
Tidak ada yang tahu kembalinya Leathina ke kerajaan akan membawa kabar baik atau malah sebaliknya, dari informasi singkat yang dikatakan Edward bahwa sekarang kerajaan yang terlihat damai ternyata riuh di dalam karena adanya kekuatan Leathina.
Masing-masing para petinggi di kerjaan mendambakan kekuata tersebut, bahkan beredar rumor bahwa sihir Leathina tidak hanya dapat menyembuhkan penyakit apapun tapi juga dapat membuat seseorang kembali muda dan memperpanjang umur seseorang, tentu saja walau hanya sekedar rumor pasti akan menarik perhatian.
Hal yang langkah menemukan seseorang yang dapat menggunakan sihi penyembuh dengan sempurnya apa lagi jika dapat mengembalikan kulit keriput menjadi kencang kembali atau bahkan memperpanjang umur, mereka semua yang serakah pasti akan memperbutkan untuk kembali muda dan berumur panjang.
“Haiss… dasar orang-orang serakah!” Leatina memijat kepalanya yang berdenyut karena sakit.
“Apa ada yang sakit?” Tanya Edward yang baru saja masuk ke dalam ruangan Leathina dan tidak sengaja mendengar Leathina menggerutu.
Mereka berdua telah melewati perbatasn kerajaan dan melewati tembok perbatasan keduanya kini telah berada di kerajaan dan menginap di sebuah rumah terbengkalai yang berada di pinggiran kota.
“Ah, Edward kau datang.”
Edward menganggu dan tersenyum meletakkan beberapa bahan makanan di meja dan menghampiri Leathina yang masih menggerutu sendiri.
“Apa kau khawatir?”
Leatina menggeleng kemudian beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana?” Tanya Edward menatap Leathina.
“Aku haus ..”
“Sebentar biar aku ambilkan.” Edward menarik Leathina untuk duduk kembali kemudian berdiri untuk mengambilkan Leathina segelas air.
“Tapi aku bisa ambil sendiri.”
“Tidak apa-apa.”
Leathina mengalah, ia kembali duduk dengan posisi semula matanya kemudian mengamati seisi rumah kayu yang mereka tempati sekarang.
“Kau pasti bercanda saat mengatakan ini adalah rumah kosong.”
“Kenapa? Memang tidak ada yang menguni kan?”
“Maksudku, Rumah ini pasti milik salah satu anak buahmu kan? Jika tidak pasti milikmu, tidak mungkin kalau ini adalah rumah terbengkalai dilihat darimanapun semua peralatan lengkap, tidak ada sarang laba-laba bahkan debupun tidak ada yang enempel di perabotan.” Leathina dengan mata birunya mengamati seisi ruangan dengan seksama tanpa terkecuali, terlihat seperti detektif yang mencari sesuatu yang harus ia dapatkan untuk membantah alibi seseorang.
“Ah, seperti yang diharapkan dari putri pertama Duke Yarnell.” Ucap Edward kemudian disusul dengan tertawa.
“Kau benar-benar jeli Leathina, ak sampai tidak habis pikir kau memikirkan hal ini juga, apa kau mencurigaiku aku akan menjualmu pada petinggi yang menginginkanmu?”
“Tidak hanya saya aku merasa aneh melihat kau tiba-tiba mengatakana ada rumah terbengkalai di pinggiran kota.”
“Kenapa tidak mungkin?”
“ Pasti ada rumah lainnya yang tidak berpenghuni kan?”
“Rumah ini terlalu rapi untuk dikatakan rumah terbengkalai, Edward.”
“Iya baiklah aku mengalah, ini adalah rumah persinggahan untuk kelompok yang aku pimpin tapi khusus untuk rumah ini adalah milikku jadi secara teratur untuk menghormati pimpinan mereka, mereka secara sukarela merawat tempat ini untukku.”
“Baik sekali.” Balas Leathina singkat.
“Jadi apa kau tidak takut aku akan menjualmu, alih-alih membawamu pulang?”
“Kenapa kau malah tertawa?”
“Dibandingkan takut dijual aku lebih takut kamu akan membawaku lari dan menyekapku disuatu tempat menyimpanku untuk dirimu sendiri, Edward.” Leathina kembali diam dan menatap Edward denagn dalam membuat keduanya saling pandang sejenak. “Aku tau kau sekarang tergila-gila padaku, Bukan?” Leathinan menantang dengan terus menatap Edward yang juga tidak mengalihkan pandanganya dari Leathina sejak tadi.
“Ah, iya aku kalah Lea. Mana bisa aku menjualmu pada orang lain, jika memang diperlukan aku pasti akan menyimpanmu untuk diriku sendiri.” Edward menghela nafas menyerahkan segelas air untuk Leathina minum kemudian mengusap kasar wajahnya.
Leathina kembali tertawa, senang melihat Edward kebingungan sendiri.
“Leathina kau benar-benar.”
Edward tidak menyelesaikan kalimatnya ia hanya memandang Leathina yang kini juga memandangnya dengan senyum kemenangan, awalnya ia berniat untuk menakut-nakuti Leathina ai bukannya membuat gadis berambut merah itu takut ia malah membayangkan hal-hal aneh di kepalanya khawatir jika Leathina benar-benar diambil oleh para petinggi kerajaan.
“Leathina katakana yang sebenarnya, kemampuanmu itu bukankah memiliki efek samping?” Edward tiba-tiba menjadi serius membuat Leathina sedikit terkejut karena Edward tiba-tiba mengengam erat kedua lengannya.
“Ah , tentu saja ada. Bukankah kau juga bisa menggunakan sihir kau pasti tahu bukan?” balas Leathina dengan nada candaan karena Leathina tahu sekarang Edward tengah menghkawatirkan dirinya.
“Iya aku tahu, tapi apakah itu berlaku untukmu?”
“Umm mungkin iya mungkin juga tidak, bagaimana menurutu Edward?” Leathina masih dengan candaanya membuat Edward gemas dengannya.
“Leathina aku mohon jawab dengan jujur, agar aku tahu bagaiana aku bisa melindungimu.” Edward mengencangkan gengamannya membuat Leathina sedikit kesakitan.
“Akh, Edward ini sakit.” Leathina dengan paksa melepaskan genganman Edward yang mencengkram kedua lengannya, Leathina tahu bahwa Edward sedikit gila, kasar, dan memiliki sikap obsesif dengannya maka dari itu Leathina mencoba sedikit menjaga jarak dengannya tapi sepertinya sudah terlambat untuk Leathina menghindar.
“Ah, Maafkan aku Lea. Apa itu sangat sakit?” Edward kembali pada pikiran rasionalnya dnegan panik memeriksa lengan Leathina yang sedkit membiru karena dirinya.
“Aku tidak apa-apa.”
Leathina memalingkan wajahnya tidak ingin berpandanan dengan Edward kemudian memainkan gelas yang masih berisi air dengan memutarnya perlahan.
“Kau sendiri tahu setiap sihir memiliki efek samping jika digunakan secara berlebihan, kau sendiri sudah tahu dan menghentikanku saat naga itu mengamuk di kerajaan bukan?”
Edward hanya mengangguk mengiyakan, tidak berani berbicara karena merasa bersalah telah mencengkram lengan Leathina hingga berbekas.
Leathina akhirnya kembali melihat Edward sementara Edward terus menatap lengan Leathina yang berbekas akibat cengkramannya, melihat itu Leathina jadi merasa kasihan karena melihat Edward seperti anak anjing yang takut ditinggal pemiliknya.
‘Hais, bagaimana orang ini bisa menjadi pembunuh berdara dingin dengan tampilan seperi anak anjing ini.’ Batin Leathina kemudian mendengus kesal karena tiba-tiba merasa bersalah waalupun ia tidak memiliki salah pada Edward.
“Maafkan aku.” Ucap Edward kembuat Leathina kembali merasa bersalah.
‘Ini tidak adil bagaimana aku bisa membenci orang berbahaya jika wajahnya seperti itu, ini benar-benar tidak adil.’ Leathina kembali mendengus, tidak tahan melihat Edward yang sekarang dipenuhi rasa bersalah.
“Tidak apa-apa ini sudah tidak sakit sama sekali.”
“Tapi itu tetap berbekas, terlebih kamu tidak bisa menyembuhkan dirimu sendiri walapuun punya kekuatan sebaik itu, jadi izinkan aku mengetahu kelemahanmu agar aku bisa melindungimu Leathina.”
“Bukankah kau sudah tahu semuanya, dari pertama kita bertemu sampai sekarang bukankah kau sudah tahu semuanya?”
...***...