I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 166



Selama beberapa hari terakhir setelah sadar dari masa komanya Leathina menghabiskan waktunya untuk memperbaiki kondisi tubuhnya, berlatih memperkuat kembali fisiknya dan untuk mengumpulkan kembali tenaganya agar bisa bergerak dengan leluasa seperti sebelumnya.


“Aku akan pergi berjalan-jalan sebentar.” Ucap Leathina memberitahukan pada Anne bawa ia akan keluar mencari udara segar.


“Baik nona, kalau begitu aku akan mengantar Nona Leathina.”  


Anne dengan semangat langsung berlari menuju lemari penyimpanan pakaian untuk mengambilkan Leathina topi dan selimut agar Leathina tidak kedinginan selama berjalan-jalan di taman nanti.


“Ah, terimakasih Anne.” Ucap Leathina saat Anne dengan teliti dan hati-hati memakaikannya sebuah topi dan menyelimutinya dengan selimut kecil di pundaknya.


“Nah sekarang sudah siap!” seru anne dengan semangat.


“Ayo berangkat, aku akan mengawasi nona Leathina.”


“Anne, aku ingin pergi sendiri kau pergilah melakukan hal lain, tidak perlu mengawasi ku sepanjang waktu.”


“Tapi Nona bagaimana bisa kau meninggalkan Nona Leathina sendiri, kondisi anda masih belum stabil.”


“Aku sudah sehat, lihat aku sudah bisa berjalan dan bergerak dengan leluasa. Aku hanya ingin menghirup udara segar sebentar, lagi pula Nicholas atau Nora pasti akan datang mencari ku nanti jadi tidak usah sekhawatir itu dan pergilah lakukan apa yang ingin kau lakukan selama aku pergi ke taman.”


“Kalau begitu baiklah Nona, hati-hati jangan sampai terjatuh atau tersesat.”


“Hahaha kau ini ada-ada saja Anne, bagaimana aku bisa tersesat di tempat tinggal sendiri.”


“Tidak seperti itu nona, aku hanya khawatir.”


“Aku bukan anak-anak lagi jadi tenang saja, aku pergi sekarang.”


Leathina berjalan menuju taman karena ingin menghirup udara segar dan sudah lama tidak terkena sinar matahari secara langsung, selama ini Anne belum mengizinkannya keluar dan selalu berlati di dalam ruangannya sendiri.


“Wah, sudah lama aku tidak keluar dan berjalan sendiri seperti ini.” Gumam Leathina yang kemudian memasuki area taman dan mulai berjalan-jalan.


Setelah puas berjalan sendiri mengelilingi taman Leathina kemudian memilih duduk di gazebo taman untuk beristirahat karena kelelahan.


“Apa masih bisa aku gunakan ya?” gumam Leathina yang kemudian fokus pada telapak tangannya. “Aku coba saja,” ucapnya kemudian segera pergi mencari bunga yang berduri.


Leathina melihat sebuah bunga mawar dan segera berjalan untuk melihatnya secara langsung setelah sampai ia pun duduk memperhatikan duri-duri yang ada di batangnya.


Lama Leathina menatapnya dan setelah memikirkannya matang-matang ia langsung menggenggam batang bunga mawar dan mengeratkan genggamannya hingga  membuat tangannya sendiri terluka.


“Apa yang kau lakukan?!” seru seseorang kemudian langsung berlari ke arah Leathina dan dengan hati-hati melepaskan satu-persatu jari Leathina yang masih menggenggam erat batang bunga mawar.


“Ah, hai Nicholas.” Sapa Leathina yang masih canggung jika hanya berdua dengan Nicholas.


“Aku tanya apa yang kau lakukan?!” Tanyanya lagi dan dengan ekspresi cemas melihat telapak tangan Leathina yang berdarah karena tertusuk duri.


“Kenapa kau melukai dirimu sendiri, apa kau masih tidak suka dengan kami?” tanyanya dan meniup pelan telapak tangan Leathina berharap rasa sakitnya menghilang.


“Ini, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku hanya ingin mencoba untuk menguji ke..”


“Apa kau bodoh ingin menguji kekuatan fisik pada sesuatu yang jelas-jelas tentu saja bisa melukaimu seperti ini!” Nicholas memotong kalimat Leathina. “Apa ini sakit?” tanya Nicholas lagi dan dengan hati-hati mencabut sebuah duri yang masih menancap di telapak tangan Leathina.


“Anak ini sebenarnya sedang mengkhawatirkan aku atau sedang memarahiku sih! Dia selalu saja berbicara dengan membentakku.” Batin Leathina dan melihat Nicholas dengan jengkel.


“Aww!”


“Nah kan, sakit!”


“Itu karena kau mencabut durinya dengan arah yang salah, lihat berdarah kan.”


“Iya, berdarah! Apa yang aku lakukan aku membuatnya semakin parah.” Nicholas panik dan kemudian mengusap darah yang keluar dari telapak tangan Leathina tapi setiap kali ia mengusapnya masih saja ada darah yang keluar walaupun tidak banyak tapi itu membuatnya merasa bersalah karena mencabutnya dengan cara yang salah.


“Hei! Hei! Kau tidak perlu sekhawatir itu, ini hanya luka goresan saja.”


“Apa maksudmu, walau lukanya kecil kau tetap terluka namanya dan pasti ada rasa sakitnya. Tunggu disini aku akan mengambilkan obat.”


Nicholas membawa Leathina kembali ke gazebo taman dan memintanya menunggunya disana sedangkan ia sendiri segera bergegas kembali ke mansion untuk mengambil beberapa obat agar bisa mengobati luka di telapak tangan Leathina.


“Kenapa Nicholas terburu-buru seperti itu?” gumam Winter.


Winter melihat Nicholas yang sedang berlari ke mansion dari arah taman dan menyadari bahwa telah terjadi sesuatu dengan Nicholas.


Winter yang melihat Nicholas sangat terburu-buru dengan wajah panik segera menghampirinya.


“Apa ada masalah?” tanya Winter ketika akhirnya berpapasan dengan Nicholas.


“Ah, Winter maaf aku sedang terburu-buru.” Nicholas mengabaikan Winter dan melanjutkan perjalanannya.


“Kenapa sangat terburu-buru!” tanya Winter lagi yang kini meraih kerah pakaian belakang Nicholas dan menghentikannya.


“Ah, Leathina terluka jadi lepaskan aku sekarang. Aku harus segera membawakan obat untuknya.”


“Dimana dia sekarang?!” tanya winter.


“Kau tidak perlu khawatir, Lea hanya ..”


“Dimana Leathina sekarang?”


“Di- di gazebo taman, aku memintanya menungguku disana.” Jawab Nicholas ketika genggaman Winter semakin erat menarik kerah pakaiannya.


“Baiklah aku paham, pergilah mengambil obat untuk Leathina aku akan pergi untuk menemaninya disana.”


Nicholas mengangguk paham kemudian segera kembali melanjutkan perjalanannya untuk mengambilkan obat agar bisa mengobati luka Leathina. Sementara Winter segera berlari ke arah gazebo taman yang dimaksud oleh Nicholas.


“Aku merasa ini akan berakhir buruk.” Gumam Winter saat dirasakannya tiba-tiba angin bertiup dengan kencang.


“Kakak Nicholas?!” teriak Nora yang melihat kakaknya terburu-buru sambil membawa beberapa obat di tangannya.


“Oh, Nora. Aku sedang terburu-buru jadi harus pergi sekarang.”


“Apa kakak Nicholas terluka, kenapa membawa obat dengan terburu-buru seperti itu?” tanya Nora sambil ikut berlari mengejar Nicholas.


“Ah, obat ini bukan untukku tapi untuk Leathina.”


“Kakak terluka?”


“Iya tangannya terluka. Kenapa wajahmu seperti itu? Kau tidak perlu mengkhawatirkannya dia hanya tergores  duri bunga saja.”


“Kau mengomentari wajahku tapi kau tidak menyadari bagaimana wajahmu sekarang, kau sekarang seperti seorang dokter yang akan kehilangan pasiennya.” Komentar Nora yang masih memngikuti Nicholas.


“Benarkah? Apa wajahku  terlihat sekhawatir itu, padahal aku hanya kaget saja kau pasti salah mengenali ekspresi Nora. Lagi pula Winter sekarang sedang bersama Leathina jadi jangan khawatir.”


Nora hanya diam saja tidak membalas ucapan Nicholas dan hanya mengikuti Nicholas menuju taman.


...


“Apa Nicholas memberitahukan tempat yang salah?” gumamnya kemudian mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru taman mencari keberadaan Leathina.


“Kenapa anginnya hanya berpusat di satu titik.” Gumam Winter saat melihat bagian taman yang penuh dengan pohon bergerak tertiup angin tapi pohon di sisi lainnya tidak bergerak sama-sekali.


Winter yang merasakan sesuatu yang tidak beres segera menuju ke sana untuk memeriksa apa yang sebenarnya membuatnya seperti itu.


Semakin Winter berjalan mendekat ke taman area pepohonan semakin ia merasakan firasat buruk.


...


“Padahal aku sengaja melakukannya, dia bereaksi terlalu berlebihan tapi sebaiknya aku tidak menyembuhkannya dulu .” gumam Leathina setelah Nicholas meninggalkannya sendiri di taman.


Leathina menatap telapak tangannya yang masih mengeluarkan sedikit darah dari luka tusukan duri.


“Aku kepanasan.” Gumamnya sambil melepaskan topi yang tadi dipakaikan Anne untuknya dan menyimpannya di pangkuannya setelah itu bersandar di sandaran kursi menunggu Nicholas kembali.


“Ah, topiku.” Seru Leathina ketika tiba-tiba angin berhembus dengan kencang dan menerbangkan topinya yang tadi ia letakkan secara sembarangan di pangkuannya.


“Kenapa tiba-tiba anginnya kencang sekali, ini merepotkan topiku terbawa angin.”


Leathina segera mengejar topinya yang terbawa angin karena tidak ingin Anne mengomelinya karena telah melepaskan topinya.


“Aku belum pernah ke sini.” Gumam Leathina saat mengejar topinya yang ternyata tersangkut ke ranting pohon.


Wilayah yang Leathina masuki masih area taman hanya saja tidak terurus dengan baik dan sengaja di tanami pohon-pohon besar dan kini pohon-pohon itu tumbuh menjulang tinggi ke langit dengan daun yang sangat rimbun serta saling berdempetan hingga membuat area disekitar taman tersebut gelap karena tertutupi pohon yang rimbun.


“Lihat, bagaimana aku bisa mengambil topiku kembali.” Gumam Leathina pelan dan kemudian segera mecari ranting pohon untuk ia gunakan menggapai topinya yang tersangkut tapi tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh.


“Siapa?” teriaknya saat instingnya refleks merasakan bahwa ia sedang diawasi oleh seseorang.


“SIAPA?!” Teriak Leathina lagi saat ia semakin merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya.


Leathina menggenggam erat ranting yang sempat tadi ia pungut dan pelan-pelan mundur ke belakang berjaga-jaga jika seseorang tiba-tiba menyerangnya.


“Stak”


“Ckreak!”


Tiba-tiba sebuah serangan melesat ke arah Leathina dan dengan gesit Leathina melangkah mundur untuk menghindar dan menggunakan ranting yang tadi ia pungut untuk menyerang kembali.


“Stab!”


Ranting yang Leathina lemparkan menancap di dahan pohon kemudian seseorang melompat turun mengindari ranting yang tadi di lemparkan Leathina ke arahnya.


Dilihatnya orang yang mengenakan jubah melompat turun dan diam tepat di hadapan Leathina.


“Kau sengaja membawaku kemari?” tanya Leathina yang semakin meningkatkan kewaspadaannya karena dirasakan orang berjubah yang ada di hadapannya itu sepertinya ingin membunuhnya.


Tidak ada jawaban, orang berjubah yang menyerang Leathina barusan hanya diam tidak menjawab atau bergerak kembali untuk menyerang.


“Melihatmu yang berani datang langsung ke kediaman duke sepertinya memang benar kau ingin membunuhku, kali ini dendam macam apa yang membawamu kemari?” dengan tenang Leathina bertanya kemudian menunduk memunguti topinya yang akhirnya jatuh karena guncangan pohon ketika orang berjubah tadi melompat turun.


Masih tidak ada jawaban tapi tiba-tiba angin kembali bertiup dengan kencang hingga membuat pohon-pohon bergoyang dan mematahkan beberapa ranting yang sepertinya memang sudah lapuk.


“Ack!” Leathina kembali menghindar saat beberapa ranting kayu melesat ke arahnya.


“Ini, kau!!” ucapnya saat menyadari siapa yang ada di hadapannya itu.


“YASMINE!”


Teriak Leathina saat menyadari orang berjubah yang menyerangnya tadi adalah Yasmine, walaupun tidak melihat wajahnya secara langsung karena tertutupi Leathina tahu dengan jelas bahwa itu adalah Yasmine.


“Apa kabar Leathina?” ucapnya dingin dan tidak memperlihatkan wajahnya tapi dari nada bicaranya bisa Leathina ketahui bahwa Yasmine sekarang benar-benar ingin membunuhnya.


“Kenapa kau sangat terkejut seperti itu Lea? Apa kau pikir aku benar-benar mati, tenang saja aku tidak akan mati sebelum aku membunuhmu.”


“Ah, tentu saja dia berani datang kesini untuk membunuhku.” Batin Leathina kemudian menghela nafas panjang.


“Tidak, tidak juga Yasmine. Aku tidak terkejut sama sekali mengenai kau yang masih hidup tentu saja kau tidak akan mati dengan mudah, yang membuatku terkejut adalah kegigihanmu untuk menginjakkan kakimu di sini. Seharunya kau gunakan kesempatanmu untuk lari dan bersembunyi di suatu tempat.”


“Aku dengan senang hati akan menggunakan kesempatanku untuk membunuhmu Leathina!”


“Wah, kau yakin sekali dapat membunuhku kalo ini setelah sekian banyak percobaan pembunuhan yang telah kau lakukan padaku Yasmine. sangat disayangkan padahal dulu kita berteman cukup akrab.” Ucap Leathina kemudian kembali mengingat gambaran ingatan yang ia lihat antara Leathina yang asli dan Yasmine.


“Oh, kau mengingatnya ya. dimana masa-masa aku akrab dengan orang itu tapi apakah kau Leathina?” tanya Yasmine.


Leathina terkejut karena sepertinya Yasmine mengetahui identitasnya yang tidak diketahui oleh siapapun.


“Apa yang kau katakan, apa kepalamu sudah terbentur hingga ingatanmu kabur?” ucap Leathina kemudian kembali tenang agar Yasmine tidak mencurigainya.


“Kau tahu setelah tidak sadarkan diri di hutan hitam karena kehilangan banyak dari akibat serangan dari si pangeran bodoh itu tiba-tiba aku melihat sebuah ingatan yang datang secara tiba-tiba.”


“Aku tidak tertarik dengan ingatanmu Yasmine, selagi ada kesempatan pergilah dari sini karena jika terlambat penjaga pasti akan menangkap mu.”


“Ini menarik aku jadi penasaran siapa kau yang sebenarnya, Leathina yang asli tidak pernah mau mengurusi urusan orang lain dan hanya mementingkan dirinya sendiri, bertindak bodoh, arogan dan sok kuat di hadapan orang lain. Tapi melihatmu yang sekarang sepertinya yang kau benar-benar berubah.”


“Semua orang tentu saja bisa berubah bukan.”


“Tapi dalam ingatanku yang entah kenapa tiba-tiba muncul aku jadi mengetahui bahwa kau mencuri tempatku Leathina!!”


“Apa maksudmu dari awal tempat ini adalah milikku, aku hanya mempertahankannya.”


“Kau seharusnya dibenci oleh semua orang itulah peranmu! kau seharusnya mati dieksekusi! Kau mencuri semua peranku dan bahkan membuatku seperti ini!”


“Astaga, apa yang terjadi denganmu?!”


Leathina terkejut saat Yasmine akhirnya membuka jubahnya dan melihat salah satu tangannya sudah tidak ada lagi serta wajahnya yang dipenuhi bekas luka cakaran dan membutakan mata kirinya.


“Ini, ini mengerikan!!” Gumam Leathina hingga tanpa sadar mundur kebelakang karena terkejut melihat Yasmine namun kakinya malah tersandung batu hingga terhuyung dan jatuh terduduk.


“Bagaimana Leathina lihatlah, ini perbuatan mu kau yang telah melakukan semua ini karena merebut tempatku, kau harusnya tahu bahwa aku yang menjadi pemeran utamanya bukan? tapi kau mencurinya!” teriak Yasmine dengan emosi yang memuncak.


“Kau menghancurkan hidup orang lain hanya untuk dirimu sendiri, kau egois Leathina. Jadi jangan munafik dan bersikap bahwa kau tidak bersalah sama sekali.”


“Aku, aku hanya ingin hidup saja. Aku tidak bermaksud membuatmu berakhir mengerikan seperti itu.”


Leathina yang syok karena melihat kondisi Yasmine sekarang yang sangat mengenaskan tidak bisa berfikir dengan tenang lagi, rasa bersalah terkumpul di hatinya hingga sepertinya jantungnya akan meledak karena dipenuhi rasa bersalah terhadap Yasmine.


...***...