
Setelah kepergian Raja Daylen orang – orang yang tadi berkumpul juga pergi ke tempatnya masing – masing begitu juga Leathina, ia dibawa oleh keluarganya menuju tenda keluarganya.
“Beritahukan Zayden untuk mengirim salah satu bawahannya yang bernama Andy untuk mengobati luka Leathina.”
“Ah, tidak usah lukaku tidak parah ini akan baik – baik saja jika diperban.”
“Leathina?”
“Iya ayah?”
“Leathina, aku ingin bertanya dan jawablah dengan jujur.”
“Iya silahkan, kan aku jawab.”
“Apa benar kamu tidak terlibat dengan insiden yang menimpa Putra Mahkota Yardley?”
"Tidak ayah, itu bukan aku dan aku juga tidak tahu apa-apa."
"Benarkah tidak ada yang kamu ketahui? apa kamu tidak merasa dendam terhadap Pangeran karena telah memintamu membatalkan pertunangan?"
“Ayah? Kamu juga mencurigai ku?” Leathina menatap mata ayahnya ia terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan untuknya yang seperti seorang tersangka.
“Aku bukanya mencurigai mu tapi sebagai salah satu penegak keadilan yang ditugaskan oleh raja aku tidak boleh melewatkan hal apa – pun terma..”
“Termaksud aku, jadi kamu benar – benar mencurigaiku, karena aku punya alasan yang kuat untuk membunuhnya, begitu maksudmu? Bagaimana aku membunuhnya jika dia bahkan tidak pantas aku bunuh.”
“Leathina jaga ucapanmu terhadap keluarga kerajaan.”
“Kalau begitu ayah juga, jaga ucapanmu terhadap anakmu sendiri.”
“Cukup! Leathina aku hanya bertanya, aku berusaha mencari kebenaran agar kamu tidak dihukum kamu tahu apa hukuman karena menyentuh keluarga kerajaan?”
“Aku hanya menjawab.”
“Kamu mau pergi kemana, lukamu belum diobati.”
“Aku akan kembali ketendaku, Lukaku sepertinya tidak perlu diobati karena lukaku ini tidak sesakit tuduhanmu padaku, kamu bahkan tidak bertanya padaku apa aku baik – baik saja, atau apa yang terjadi denganku.”
Leathina beranjak meninggalkan Duke Leonard dan berjalan menuju tendanya yang didirikan disebelah tenda keluarganya.
“Ah, Nora.. Hai.”
Saat Leathina menyibak pintu tenda karena hendak keluar dari tenda keluarganya ia tidak sengaja bertemu dengan Nora yang ternyata berdiri dibaliknya.
Leathina yang melihatnya segera tersenyum dan menyapanya tapi tidak ada balasan dari orang yang ia sapa, tangan Nora terlihat gemetaran saat melihat Leathina.
“Oh, kamu pasti mendengar percakapan barusan, kamu juga berfikir aku merencanakan pembunuhan, kamu takut padaku?
Nora masih tidak menjawab pertanyaan Leathina dan perlahan – lahan ia mundur menjauhkan dirinya dan kemudian berlari meninggalkan Leathina.
“Jadi benar kamu takut.” Leathina bergumam pelan kemudian segera pergi ke tendanya.
...
“Paman.”
“Oh, ada apa Winter. Apa kamu menemukan sesuatu?”
Setelah Leathina meninggalkan tenda keluarganya Winter datang memberi laporan pada Duke Leonard kemudian keduanya segera pergi.
Winter memberitahukan laporannya dengan cara berbisik agar orang lain tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
“Dasar keluarga gila!”
“Dasar Pangeran Sinting!”
“Dasar para bangsawan!
Kenapa aku terjebak di dunia ini?”
“Aku harus segera pergi setelah menyelamatkan Nora dari tragedi yang akan menimpanya.”
“Sebelum itu aku harus segera menjual seluruh gaun dan harta milik Leathina kemudian melakukan pelarian.”
Leathina membersihkan badannya sambil menggerutu dan mengumpat, mengganti pakaiannya dan mengobati lukanya sendiri dengan sihirnya sampai sembuh sepenuhnya. Kemudian menjatuhkan badannya pada ranjang kecil yang ada di sudut tendanya.
“Bagaimana aku membuktikan bahwa aku tidak bersalah, ah! Iya anak panahku masih utuh karena tidak pernah menembakkannya aku harus mencarinya dan menunjukkannya sebagai barang bukti.”
Leathina cepat – cepat bangun kembali mengambil jubah hitam dan sebuah pisau dapur kecil yang kebetulan tergeletak begitu saja di tendanya, ia mengintip keluar untuk memastikan keadaan berusaha agar tidak ada orang yang menyadari pergerakkanya.
“Nona? Anda sudah berganti pakaian dan kenapa memaki jubah di dalam tenda?”
“Anne!”
Tiba – tiba saja Anne masuk ke dalam tenda dan melihat Leathina berdiri di depan pintu tenda. Anne datang dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk dimakan Leathina.
“Aku ada urusan mendesak di luar.”
“Apa luka Nona sudah sembuh.”
“Iya sudah aku obati, aku pergi dulu.. eh tunggu roti ini aku bawa. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam tenda ini dan jika ada yang memaksa katakan bahwa aku sedang istirahat atau tidur.”
“I.. iya tapi.. ta..”
Setelah mengambil roti yang dibawa Anne dan memberikan pesan, Leathina segera menyelinap keluar Anne yang melihatnya berusaha untuk menghentikannya tapi Leathina sudah terlanjur keluar dan pergi meninggalkannya.
Tidak lama setelah Leathina pergi Nicholas datang mengunjungi Leathina dan untung saja Anne masih berdiri di ambang pintu dan bisa mencegatnya agar tidak masuk ke dalam tenda.
“Anne, dimana leathina? Aku dengar dia bertengkar dengan ayah.”
“Oh.. itu.. itu.. Nona Leathina sedang beristirahat.”
“Benarkah? Akau ingin bertemu dengannya.”
“No.. nona sedang tidur, lihatlah dia bahkan belum makan karena aku takut membangunkannya.” Anne menunjukkan pada Nicholas nampan yang berisi makanan.
“Baiklah aku akan datang lagi nanti.”
Leathina berjalan menyusuri hutan seorang diri dan sengaja mengambil jalan memutar menuju tebing tempatnya terjatuh karena jalan yang kemarin ia lalui banyak dilalui oleh para kesatria atau penjaga yang sedang melakukan investigasi dibawah pimpinan ayahnya dan Tuan Alfred.
Seseorang mengikutiku.
Leathina mendengar langkah kaki seseorang yang sepertinya berjalan tidak jauh darinya ia tidak berani menoleh dan hanya mempercepat langkah kakinya tapi suara yang mengikutinya juga mempercepat Langkahnya mengikuti Leathina dan karena panik akhirnya Leathina memilih untuk berlari sekencang mungkin Leathina berfikir bahwa yang mengikutinya itu adalah pembunuh bayaran yang kemarin mengejarnya.
“Hey, hey.”
“Aaaaa!”
Orang yang mengikuti Leathina berhasil mengejar dan menggapai pundak Leathina dan karena panik Leathina reflek meraih pisau kecil yang ia selipkan di pinggangnya dan menggores tangan orang yang memegang pundaknya.
“Aw.. aw.. ini aku.. ini aku Leathina, lihatlah Ini aku Edward.”
“Oh, Pangeran Edward apa yang kamu lakukan disini?” Leathina menghentikan serangannya dan melihat baik – baik siapa yang berbicara padanya.
“Justru aku yang harus bertanya seperti itu padamu, apa yang kamu lakukan disini sendiri?”
“Aku kesini ingin mencari bukti dan menunjukkan pada orang – orang bahwa aku tidak bersalah.”
“Aku juga sedang melakukan hal yang sama?”
“Untukku?”
“Iya untukmu, aku ingin mencari bukti bahwa kamu tidak bersalah dan kebetulan aku melihatmu, jadi aku mencoba untuk menyapamu tapi kamu malah menyerangmu.”
“oh, Maafkan aku, aku pikir kami adalah para pembunuh bayaran yang kemarin menyerangku. Akan aku obati tanganmu.”
Setelah mendengar penjelasan dari Pangeran Edward, Leathina melirik tangan Pangeran Edward yang terluka karena serangannya.
Leathina segera mengobati lukanya itu dengan sihirnya kemudian kembali melanjutkan perjalanannya menuju tebing tempatnya terjatuh.
“Kau mengikutiku, Edward?”
Iya aku akan menemanimu.”
“Baiklah aku tidak akan bertanya lagi.”
Setelah lama melakukan perjalanan akhirnya Leathina dan Edward berhasil sampai di tebing tempatnya terjatuh tanpa bertemu dengan seseorang.
“Bukankah ini tempat Winter menemukan pedangmu, apa yang ingin kamu lakukan di sini Leathina? Apa hari itu kamu terjatuh?”
“Iya hari itu aku terjatuh dari sini karena terdesak oleh para pembunuh bayaran, padahal aku pernah menyelamatkan pimpinan mereka tapi malah ingin membunuhku.” Leathina bergumam kesal jika mengingat kembali saat ia menyelamatkan pimpinan dari pembunuh bayaran.
“Apa? Menyelamatkan? Siapa?” Pangeran Edward bingung mendengar gumaman Leathina.
“Ah, tidak Maksudku untung saja aku berhasil selamat kemarin.”
“Tapi bagaimana kamu bisa selamat Leathina? padahal kamu jatuh dari tebing.”
“Aku juga tidak berharap akan selamat, tapi hari itu aku beruntung saat terjatuh aku tersangkut dan kebetulan ada sebuah lubang dibawah aku masuk ke sana untuk bersembunyi setelah aku tidak mendengar suara lagi aku memanjat naik.”
“Jadi seperti itu, makanya aku, Winter, Nicholas dan para regu pencari tidak dapat menemukanmu saat melakukan pencarian.”
“Kalian mencariku?”
“Iya kami melakukan pencarian sepanjang malam.”
“Jangan - jangan suara orang yang aku dengar berkeliaran semalaman adalah suara regu pencari.”
“Leathina apa yang kamu lakukan!” Pangeran Edward berteriak saat melihat Leathina sudah berada dipinggir tebing dan menurunkan salah satu kakinya ke bawah.
“Ah, aku ingin memanjat turun sepertinya tas tempatku menyimpan anak panah tertinggal di dalam gua tempatku bersembunyi.”
“Itu terlalu berbahaya.”
“Tenang saja, kemarin aku berhasil memanjat naik jadi kali ini pasti aku juga bisa berhasil memanjat turun eh.. hey... hey.. apa yang kamu lakukan?”Pangeran Edward menarik tubuh Leathina naik kembali ke atas tanah datar menyeretnya dan melepaskannya setelah menjauhi pinggiran tebing.
“Aku yang akan turun mencarinya jadi diam lah disini.”
“Tapi..”
“Diam disana aku akan turun.”
Leathina melihat Pangeran Edward mengeluarkan dua belati kemudian menusukkannya ke pinggiran tebing dan memegangnya sebagai pegangan, belati itu ia pindahkan dan kembali menusukkannya setiap kali bergerak menuruni tebing.
“Wah, praktis sekali. Kenapa tadi aku tidak kepikiran.”
......***......