
“Selamat datang tuan-tuan.”
“Selamat datang di pemukiman kami.”
Mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh orang-orang, tidak henti-hentinya mereka bergantian menyambut kedatangan Duke Leonard, Edward, Zeyden dan Aelfric.
“Kakak Lea?!” seru seorang anak perempuan yang kini tengah berdiri di ambang pintu, kemudian dengan sedikit berlari ke arah datangnya Duke Leonard dan yang lainnya dimana mereka sedang berkumpul.
Setelah berdiri tepat di hadapan keempat orang yang datang ke pemukimannya, gadis itu terus menengok ke kanan dan kiri mencari seseorang yang tidak kunjung ia temukan.
“Mana kakak Lea?” tanyanya pada Damian dengan bersemangat.
“Dia tidak ikut, ini hanya teman-temannya saja.” Jawab Damian memberitahu adik perempuannya itu, Demina.
“Haiss, aku kira kakak Lea yang datang, buang-buang waktu saja.” Ucapnya sambil mendengus dan segera pergi meninggalkan keempat orang tadi.
“Tidak ada sopan santunnya,” gumam Aelfric saat melihat tingkah laku Demina yang tidak menyambutnya dengan baik.
“Memangnya kamu siapa?!” Tanya Demina sedikit menentang perkataan Aelfric yang ternyata mendengar gumaman Aelfric barusan.
“Aku ..” Ucap Aelfric ingin memberikan, tapi terputus saat Edward dan Zeyden memegang bahunya dan melarangnya menyebutkan identitasnya pada mereka.
Mau tidak mau akhirnya Aelfric menurut pada mereka dan mengurungkan niatnya untuk memberitahu anak perempuan yang membuatnya merasa jengkel itu karena telah merendahkan dirinya.
“Lihat, bukan siapa-siapa kan!” Demina meremehkan merasa menang karena Aelfric tidak bisa menjawabnya.
“Demina!” bentak kakaknya Demian dan berhasil memuat Demina terdiam serta langsung kembali masuk ke gubuk.
“Maafkan sikap adik saya tuan, sifatnya memang agak kasar tapi sebenarnya baik kok,” Damian meminta maaf atas sikap adiknya yang tidak baik terhadap orang-orang yang dibawanya itu.
“Tidak apa-apa, Damian.” Jawab Duke Leonard dengan tenang.
“Kalau begitu kami akan segera kembali ke tempat istirahat kami sebelumnya, maaf karena telah merepotkan kalian.” Ucap Duke Leonard pamit, berniat segera meninggalkan pemukiman baru para mantan bandit itu dan kembali ke perkemahan mereka yang tadi ia tinggalkan.
“Kenapa tidak menginap disini saja tuan, lagi pula menginap disini jauh lebih baik daripada diluar, bukan?” Tanya salah satu warga dan ingin merangkul Aelfric tapi Aelfric memberi tatapan tidak suka hingga ia menarik tangannya lagi dan hanya tersenyum.
“Iya Tuan, kenapa tidak menginap disini saja untuk malam ini.” Damian pun ikut setuju jika mereka berempat bisa menginap di tempat mereka.
Duke menatap Edward dan Zeyden, mereka berdua mengangguk kecil tanda bhawa ia setuju untuk tetap tinggal di sana untuk sementara waktu.
“Baiklah jika kalian memaksa maka kami akan menginap disini untuk malam ini,” Ucap Duke Leonard menyetujui dan akan menginap di tempat mereka bersama Edward, Zeyden dan Aelfric.
“Hey! Sediakan tempat tidur yang layak bagi keempat tamu kita.” Teriak ayah Damian meminta orang-orang untuk mempersiapkan tempat menginap untuk para tamunya.
Silahkan ikut bersama kami tuan-tuan.” Ucap Damian sambil melangkah masuk ke dalam gubuk, terlihat di dalamnya ruangan gubuk yang mereka masuki memiliki satu ruangan tanpa sekat hingga keseluruhannya bisa dilihat dengan leluasa.
Terdapat ranjang-ranjang kecil yang dijejerkan di dalam gubuk yang mereka masuki dan di sisi ruangan lainnya terdapat beberapa kursi dan meja yang terbuat dari kayu.
“Maafkan kami tuan, kami tidak punya ruangan pribadi. “ ucap Ayah Damian yang juga ikut mengantar mereka berempat, “Ini hanya tempat tinggal sementara jika rumah-rumah kami telah selesai di bangun maka kami akan segera pindah itulah kenapa banyak ranjang yang berjejeran di sini, para pria tinggal disini dan para wanita tinggal di gubuk yang di sebelah.” Ayah Damian berbicara sambil membawa mereka semua menuju kursi yang ada di sana dan mempersilahkan mereka berempat duduk terlebih dahulu dan berbincang-bincang dengan yang lainnya.
“Sebenarnya tuan-tuan ini hendak ke mana?” tanya ayah Damian penasaran setelah duduk di kursi.
“Iya tuan, anda ingin kemana.” Tanya yang lainnya penasaran.
“Kami ingin ke hutan timur.” Edward menjawab pertanyaan mereka seadanya.
“Hutan timur ya.” Gumam Demian sambil berfikir mengingat-ingat kembali hutan seperti apa hutan timur itu.
“Oh, hutan timur yang merupakan milik bangsa elf!” serunya setelah berhasil mengingat.
“Iya kami akan ke sana, apa anda pernah ke sana?” Taya Zeyden pada Damian.
“Kami tidak pernah ke sana karena kami hanyalah seorang bandit bukan petualang seperti kalian, tapi kami banyak mendengar kisah-kisah para petualang yang memiliki kesempatan untuk pergi ke hutan timur.” Jawab Ayah damian.
“Benarkah? Tanya Aelfric penasaran karena selama tinggal di hutan timur ia tidak pernah mendengar kabar tentang orang yang datang ke tempatnya.
“Iya tapi hanya beberapa saja yang berhasil kembali dan itupun mereka hanya sampai di perbatasan hutan timur saja, mereka tidak bisa masuk. mereka mengatakan ada barrier penghalang yang menghalangi mereka untuk masuk ke dalam hutan timur.”
“Beberapa waktu yang lalu ada petualang yang mengatakan pernah ke sana, dan katanya untuk pergi kesana harus punya kemampuan melindungi diri yang baik karena perjalanan yang jauh dan berbahaya, sewaktu-waktu di jalan pasti akan ada hal-hal berbahaya yang datang.” Damian juga ikut mengomentari dan memberitahu apa yang pernah ia dengar dari para petualang yang pernah berusaha pergi ke hutan timur.
“Katanya di sana juga banyak benda, dan tumbuhan berharga yang bisa dijual dengan harga tinggi makanya banyak petualang yang menargetkan pergi ke sana.” Denis yang baru saja masuk ke dalam gubuk tiba-tiba memotong pembicaraan dan ikut duduk bergabung bersama yang lainnya.
“Denis, kau sudah datang!” sambut Damian saat melihat kakaknya Denis telah kembali dan yang kini sudah duduk di sebelahnya.
“Bagaimana di kota? Apa ada kabar baru?” tanya ayahnya pada anaknya yang baru kembali dari kota.
“Oh ayah, aku berhasil menjual kerajinan yang kita buat dari kayu di kota dan itu di sambut dengan baik oleh orang-orang,” ucapnya sambil mengeluarkan sekantung uang dan meletakkannya di atas meja untuk memperlihatkan hasil penjualannya pada semua orang.
“Wah, menjadi tukang kayu dan pengrajin kayu ternyata tidak terlalu buruk.” Seru yang lainnya kegirangan dan kantung uang yang diletakkan Denis di atas meja tadi kini menjadi rebutan karena penasaran berapa jumlah uang yang ada di dalamnya.
“Oh, siapa orang-orang ini?” tanya Denis dengan tatapan menyelidik ketika menyadari bahwa ada empat orang asing yang sekarang sedang bersama dengan mereka, “Bukankah sudah di putuskan bahwa tidak boleh membawa orang asing masuk ke dalam pemukiman sebelum pembangunan selesai,” ucapnya lagi sambil menatap ayahnya dengan tatapan tidak suka.
“Mereka teman-teman nona Lea,” jawab Ayahnya dan mulai menjelaskan pada Denis.
“Jadi seperti itu,” Denis akhirnya mengerti setelah ayahnya dan Damian memberitahukan padanya, “Mengenai itu aku mendapat kabar buruk dari kota.”
“Apa itu?” tanya Damian penasaran.
“Ada kabar yang beredar di kerajaan bahwa Nona Leathina jatuh dalam tidur abadi setelah bertarung dengan seorang penjahat.”
“Dari mana kau mendengar rumor itu?” Tanya Duke Leonard yang sedikit terkejut karena kabar tentang Leathina telah diketahui oleh orang-orang di seluruh kerajaan.
“Bukan saya yang menyebarkannya.” Ucap Zeyden membela diri.
“Jika bukan kamu dan bawahanmu itu terus siapa? Bukankah kamu yang mengetahui kondisi nya.” Aelfric mulai menekankan kecurigaannya pada Zeyden.
“Aku dan Andy tidak mungkin menyebarkan rumor aneh seperti itu, memangnya apa untungnya bagiku.”
“Terus siapa lagi kalau bukan kau, aku terus berada di tempat Edward dan Edward juga tidak pernah keluar dari kastilnya di kerajaan. Tidak mungkinkan ayahnya sendiri yang menyebarkannnya.”
“Dengar Aelfric, jangan asal menyimpulkan. Saat Leathina dibawah kembali ke mansion keadaanya memang sudah buruk dan tidak sadarkan diri, itu masih bisa disaksikan oleh beberapa tamu yang masih tinggal. Dan kau juga harus tahu bahwa di dalam kediaman Yarnell ada banyak pelayan dan penjaga yang bekerja disana jadi bukan tidak mungkin bahwa kabar Leathina bisa tersebar seperti ini.”
“Benar kata Zeyden ada banyak kemungkinan, jadi kalian berdua tidak perlu saling mencurigai dan menyalahkan seperti itu.” Edward menenangkan perseteruan antara Aelfric dan Zeyden yang kini saling menuduh.
“Jadi kabar tentang nona Leathina itu benar?” tanya Denis dan Damian hampir bersamaan.
“Ah, soal itu...” Zeyden berusaha menjelaskan tapi ia bingung ingin menjelaskan seperti apa pada mereka.
“Benar, Lea jatuh dalam tidur abadi, aku harap kalian tidak menyebarkan rumor yang tidak-tidak tentang Leathina.” Duke akhirnya membenarkan karena orang-orang yang ada bersama mereka kini menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Jadi benar,” gumam Denis yang terlihat khawatir.
“Situasinya seburuk itu ya,” Damian juga terlihat khawatir ketika mengetahui kebenaran berita yang di dapatkan oleh Denis di kota, “Jadi apa tujuan kalian ke hutan timur untuk meminta bantuan bangsa elf yang katanya memiliki kemampuan unik dan tumbuhan langka yang bisa digunakan untuk obat yang ampuh?” Tanya Damian pada mereka berempat.
“Benar, kami akan ke hutan timur untuk memi ...”
“Anda tidak bisa memberitahukan tujuan perjalanan ini pada mereka, lagi pula kita tidak tahu apakah mereka ini orang baik atau bukan,” Edward memotong ucapan Duke Leonard yang akan memberitahukan tujuan dari perjalanan mereka. Ia tidak setuju jika Duke Leonard membeberkan ke mana tujuan mereka atau untuk apa mereka melakukan perjalanan jauh.
“Tidak apa-apa Edward, mereka semua terlihat sangat mengkhawatirkan Leathina.” Duke Leonard merasa sedikit tenang ketika mengetahui ternyata ada banyak orang yang mengkhawatirkan keadaan Leathina, itulah kenapa ia memberitahukan keadaan tentang putrinya itu pada mereka agar mereka bisa merasa sedikit tenang setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
“Tapi anda tidak seharus ...” Edward masih tidak setuju jika Duke Leonard memberitahukan pada mereka.
“Tidak apa-apa Edward, mereka juga tidak akan membuat masalah,” Ucap Duke Leonard sambil menepuk pundak Edward pelan untuk menenangkannya dan meminta kepercayaan darinya.
Edward akhirnya pasrah menerima keputusan Duke Leonard, ia kemudian kembali tenang dan membiarkan Duke Leonard memberitahukan keadaan yang sebenarnya pada mereka semua.
“Benar. Kami berempat akan ke hutan timur untuk meminta bantuan bangsa elf untuk membantu kami mengobati Leathina,” Ucap Duke Leonard yang pada akhirnya benar-benar memberitahukan keadaan Leathina pada mereka semua.
Duke Leonard hanya memberitahukan hal-hal yang menurutnya tidak masalah untuk diketahui banyak orang tapi keadaan yang penting dan detailnya tidak ia beritahukan dan tetap ia jadikan rahasia untuk sementara agar tidak mengundang masalah atau bahaya kedepannya nanti.
Percakapan yang mereka lakukan berlangsung cukup lama, mereka membahas hal-hal penting di kerajaan hingga masalah Leathina dan pekerjaan yang sekarang mereka tekuni setelah berhenti menjadi perampok hingga pada akhirnya Duke Leonard terpaksa menghentikan obrolan sebelum memakan waktu yang lebih banyak lagi.
“Tuan-tuan, sebaiknya obralan ini kita cukupkan dulu sampai disini. Kami harus beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan jauh kami besok,” Duke Leonard dengan sopan menghentikan obrolan yang berlanjut dengan seru karena membicarakan hal-hal yang mereka anggap menarik.
“Baiklah tuan silahkan beristirahat,” Ucap ayah Denis dan Damian sambil menunjukkan empat ranjang kecil yang ada di pojok dan saling berjejeran.
“Terimakasih,” ucap Zeyden ramah.
Mereka berempat kemudian segera beranjak dari tempat duduk mereka masing-masing menuju tempat tidur yang telah disediakan untuk mereka, yang lainnya juga melakukan hal yang sama dan setelah itu mematikan penerangan sebelum tertidur.
Keesokan harinya sebelum matahari terbit Duke Leonard telah terbangun terlebih dahulu, begitu pula dengan Edward dan Zeyden kecuali Aelfric yang masih terlihat tertidur dengan pulas di tempatnya.
Zeyden kemudian segera membangunkan Aelfric yang masih tertidur dengan pulas, setelah beberapa kali guncangan dan panggilan dari Zeyden ia akhirnya bisa membangunkan Aelfric.
Aelfric mengerjapkan matanya beberapa kali setelah terbangun dan mulai mengumpulkan energinya kembali, setelah sadar sepenuhnya Aelfric kemudian langsung duduk di tepi tempat tidurnya. Dilihatnya Duke Leonard, Edward dan Zeyden kini telah siap berangkat melanjutkan perjalanan kembali.
“Bangun! Dan bersiaplah kita akan segera berangkat untuk melanjutkan perjalanan.” Edward memberitahu Aelfric.
Aelfric yang menyadari bahwa hanya tinggal dirinyalah yang masih belum membereskan barang miliknya segera terbangun dan dengan terburu-buru mulai mengumpulkan barang-barangnya kembali untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan mereka kembali.
“Ayo pergi!” seru Aelfric setelah memakai sepatunya.
Mereka berempat kemudian segera keluar hendak kembali ke tempat mereka kemarin menyimpan kuda-kuda mereka.
“Kalian sudah akan berangkat?” Tanya Denis yang muncul menghadang mereka di depan pintu.
“Bergabung lah bersama kami untuk sarapan sebelum kalian melanjutkan perjalanan panjang,” sambungnya lagi dan mengajak mereka untuk ikut sarapan pagi dengannya.
“Terimakasih, tapi kami sedang terbaru-buru. Kami harus kembali ke tempat kami kemarin untuk mengambil kuda-kuda kami kembali.” Zeyden dengan sopan menolak ajakan Denis.
“Oh, soal itu tenang saja. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan kendaraan kalian.”
“Apa maksudmu?” tanya Aelfric yang tidak dapat memahami inti perkataan Denis.
“Kami telah mengambilkannya untuk kalian!” seru Damian yang datang sambil membawa nampan berisi empat mangkuk sup hangat di tangannya.
“Ayo, klian harus sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Ini akan menghemat waktu kalian bukan?” Ucap Damian sambil membagikan keempat mangkuk sup hangat yang ia bawa pada Duke leonard, Edward, Zeyden dan Aelfric.
“Dimana kuda kami?” tanya Edward.
“Kuda kalian ada disana.” Denis memberitahu keberadaan kuda mereka dan menunjuk ke arah dimana kuda-kuda itu berada.
Dilihatnya empat ekor kuda yang sedang diberi makan dan minum oleh orang-orang. Terlihat kuda-kuda mereka sepertinya dirawat dengan baik.
“Ayo duduk dan makanlah,” Damian meminta mereka menikmati makanan yang ia bawakan untuk mereka, “Setelah melewati perbatasan ini maka kalian akan memasuki hutan, itu berarti disana kalian tidak akan menemukan kedai atau toko makanan lagi jadi buatlah perut kalian kenyang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan kalian.”
Melihat itu semua membuat Duek Leonard tidak memiliki alasan untuk menolak tawaran yang ditawarkan pada mereka dan akhirnya tetap tinggal sedikit lebih lama untuk menghabiskan sarapan mereka yang tadi telah diberikan oleh Damian.
...***...