya Nora menemani Leathina dan selalu berharap bahwa suatu saat Leathina bisa kembali sehat seperti sebelumnya. Jadi, itulah kenapa ia sangat menantikan kedatangan ayahnya berharap ayahnya membawa berita baik kembali bersamanya.


“Kapan ayah datang!” serunya lagi dengan sedikit berlari ke arah ayahnya dan membuka lengannya lebar-lebar untuk menyambut kedatangan ayahnya dan setelah sampai Nora pun memeluk ayahnya dengan erat.


“Ada apa?” tanya Duke leonard saat melihat ekspresi Nora yang tidak terlihat begitu senang melihat kedatangannya.


Nora melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah ke belakang untuk membuat jarak dengan ayahnya dan memperhatikan dengan seksama orang-orang yang baru pertama kali ia lihat.


“Ayah bilang akan menjemput seseorang yang akan menyembuhkan kakak Leathina, tapi aku tidak melihat seseorang yang berpotensi menyembuhkan kakak Leathina dari orang-orang yang ikut bersama ayah kembali dari hutan timur.” Ucap Nora mengamati orang-orang baru yang ayahnya bawa bersamanya, Nora pun terus melihat Farkas dan Damian mencoba mencari keunggulan keduanya tapi yang ia lihat hanya dua orang biasa saja.


“Kau tahu ayah, beberapa hari terakhir kondisi tubuh kakak Leathina mulai memburuk, jika ... jika kita tidak segera menyembuhkannya mungkin tubuhnya bisa membusuk seluruhnya.” Gumam Nora pelan sambil menunduk karena tidak ingin memperlihatkan ekspresinya pada orang-orang. Nora merasa sedikit kecewa karena mengira ayahnya pulang tanpa membawa seseorang yang dapat membantu Leathina. 


“Benar yang kamu katakan Nora, ayah akan berusaha untuk mengembalikan Leathina bersama kita lagi,” ucap Duke Leonard sambil mengusap kepala Nora yang masih menunduk.


Duke Leonard mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan milik Leathina dan dilihatnya putrinya Leathina masih berbaring di tempat yang sama ia lihat seperti sebelum ia pergi ke hutan timur, bersamaan dengan itu bau busuk sedikit tercium yang berasal dari tubuh Leathina. Anne yang tidak tahu jika Duke datang dan kini masih berdiri di sebelah tempat tidur Leathina sedikit mundur untuk memberikan ruang bagi duke Leonard dan yang lainnya agar mereka dapat  melihat kondisi Leathina.


“Aku tidak tahu kondisi Nona Leathina ternyata seburuk ini.” Gumam Damian pelan dan menjadi sangat prihatin setelah melihat kondisi tubuh Leathina yang kian memburuk.


“Leathina?” Gumam Aelfric yang kini telah berdiri di sisi tempat tidur Leathina berdampingan dengan Duke Leonard.


Sementara Winter dan Nicholas hanya diam, dan berdiri sedikit lebih jauh agar orang-orang yang baru tiba bisa melihat Leathina dengan baik.


Edward mengerutkan keningnya saat melihat kondisi Leathina yang masih berbaring tidak sadarkan diri dan lebih mirip seperti orang yang tertidur pulas dibandingkan orang sekarat. Hal itu membuatnya merasa sedih karena ia sangat berharap bahwa Leathina benar-benar tertidur untuk sementara dan akan terbangun lagi dalam beberapa jam, bau dari tubuh Leathina akibat luka yang timbul akibat berbaring siang dan malam pun membuatnya lebih pedih saat melihat Leathina.


Edward pun memilih untuk memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tidak tega melihat kondisi Leathina yang seperti itu. Dan karena tidak tahan ia akhirnya memilih keluar dari ruangan untuk menenangkan dirinya sendiri.


“Tuan, silahkan ikuti saya. Seseorang ingin berbicara pada anda.” Seorang pelayan perempuan tiba-tiba menghampiri Edward yang baru saja keluar dari ruangan Leathina. Edward kemudian langsung mengikutinya tanpa bertanya siapa yang memanggilnya.


Ia mengikuti pelayan wanita yang memanggilnya itu dan membawa Edward menuju sebuah balkon, Edward ikut masuk ke dalam dan pelayan wanita tadi segera menutup pintu dan dua orang laki-laki yang juga mengenakan pakaian pelayan ternyata telah menunggu Edward di balkon.


“Salam tuan Edward.”


“Lama tidak berjumpa, Tuan Edward.”


“Selamat datang kembali Tuan.”


Ucap Troy, Adam dan Nina hampir bersamaan setelah menutup pintu balkon dari dalam serta telah memastikan tidak ada orang yang akan melihat mereka berada di tempat tersebut.


“Jadi, apa yang telah kalian dapatkan setelah mengikut Winter ke hutan timur? Dan apa kalian menemukan perempuan itu di sana? Sebaiknya kalian memberikan kabar baik padaku, aku sedang tidak memiliki perasaan yang bagus hari ini.” tanya Winter setelah ketiga orang yang berpakaian pelayan tadi berjejer di depannya.


“Maafkan kami Tuan Edward, sayangnya kami benar-benar tidak mendapatkan hal bagus setelah melakukan penyelidikan bahkan setelah menyusup ke dalam pasukan Winter saat mereka berada di hutan hitam,” ucap Adam dengan sedikit membungkuk karena merasa tidak melakukan tugasnya dengan baik. Nina dan Troy pun sama mereka berdua hanya bisa terdiam dan menurut dengan Adam.


“Jadi kalian berdua juga tidak menemukan apa-apa.” Gumam Edward sambil mengalihkan pandangannya ke bawah.


“Maafkan kami Tuan Duke Leonard.” Ucap Adam, Troy dan Nina hampir bersamaan.


“Sekarang laporkan apa saja yang kalian dapatkan dan ketahui selama aku tidak ada di kerajaan.”


“Saya tidak menemukan petunjuk apapun saat berada di hutan Timur tuan Edward. Yasmine, perempuan itu seperti benar-benar telah menghilang di hutan hitam ia atau bahkan tubuhnya pun tidak dapat kami temukan bahkan dengan bantuan personil kesatria yang di bawa oleh Winter ke hutan hitam itu.” Ucap Troy yang terlebih dahulu memberikan laporan pada Edward.


“Benar tuan Edward kami tidak menemukan perempuan itu dimana pun, selain itu sebenarnya ada beberapa area yang belum kami telusuri untuk melakukan pencarian karena penghuni hutan hitam tiba-tiba mengamuk, hewan-hewan buas bahkan monster tiba-tiba saja secara bersamaan keluar dari sarangnya dan menyerang para prajurit.” Nina pun memberikan laporannya setelah Troy.


“Apa kalian mengetahui apa penyebab penghuni hutan hitam tiba-tiba menjadi tidak terkontrol seperti itu?” tanya Edward setelah mendengar hasil laporan dari Nina.


“Kami tidak tahu Tuan, mereka hanya tiba-tiba menyerang tapi untungnya mereka tidak melewati perbatasan menuju kerajaan melainkan ke raha lain.”


“Adam apa kau tidak akan melaporkan sesuatu padaku?” tanya Edward pada Adam yang sedari tadi hanya diam.


“Tidak, bukan seperti itu Tuan Edward saya baru akan melaporkan apa yang saya dapat pada anda, tapi aku ragu-ragu untuk menyampaikannya karena tidak begitu yakin dengan apa yang saya pikirkan.”


“Katakan, akan aku dengarkan.” Ucap Edward meminta Adam untuk memberitahukan apa yang sedang dipikirkan oleh Adam padanya.


“Baik Tuan Edward, Jadi menurut ku hutan itu sepertinya kacau karena ada sesuatu yang memicu hal itu terjadi. Mereka yang menyerang para prajurit sepertinya hanya penghuni hutan yang sedang melakukan pelarian dan hendak keluar dari hutan hitam karena ketakutan dan tidak sengaja bertemu dengan kami mereka pun merasa terancam dan berakhir menyerang para prajurit.”


“Jadi seperti itu, pendapatmu. Mengenai penghuni hutan hitam yang sedang kacau sekarang, dengan kata lain kedatangan Yasmine lah yang membuat semua itu terjadi.” Ucap Edward menyimpulkan laporan yang Adam beritahukan padanya.


“Iya, seperti yang anda katakan jika belum melihat tubuhnya secara langsung dan memastikan apakah dia masih hidup atau tidak maka kita tidak dapat menyimpulkan apapun. Jadi, aku mulai berfikir kenapa tiba-tiba penghuni hutan hitam tidak terkontrol  seperti itu dan yang aku curigai menjadi penyebabnya adalah perempuan itu yang sepertinya telah mengusik sesuatu yang amat berbahaya di dalam hutan hitam.”


“Spekulasi mu tidak salah Adam, tapi juga tidak bisa dibenarkan karena tidak memiliki bukti yang kuat. Kau hanya berpendapat.”


“Iya Tuan, tapi dari yang aku lihat memang seperi itu lah keadaanya.”


“Baiklah.”


“Ada hal lain lagi Tuan Edward.” Ucap Nina ingin memberitahukan sesuatu pada Edward.


“Katakan, Nina.”


“Dalam beberapa hari ini, sepertinya para bangsawan melakukan pergerakan secara diam-diam. Informan kita mengatakan bahwa mereka bahkan telah melakukan penyelidikan secara diam-diam dan subjeknya adalah orang-orang yang tinggal di kediaman Yarnell.”


“Apa ratu juga melakukan pergerakan?” tanya Edward.


“Iya Tuan, Ratu sepertinya juga sedang mencari sesuatu mengenai nona Leathina. Sepertinya dia sedang mencari tahu kebenaran megenai kabar yang beredar tentang kondisi kesehatan Nona Leathina yang memburuk. Orang-orang yang bekerja untuk ratu beberapa kali datang ke kediaman Duke leonard Yarnell.”


“Baik Tuan Edward.” Ucap ketiganya yang hampir bersamaan menjawab Edward dan kemudian mematuhi ucapan Edward. Mereka satu persatu segera keluar dari balkon agar tidak ada orang yang mencurigai mereka bertiga, maka mereka sengaja tidak keluar secara bersamaan agar tidak menarik perhatian orang-orang dan berakhir dicurigai.


Setelah Adam, Troy dan Nina keluar dan meninggalkan Edward sendiri di balkon. Edward pun segera menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.


“Zeyden?” gumam Edward pelan ketika Zeyden tiba-tiba muncul di pekarangan mansion keluarga Yarnell bersama seseorang yang juga ikut bersamanya.


“Aww”


Pekik orang yang juga ikut bersama Zeyden saat aura sihir milik Zeyden yang menyelimuti tubuhnya tiba-tiba lenyap hingga membuatnya tidak bersiap saat akan mendarat kan kakinya di tanah dan berakhir dengan terjatuh.


“Kenapa mendarat tiba-tiba sih, aku kan jadi jatuh.” Serunya menuntut Zeyden yang dapat berpijak dengan aman di tanah.


“Berisik, apa sebaiknya aku tadi mendarat kan kepala mu saja supaya otak mu tambah bodoh.” Gumam Zeyden dan berjalan lebih dulu meninggalkan Andy yang masih menggerutu di belakangnya.


“Kenapa kita tidak langsung sampai di dalam mansion? Biasanya anda seperti itu. Biar kita tidak berjalan lagi ke dalam kan jauh.”


Zeyden tidak menanggapi omelan Andy yang terus-menerus menggerutu di belakangnya, ia hanya fokus berjalan ke arah mansion dengan terburu-buru.


“Sudah datang ya.” gumam Edward kemudian segera keluar dari balkon berniat kembali ke ruangan Leathina untuk bergabung kembali bersama ayang lainnya di sana.


“Edward!”  Panggil seseorang dari belakangnya dan membuat Edward kemudian berbalik untuk mencari tahu siapa si pemilik suara yang memanggilnya itu.


“Bagaimana keadaan Leathina?” tanyanya yang kemudian segera mempercepat langkah kakinya agar bisa berjalan beriringan dengan Edward.


“Zeyden, kau sangat lama.” Ucap Edward saat dilihatnya Zeyden kini berjalan ke arahnya dengan langkah lebar dan diikuti oleh Andy di belakangnya.


“Iya, maafkan aku. Aku sibuk mencari dia dulu.” Ucap Zeyden sambil menunjuk ke arah Andy yang ada di belakangnya. “Dia sedang ada janji dengan wanita tua, seleranya sangat aneh, aku jadi prihatin dengannya.” Zeyden berbicara sambil bergidik nyeri kemudian cepat-cepat menyusul Edward sebelum Andy mendengarkan apa yang telah ia beritahukan pada Edward arena tidak ingin lagi mendengar celoteh Andy yang bisa membuat telinga nya panas.


“Kalau begitu bawahan mu itu benar-benar sekarat.” Edward menanggapi candaan Zeyden tapi tidak berekespresi.


“Kau sebaiknya harus segera beristirahat, Zeyden.” Ucap Edward pada Zeyden saat dalam perjalanan mereka kembali ke ruangan Leathina.


Zeyden hanya mengerutkan alisnya bingung karena tiba-tiba Edward menaruh perhatian padanya kemudian segera menatap wajah Edward dengan serius tapi yang ia lihat hanya ekspresi datar Edward.


“Kau.” Ucap Edward terputus dan memeluk dirinya sendiri. “ Apa kau menyukaiku setelah perjalanan panjang kita? Aku masih normal yah.” Zeyden bergidik kemudian segera berjalan lebih cepat di depan Edward karena tidak lagi mau beriringan dengan Edward.


“Kau kelelahan, kau bisa pingsan jika terus memaksakan diri mu seperti itu. Kau telah terlalu banyak menggunakan sihir mu dan kini energi mu sendiri sedang terkuras, itu lah kenapa kau hanya bisa berteleportasi sampai di luar mansion, bukan.”


“Oh, kau ternyata menyadarinya yah. Tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, khawatirkan saja dirimu sendiri kau terlihat sama buruk nya denganku.” Zeyden mengembalikan kalimat Edward yang tadi ia katakan padanya, dilihatnya Edward tidak lebih baik dari dirinya, wajahnya terlihat pucat dan muram.


“Jangan salah sangka, aku tidak mengkhawatirkan kondisimu sedikit pun. Aku hanya taku jika nanti tiba-tiba Leathina membutuhkan sesuatu, kau satu-satunya orang yang dapat dijadikan alat teleportasi di sini. Jadi pergi lah beristirahat dan pulihkan kekuatanmu secepatnya.”


Zeyden tercengang mendengar ucapan Edward, tidak menyangka karena Edward berfikir seperti itu terhadap dirinya dan hanya menganggapnya sebagai alat teleportasi.


“Aku terlalu berharga jika dijadikan alat teleportasi mu, padahal aku menganggap mu sebagai temanku.” Zeyden mendengus kesal tapi kemudian segera menghela nafas panjang karena benar ia sekarang sedang kelelahan dan energinya terkuras banyak karena terlalu sering menggunakan sihir teleportasi yang membutuhkan banyak energi.


“Zeyden, apa yang membuat mu lama?” sambut Duchess Nice saat melihat Zeyden masuk bersamaan dengan Edward kemudian disusul oleh Andy yang agak sedikit terlambat.


“Maafkan saya madam duchess, Andy sedang bersama pasangan tuanya jad ...”


“Saya tadi di panggil ke kerajaan, madam.” Seru Andy memotong kalimat Zeyden, kemudian menatap Zeyden dengan cemberut karena kesal Zeyden selalu mengganggunya dengan peristiwa tadi saat bersama Ratu Juliette.


Zeyden sedikit cekikikan, tapi tiba-tiba ia tahan karena susana di ruangan Leathina sedikit terlihat muram karena kondisi Leathina yang memburuk. Zeyden pun mengedarkan pandangannya melihat semua orang, matanya kemudian tertuju pada Leathina yang masih berbaring di atas tempat tidurnya dan disaat yang bersamaan samar-samar ia pun mencium sedikit aroma tidak baik dari arah Leathina.


“Apa kalian tidak membersihkan tubuhnya sampai berbau seperti itu?!” Ucap Zeyden sambil berjalan ke arah Leathina berada dan menatap pelayannya Anne.


“Ma- maafkan saya tuan Zeyden, saya telah membersihkan tubuh nona Leathina secara berkala akan tetapi Nona terlalu lama berbaring hingga menimbulkan luka akibat tekanan di beberapa bagian tertentu pada tubuh nona Leathina.” Anne berbicara dengan terbata-bata karena Zeyden terus menatapnya dengan dingin tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunduk. Rasa sedih dan rasa bersalah ia rasakan dalam satu waktu karena tidak bisa menjaga tubuh Leathina.


“Baiklah saya akan segera mengobati luka Nona Leathina sekarang,” ucap Andy memecah keadaan membuat Zeyden segera menyingkir agar Andy bisa mengobati Leathina.


“Kalau begitu silahkan yang lainnya segera keluar dari ruangan nona Leathina,” Andy meminta dengan sopan orang-orang yang tidak bersangkutan keluar.


Farkas dan Demian langsung keluar setelah mendengar ucapan Andy sementara Aelfric, Edward, Zeyden, Winter, Nicholas, Nora, Duke Leonard serta Duchess Nice masih tetap tinggal di dalam ruangan tidak bergerak sama sekali.


Huff...


Andy menghembuskan nafas panjang karena tidak ada dari mereka yang keluar selain Damian dan Farkas, mereka semua bersikeras untuk melihat Leathina diobati.


“Tuan-tuan, saya tahu anda sangat mengkhawatirkan kondisi nona Leathina tapi tetap saja Nona Leathina adalah seorang wanita bangsawan terlebih ia masih belum menikah jadi tidak sepantasnya banyak orang yang melihat kulitnya.” Ucap Andy mengingatkan mereka semua.


“Benar katanya, kalian keluar lah. Aku ayahnya jadi tidak apa-apa.” Duke Leonard mendukung Andy dan meminta yang lainnya segera keluar tapi mereka tetap tidak bergerak.


“Kalian keluar lah kita harus mengobati Leathina dulu, aku tidak sudi kakak perempuan ku dilihat dengan mata kalian.” Ucap Nicholas sambil mendorong secara paksa Edward, Zeyden serta Winter keluar satu-persatu.


“Tentu saja kau juga harus keluar tuan elf.” Nora pun membatu Nicholas dan mendorong Aelfric secara paksa keluar dari ruangan Leathina.


“Tidak, tidak, aku akan tetap tinggal disini. Aku yang akan menyembuhkannya juga.” Tolak Aelfric dan berpegangan di pintu, Nicholas pun membantu Nora setelah berhasil mengeluarkan Zeyden, Edward dan Winter.


“Kami akan memanggilmu lagi nanti setelah Andy mengobati Leathina.” Duke Leonard memberitahu Aelfric.


“Kalian berdua juga harus keluar,”  Andy juga memberitahu Nicholas dan Nora yang baru akan menutup pintu dari dalam dan meminta mereka berdua untuk keluar seperti yang lainnya..


"Tapi kami saudaranya." Ucap Nicholas dan Nora hampir bersamaan.


"Tapi kalian berdua laki-laki kan?" Andy berbicara dengan meniru nada suara keduanya.


Mendengar hal itu keduanya tercengang tapi tiba-tiba Zeyden dan Edward, bahkan Aelfric dan Winter pun tiba-tiba masuk kembali dan mengeluarkan Nicholas dan Nora secara paksa dan segera menutup pintu dari luar.


Di dalam ruangan kini hanya tinggal Andy, Anne, Duke Leonard dan Duchess Nice yang mengawasi Leathina.


...***...