I'M A Villains In My Second Life

I'M A Villains In My Second Life
Chapter 117



“Aku tidak tahu jika membeli gaun membutuhkan banyak tenaga seperti ini, aku benar-benar kelelahan.” Leathina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan kemudian berbalik dan memandangi seluruh kotak-kotak belanjaan yang kini menumpuk di dalam kamarnya.


“Huff, mau aku apakan seluruh perhiasan dan gaun-gaun yang ada di dalam semua kotak itu.”


“Tadi Duchess hanya memintaku mencoba satu gaun yang dia suka tapi berakhir memintaku mencoba semua gaun yang ada di toko.”


...


Di toko pakaian setelah kunjungan di toko pertama, mereka berempat segera berpindah tempat ke toko yang lainnya.


“Leathina cobalah gaun ini.” Duchess Nice langsung menyambar beberapa gaun yang dilihatnya cocok dengan Leathina kemudian meminta Leathina untuk memakai nya.


“Ini juga.” Nicholas dan Nora juga menyodorkan beberapa gaun yang mereka pilih sendiri untuk Leathina.


“Bukankah ini sudah cukup? Aku rasa aku sudah mencoba banyak gaun.” Ucap Leathina setelah keluar dari ruang ganti dan menunjukkannya pada Duchess Nice, Nicholas dan Nora yang menunggunya di ruang tunggu.


“Kenapa? kau cantik memakai semua gaun itu, benarkan Nicholas? Nora? Kakak perempuanmu ini benar-benar cantik.” Duchess Nice berbicara sambil menyenggol lengan Nicholas dan Nora memaksanya menyetujui ucapannya.


“Iya benar kau cocok semu semua gaun mahal itu.” Seru Nicholas dan Nora hampir bersamaan mendukung ucapan ibunya.


“Leathina coba lah gaun yang aku pilihkan untuk mu juga.” Teriak Nicholas memberitahu Leathina.


“Aku menyukai gaun ini, kita beli gaun yang ini saja.” Ucap Leathina gugup karena khawatir ia masih disuruh untuk terus berganti pakaian.


“Pakai saja semuanya, semua baju yang telah kau pakai terlihat cocok untukmu. Kita akan membeli semuanya.” Duchess Nice semakin bersemangat dan kembali berkelliling untuk mencarikan Leathina lebih banyak gaun lagi untu dipakai.


“Tunggu, tunggu, ini sudah cukup.” Leathina mencoba menghentikan mereka bertiga tapi pendapatnya tidak didengarkan.


Hal yang serupa juga terjadi pada toko aksesoris dan perhiasan yang mereka kunjungi. Mereka memakaikan Leathina semua aksesoris dan bahkan hampir memenuhi rambut Leathina dengan aksesoris, leher Leathina pun dipenuhi oleh kalung yang dipakaikan oleh Duchess dan jari-jarinya Leathina yang di penuhi cincin di semua jari-jarinya.


Berkat Ducess Nice, Nicholas, dan Nora yang membuat Leathina terlihat seperti ibu-ibu yang memakai semua aksesoris dan perhiasannya dalam sekali pakai.


...


“Nona, air mandinya sudah siap.”


Anne membuyarkan lamunan Leathina yang memikirkan kembali kejadia siang tadi.


“Baiklah, terimakasih Anne. Tolong kau rapikan kotak-kotak itu.”


“Baiklah Nona Leathina.”


Leathina beranjak dari tempat tidurnya dan mulai melepaskan pakaiannya dibantu oleh Anne dan segera menggantinya dengan jubah mandi yang disediakan oleh Anne sebelumnya, kemudian berjalan menuju bathup dan mulai membersihkan dirinya sendiri.


“Woah, cantik sekali.” Seru Anne dengan mata berbinar-binar setelah membuka kotak-kotak pakaian dan hadiah milik Leathina.


Anne mulai mengorganisir semua barang dan menyimpannya dengan hati-hati pada lemari pakaian dan kotak perhiasan milik Leathina.


“Nona Leathina!” Sambut Anne setelah melihat Leathina selesai membersihkan dirinya sendiri.


“Ada apa Anne?” Tanya Leathina kebingungan melihat Anne begitu bersemangat dan dengan mata berbinar-binar melihatnya.


“Nona, Tidakkah Nona Leathina ingin mencoba pakain dan perhhiasan yang baru anda beli?"


"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan Anne, tapi tidak, aku sudah tidak punya tenaga mencobanya kembali. Aku sudah mencoba semuanya di toko tadi.”


“Baiklah Nona saya paham.” Jawab Anne lirih dan memberikan Leathina pakaian tidur untuk dikenakan. Kesempatannya untuk melihat Leathia mengenakan gaun-gaun cantik sirnah.


“Apa Nona ingin makan di meja makan bersama Tuan dan madam?” Tanya Anne pada Leathina setelah membantunya berpakaian.


“Tidak, aku ingin makan dikamarku. Aku tidak punya cukup tenaga untuk berjalan keluar.”


“Baiklah Nona, akan segera saya siapkan.” Anne keluar meninggalkan Leathina sendiri untuk mempersiakan makan malam.


“Sebaiknya malam ini aku harus kembali ke rumah judi itu lagi.” Gumam Leathina.


Leathina berjalan menuju lemarinya dan mengambil jubahnya yang ia sembunyikan di antara gaun-gaunnya yang lain.


“Oh, astaga lemariku penuh akibat seluruh gaun yang Duchess beli untukku.”


Ia kemudian membawa jubahnya dan menyembunyikannya di dalam selimutnya.


“Apa yang sedang anda lakukan Nona Leathina?” Tanya Anne yng datang dengan membawa troli yang berisi makanan untuk Leathina. “Jika Anda ingin merapikan tempat tidur harusnya anda memberitahuku biar aku yang akan melakukannya, pekerjaan seperti ini seharusnya tidak dilakukan oleh Nona Leathina sendiri.” Ucap Anne lagi sambil berjalan menghampiri tempat tidur Leathina.


“Tidak perlu kau rapikan Anne!” Teriak Leathina menghentikan gerakan Anne yang baru akan menarik selimutnya.


“Kenapa Nona?”


“Tidak usah kau rapikan, lagi pula akan kembali berantakan sebentar lagi aku akan tidur jadi sekalian besok saja kau rapikan.” Jawab Leathina gugup karena baru saja ia menyimpan jubahnya di bawah selimutnya.


“Astaga bodoh sekali aku, kenapa jubahku tidak aku ambil nanti saja. Apasih yang sedang aku pikirkan.”


“Baiklah Nona Leathina, sekarang silahkan nikmati makanan anda.”


“Terimakasi Anne.”


Leathina memakan semua makanan yang dibawakan Anne untuknya, sudah sejak tadi ia merasakan lapar karena kelelahan. Perutnya yang kelaparan terus berbunyi meminta untuk segera diisi.


“Kenapa kau terus menatapku sambil tersenyum Anne?” Tanya Leathina setelah menyelesaikan makannanya.


“Tidak ada apa-apa Nona, aku hanya merasa senang melihat Nona makan dengan lahap. Apa ada yang Nona Leathina butuhkan?”


“Tidak ada, aku akan segera tidur. Anne kamarku akan aku kunci lagi malam ini karena tidak ingin diganggu.”


“Baiklah Nona, saya tidak akan membiarkan siapapun menganggu istirahat Nona Leathina.”


“Terimaksih Anne.”


“Nona tidak perlu berterimakasih, ini pekerjaan saya. Kalau begitu saya permisi Nona Leathina.” Anne keluar dengan membawa kembali troli berisi piring kotor kemudian menutup pintu dari luar.


“Ini masih sore dan masih ada beberapa jam sebelum pergantian penjaga. Aku masih punya banyak waktu, aku benar-benar kelelahan sebaiknya aku pergi setelah tidur sebentar dan pintu kamarku tidak usah aku kunci dulu.” Gumam Leathina kemudian berbaring dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk segera tertidur.


...


“Seseorang panggilkan Leathina untuk makan bersama di meja makan.” Duchess Nice memberi perintah pada salah satu pelayan.


Karena tidak berani berbicara langsung dengan Leathina si pelayan segera mencari Anne dan meminta Anne untuk memberitahu Leathina bahwa Duchess Nice memintanya untuk makan bersama di meja makan.


“Maafkan aku, tapi katakan pada Duchess bahwa Nona Leathina telah makan malam lebih dulu karena sudah sangat lapar. Sekarang Nona Leathina sedang beristirahat dan tidak ingin diganggu.” Anne memberitahu si pelayan yang datang menemuinya.


Ia kemudian kembali dan memberitahu Duchess bahwa Leathina telah lebih dulu makan malam di kamarnya dan sekarang sedang beritirahat.


“Baiklah.” Ucap Duchess Nice memahami situasi Leathina.


“ Leathina pasti kelelahan.” Gumamnya lagi kemudian menikmati makanan yang telah disediakan pelayan untuknya.


“Nice, kau ingin kemana?” Tanya Duke Leonard pada istrinya ketika mendapatinya berjalan tidak menuju ke ruangannya.


“Aku ingin memeriksa keadaan Leathina di kamarnya, kenapa kau tidak ikut bersamaku?” Duchess Nice memberitahu Duke kemana ia akan pergi dan juga mengajaknya.


“Baiklah.” Jawab Duke Leonard singkat dan berjalan berdampingan dengan Duchess Nice menuju kamar Leathina.


“Apa kita tidak akan menganggunya?” Tanya Duke setelah berada di depan kamar Leathina.


“Kita hanya memeriksa keadaanya sebentar apakah dia baik-baik saja. Tidak ada salahnya jika orang tua ingin melihat bagaimana wajah anaknya jika terlelap kan?” Ucap Duchess Nice kemudian pelan-pelan membuka kamar Leathina dan masuk ke dalam diikuti oleh Duke.


Kamar Leathina kini seluruhnya gelap kecuali pada meja yang berada di sudut ruangan dekat dengan tempat tidur Leathina. Terlihat lilin yang kini tinggal setengah masih menyala menerangi area tempat tidur dan memperlihatkan wajah Leathina yang kini tertidur dengan pulasnya.


“Kau lihatkan, dia masih tetap cantik walau tertidur.” Ucap Duchess Nice mengagumi kecantikan Leathina.


“Ayo kembali, kau akan menganggunya jika terus menatapnya seperti itu.” Duke Leonard berjalan keluar dari kamar Leathina setelah melihat keadaan putrinya dan diikuti oleh Duchess dibelakangnya yang juga ingin keluar setelah merasa lega melihat Leathina tertidur.


“Hampir saja mereka masuk dan tidak menemukanku, untung saja aku masih berada di ruanganku.” Gumam Leathina kemudian membuka matanya setelah mendengar orang yang mengunjunginya barusan  telah keluar dari ruangannya.


Leathina turun dari tempat tidurnya dan menumpuk beberapa bantal kemudian menyelimutinya membuat penyamaran bahwa dirinyalah yang tertidur di dalam selimut setelah itu segera mengunci pintu kamarnya.


Jubah yang tadi Leathina sembunyikan di bawah kasurnya telah ia pakai, dan pedangnya ia selipkan di pinggangnya Leathina juga menutup wajahnya agar identitasnya tidak diketahui, sementara rambut panjangnya ia gulung kemudian memakai tudung jubahnya hingga menutupi kepalanya. Membuka jendela dan mulai memanjat turun.


Saat pergantian penjaga maka akan ada waktu kosong sekitar sepuluh sampai lima belas menit untuk para penjaga bertukar posisi, waktu kosong  itu digunakan Leathina sebagai kesempatan untuk keluar tanpa diketahui oleh para penjaga.


Leathina diam-diam berjalan menuju taman dan menembus semak-semak kemudian sampai pada dinding pembatas dan segera memanjat untuk keluar dari area mansion.


“Oh, kau masih disini rupanya.” Dilihatnya kuda berwana coklat yang kemarin ia gunakan masih terikat di tempat yang sama.


“Kau pasti lapar dan haus.” Ucap Leathina sambil mengelus lembut kudanya.


“Baiklah ayo berangkat sekarang, kau akan aku beri makan dan minum segera.” Leathina melompat naik dan memacu kudanya ke kota.


“Beri kuda ini makan dan minum dengan baik, aku akan mengambilnya lagi nanti.” Leathina menitipkan kudanya pada seorang pria paruh baya yang sedang memberi makan beberapa kuda yang lainnya.


“Baik Nona.”


Setelah menitipkan kudanya Leathina berjalan di jalan-jalan kota mencari rumah judi yang kemarin dikunjungi Yasmine dan grand duke Alcott.


“Ah, Sial.” Umpat Leathina setelah menunggu hampir setengah jam tapi tidak melihat Yasmine mengunjungi rumah judi itu lagi. “Apa hari ini dia tidak datang?” Tanya Leathina pada dirinya sendiri kemudian kembali mengamati sekitarnya.


“Nona yang mengenakan jubah!” Teriak seorang pria dan mengejutkan Leathina.


“Apa panggilan barusan tadi ditujukan untukku?” Tanya Leathina dan tidak berani menoleh. “Mungkin bukan, aku sebaiknya mencari tempat baru saja.” Gumam Leathina meninggalkan tempatnya.


Walaupun Leathina mengenakan jubah ia tidak merasa terpanggil karena beberapa orang juga mengenakan jubah dan malah berjalan dengan santai meninggalkan tempatnya dan segera mencari tempat baru untuk menunggu kedatangan Yasmine.


“Aneh sekali, dia terlihat seperti orang yang aku kenal, apa aku salah orang ya?” Gumam Zeyden saat melihat wanita berjubah yang di panggilnya tidak kunjung berbalik dan malah berjalan pergi menjauhinya.


...


“Brak!” Sebuah kaca dilemparkan ke sembarang arah.


“Apa informasi yang kau katakan barusan benar, Tania?” Tanya Yasmine pada pelayan pribadinya.


“Iya Nona Yasmine, beberapa orang melihatnya memasuki toko bersama Duchess Nice hari ini dan undangan dari keluarga Yarnell baru saja tiba, mereka akan melakukan pesta penyambutan sekaligus perayaan hari ulang tahun Nona Leathina, jadi dapat di pastikan informasi mengenai kembalinya Nona Leathina ke kerajaan benar adanya.”


“Plak!” sebuah tamparan melayang pada pipi Tania hingga terjatuh.


“Berani sekali kau memangggilnya Nona di hadapanku Tania.” Ancam Yasmine pada pelayan pribadinya Tania hingga membuat seluruh tubuhnya gemetaran karena takut Yasmine akan menghukumnya lebih berat lagi.


“KELUAR SEKARANG!” Teriakan Yasmine mengelegar di seluruh ruangan.


Tania yang ketakutan segera berlari keluar dengan memegang pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan Yasmine dan setelah menutup pintu dari luar Tania segera melap air matanya yang sedari tadi telah ia tahan.


“Bagaimana bisa perempuan sialan itu kembali, bahkan tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya padahal sedikit lagi.. sedikit lagi..”


“Brak.” Yasmine kembali melemparkan sebuah vas bunga hingga pecah.


“Ini tidak bisa ditunda lagi, aku harus segera mencari kekuatan untuk menopangku. Aku harus segera membuat Ratu Julitte memihakku.”


“Aku akan menduduki posisi tertinggi, hingga siapapun tidak akan berani lagi memandang rendah diriku. Semua yang kau miliki akan aku curi.”


“Yasmine!” Teriak madam Amber setelah memasuki ruangan Yasmine yang kini di penuhi oleh pecahan kaca karena kebiasaan buruk Yasmine yang selalu memecahkan barang jika marah.


“Ibu, apa yang membuatmu datang karuanganku?”


“Aku dengar Leathina tidak mati dan kembali dengan selamat ke kerajaan, apa itu benar?”


“Benar ibu, Leathina telah kembali.”


“Ibu peringatkan padamu Yasmine, selama perempuan itu masih hidup kau akan selalu menjadi yang ke dua. Kau harus ingat bagaimana rasanya diabaikan dan dibuang karena menjadi yang kedua, kau harus bergerak cepat Yasmine.”


“Baik Ibu, aku paham.”


“Baguslah jika kau paham, apa-apaan ruanganmu ini.” Gumam Leathina setelah melihat seluruh kamar Yasmine yang berantakan dan segera keluar meninggalkan Yasmine sendiri.


“Ibu sialan, di saat seperti ini kau harusnya menyemangatiku bukannya menjatuhkanku.” Umpat Yasmine setelah ibunya pergi.


“Dan kenapa aku tidak bisa menghubungi Roland lagi, apa dia mengabaikanku padahal aku punya banyak pekerjaan untuknya sekarang. Ah, si Roland sialan itu membunuh seorang gadis saja tidak bisa bagaimana dia bisa bekerja sebagai pembunuh bayaran padahal kerjaanya tidak becus.”


Yasmine berjalan ke mejanya mengambil pena dan kertas dan mulai menuliskan surat untuk Roland agar segera datang menemuinya setelah itu Yasmine juga menulis surat untuk dikirimkan ke kerajaan meminta secara khusus agar dapat bertemu langsung dengan ratu.


...***...