I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 183



Duke Leonard dan Winter telah mengamankan Alas dan para bawahannya, setelah diintrogasi dan melakukan penyelidikan ditemukan bahwa Alas melakukan banyak tindakan kriminal mulai dari menculik dan menjadikan orang yang ia culik sebagai budak dan bahkan memperdagangkannya dan karena itu mereka semua berakhir di penjara.


Duke juga menemukan beberapa bangsawan yang membantu dan bekerja sama dengan Alas dalam menjalankan bisnisnya tentu saja Duke Leonard juga menyeret mereka semua masuk ke dalam penjara.


Dibantu oleh Leathina dengan catatan yang berisi nama-nama bangsawan yang membelok, Duke juga berhasil memperbaiki namanya kembali. Penyelidikan yang ia lakukan dan barang bukti yang ia temukan kemudian duke laporkan langsung kepada raja Daylen dan berhasil memulihkan namanya kembali dari tuduhan pemberontakan.


Berkat Leathina juga beberapa gadis yang tiba-tiba menghilang secara misterius dapat di temukan kembali dan dipulangkan ke keluarganya masing-masing.


Setelah Alas Dante tertangkap bersama rekan-rekannya dan nama baik Duke pulih kembali, Leathina hanya bermalas-malasan di ruangannya. Tidak ada yang mengganggunya atau pun mengikutinya. Anne yang dihukum dilarang menemui Leathina, begitu juga dengan Nora yang sudah beberapa hari di kurung di ruangannya. Nicholas sendiri sibuk melakukan penyelidikan bersama Winter dan Duke Leonard sibuk dengan urusan negara, hanya Duchess Nice yang sesekali datang berkunjung untuk melihat Leathina.


“Nona anda harus bangun ini sudah hampir siang.”


“Humm, sebentar lagi Dele.” Leathina yang di bangunkan malah menutup kepalanya dengan selimut dan kembali tertidur.


Adele adalah pelayan yang mengantikan pekerjaan Anne untuk sementara, Leathina cukup menyukainya karena ia tidak banyak berbicara dan selalu melakukan apa yang diperintahkan tanpa bertanya banyak hal, dan karena Leathina senang dengannya Leathina kemudian memanggilnya dengan sebutan Dele agar mudah untuk ia panggil.


“Baik, saya akan kembali lagi untuk membangunkan anda nanti.” Ucap Adele kemudian dengan tenang melakukan pekerjaan yang lainnya.


Adele menyiapkan gaun yang akan digunakan Leathina terlebih dahulu kemudian mempersiapkan peralatan mandi dan hal lainnya agar lebih muda untuknya setelah Leathina terbangun.


“Regu satu!”


“Regu dua!”


“Regu tiga!


“Semua Prajurit Bersiap Untuk Berangkat?!”


“SIAP!!”


“Woah! Apa itu?!” Leathina terperanjat dari tidurnya karena mendengar suara gemuruh dari luar.


“Nona anda sudah bangun?” sapa Adele sopan.


“Adele suara apa itu, kenapa ribut sekali di luar?” tanya Leathina penasaran dan langsung berjalan ke jendela untuk memeriksa keadaan di luar.


“Ah, Nona Anda tidak boleh..”


“LEATHINA!”


Teriak Nicholas dan Winter bersamaan saat melihat Leathina muncul di jendelanya dengan pakaian tidur dan rambutnya yang masih berantakan.


Adele langsung menutupi tubuh Leathina dengan selimut, kemudian menariknya kembali ke dalam setelah itu langsung menutup tirai jendela.


“Nona anda tidak boleh berpakaian seperti itu, di luar banyak prajurit!” seru Adele yang masih panik.


“Aku tidak tahu kalau di luar ada banyak orang. Apa menurutmu Nicholas akan datang memarahiku?” tanya Leathina yang masih mencoba mengintip ke luar.


“Nona pantas di marahi oleh tuan muda.”


“Kau keterlaluan Adele, tapi untuk apa semua prajurit itu?”


“Mereka akan pergi ke perbatasan untuk berjaga, aku dengar di sana mulai di masuki monster yang keluar dari hutan hitam.”


“Kenapa tiba-tiba begitu?”


“Saya tidak tahu Nona.”


“Nona saya telah menyediakan air mandi, silahkan membersihkan diri anda terlebih dahulu.”


“Baiklah.”


Adele pun merapikan tempat tidur Leathina tapi kemudian seseorang menggedor-gedor pintu kamar Leathina.


“Siapa?” tanya Adele kemudian hanya membuka sedikit pintu.


“Mana Leathina?! Apa otaknya masih berfungsi, bagaimana bisa ia keluar dengan pakaian seperti itu!” tanya Nicholas dengan emosi.


“Ah, tuan. Nona Leathina benar-benar tidak sengaja tadi. Saya yang salah tuan.”


“Jadi di mana dia sekarang? Kenapa kau menghalangiku masuk?”


“Nona sedang mandi, anda tidak boleh masuk dulu.”


“Kau sebaiknya berhati-hati kedepannya, kau yang akan aku salahkan jika kejadian seperti ini terulang kembali.”


"Baik Tuan muda, akan saya ingat. Sekali lagi maafkan saya.”


Setelah Nicholas pergi Adele kembali menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


“Maafkan aku Adele, karena kecerobohan ku malah kau yang kena masalah.”


“Tidak apa-apa Nona, ini sudah menjadi tugas saya.”


Setelah Leathina selesai membersihkan dirinya sendiri, Adele langsung membantu Leathina mengeringkan rambutnya dan membantunya berpakaian dengan gaun yang telah ia siapkan sebelumnya.


“Apa nona Leathina punya rencana hari ini?”


“Tidak ada, apa aku punya jadwal hari ini?” tanya Leathina lagi.


“Nona memiliki beberapa undangan menghadiri pesta teh dengan gadis-gadis dari keluarga lain, tapi aku yakin nona tidak akan pergi. Jadi aku rasa nona tidak memiliki jadwal penting hari ini.”


“Humm, jadi begitu. Baiklah, kalau begitu aku hanya ada di ruangan ku saja sepanjang hari.”


“Baik Nona, silahkan panggil saya kapan pun Nona membutuhkan bantuan.”


“Iya aku pasti akan memanggilmu Adele.”


Setelah Adele keluar, Leathina pun benar-benat hanya bermalas-malasan di ruangannya sampai matanya melihat tumpukan surat kecil di atas mejanya.


“Itu surat-surat yang di kirimkan Nora untukku melalu pelayan, aku hanya membacanya tanpa membalasnya. Ini sudah hampir seminggu dia di kurung apa aku harus mengunjunginya sekarang?” gumam Leathina kemudian kembali membuka surat-surat yang selalu di kirimkan Nora setiap hari dengan meminta pelayan untuk mengirimkannya.


“Aya memberitahuku untuk tidak menghubunginya sementara waktu agar dia merasakan hukumannya, tapi ini sudah hampir seminggu dia di kurung dan ini juga bukan sepenuhnya menjadi salahnya. Baiklah aku akan mengunjunginya secara diam-diam.”


Leathina tidak langsung pergi ke ruangan Nora melainkan pergi ke dapur terlebih dahulu berniat untuk membawakan Nora beberapa camilan untuk menghiburnya.


“Nona apa yang membawa ada datang ke dapur?” sambut kepala koki yang terkejut melihat Leathina datang langsung ke dapurnya.


“Ah, maafkan aku karena menganggu kalian. Tapi, apakah ada sesuatu yang bisa aku makan seperti makanan ringan atau semacamnya?” tanya Leathina.


“Aku baru saja memanggang kue, kalau nona mau saya akan meminta pelayan untuk mengantarkannya ke ruangan nona Leathina.”


“Tidak usah, aku akan langsung membawanya.”


“Tapi Nona?”


“Tidak apa-apa, tolong berikan padaku.”


“Ah, iya. Baiklah Nona.”


Kepala koki dan pelayan lainnya segera bergegas mempersiapkan kue yang akan diberikan untuk Leathina, kepala koki memasukkannya dalam keranjang kecil agar Leathina dapat membawanya dengan mudah.


“Ini nona, mohon hati-hati.”


“Wah, bagus sekali. Terimakasih.” Ucap Leathina dan tersenyum sumringah kemudian segera keluar membawa kuenya.


“Aku sepertinya jatuh cinta?” Nona Leathina benar-benar cantik kalau tersenyum.” ucap seorang pelayan setelah Leathina pergi.


“Kau tidak pantas menyukai Nona Leathina, dia itu terlalu sempurna bahkan untuk kau sukai jadi jangan berpikir yang macam-macam dan lanjutkan pekerjaanmu!” Kepala koki memukul kepalanya dengan sendok membuatnya meringis kesakitan dan segera kembali bekerja.


“Kan tidak ada salahnya menyukai orang yang ingin disukai, apa kau ingin aku membencinya? Wah! Kepala koki tidak tahu bercanda ya.”


“Berhenti  mengomel dan lanjutkan pekerjaanmu atau kepalamu akan aku pukul dengan panci!”


“Kejam sekali.” Gumamnya ketus dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Tok.. tok.. tok...”


“Siapa?” tanya Nora yang masih terkunci di dalam ruangan.


“Tidak ada jawaban, hanya bunyi ketukan yang terus berulang-ulang.”


“Aku tidak boleh keluar ayah akan menambah waktu hukumanku jadi kembalilah atau katakan saja dari luar jika ada yang ingin kau sampaikan.” Teriak Nora memberitahukan orang yang mengetuk pintunya.


“Tok... tok... tok...”


“Aku bilang aku tidak boleh keluar!” teriaknya emosi karena pintunya masih terus di ketuk.


Nora langsung tertegun ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, cepat-cepat ia membuka pintunya dan mengintip keluar.


“Ini aku.” Ucap Leathina kemudian langsung menerobos masuk dan menutup pintu dari dalam.


“Kakak Leathina!” seru Nora dan langsung melompat memeluk Leathina.


“Wah! Jangan ribut begitu, seseorang mungkin akan mendengar mu.”


“Kenapa kakak tidak pernah membalas pesan-pesan yang aku kirimkan?”


“Ah itu aku sibuk melakukan sesuatu.” Ucap Leathina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bersalah dengan Nora karena membohonginya.


“Aku tidak membalas surat yang kau kirimkan maka sebagai gantinya aku datang mengunjungi mu secara langsung.”


“Ohiya kakak harus segera kembali sekarang jika ayah mengetahuinya ayah akan marah.”


“Tidak apa-apa, ayah sibuk bekerja di ruangannya dan Nicholas tadi sedang keluar.”


“Benarkah?!”


“Iya. Ini ambillah aku membawakan mu kue sebagai hadiah.”


“Wah! terimakasih kak!” Nora melihat tangan Leathina mencoba mencari sesuatu tapi semuanya terlihat baik-baik saja di matanya.


“Kakak, bagaimana dengan tanganmu?”


“Ah, sudah sembuh. Kau tidak perlu khawatir. Bagaimana denganmu, apa lukamu sudah sembuh?”


“Iya, berkat kakak waktu itu aku cepat sembuh. Tapi kakak dari mana kakak mempelajari itu?”


“Aku tidak mempelajarinya, itu hanya tiba-tiba muncul dan kemudian bisa menggunakannya. Kau harus merahasiakannya.”


“Iya kak, aku akan mebawanya sampai mati.”


“Tidak begitu juga sih! Cepat atau lambat orang-orang pasti akan tahu tentang kemampuanku ini, tapi untuk sementara kau rahasiakan saja.”


“Kenapa kak?”


“Aku tidak ingin terlibat banyak masalah.”


“Aku paham.”


“Nah, sekarang makan lah kuenya. Aku datang sendiri ke dapur memintanya untukmu jadi kau harus memakannya.”


“Akan aku makan dengan baik.”


Mereka berdua menghabiskan waktu bersama selama beberapa jam, Nora yang memang sudah lama tidak bertemu Leathina terus melekat pada Leathina padahal mereka berdua sudah berada di ruangan yang sama.


‘”Tok... tok... tok.”


“Tuan, waktunya makan siang.” Seorang pelayan datang dan membawakan Nora makan siangnya.


“Sudah waktunya makan siang ya?” gumam Leathina sambil melihat ke luar jendela.


“Tuan saya akan masuk sekarang.” Ucap si pelayan meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk membawakan Nora makanannya.


“Gawat, mereka akan melihatmu kakak.... eh?” ditengah kepanikannya Nora yang sibuk mencari tempat persembunyian untuk menyembunyikan Leathina tapi saat berbalik melihat Leathina dia sudah melihat kakaknya itu telah duduk di pinggiran jendela.


“Kakak disana berbahaya?” serunya dengan suara tertahan, karena takut pelayan mendengarnya.


“Aku akan kembali sekarang Nora! Jaga dirimu baik-baik!” ucap Leathina kemudian langsung melompat keluar.


“Kakak!” pekiknya kemudian langsung lari melihat keadaaan Leathina yang telah melompat turun dengan bebas.


Dilihatnya Leathina telah mendarat dengan selamat, Leathina yang sadar Nora masih panik melambaikan tangannya dan memberitahukan bahwa dia baik-baik saja setelah itu mengedipkan satu mataya kemudian langsung pergi dari sana, khawatir penjaga akan melihat dan melaporkannya pada ayahnya.


“Duh, kakak Leathina membuatku khawatir saja. Bagaimana bisa ia melompat dari lantai dua seperti itu.” Gumam Nora dan menutup jendelannya kembali.


“Trakk!” disaat yang sama pelayan yang tadi telah masuk membawakan nora makanan siangnya.


“Apa ada yang salah dengan jendelanya tuan muda?” tanya si pelayan setelah melihat Nora terus melihat ke luar jendela.


“Tidak ada apa-apa, letakkan saja makanannya di atas mejaku. Aku akan memakannya setelah menyelesaikan pelajarannku.”


“Baik tuan, kalau begitu kami pamit.”


Setelah si pelayan keluar Nora pun menghembuskan nafas lega, Nora sama sekali  tidak menyentuh makanan yang dibawakan pelayan untuknya dan lebih memilih untuk memakan kue yang dibawakan Leathina untuknya.


“Duh! Sepertinya kakiku terkilir, ini pasti karma untukku karena mencoba bersikap sok keren di depan Nora barusan.” Gumam Leathina dan mencari tempat untuk beristirahat.


Leathina duduk di bawah pohon dan memeriksa kakinya yang mulai bengkak karena terkilir.


“Ini harus segera aku obati.” Setelah mengobati Lukanya barulah Leathina bisa kembali berjalan dengan benar.


“Siapa?” tanya seseorang pada Leathina ketika Leathina masih berada di sekitar luar ruangan Nora.


Leathina yang takut ditemukan oleh penjaga cepat-cepat bersembunyi di balik semak-semak menunggu orang yang memanggilnya lewat.


“Nona?!”


“Woah! Kau mengagetkan aku, kenapa kau bisa muncul dari arah sana?” Leathina terkejut saat melihat Damian tiba-tiba muncul dari arah belakang.


“Yang nona liat itu Farkas, saat kami berjalan bersama kami mendengar sesuatu dari arah sini. Aku pikir tadi ada penyusup jadi aku sengaja membiarkan farkas di depan dan aku berlari ke arah sini berjaga-jaga jika orang yang kami curigai kabur.”


“Aku bukan penyusup, aku masih putru keluarga ini.”


“Ah, maafkan kami nona Leathina. Kami berdua benar-benar tidak tahu.”


“Tidak masalah, kalian berdua ternyata masih disini.”


“Iya betul. Duke membiarkan aku dan farkas untuk tinggal lebih lama dan membantu prajurit menjaga mansion. Aku mantan bandit dan indra pendengaran, penciuman, dan firasat  yang farkas miliki sangat kuat, kata duke itu sangat membantu prajurit untuk menjalankan tugasnya.”


“Jadi seperti itu, baiklah semoga berhasil.”


“Nona?” panggil Damian saat Leathina akan pergi meninggalkannya.


“Ada apa Damian?”


“Dulu setelah nona Leathina pergi Nona Leathina memberikan misi pada saya dan sudaraku untuk lulus ujian kesatria dan datang bekerja disini.”


“Jadi apa kalian pergi mengikuti ujiannya?”


“Kami pergi, tapi sayangnya kami berdua gagal. Mereka bilang kami tidak pantas ikut ujian kesatria karena keturunan bandit. Maafkan kami karena mengecewakan anda.”


“Tidak apa-apa yang terpenting kalian telah berusaha, aku tidak kecewa sama sekali. Kalau kau mau aku akan merekomendasikan kalian untuk bekerja disini jika mau.”


“Benarkah? Terimakasih Nona Leathina.” Damian menjadi sangat senang karena apa yang dikatakan Leathina.


“Lagipula ayahku juga telah mengakui kemampuanmu itulah mengapa dia mengizinkanmu tetap tinggal disini.”


“Walau bagaimanapun aku akan tetap berterimakasih pada Nona Leathina.”


“Iya tetaplah semangat. Oh bukankah ini farkas? Kau terlihat seperti anak anjing yang lucu.” Leathina melihat Farkas yang berada dalam wujud serigala dan mengelus lembut kepalanya.


“Apa tidak apa-apa dia berubah seperti ini? Bisa bahaya kalau ada orang yang lihat ada serigala di mansion?” tanya Leathina pada Damian.


“Tidak apa-apa. Disini jarang ada orang yang lewat jadi dia bisa bebas berubah bentuk.”


“Jadi begitu, kau harus ekstra hati-hati ya Farkas bisa bahaya untukmu jika seseorang, melihatmu seperti ini.”


Farkas mengelilingi kaki Leathina dan beberapa kali menempelkan kepalanya.


“Ah, dia menyukai anda Nona Leathina dan katanya berterimakasih karena menghawatirkannya.” Ucap Damian memberitahu Leathina.


“Wah, kau sangat paham dengan apa yang di ucapkan Frakas ya?”


“Tidak begitu Nona, saya hanya menafsirkan gerakannya saja.”


“Baiklah kalau begitu aku akan pergi sekarang.” Ucap Leathina kemudian bergegas pergi dan kembali ke ruangannya.


“Terimakasih Nona Leathina dan hati-hati dalam perjalanan anda.” Damian membungkuk memberi hormat melepas kepergian Leathina, sementara Farkas hanya menatapnya saja karena sedih di tinggal oleh Leathina.


...***...