
BRAK!
TAK!
Baru saja Duke Leonard akan tidur tiba-tiba seekor burung gagak menabrak jendela kamarnya dan mematuk dari luar dengan paruhnya. Duke Leonard yang curiga mengambil pedang dan berjalan ke jendela untuk memeriksa.
“Ada apa?!” Tanya Duchess Nice terkejut dan langsung berdiri di belakan suaminya.
BRAK!
Gagak itu kembali menabrak kaca karena tidak di bukakan.
“Itu gagak iblis dari hutan hitam.” Duchess semakin takut, baru kali ini ia melihat hewan iblis secara langsung mata merahnya tajam melihat mereka.
“Ada yang mengirim pesan.” Duke Leonard melihat surat yang diikatkan di kaki gagak itu, dia langsung membuka jendela.
Diambilnya surat yang terikat di kaki gagak dan langsung di buka sementara burung tadi sudah hilang sesaat setelah surat diambil darinya.
...***...
...Untuk penyewa...
... ...
...Putrimu telah kami temukan, keadaan sedang genting kami akan membawanya pulang. Siapkan bayarannya dan kami akan datang dalam satu jam....
... ...
...Ed...
...*** ...
Duke Leonard mematung, tangannya gemetar dan hatinya gelisah bercampur khawatir, bagaimana jika ini hanyalah surat yang dikirimkan untuknya untuk mempermainkannya tapi bagaimana jika ini benar pesan dari ketua Guild pembunuh bayaran tidak ada orang yang berani menggunakan nama Ed sembarangan seperti ini, kecuali jika orang itu bodoh.
“Ada apa?” tanya Duchess khawatir melihat suaminya sampai hilang fokus, ia mengambil surat itu dan membacanya sendiri.
“Kau mempekerjakan mereka?” tanya Duchess terkejut. “Jika serikat bangsawan tahu kamu bekerja sama dengan mereka maka mereka pasti menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkanmu.”
“Aku tidak ada pilihan lain, lagi pula aku tidak memintanya untuk membunuh orang aku hanya membeli beberapa informasi dan menyewa mereka untuk mencari putriku.”
“Mereka menemukan Leathina?” tanya Duchess serius, Duke mengangguk.
“Mereka sudah lama menemukan Leathina, tapi Leathina tidak ingin kembali dan meminta untuk dirahasiakan.”
“Leonard, aku senang Leathina selamat dan masih hidup tapi bagaimana bisa kau tega tidak memberitahukan kami kau juga tahu adik-adiknya mengkhawatirkan kakaknya setengah mati setidaknya beritahu mereka bahwa Leathina selamat.” Duchess kecewa karena Duke Leonard, suaminya itu merahasiakan kabar tentang Leathina selama ini padahal dua adiknya itu mencarinya seperti orang gila kemana-mana, masalah semula sudah Duchess lupakan kini ia hanya terpaku pad Leathina dan melupakan serikat bangsawan.
“Jika mereka tahu maka mereka pasti akan pergi mencari kakaknya yang hilang, nyawa mereka semua akan berada dalam bahaya dan Leathina akan kembali diincar orang-orang serakah.”
Duchess melemah walaupun kecewa pada Duke Leonard, dia juga tahu kekhawatiran Duke sekarang.
“Tapi kenapa Leathina harus menjadi incaran hanya karena kemampuannya itu, bukankah penyihir lain juga bisa melakukan hal yang sama.” Duchess merasa sedih untuk Leathina.
“Kemampuan Leathina adalah anugrah, kemampuannya itu berbeda dengan yang lainnya bukankah kau melihatnya sendiri dia mampu menyembuhkanku yang hampir mati bahkan tanpa berbekas kondisiku bahkan lebih baik dari sebelumnya, dia juga mengobati banyak orang malam itu. Jika seseorang berhasil mengikat Leathina maka orang itu akan memonopoli kekuatannya dan menjadikan keuntungan untuk dirinya sendiri, tapi berbeda dengan Leathina. Kemampuan hebat itu memiliki efek samping jika digunakan berlebihan energi kehidupannya akan terkuras dan Leathina yang akan mati. Bagaimana aku bisa membiarkan hal itu terjadi.”
"B-bagaimana itu bisa terjadi, kenapa dia harus mati jika menolong orang?!"
"Kamu tidak lihat, tenaganya terserap habis setelah mengobati semua orang. itu adalah ganjaran setelah diberikan anugerah."
“Malangnya Leathina, maafkan aku.” Duchess mengalah dan berakhir meminta maaf.
“Kita tidak ada waktu untuk bertengkar, cepatlah kau siapkan uangnya dan bagimana orang ini akan muncul? Apa aku boleh memberitahu Nicholass dan Nora?” Tanya Duchess penasaran dan tidak sabar.
Duchess Nice sangat senang ia segera keluar memberitahu dua putranya itu sementara Duke Leonard mempersiapkan uang bayaran untuk mereka.
Mereka berkumpul bersama, mata Nora berbinar-binar tidak sabar menunggu kakak perempuannya pulang begitu juga dengan Nicolas yang sudah cemas dari tadi apa kakaknya itu akan pulang dengan selamat atau tidak beberapa kali ia bahkan menawarkan diri untuk pergi ke guild tentara bayangan untuk menjemput Leathina tapi ditahan ayahnya.
Sebelumnya Duchess Nice telah memerintahkan para pelayan untuk tidak ada yang keluar dari kamar mereka jadi hanya mereka berempat yang tahu Leathina akan pulang.
Sudah dua jam berlalu dan Leathina belum juga muncul, Nicholass dan Nora semakin khawatir karena perjanjian lewat dari jam yang di tentukan guil yang disewanya itu selalu menepati janji yang telah dibuatnya dengan kliennya tapi kenapa mereka lama sekali sekarang.
“Ayah, tidak bisa begini bagaimana jika ada yang menghadang mereka saat dalam perjalanan kemari.” Nicholass sudah tidak sabar dari tadi tangannya bahkan berkeringat dingin karena cemas dengan keselamatan Letahina.
“Tenanglah Nicolass, tunggulah sebentar lagi. Mereka juga buka orang sembarangan kau akan mengacaukan rencana mereka yang tidak kita ketahui jika kau tidak sabar.” Duke Leonard menenangkan dan Nicholass duduk kembali.
…
Adam dan Nina tidak langsung membawa Leathina kembali, mereka malah mendatangi sebuah restoran paling terkenal di kerajaan. Walaupun sudah hampir tengah malam tempat tersebut masih sangat ramai oleh para bangsawan yang berkunjung.
“Ini akan membuat kita mencolok.” Leathina melihat sekelilingnya dan benar saja semua mata tertuju padanya karena pakaian mereka bertiga yang terlihat seperti gelandang dan malah memasuki toko paling mewah di kerajaan.
“Kotor sekali!” salah satu pengunjung mengeluh.
“Apa tidak ada petugas yang mengusirnya?!”
“Bagaimana mereka bisa masuk ke sini.”
Orang-orang mulai protes bukannya keluar Adam malah bertingkah seperti pengemis memohon-mohon untuk dibiarkan masuk dan bahkan meminta makanan sisa.
“Gelandangan dilarang masuk silahkan keluar!” seorang laki-laki bertubuh besar lalu menarik Adam.
“Saya lapar tuan, lihatlah dua adik saya tolong beri kami makan sisa di dapur.” Adam memelas.
Pelayan itu diam sejenak kemudian menyeret Adam ke pintu belakang.
“Makanan sisah ada di sini, kemarilah!” Ucapnya membawa mereka bertiga masuk melalui pintu belakang tapi belum sampai di dapur restoran seorang pelayan menjemput mereka dan membawanya ke lantai atas lantai paling mewah disana.
“Saya akan mengantarkan mereka.” Ucap pelayan tadi dan menuntun ke tiganya sampai lantai atas dan memasuki ruangan paling pojok.
“Terimakasih.” Adam lalu masuk ke dalam diikuti Nina dan Leathina.
“Leathina!” tiba-tiba saja seorang pria dengan pakaian rapi memeluknya. “Kau tidak apa-apa tanya laki-laki itu khawtair.
“Edward?” tanya Leathina tidak yakin. “AKu hampir tidak bisa mengenalimu dengan gaya bicara, berpakaian dan warna rambutmu yang berubah.” Leathina balas memeluknya untuk menenangkan dia juga merasa lega melihat Edward dan Troy selamat.
“Apa identitasmu sekarang adalah Edward pangeran kerajaan dan bukan Ed si pembunuh bayaran?” Tanya Leathina bercanda dan Edward mengangguk mengiyakan.
“Bagaimana dengan Zeyden dan Aelfric?” Tanya Leathina penasaran.
“Mereka baik-baik saja, kami pergi sebelum bertarung. Winter bahkan juga ada di sana.”
“Benarkah?”
“Iya, dia berjaga di luar.”
“Sepertinya sebentar lagi kerajaan akan kacau.” Gumam Leathina, tapi tidak terlalu ambil pusing.
...*** ...