
Leathina mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian membuka matanya dan segera menutupnya kembali, “Silau!” gumamnya kemudian kembali membuka matanya untuk menyesuaikan cahaya yang menyilaukan dengan matanya dan setelah terbiasa melihat di tempat terang ia akhirnya segera duduk dan mengamati sekitarnya.
Dilihatnya keseluruhannya dan yang ia lihat hanyalah berwarna putih tanpa ujung, “Ah, rambutku kembali hitam seperti sebelumnya sekarang aku kembali menjadi diriku yang asli, Isabella,” gumam Leathina saat melihat rambut hitamnya yang terurai di bahunya.
“Apa aku sekarang benar-benar telah mati?” Tanyanya pada dirinya sendiri kemudian mengedarkan pandangannya ke semua arah tapi tidak berhasil menemukan apa-apa.
“Apa aku akan disini selamanya!” Ucap Isabella kemudian kembali berbaring dan meletakkan tangannya di dadanya seperti seseorang yang menunggu kematiannya.
“Hais! Aku dimana sih!” jerit Isabella karena setelah lama menunggu ia masih berada di tempat yang sama, ia tidak bisa pergi kemanapun karena setiap ia mencoba keluar yang ia temukan hanyalah ruang kosong berwarna putih dengan cahaya yang menyilaukan.
“Aku kira kau akan suka ditempat seperti ini, Isabella.” Terdengar suara yang entah muncul dari mana membuat Isabella segera mencari dari mana asal suara itu berasal tapi ia tidak bisa menemukan sumbernya.
“Duh! Kau lagi, kau bisa tidak berbicara dan menunjukkan dirimu aku seperti bicara dengan angin sekarang,” jawab Isabella ketika mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya, suara yang sedang ia dengar sekarang sama dengan suara yang ia dengar setelah kematiannya yang pertama.
“Hahaha,” suara tawa kemudian memenuhi telinga Leathina, “Kau masih tidak berubah ternyata,” ucapnya lagi.
“Kau yang berbicara?” Tanya Isabella saat seekor kupu-kupu berwarna biru gelap terbang mengitari nya kemudian hingga di kepalanya setelah itu kupu-kupu yang hinggap di kepala Isabella kembali terbang dan kini hinggap di bahu kanan Isabella.
“Iya aku yang berbicara dengan mu, karena kau bilang kau tidak suka berbicara tanpa melihat lawan bicaramu karena aku tidak bisa memperlihatkan wujud asli ku maka aku akan berbentuk seperti ini untuk sekarang.”
“Jadi apa kali ini aku akan benar-benar mati, kupu-kupu?” Tanya Isabella sambil kembali duduk di sebarang tempat.
“Kau ingin mati?” Tanyanya lagi pada Isabella.
“Memangnya kau akan menghidupkan aku lagi jika aku ingin hidup?” tanya Isabella lagi tidak menjawab pertanyaan yang ditanyakan padanya.
“Kau tidak mati, tubuh Leathina hanya jatuh ke dalam masa tidur abadi karena tidak ada jiwa yang menempatinya.”
“Kemana Leathina? Aku beberapa kali merasakan bahwa ia mengambil ahli tubuhnya kembali, apa aku akan benar-benar mati?”
“Aku tanya sekali lagi, apa kau ingin mati atau hidup?”
“jika diberi pilihan tentu saja aku akan memilih hidup, tapi aku tidak mungkin kan mengambil tubuh Leathina jika pemiliknya ingin mengambil miliknya kembali.”
“Leathina sepenuhnya tidak bisa kembali lagi ke tubuhnya bahkan jika ia mau, itu tidak akan bisa terjadi.”
“Kenapa? Bukankah itu miliknya.” Isabella sedikit terkejut mendengar penjelasan yang diberitahukan padanya ia merasa tidak enak karena telah menempati tubuh orang lain tanpa izin dari pemiliknya.
“Bukankah sebelumnya sudah aku katakan bahwa Leathina telah menyerah pada kehidupannya, jiwanya telah kembali pada kami.”
“Tapi kenapa dia bisa mengendalikan tubuhnya seakan-akan bahwa dia kembali.” Tanya Isabella kebingungan.
“Lihatlah ini.” Ucapnya kemudian muncullah dua bola kaca yang berwarna keemasan yang melayang di udara.
“Apa itu?” tanya Leathina tidak paham.
“Itu adalah jiwa-jiwa yang telah kembali jiwa yang normal akan berbentuk seperti bola kaca yang utuh sepenuhnya tidak ada retak atau cacat sedikitpun.”
“Jadi seperti itu kalian mengurung jiwa para manusia?” gumam Leathina pelan kemudian kembali melihat kedua bola yang ditunjukkan padanya dengan teliti, “Kenapa bola yang satu ini retak bahkan berlubang?”
"Kami tidak mengurungnya kami menyimpannya untuk dilahirkan kembali, jangan asal bicara ya." mendengarnya Leathina hanya diam karena tau bahwa dirinya telah salah bicara.
“Bola kaca yang retak itu milik Leathina, pecahan-pecahan jiwanya masih tertinggal di tubuhnya itulah kenapa dia bisa kembali tapi tidak akan lama, itu bisa terjadi karena emosi atau keinginannnya yang sangat kuat hingga ia bisa kembali ke tubuhnya, seperti yang kau saksikan.”
“Jadi apa kau ingin mengembalikannya pada tempatnya?” tanya Leathina ragu-ragu.
“Apa kau tidak mau hidup sebagai Leathina lagi?”
“Aku mau, tapi kau tahu aku dari awal memang tidak seharusnya berada di sana karena itu bukan tubuhku, aku merasa bersalah dengan Leathina.” Jawab Isabella sedih karena merasa bersalah telah menempati tubuh Leathina yang masih ingin hidup.
“Kau salah Isabella, Leathina dari awal sudah menyerah dengan kehidupannya jadi tidak usah merasa bersalah dia telah memberikan tubuhnya sepenuhnya padamu.”
“Kau membaca pikiranku lagi!” seru Leathina dan mengingat kembali bahwa orang yang ia ajak bicara itu bisa membaca pikirannya walaupun tidak ia ucapkan.
“Itu karena kamu terlalu mempersulit dirimu Isabella, jika kau mau bilang Iya dan jika tidak maka kau bisa menolak!”
“Aku mau!” Jawab Isabella cepat.
“Aku ingin mengatakan ...” Ucapan Isabella terhenti kemudian termenung sebentar karena sedang memikirkan apa yang akan ia sampaikan untuk Leathina, “Katakan padanya maaf dan terimakasih!” ucap Leathina memberitahukan apa yang akan ingin ia katakan pada Leathina. “Aku meminta maaf karena telah merampas tubuhnya dan merubah semua kehidupannya sesuai keinginanku dan terimakasih karena telah membiarkan aku hidup kembali dengan tubuhnya.” Sambung Leathina menjelaskan maksudnya.
“Hahahah!” lawan bicara Isabella tiba-tiba tertawa suara tawanya berdenging ditelinga Isabella karena suara itu terdengar sangat keras di telinganya.
“Kenapa kau malah tertawa, apa yang ingin aku katakan pada Leathina itu lucu?” Tanya Isabella merasa diejek.
“Tidak, tidak, aku tidak mengejek mu kok, hanya saja menangani kasus kalian berdua itu sedikit lucu.” Jawabnya tanpa mempedulikan ekspresi Isabella yang kini cemberut.
“Tidak ada jiwa yang diciptakan sama tapi jiwa kalian berdua memiliki kecocokan itulah kenapa kau bisa beradaptasi di tubuh Leathina,” Ucapnya kemudian kembali tenang.
“Leathina juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Apa itu?” tanya Isabella penasaran.
“Terimakasih dan maaf,” Itu yang ingin dikatakan Leathina padamu, Isabella. “Terimakasih karena telah mempersatukannya dengan keluarganya, karena ia sendiri tidak bisa melakukan hal seperti itu sebab yang ada di hatinya hanyalah kebencian dan pembalasan. Sekuat apapun ia mencoba untuk melupakan masa lalu ia tetap tidak bisa melakukannya karena yang bertambah hanyalah rasa sakit di hatinya saja. Maaf karena mewariskan masalah padamu dan membuatmu menjalani hidup yang sulit sepertinya.”
“Nah, itu yang Leathina ingin katakan padamu. Kalian berdua berbeda tapi sama.” Ucapnya kemudian disusul dengan suara tawanya, entah apa yang membuatnya merasa lucu sampai tertawa seperti itu.
“Hei! Hei! Kenapa kau membuat ekspresi seperti itu Isabella, kau terlihat menakutkan.”
Dilihatnya Isabella menatapnya dengan tatapan sedih bercampur kesal.
“Apa jika aku memukulnya dia akan penyek dan langsung mati, dia sangat menjengkelkan.” Batin Leathina sambil terus menatap kupu-kupu yang terbang mengitarinya.
“Kau jahat sekali Isabella, kenapa aku harus kau pukul!”
“Itu karena kau menganggu dan mempermainkan suasana hati ku!” bentak Isabella kesal, “Tadi aku merasa sedih sampai ingin menangis setelah kau menyampaikan pesan Leathina untukku, tapi karena kau tertawa rasa sedihku berubah menjadi rasa kesal!”
“Hahaha! Maafkan aku itu tidak disengaja.” Ucapnya sambil terdengar berusaha menahan tawanya, “Jadi, apa ada yang ingin kau ketahui lagi Isabella.” Tanyanya pada Isabella berusaha membuat Isabella untuk melupakan kemarahannya.
“Oh, ada. Sebenarnya aku penasaran apa yang terjadi pada tubuhku dan orang-orang yang aku tinggalkan setelah aku meninggal.” Tanya Isabella penasaran pada kehidupan sebelumnya.
“Tubuhmu? Tentu saja hancur dan sudah dimakamkan.” jawabnya memberitahu Isabella apa yang terjadi setelah ia meninggal di kehidupan sebelumnya.
“Siapa yang mengurus pemakamanku?”
“Tentu. saja ayahmu.”
“Ayahku?” Tanya Leathina tidak percaya mengingat bagaimana dulu ayahnya menelantarkannya di kehidupan sebelumnya.
“Lihat ini!” Ucapnya kemudian ruangan putih yang dilihat Isabella tadi berubah menjadi seperti sebuah layar monitor yang memperlihatkan orang-orang.
“Ini saat kau kecelakaan!” Ucapnya memberitahu Isabella.
Isabella kemudian melihat kejadian saat insiden kecelakaannya terjadi, setelah ia ditabrak tubuhnya segera dilarikan ke rumah sakit tapi meninggal saat dalam perjalanan karena tidak diketahui identitas jasad Isabella disimpan di ruangan mayat dan setelah berhari-hari berada di kamar jenazah akhirnya polisi dapat mengetahui identitas nya kemudian segera menghubungi ayahnya.
“Kau tahu saat ayahmu mendapat kabar tentang kematianmu dari polisi dia menangis seperti anak kecil, dia bahkan menangisimu selama sebulan penuh.”
“Benarkah seperi itu?” tanya Leathina tidak percaya, tapi apa yang ia saksikan di depannya itu membuktikan semua yang diberitahukan padanya adalah benar.
Dilihatnya ayahnya didatangi oleh polis yang mengabarkan kematiannya, ayahnya terlihat berada di sebuah pedesaan.
Awalnya ayahnya tidak percaya dan mengira itu adalah tipuan atau jebakan para rentenir yang ingin mengancamnya tapi setelah melihat mayat Isabella secara langsung ia langsung menangis meraung-raung seperti anak kecil.
“Ternyata ayahku pulang ke desa nenekku, mungkin untuk menjual warisannya.” Batin Isabella saat melihat lokasi keberadaan ayahnya.
“Iya, ayahmu berniat menjual warisannya untuk diberikan padamu agar kau bisa hidup dengan baik di suatu tempat dan tidak tinggal lagi dengannya agar kau tidak terganggu dengan para rentenir yang terus datang mencarinya.” Mendengar penjelasan itu Isabella hanya terdiam, tidak tahu lagi ingin berekspresi seperti apa sebab ia berfikir bahwa ayahnya telah membuangnya.
“Kau tahu Isabella, manusia terkadang mengalirkan rasa kasih sayang dan cintanya dengan cara yang berbeda bahkan kadang-kadang kau akan tidak mengerti dengan hal semacam itu."
“Sudah cukup sampai disini!” Reka kehidupan yang Isabella lihat tiba-tiba terhenti, “Kau sudah melihat banyak kehidupan masa lalu mu yang seharusnya kau lupakan Isabella.”
...***...