I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 40



Leathina perlahan – lahan mendekati orang yang mereka sebut – sebut sebagai kapten kemudian memerintahkan para bawahannya untuk membuat badannya terlentang dan Leathina kemudian meletakkan kepalanya di atas pangkuannya mencoba untuk menyembuhkan dengan sihir penyembuh milliknya.


Leathina memeriksa nadi dipergelangan tangannya kemudian memfokuskan pikirannya untuk menyembuhkan dan mengeluarkan aura hijau yang biasanya dapat menyembuhkan setelah itu Leathina kemudian memfokuskan aura penyembuh miliknya untuk menetralkan racun yang telah menyebar di pembuluh darah kemudian berpindah pada nadi yang ada di leher dan melakukan hal yang sama Leathina memfokuskan aura penyembuhnya untuk menetralkan racun yang menjalari tubuh kapten dari tentara bayangan itu.


“Woah ini sihir penyembuh?”


“Aku baru kali ini melihatnya secara langsung, karena jarang orang yang memiliki bakat bawaan dan berniat untuk mempelajari sihir ini membuat penggunanya sangat susah untuk ditemukan, kabarnya mereka hanya bekerja untuk keluarga kerajaan dan orang – orang terpandang saja.”


“Nona apa sihirmu ini telah terdaftar di kerajaan?”


Para bawahan Edward takjub saat meliat aura hijau yang keluar dari telapak tangan Leathina dan perlahan – lahan menyelimuti tubuh kaptennya itu. Mereka saling dorong – mendorong berebut tempat karena ingin melihat aura penyembuh itu lebih dekat. Sementara Leathina tidak terlalu memperdulikan tingkah mereka dia malah fokus memikirkan hal lai sambil terus menatap kain yang menutupi separu dari wajah Edward.


Kira – kira bagaimana bentuk wajah orang ini tanpa penutup wajah? Tidak ada yang tahu bahwa nama sebenarnya adalah Edward bahkan para bawahannya sekalipun orang – orang hanya mengenalnya sebagai ketua tentara bayangan dan tanpa mengetahui identitas aslinya. Aku beruntung bisa mengetahui namanya karena aku telah membacanya di novel tapi aku tidak mengetahui bagaimana bentuk wajahnya karena tidak melihatnya secara langsung hanya deskripsinya saja memiliki mata hitam dan rambut hitam legam serta sifatnya yang bengis itu yang dikatakan dalam novel tapi saat aku bertemu langsung dengannnya kata begis yang dideskripsikan untuknya jadi agak sedikit berbeda. Aku jadi penasaran dengan wajah yang ia sembunyikan itu, apa aku buka saja lagipula sekarang dia tidak sadarkan diri dan jika orang – orang bertanya maka aku hanya perlu menjawab bahwa ini adalah prosedur pengobatan.


“Hey! Apa kamu sudah selesai Nona?”


Saat Leathina hendak melepaskan kain yang menutupi wajah Edward salah satu bawahannya segera menghentikan tangan Leathina dengan memegang pergelangan tangannya.


“Ah, iya.. iya sudah selesai kalau berhasil mungkin dia sebentar lagi akan terbangun.” Leathina segera menarik kembali tangannya dan mengurungkan niatnya untuk membuka kain yang menutupi wajah Edward.


“Benarkah kapan kapten kami akan membuka matanya?”


“Bukankah sudah aku bilang bahwa dia akan bangun sebenatar lagi jika pengobatan yang aku lakukan berhasil, jadi tunggu saja.”


“Sampai kapan kami harus menunggu, tidak bisahka kamu membuatnya bangun sekarang?”


“Astaga kalian ini sedang minta tolong atau memaksa, energiku tidak banyak untuk membuat permintaan kalian terkabulkan bahkan sekarang aku sudah tidak sanggup berdiri lagi karena kehilangan banyak energi, kalian harus tanggung jawab dan mengantarku pulang sesuai dengan kesepakatan awal.”


“Maafkan kami nona karena memaksa dan kami pasti akan mengantar nona.”


“Lihat! Mata kapten mulai bergerak – gerak mungkin sebentar lagi akan sadar seperti yang nona ini katakan.” Salah seorang dari mereka berteriak memberi tahu teman – temannya yang lain.


Aku menggunakan terlalu banyak energi agar bisa mengeluarkan aura penyembuh untuk menetralkan racun yang telah menyebar di tubuh Edward. Kepalaku jadi agak sedikit pusing dibuatnya.


“Itu dia Tuan, nona yang berambut merah yang tuan cari ada di sana!”


“Tolong Nona itu Tuan!”


Saat Leathina dan tentara bayangan yang lainnya sedang menunggu Edward kembali sadar tiba – tiba saja ada banyak perajurit kerajaan yang datang mengepung mereka serta dua anak kecil yang berjalan mendahului para penjaga untuk menunjukkan jalan.


“Leathina! Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini!”


Leathina melihat Duke Leonard berdiri memimpin para prajurit dan dibelakangnya juga ada Anne yang berdiri tepat dibelakang Duke Leonard.


“Nona Leathina kamu berdarah!” Anne melihat ada percikan darah yang menempel pada pakaian yang dikenakan oleh Leathina dan membuatnya panik dan berteriak karena takut.


“Tangkap mereka semua!” Duke Leonard memerintahkan para prajurit untuk menangkap semua para tentara bayangan yang berdiri mengelilingi Leathina.


“Maafkan kami Nona, kami sepertinya tidak bisa menepati janji kami untuk mengantarmu pulang.”


“Ambil ini, ini adalah alat sihir setiap anggota kami memilikinya jika kamu dalam kesulitan nyalakan saja maka kami akan mengetahui lokasimu dan kami akan datang menolongmu sebagai balas budi kami.”


Salah satu dari tentara bayangan memberikan Leathina sebuah korek api yang merupakan alat sihir yang mereka kembangkan sendiri jika korek api itu dinyalakan maka akan memberikan sinyal bahaya yang hanya diketahui dan dimiliki oleh tentara bayangan.


“Eh?” Leathina tidak bisa menjawab apa – apa otaknya sibuk menganalisa apa yang sedang ia alami sekarang, Leathina bingung karena ayahnya dan Anne tiba – tiba datang bersama para prajurit dari kerajaan dan melihatnya bersama para tentara bayangan yang juga merupakan buruan dari para kesatria karena sudah sangat sering membunuh.


“Kalau begitu kami akan pergi sekarang, terimakasih nona.”


Setelah pamit pada Leathina para penjaga bayangan segera memapah tubuh pimpinannya yang masih tidak sadarkan diri kemudian satu – persatu dari mereka menghilang dengan menggunakan teleportasi sihir untuk pergi dari tempat itu semetara para prajurit kerajaan tidak sempat menangkapnya karena pergerakan para tentara bayangan sangat cepat. Kini hanya Leathina sendiri yang masih terduduk di atas tanah dan bingung dengan situasinya itu.


“Nona! Apa anda baik – baik saja maafkan aku karena meninggalkan Nona diluar toko sendirian.”


Setelah para tentara bayangan menghilang Anne segera berlari ke arah Leathina dan membantunya untuk berdiri.


“Anne kenapa Duke Leonard ada di sini?”


“Itu. Itu.. maafkan aku Nona aku yang memanggilnya, aku panik karena aku tidak melihat nona lagi di kedai makanan saat aku mencoba mencari nona tiba – tiba ada dua orang anak kecil yang datang sambil meminta pertolongan pada para penjaga yang berjaga di kota dan ciri – ciri yng anak – anak itu katakan sama dengan milik nona Leathina, jadi aku segera memberitahu Duke Leonar bahwa nona di culik penjahat.”


“Leathina kenapa kamu bisa sampai di tempat kumuh seperti ini dan bersama dengan tentara bayangan?” Duke Leonard segera mengintrogasi Leathina karena melihat putrinya yang tiba – tiba berani menentang perkataanya dan nekat keluar dari mansion tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


“Maafkan aku Duke Leonard, kejadian kali ini tidak akan terjadi lagi.” Leathina membungkuk ke arah ayahnya dan meminta maaf atas kelakuannya yang telah menentang perkataan Duke Leonard.


“Aku tidak menyuruhmu untuk membungkuk dan meminta maaf padaku seperti itu, apa tidak ada yang bisa kamu katakan selain itu Leathina?” Duke Leonard berbicara dengan sedikit menaikkan nada bicaranya karena marah melihat tingkah putrinya itu.


“Tidak ada yang perlu saya jelaskan Tuan Duke Leonard, anda pasti sudah mendegar semuanya dari Anne bukan.” Leathina menjawab datar pertanyaan Duke Leonard dan tanpa menatap ayahnya yang sedang marah itu.


“Kamu bahkan menyebutku dengan namaku, apa kamu tidak menganggapku sebagai ayahmu? Ah sudahlah masuk ke dalam keretamu sekarang.”


Leathina tidak membalas perkataan Duke Leonard dan hanya berjalan menuju kereta bersama dengan Anne sesuai dengan yang diperintahkan oleh Duke Leonard padanya.


......***......